Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.37 Rencana


__ADS_3

"Gerimis?" gumam Laras sambil menengadahkan tangannya hingga air membasahinya. Dia mengedarkan pandangannya, mencari tempat untuk meneduh. Perhatiannya teralih pada sebuah halte bus yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Cepat, dia mencoba berlari sambil menutup kepalanya menggunakan tas selempang kecil, agar terhindar dari tetes air.


"Aku mohon, jangan hujan dulu," gumam Laras sambil menundukkan kepalanya cukup dalam. Akibat kecelakaan yang lalu, dia menjadi memiliki trauma pada hujan yang deras. Tubuhnya akan menggigil menahan takut ketika suara hujan deras terdengar, apa lagi jika itu bersamaan dengan gemuruh dan petir. Semua suara yang menyatu kembali menyiksanya dengan ingatan kejadian mengerikan saat dirinya kecelakaan.


"Laras?" Panggilan dari seseorang membuat Laras langsung menoleh ke arah suara. Dia sempat mengerutkan keningnya ketika seorang wanita paruh baya terlihat menghampirinya dengan wajah sumringah.


"Ini aku, Bude Amih, yang suka bantu-bantu di panti." Seakan tahu kebingungan Laras, wanita paruh baya itu menjelaskan dirinya tanpa diminta.


"Bude Amih. Ya ampun, maaf, Bude aku pangling." Laras langsung berdiri lalu menyalami wanita paruh baya itu dengan wajah sumringah. Dia berharap bisa mendapat informasi tentang panti asuhan yang tiba-tiba menghilang.


"Bude juga hampir gak ngenalin kamu, Ras. Ya ampun, lama banget kita gak ketemu. Kamu ke mana aja, Ras. Kenapa menghilang tanpa kabar?" tanya bude Amih sambil memeluk Laras.


"Ada sesuatu yang membuat aku tidak bisa kembali untuk beberapa waktu, Bude. Bude, apa kabar?" tanya Laras. Keduanya duduk di kursi halte.


"Bude baik, Ras. Tapi, panti tidak baik-baik aja, Ras. Kamu bisa liat sendiri sekarang, bangunan itu sudah tidak ada." Bude Amih mengalihkan perhatiannya pada bekas bangunan panti yang sudah rata oleh tanah. Tatapannya terlihat sendu dan penuh luka.


"Bude bisa ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi sama panti dan sekarang ke mana mereka semua pergi?" tanya Laras sumringah. Rasa takutnya akan hujan pun teralihkan oleh rasa penasaran akan cerita panti yang menghilang.


"Menantu dari orang yang sudah mewakafkan tanah untuk membangun panti tiba-tiba datang dan mengambil alih panti. Mereka juga mengusir ibu Sri dan anak-anak secara paksa," jawab Bude Amih.


"Bukannya yang mewakafkan tanah itu adalah pemilik RK Elektronik? Seingatku Bu Sri bahkan sudah mendapat surat hibahnnya. Tapi, kenapa mereka masih bisa mengambil alih?" tanya Laras. Tangannya mengepal erat mengingat siapa yang pasti sudah datang dan mengusir ibu Sri dan adik-adik pantinya.


Jelas sekali, Laras melihat surat hibah itu sewaktu dirinya membantu Ervin mengurus perusahaan. Namun, kenapa sekarang bisa diambil alih kembali?


Tega kamu, Vin. Bahkan kamu juga mengusir dan menghancurkan panti asuhan, tempat aku tubuh dan satu-satunya keluargaku. Padahal kamu tau, betapa pentingnya panti untukku, batin Laras, kembali mendapatkan kecewa.

__ADS_1


"Bude gak tau bagaimana jelasnya. Yang bude tau, mereka sudah memaksa Bu Sri untuk segera pergi dari panti yang dulu. Mereka bahkan tak segan melakukan kekerasan pada anak-anak. Bu Sri tidak berdaya, dia memilih untuk mengalah dan segera membawa anak-anak dengan keadaan serba kekurangan," cerita bude Amih.


"Sekarang, bu Sri dan yang lainnya ada di mana, Bude? Boleh aku tau alamatnya?" tanya Laras dengan mata yang sudah memerah karena tangis. Mendengar cerita tragis yang menimpa seluruh anggota panti membuat Laras tak bisa lagi menahan emosinya.


Bude Amih terlihat mengambil secarik kertas di tasnya lalu menuliskan sesuatu di sana. "Ini alamatnya. Mereka sekarang mengontrak rumah di pinggiran kota."


Laras menerimanya lalu membacanya sebentar. Dia mengalihkan pandangannya pada bude Amih lalu berkata. "Makasih banyak ya, Bude."


Bersamaan dengan itu, sebuah mobil terlihat berhenti di depan halte. Laras tersenyum lalu berdiri dan berpamitan. Dia tentu tahu milik siapa kendaraan itu.


"Terima kasih untuk semuanya, Bude. Sekarang aku harus segera pulang," ujar Laras sebelum akhirnya pergi menghampiri mobil di depannya.


"Siapa itu?" tanya Dion begitu Laras duduk di sampingnya.


"Apa aku harus menyapanya?" tanya Dion sambil menoleh melihat bude Amih yang masih duduk di halte.


"Tidak usah, lagian dia juga gak kenal sama kamu. Mending kita pulang sekarang, aku takut turun hujan," jawab Laras sambil mengedarkan pandangannya di luar mobil yang memperlihatkan rintik gerimis semakin lebat.


"Baiklah, kita pulang sekarang," angguk Dion. Dia menghembuskan napas lega merasa bersyukur karena tidak terlambat menjemput Laras karena gerimis ternyata memanjang, walau hujan deras tak kunjung turun.


...❤‍🩹...


"GImana tadi, kamu berhasil menemui Ervin?" tanya Dion setelah mereka sampai di rumah dan Laras selesai memberikan asi untuk kedua anaknya.


Laras menggeleng.

__ADS_1


"Kenapa? Apa dia menolakmu? Aku bilang juga apa, dia itu laki-laki brengsek, lebih baik kamu lupakan saja dia, Ras," kesal Dion yang malah terpancing emosi.


"Aku masih ingin berusaha sekali lagi, Yon. Apa kamu punya cara untukku bisa menemuinya tanpa harus memiliki janji dengannya dulu?" tanya Laras. Mendengar tentang panti, dia semakin ingin menemui Ervin dan meminta penjelasan untuk semua yang terjadi selama dirinya tidak ada.


"Untuk apa lagi sih, Ras? Udah jelas-jelas dia itu menolak kamu. Dia itu cuma manfaatin kamu doang buat ngurusin perusahaannya pas dia masih buta, sekarang dia sudah bisa melihat, jadi dia melupakan kamu." Dion masih saja terlihat tidak suka pada Ervin. Sepertinya, memang tidak akan pernah ada kata akur di antara kedua laki-laki itu.


"Aku ingin meminta penjelasan padanya. Kamu tau kan, kalau aku tidak akan bisa tenang sebelum mendapat kejelasan," ujar Laras.


"Kenapa tidak ke kantornya saja? Mungkin di sana kamu bisa bertemu dengan laki-laki brengsek itu," jawab Dion sinis, sambil mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Dion merajuk.


"Aku gak bisa datang ke perusahaan, Yon. Kamu tau kan kalau di sana ada Roland. Dia terlalu bahaya untuk anak-anakku," jawab Laras dengan nada suara lesu.


Dion terdiam. Karena dia terlalu terbawa emosi, Dion sampai lupa jika Laras memang harus menghindari kantor, mengingat itu terlalu berbahaya jika bertemu dengan Roland.


"Sebenarnya minggu depan, aku ada undangan untuk menghadiri sebuah pesta. Aku ragu dia akan datang ke sana, tapi-" Dion tampak berujar sambil mengelus dagunya seolah sedang berpikir keras.


"Aku ikut!" Laras langsung memotong ucapan Dion yang belum selesai.


"Oke, tapi kamu harus tampil beda, agar orang-orang tidak terlalu mengenalmu. Kamu datang sebagai sekretarisku," jawab Dion, yang langsung di setujui oleh Laras.


Malam itu, mereka habiskan untuk menyusun rencana agar bisa menemui Dion dan mengajaknya berbicara tanpa ada yang curiga atau diketahui orang-orang di sekitarnya.


Setelah datang ke Indonesia lagi, Dion kembali mencari tahu tentang Ervin dan istrinya, kini dia sudah tahu jika hampir semua orang-orang di sekitar Ervin mangalami penggantian, hingga Laras yakin jika ini memang ada yang tidak beres. Saat ini, Laras bahkan tidak tahu mana yang memihak pada Ervin dan mana yang menjadi penghianat.


Kamu harus menjelaskan semua ini, Ervin. Setidaknya untuk meyakinkan hatiku, agar tidak ada penyesalan karena sudah pernah mempercayaimu, batin Laras.

__ADS_1


__ADS_2