
Flasback empat tahun lalu ....
"Dedrik? Apa ini benar kamu?" tanya Ervin dengan wajah terkejutnya. Matanya tak henti menatap wajah lelaki berumur awal lima puluh tahunan itu.
"Iya, Tuan muda, ini saya. Saya sudah pulih. Terima kasih, karena selama ini Tuan muda sudah menjaga saya dan memberikan perawatan terbaik selama saya tidak sadarkan diri," jawab Dedrik dengan senyum khasnya yang mempu membuat hati Ervin lega.
"Ayo kita masuk dulu, kamu herus segera menjelaskan semuanya tentang dua laras yang berbeda itu." Ervin yang baru saja daang di rumah peristirahatan, tempat Dedrik kini berada pun langsung mengajak Dedrik masuk.
Dia memang sengaja menyuruh Dedrik untuk tidak datang ke rumah langsung, karena sebelumnya Dedrik mengatakan jika istrinya dan Laras yang menikah denganya, itu berbeda. Itu jelas membuat Ervin terkejut sekaligus bertanya-tanya, bagaimana mungkin dia gagal mengenali istrinya sendiri? Namun, semuanya sudah terjadi, kini dia harus meluruskan semuanya dan berbalik mencurigai istrinya yang sekarang.
"Baik, Tuan," angguk Dedrik sambil menggeser posisinya dan membiarkan Ervin masuk lebih dulu.
Keduanya pun duduk di ruang tengah rumah peristirahatan. Ervin bersyukur karena dia menugaskan seseorang yang dia percaya untuk menjaga Dedrik selama lelaki itu koma, hingga yang tahu pertama kali tentang kondisi Dedrik adalah dirinya. Dia tidak bisa membayangkan, jika sampai kabar itu lebih dulu sampai ke ibu tirinya, Roland, atau bahkan istrinya saat ini.
"Ini adalah Laras yang saya bawa sebagai permintaan terakhir dari Nyonya Davina, Tuan muda." Dedrik memperlihatkan sebuah foto pernikahan Ervin dan Laras yang untung saja masih dia miliki.
"Walaupun kecelakaan itu terjadi, tapi itu tidak akan mampu merubah sikap dan sifat seseorang, apa lagi itu Laras yang tumbuh dari rasa sakit. Dia sangat menghargai hubungan dan materi. Saya tahu betul, karena selama ini, saya sendiri lah yang mengawasi Nyonya Laras semenjak dia ditemukan oleh Nyonya Davina," jelas Dedrik. Lelaki paruh baya itu pun melanjutkan ceritanya untuk meyakinkan Ervin tentang kecurigaannya, Dia juga menunjukkan beberapa foto kebersamaan Ervin dan Laras yang sengaja diambil diam-diam oleh Herdi atas perintah darinya.
Ervin teridam dengan keterkjutan yang tak bisa lagi dia tahan. Mana mungkin dia bisa keliru begitu lama, padahal dari awal dia bertemu dengan Laras yang sekarang, hatinya sudah merasa janggal dan tak ada lagi rasa cinta yang dia rasakan sebelumnya. Nyatanya, hati dan perasaanya lebih tau mana yang sejak dulu sudah bertahta di sana. Sayangnya, Ervin lebih menuruti logikanya hingga berakhir dengan rasa sesal yang tak akan pernah dia lupakan.
__ADS_1
"Aku sudah merasa janggal dari awal, tetapi aku tidak berani mencurigainya karena selama ini aku banyak berhutang budi pada Laras," ujar Ervin setelah Dedrik menceritakan tentang Laras asli dan mengungkapkan jika Laras yang saat ini ada di rumah itu hanyalah wanita tamak dan manja yang berpura-pura menjadi Laras.
"Itu sangat wajar, Tuan muda. Walau Tuan muda dan Nyonya Laras sudah menikah, tetapi kalian baru saja mulai mengenal satu sama lain, bahkan Tuan muda belum pernah melihat wajah asli Nyonya Laras yang asli," ujar Dedrik, berusaha menenangkan hati tuan mudanya.
Ervin masih terdiam, dia belum bisa menerima kenyataan yang baru saja terbuka. Ingatan tentang semua kenangannya saat bertemu dengan Laras asli pun berputar di ingatan.
Aku sudah banyak menyakiti hatinya. Bagaimana bisa aku membicarakan wanita gila itu di depan Laras? batin Ervin yang mengingat kejadian di pesta satu tahun yang lalu. Saat terakhir kalinya dia bertemu dengan Laras.
Flashback off ....
Dion, Nevan, dan Nessa, baru saja sampai di perkemahan, mereka mencari keberadaan Laras yang katanya berangkat lebih dulu, tetapi ketiganya sama sekali tidak melihat keberadaan mobil Laras di sana.
Semoga saja itu hanya pikiranku saja. Jangan sampai dia bertemu lagi dengan lelaki brengsek itu, batin Dion penuh harap. Salahnya memang yang lupa akan keberadaan Ervin di hotel hingga dengan mudahnya dia mengizinkan Laras untuk menunggunya di sana.
"Iya, ayo kita masuk saja, nanti juga Mamah kabarin kita kalau sudah sampai ke parkiran," ujar Nevan pada Nessa yang masih mencari keberadaan Laras.
Mata anak perempuan itu terlihat mulai memerah, dengan hidung kembang kempis, menahan tangis. Nessa memang belum pernah berpisah dari Laras selama ini. Sepertinya gadis kecil itu mulai merindaukan kehadiran ibunya.
"Ayo, Nessa," ujar Nevan lagi sambil menggengam tangan adik kembarnya dengan lembut.
__ADS_1
Nessa menatap wajah kakak kembarnya dengan tatapan sendu, lalu mengangguk pelan dan mulai berjalan menuju ke dalam perkemahan. Lokasinya yang berada di tengah hutan buatan, membuat mereka harus berjalan beberapa meter ke dalam setelah melakukan registrasi.
Dion tersenyum, setiap kali Nessa bersedih dia tidak perlu turun tangan, karena Nevan yang akan membujuknya hingga akhirnya Nessa bisa tenang kembali. Walau terkadang dia juga merasa sedih ketika harus melihat sikap Nevan yang lebih dewasa daripada umurnya.
Sekuat apa pun Dion berusaha menggantikan sosok ayah untuk kedua anak itu, tetapi dirinya juga harus sadar, jika ternyata itu tidak akan pernah cukup. Dion bahkan berkomitmen untuk tidak memiliki hubungan dulu, sebelum kedua anak itu beranjak dewasa atau Laras sudah memiliki pengganti Ervin dan akan menggantikannya merawat kedua keponakan kesayangannya.
Sementara itu, selepas melihat Dion, Nevan dan Nessa masuk ke area perkemahan, Ervin pun mencoba melakukan reservasi tenda yang berada dekat dengan tenda ketiga orang itu. Dia juga meyakini, jika Laras akan menyusul mereka ke sini.
Sulit memang mendapatkan tenda, mengingat ini adalah akhir pekan. Namun, bukan Ervin namanya jika dia menyerah begitu saja. Setelah satu jam menunggu dengan jaminan bayaran dua kali lipat, akhirnya Ervin mendapatkan tenda single yang berada dekat dengan tenda milik Dion. Ervin beralasan ingin memberikan kejutan pada istri dan anak-anaknya yang tak lain adalah Laras dan dua anak kembarnya.
...❤🩹...
Laras baru sampai di perkemahan setelah waktu sudah mulai sore, dia terlalu larut dalam berbagai rasa yang bercampur di dalam hatinya hanya karena pertemuan dengan lelaki yang sudah terlalu banyak menorehkan luka, tetapi juga memberikan dua malaikat sebagai penyemangat hidupnya.
"Gara-gara kejadian tadi, aku hampir saja menghancurkan rencana bahagia untuk Nevan dan Nessa," gumam Laras sambil mengambil dua kantong yang berisi berbagai camilan untuk dua hari perkemahaan mereka.
Ini pertama kalinya dia berkemah di sini, hingga terpaksa dia harus menghubungi Dion agar bisa melakukan perifikasi. Dia pun diantarkan menuju ke tenda yang sudah dipesan oleh Dion.
Sementara itu, Ervin yang melihat kedatangan Laras dari kejauhan, pun tersenyum senang. Walau tidak bertemu langsung, tetapi dia sudah merasa senang karena bisa melihat senyum Laras ketika bertemu dengan anak-anaknya.
__ADS_1
"Aku janji akan membawa kalian kembali. Aku yakin, mereka memang anak-anakku. Karena, aku percaya padamu, Laras. Kamu tidak mungkin mengkhianatiku," gumam Ervin tanpa mengalihkan perhatiannya dari ketiga orang yang masih terlihat melepas rindu di depan tenda.