Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.36 Kejanggalan


__ADS_3

"Bagaimana, kamu sudah mengetahui identitas dua orang yang bertemu dengan Ervin di bandara?" tanya Laras palsu ketika dia mendapatkan telepon dari Arnold.


"Ya, aku sudah mengetahuinya. Aku sarankan, kamu lebih baik behati-hati mulai sekarang, jangan sampai Ervin bertemu lagi dengan mereka," jawab Alnold dari seberang sana.


"Kenapa aku harus berhati-hati sama mereka? Memangnya saiapa mereka?" Laras palsu merasa kesal karena ucapan Roland yang terkesan meremehkannya.


"Mereka adalah istri Ervin yang asli bersama dengan seorang pewaris pengusaha yang tidak bisa kita remehkan kekuasaannya," jelas Arnold.


"A-apa? Maksudmu, dia adalah Laras asli? Bukannya kamu bilang dia sudah meninggal? Kenapa sekarang dia bisa kembali lagi ke sini? Kamu yakin tidak salah mendapatkan informasi?" Laras palsu jelas sangat terkejut dengan perkataan Roland, mengingat ketika kecelakaan itu Roland jelas meyakinkannya kalau Laras asli sudah meninggal. Namun, sekarang kenapa bisa wanita itu malah datang dengan keadaan bugar, bahkan bersama salah satu pewaris pengusaha yang tidak main-main? Dia tidak bisa percaya begitu saja. Bisa saja ini adalah salah satu trik Roland untuk menggertaknya.


"Terserah saja kalau kamu tidak percaya. Yang penting aku sudah memperingatkan kamu akan ancaman untuk rencana kita. Kamu tentu tau apa yang akan terjadi kalau Ervin bertemu dengan Laras asli dan mengetahui apa yang selama ini kamu lakukan padanya? Bisa aku pastikan, kamu akan diusir langsung oleh laki-laki yang sangat kamu cintai itu." Roland langsung menutup teleponnya, begitu selesai berbicara yang dia anggap penting. Tidak ada untungnya untuk berdebat dengan wanita angkuh seperti Laras palsu, lebih baik dia menghindarinya.


"Sial! Kenapa wanita itu tidak mati saja sih? Bikin susah saja!" umpatnya sambil mengacak rambutnya.


"Ada apa?" Ervin bertanya ketika sudah sampai di anak tangga terakhir. Dia bisa melihat dengan jelas, bagaimana istrinya itu uring-uringan sejak tadi.


"Hah?!" Laras palsu langsung menoleh ke arah suara. Dia tersenyum sambil membenarkan penampilannya yang sedikit berantakan. Sungguh, akibat terlalu terkejut dan kesal, dia bahkan sampai tak sadar akan kehadiran Ervin.


"Enggak. Ini cuman orang gak jelas saja. Sepertinya hanya iseng," jawabnya sambil menyembunyikn rasa terkejut dan kesalnya dengan senyuman.


"Oh," angguk Ervin lalu meneruskan langkahnya sambil membenarkan jaketnya.


"Mau ke mana, baby?" tanya Laras palsu ketika melihat penampilan Ervin yang tampak rapih.


"Aku mau ke luar," jawab singkat Ervin.


"Tunggu! Aku ikut." Laras palsu langsung mencekal tangan Ervin hingga menghentikan langkahnya.


"Tidak usah," tolak Ervin sambil hendak melepas tangan Laras palsu.


"Pokoknya aku ikut atau kamu gak boleh pergi ke mana pun," putus Laras palsu dengan wajah sedikit merajuk. Mereka sempat beradu mulut sebentar hingga akhirnya Ervin menghembuskan napas geram dengan kepalan erat di tangannya.

__ADS_1


"Terserah!" ucap Ervin, sudah merasa lelah dengan sikap manja dan egois Laras yang sekarang.


"Oke, aku ambil tas dulu ke kamar, kamu tunggu sebentar ya." Laras langsung melepaskan genggaman tangannya di lengan Ervin lalu berlari cepat menaiki tangga dengan wajah sumringah.


Sementara itu, raut wajah Ervin justru berbanding terbalik dengan istrinya. Rupa yang sudah terlihat sempurna lengkap dengan pakaian santainya, kini hancur sudah hanya karena wajah kelamnya yang membuat laki-laki itu terlihat dingin dan datar.


"Aku tunggu di mobil," ujar Ervin lalu segera melanjutkan langkahnya ke luar rumah. Sungguh, dia sangat kesal sekarang. Ervin merasa terkekang, bukan hanya di dalam rumah, tetapi di luar juga. Bahkan hanya untuk ke luar rumah sendiri saja sangat sulit karena Laras pasti terus mengikutinya.


Tak menunggu lama, Laras palsu berjalan kembali menuruni tangga dengan langkah cepat. Namun, dia terhenti ketika seorang pelayan memanggilnya sambil memegang telepon di tangan.


"Ada apa?" tanyanya.


"Ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan tuan, Nyonya. Dia sedang menunggu di depan," ujar pelayan yang merupakan wanita yang masih cukup muda.


"Siapa?" tanya Laras palsu dengan wajah sinis.


"Itu, Nyonya. Namanya, Larasati." Pelayan itu berucap lirih di akhir katanya. Kepalanya pun menunduk takut, karena nama tamu itu sama dengan nama sang nyonya.


"Nyonya?" Pelayan itu mencoba memanggil Laras palsu lagi, ketika melihat wanita di depannya malah terdiam tanpa jawaban.


Laras palsu terjingkat kaget ketika mendapati suara pelayan, dia mengalihkan pandangannya dengan mata yang terlihat gusar, lalu memaksakan diri untuk berbicara. "Apa kamu tidak lihat kalau saya dan Tuan akan segera pergi. Jadi usir dia sekarang juga!"


"Ba–baik, Nyonya," angguk pelayan itu lalu segera mengabari penjaga gerbang.


"Untuk apa dia datang ke sini?" gumam Laras palsu sambil mengatur napasnya yang tiba-tiba saja merasa sesak. Dia sama sekali tidak menyangka jika Laras asli akan berani datang secepat ini.


Untuk beberapa saat dia terdiam di tempat yang sama sambil terus mengendalikan diri dari rasa terkejutnya. Setelah dirasa sudah cukup tenang, Laras palsu baru melanjutkan langkahnya untuk menyusul Ervin yang sudah menunggunya di mobil.


Semetara itu, di luar rumah. Ervin sempat teralihkan oleh suara wanita yang sayup terdengar diiringi dengan gebrakan di pagar besinya. Dia sempat melihat penjaga gerbang menutup pintu dan berjalan dengan terburu-buru menuju ke posnya beberapa saat yang lalu.


"Ada apa itu?" tanya Ervin pada sopir yang akan membawanya.

__ADS_1


"Tidak tahu, Tuan. Mungkin hanya orang meminta-minta," jawab sopir.


"Tunggu, biar aku tanya dulu. Sepertinya orang yang berteriak itu sempat menyebutkan namaku," ujar Ervin sambil hendak ke luar lagi dari mobil. Namun, baru saja dia hendak membuka pintu, Laras palsu masuk ke dalam dan mencegahnya.


"Mau ke mana? Aku sudah ada di sini," tanya Laras palsu yang baru saja duduk di sebelah Ervin.


"Aku mau lihat wanita yang membuat keributan di luar," jawab Ervin sambil menoleh melihat Laras palsu sekilas.


"Enggak usah, dia cuma wanita gila. Jangan disamperin atau dia akan mengamuk," cegah Laras palsu sambil menarik kembali lengan Ervin agar duduk tegak lagi.


"Wanita gila?" gumam Ervin dengan kening berkerut dalam.


"Iya, tadi aku dapat informasi dari penjaga gerbang. Katanya dia wanita gila yang sering mengamuk," jelas Laras palsu dengan penuh kebohongan tentunya.


"Baiklah, kita berangkat sekarang," putus Ervin sambil menyandarkan punggung di sandaran kursi.


"Nah gitu dong. Ngapain juga kita ngurusin wanita gila kayak gitu, gak penting," ujar puas Laras palsu sambil menyandarkan kepalanya di pundak Ervin.


Mobil pun mulai melaju menyusuri jalan menuju gerbang. Ervin yang merasa risih dengan sikap istrinya sempat menghindar dari kepala Laras palsu, tetapi wanita itu tak menyerah, dan terus mendekati Ervin.


Entah kenapa, setelah satu tahun aku bisa melihat, aku malah kehilangan perasaanku pada istriku. Rasanya sangat berbeda dengan dulu, dan sikapnya juga kenapa harus berubah hingga membuat aku semakin membencinya dari hari ke hari? batin Ervin sambil mengalihkan perhatiannya ke luar jendela mobil.


Pada saat mobil melewati gerbang, Laras palsu yang melihat keberadaan Laras asli yang masih berdiri sambil menatap mobil, sengaja mengalihkan kepalanya ke dada Ervin. Sementara Ervin yang terkejut akan pergerakan istrinya refleks mengangkat tangannya berniat ingin menyingkirkan kepala Laras palsu dari dadanya.


Sayang, sikap itu terlihat berbeda dari luar kaca mobil. Laras asli melihat seolah Ervin sedang menikmati kebersamaannya dengan wanita lain, bahkan tangannya yang terangkat seolah sedang mengusap kepala Laras palsu.


Tanpa sengaja ketika mobil mulai melaju di jalanan depan rumahnya, Ervin dapat melihat perempuan yang tengah berdiri di depan gerbang sambil melihat kepergian mobilnya.


Dia menangis? batin Ervin sambil terus melihat ke atas spion mobil, di mana dia bisa melihat wajah wanita itu yang semakin jauh. Tiba-tiba saja, hatinya kembali terusik. Ada rasa perih yang merasuk di dalam dada, ketika dia dapat melihat luka yang begitu dalam di sorot mata wanita tak dikenal itu.


Kenapa rasanya begitu menyakitkan ketika melihat airmatanya? batin Ervin lagi. Berbagai pertanyaan kini mulai memenuhi kepalanya kembali. Setelah wanita di bandara, kini wanita gila di depan gerbangnya pun kembali mengusik hatinya.

__ADS_1


Apa yang terjadi padaku? Mana mungkin hatiku bisa terusik hanya dengan menghirup wangi dan melihat wajah sendu wanita lain. Sementara pada istriku sendiri, setelah selama ini bersama bahkan aku terus saja tidak bisa melihatnya.


__ADS_2