Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.51 Khwatir?


__ADS_3

Setelah membersihkan diri, Ervin memilih untuk merebahkan diri di tenda hingga tanpa terasa dia tertidur akibat kelelahan. Namun, tidurnya terusik ketika suara dua anak-anak yang memanggilnya dan terdengar semakin mendekat.


"Papah, mama ajak makan malam bersama. Ayo kita makan malam bareng, Pah. Mamah udah masak lho," ujar Nessa sambil menggoyangkan tangan Ervin pelan. Ternyata kedua anak itu masuk ke tenda karena tak juga mendapati jawaban dari panggilannya.


Ervin mengerjapkan mata, seolah sebuah mimpi dia mengucek kedua matanya, ketika bayangan dua anak kecil yang diyakini adalah anak-anaknya kini tengah berada tepat di sisinya.


"Kalian? Ada apa, kok kalian ada di dalam tenda, Papah?" tanya Ervin sambil hendak berangsur untuk duduk.


"Mama suruh kita panggil Papah untuk makan malam bersama," jawab Nevan yang sejak tadi hanya memperhatian seisi ruangan sempit yang terlihat sangat rapih dan bersih, walau Ervin tinggal hanya sendiri di sana.


"Arggh!" Ervin mengerang sambil memegangi kakinya yang tiba-tiba saja merasa sakit bukan main, bahkan ketika posisinya belum duduk dengan sempurna.


"Papah kenapa?" tanya Nessa dengan wajah panik. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca karena melihat Ervin kesakitan.


"Kaki Papah sakit, ayo kita panggil Mamah sama uncle," ujar Nevan dengan nada yang tak kalah panik dengan Nessa, walau wajahnya masih lebih tenang dibandingkan dengan adiknya.


Kedua anak itu pun langsung berlari keluar dan berteriak memanggil sang ibu dan Dion tanpa berpikir jika di sekitar sana juga banyak penghuni tenda lainnya.


"Mamah, Uncle! Papah gak bisa jalan!" teriak keduanya bersamaan sambil berjalan cepat menuju ke tenda mereka.


"Apa maksud kalian?" Laras langsung mengalihkan perhatiannya pada kedua anaknya. Tanpa sadar wanita itu bahkan langsung berlari menghampiri Nessa dan Nevan.


"Itu, Mah ... Papah kakinya sakit sampe gak bisa jalan," jawab Nessa begitu Laras sampai di depannya.


"Ya ampun ...." Laras melanjutkan langkahnya menuju tenda milik Ervin, wanita itu terlihat langsung masuk karena pintu tenda yang tidak ditutup dan dia yang sudah terlanjur khawatir.


"Kamu kenapa? Apa sakitnya parah?" tanya Laras begitu dia masuk, hingga membuat Ervin yang sudah duduk di ujung alas tidur pun hanya mampu terdiam dengan keterkejutannya. Matanya tak henti menatap kehadiran Laras yang tiba-tiba. Kini, Ervin bahkan bingung membedakan, apa ini sebuah mimpi apa kenyataan yang terjadi di hadapannya?


"Laras?" gumam Ervin pelan, masih dengan rasa tak percaya jika Laras akan menghampirinya.

__ADS_1


"Hei! Ditanya kok malah bengong. Coba lihat, kaki mana yang sakit?" ujar Laras yang malah berjalan terus mendekati Ervin dan kini menghentikan langkahnya tepat di depan lelaki itu.


"Ekhm!" Ervin berdehem pelan untuk lebih menyadarkan dirinya, sebelum menjawab pertanyaan Laras.


"Ini, kaki yang kanan," sambung Ervin lagi sambil menunjuk kaki kanannya.


Laras duduk di samping kaki Ervin, dia tampak memeriksa kaki Ervin yang ternyata terdapat beberapa lebam di sana, juga memar di pergelangan kakinya.


Ervin mencengkram alas tidur di sampingnya, menahan gelanyar aneh dan beban jantung yang berdebar lebih cepat hanya karena sentuhan dari tangan halus Laras. Kini, bukan hanya jantungnya yang berekasi pada Laras, seluruh tubuhnya bahkan bereaksi hanya dengan sentuhan kecil dari tangan wanita itu.


Dia tidak pernah mengganti parfumnya. Wangi tubuhnya masih sama seperti enam tahun lalu, batin Ervin sambil menghirup dalam aroma tubuh Laras yang sangat dia rindukan.


"Sepertinya kamu terlalu memaksakan diri tadi, kaki kamu juga terkilir, tapi kamu mengabaikannya, jadinya malah semakin parah," gumam Laras setelah memeriksa kondisi kaki Ervin. Namun, setelah itu dia baru sadar akan sikapnya yang tidak seharusnya dia lakukan pada Ervin. Laras langsung berdiri kembali dengan gerak tubuh kikuk.


"Aku keembali dulu, nanti aku suruh Dion membawa obatnya," ujar Laras sambil segera berbalik dan ke luar dari tenda dengan langkah cepat.


"Apa aku berbuat salah lagi?" gumam Ervin yang tiak tahu alasan Laras yang tiba-tiba saja pergi dari kamarnya dengan terburu-buru.


Sementara itu, Laras tampak berpapasan dengan Dion yang sudah membawa kotak obat di tangannya.


"Kenapa dia?" tanya Dion, tanpa ada rasa curiga sama sekali. Dion mencoba untuk berdamai kembali dengan keadaan, dirinya sadar jika Laras masih menyimpan perasaan pada Ervin, walau mungkin itu sudah lama terkubur bersama luka yang ditorehkan lelaki itu.


"Kamu udah bawa obat? Baguslah. Kakinya keram, ada beberapa lebam, dan terkilir di pergelangan kaki kanannya. Kamu bisa obatin sendiri kan?" tanya Laras masih dengan sikapnya yang kikuk dan serba salah.


Dion mengangguk, walau dia masih bingung dengan sikap Laras. Wanita itu bahkan langsung pergi meninggalkannya ketika melihat anggukannya.


"Ck!" Dion hanya berdecak pelan sambil menghembuskan napas dalam sebelum meneruskan langkahnya untuk masuk ke tenda Ervin.


...❤‍🩹...

__ADS_1


Setelah makan malam bersama, Laras mengantarkan makanan untuk Ervin mengingat dia masih harus istirahat di tendanya. Awalnya dia ingin menyuruh Dion untuk melakukannya, tetapi lelaki itu ada rapat mendadak yang membuatnya harus berdiam diri di tendanya dengan laptop menyala.


Sementara kedua anaknya pun sudah tertidur karena kelelahan. Mereka bahkan langsung terlelap setelah acara makan malam selesai.


"Tenang, Ras. Kamu hanya mengantarkan makan malam saja, tidak lebih. Jangan terlalu kentara, okey," ujar Laras mencoba memberikan sugesti pada dirinya sendiri agar tidak terlalu gugup saat berhadapan dengan Ervin.


Laras menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan sebelum mengangkat nampan berisi menu makan malam untuk Ervin dan melangkahkan kakinya menuju tenda ayah dari anak-anaknya.


Wanita itu terdiam untuk beberapa saat di depan pintu tenda Ervin sebelum mulai membukanya.


"Aku mengantarkan makan malam," ujar Laras, lalu masuk ketika sudah terengar jawaban dari Ervin.


Sampai di dalam tenda, Laras meliat Ervin masih duduk di ujung alas tidur dengan wajah yang semakin pucat.


"Lebih baik makan dulu, agar nanti bisa minum obat," ujar Laras sambil menaruh nampan di samping Ervin.


"Terima kasih, Ras. Maaf aku malah merepotkan kamu," ujar Ervin dengan suara lirih dan lemas.


"Kalau tau merepotkan, cepat makan dan minum obatnya," ujar Laras setelah menyiapkan obat yang akan diminum oleh Ervin.


Ervin pun perlahan mengambil mangkuk sup dan mulai makan walau dia tak selera sama sekali, bukan karena makanannya yang tidak enak, tetapi seluruh tubuhnya benar-benar terasa sakit hingga mengganggu aktivitasnya. Belum lagi kepalanya yang juga tiba-tiba saja terasa pusing. Akh, itu semua sangat membuatnya malu hingga rasanya Ervin tidak mempunyai muka lagi di depan Laras.


"Sepertinya kamu juga demam," ujar Laras setelah mengukur suhu tubuh Ervin. Untung saja dia selalu menyiapkan semua keperluan kesehatan ketika bepergian, mengingat kegiatan seperti ini akan jauh dari pusat kesehatan. Apa lagi ada dua anak yang ikut bersamanya. Tentu saja, Laras harus selalu waspada dalam segala situasi.


"Maafkan aku, Ras. Aku sudah berbuat banyak salah padamu," gumam Ervin tiba-tiba, yang membuat Laras mengalihkan perhatiannya pada lelaki itu.


Laras enggan membalas, dia berpura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Ervin. Sungguh, dia masih bingung dengan perasaannya pada lelaki itu, hingga membuatnya juga sulit untuk menjawab permintaan Ervin.


"Aku–"

__ADS_1


__ADS_2