
Ervin mulai mengernyitkan keningnya ketika merasa jika Laras sudah pergi terlalu lama hanya untuk mengambil air minum ke dapur. Setelah menunggu sebentar lagi dan tak juga mendapati wanita itu datang, Ervin pun mulai kesal pada Laras.
"Ke mana dia?" gumamnya sambil mulai beranjak dari atas ranjang sambil mengambil tongkat yang terlipat di nakas dan mulai bersiap untuk berjalan.
Ervin mulai membuka pintu kamar dan berjalan menuju ke luar, dia yang biasanya menggunakan lift untuk turun ke lantai bawah pun akhirnya memilih berjalan melalui tangga karena takut berlawanan arah dengan Laras.
Laki-laki itu tampak berpegang kencang pada sisi tangga dengan kaki yang meraba setiap anak tangga yang harus dia pijak, hingga akhirnya dia berhasil sampai di anak tangga terakhir. Menghembuskan napasnya kasar, Ervin mengeratkan pegangan tangan di tongkatnya.
Siap, gara-gara wanita itu aku harus begini! batin Ervin sambil mengelap bulir keringat di keningnya.
Sungguh, kesabarnnya sudah mulai menipis karena ternyata dia sama sekali tidak mendapati Laras di tangga. Ervin menyeringai tipis sambil berguman pelan "Usaha yang sia-sia."
Namun, fokusnya kembali terbagi ketika tiba-tiba, telinganya mendengar suara orang yang sedang berbicang dari arah dapur, yang semakin lama semakin mendekat.
"Dedrik dan wanita itu?" gumamnya yang sudah mengenal suara dua manusia itu.
Ervin pun memutuskan untuk tetap berdiri di sana tanpa tahu jika itu adalah salah satu sudut yang terlihat lebih gelap dari bagian ruangan yang lainnya, hingga membuatnya tidak terlihat oleh siapa pun. Dia semakin mengeratkan gengaman tangannya bahkan hingga pembuluh darah di sekitar punggung tangannya terlihat menonjol. Entah mengapa, mendengar perbincangan itu, hantinya merasa sangat kesal hingga rasanya dia ingin marah?
Saat Ervin mendengar langkah kaki Dedrik dan laras yang berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri dia berdehem agar mereka menyadari keberadaannya, kemudian mulai berbicara dengan nada dingin dan kening berkerut tipis. "Ternyata kalian di sini?"
"Tuan?" gumam Dedrik dan Laras bersamaan. Keduanya tampak terkejut ketika melihat Ervin yang sedang berdiri di ujung tangga.
"Tuan turun melalui tangga? Kenapa tidak menggunakan lift saja? Ini berbahaya bagi Anda," ujar panik Dedrik sambil langsung melangkah menghampiri Ervin.
"Maafkan aku karena lama. Tadi, aku tersesat karena tidak tahu letak dapur." Laras pun ikut menjelaskan keterlambatannya sambil menunduk dalam.
Ervin tak menampakan ekspresi apa pun dia hanya maju satu langkah kemudian berjalan manuju ke arah lift sambil berujar datar yang ditunjukkan untuk Laras. "Kembali ke kamar, baru satu hari kamu ada di sini sudah merusak jadwal tidurku."
__ADS_1
"Hah?" Laras terkejut dengan ucapan Ervin, dia sempat menatap Dedrik sebentar sebelum kemudian menyusul laki-laki itu sambil meminta maaf lagi. "Maafkan aku, Tuan. Aku tidak bermaksud mengganggu waktu tidur, Anda."
Ervin tak merespon, dia masih melanjutkan langkahnya menuju lift lalu masuk begitu saja. Namun, laki-laki itu kembali menghembuskan napas kasar ketika tidak mendengar langkah kaki Laras masuk ke dalam.
"Sedang apa di sana? Masuk!" ujarnya masih dengan tatapan kosong dan wajah tanpa ekspresinya.
"A--ah iya, Tuan," jawab Laras langsung sambil ikut masuk ke dalam lift dan bediri di samping Ervin. Dalam hati, wanita itu terus mengumpat dirinya sendiri yang selalu merasa gugup dan bertindak seperti orang bodoh ketika berada di depan Ervin.
Keduanya kembali ke kamar, Laras memberikan air minum yang sejak tadi dia pegang dengan erat pada Ervin. Dia kemudian mematikan lampu kamar sambil mengambil bantal dan hendak tidur di lantai. Sementara itu, Ervin sudah mulai merebahkan dirinya di atas ranjang berukuran king size itu.
"Kamu ngapain?" tanya Ervin ketika tak merasakan ranjang di sebelahnya bergerak tanda ada yang tidur di sana.
"Ah, aku gak mau mengganggu tidur Anda, jadi mending aku tidur di bawah saja," jawab Laras.
"Oh." Ervin tidak lagi berbicara, dia mulai menutup matanya setelah mendengar jawaban Laras.
Ish, dasar laki-laki gak gantle, umpatnya dalam hati dengan bibir mengerucut kesal. Laras pun mulai merebahkan dirinya di atas karpet bulu yang ada si sisi ranjang. Ya, walaupun dia berbicara ingin tidur du atas lantai, tetapi itu semua karena dia terlalu canggung dan merasa melunjak jika meminta tidur di atas ranjang. Walau begitu, dalam hati, Laras menginginkan Ervin untuk menawarinya saja. Namun, sepertinya itu hanya harapan semua yang tidak akan pernah terwujud, mengingat sikap Ervin yang sangat dingin padanya.
"Tunggu."
Laras langsung bangun dengan wajah sumringah sambil menatap Ervin ketika laki-laki itu tampak membuka suara lagi.
"Kamu tidak merasa dingin tidur di sana?" tanya Ervin.
"Ya dingin lah, mana ada tidur di lantai hangat," gumam Laras pelan.
Ayo dong, ajak aku tidur di ranjang, tapi jangan ngapa-ngapain ya, sambungnya dalam hati.
__ADS_1
"Selimutnya ada di rak kedua paling atas," ujar Ervin masih dengan nada datar, bahkan tanpa menggerakan tubuhnya sama sekali.
"Heuh?" Laras membolakan matanya ketika mendengar ucapan Ervin. Dirinya seakan diangkat tinggi dengan sebuah harapan kemudian dijatuhkan dengan sangat keras.
Laras meringis pelan sambil membalikan tubuhnya kemudian berujar sambil menahan kesal. "Iya, terima kasih, Tuan."
Pagi harinya, Laras mulai menggeliatkan tubuhnya yang entah kenapa terasa sangat nyaman, sambil tersenyum penuh semangat. Namun, rasa nyaman dan kebahagiaannya pagi itu tak bertahan lama, ketika dia menyadari apa yang terjadi padanya kemarin.
Laras tampak menghembuskan napas lelah kemudian mulai bangkit dari tidurnya sambil menyingkirkan selimut yang sejak tadi menutupi seluruh tubuhnya. Namun, sesaat kemudian dia kembali menghentikannya dengan kening berkerut dalam dan menatap kembali selimut di tangannya.
"Tunggu ... bukannya tadi malam aku tidak tidur memakai selimut? Terus kenapa ada selimut di sini?" tanyanya sambil menoleh ke samping hendak menatap Ervin yang tidur di atas ranjang.
Namun, dia kembali dibuat terkejut ketika menyadari jika Ervin sudah tidak ada di sampingnya. Bahkan kini dirinya tidak tidur di atas lantai, tetapi dia berada di ranjang Ervin.
"A--apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Laras sambil menoleh ke segala arah dengan wajah panik, berusaha mencarai keberadaan Ervin.
"Apa aku bermimpi sambil berjalan? Tapi, selama ini aku tidak pernah seperti itu. A--apa dia?" Laras bahkan tidak bisa melanjutkan ucapannya sendiri ketika otaknya mulai memikirkan sesuatu yang menurutnya tidak mungkin terjadi.
Mana mungkin dia mau menggendongku dan memindahkanku ke ranjang. Akh, itu tidak mungkin!' gumamnya dalam hati, mulai frustasi.
Memikirkan itu, Jantung laras tiba-tiba saja berdebar tak beraturan, rasa takut bercampur bingung kini mulai menghantui dirinya. Laras sama sekali tidak mengenal Ervin, walau sepertinya dia bukan laki-laki yang akan berbuat kasar, tetapi jika dilihat dari wajahnya yang selalu datar dan nada suara dingin, Laras juga sedikit takut pada suaminya itu.
Cepat-cepat Laras beranjak dari ranjang Ervin dan mulai membereskannya hingga kembali tampak rapih dan bersih seperti saat dia masuk pertama kali kemarin. Namun, baru saja dia menyelesaikan pekerjaannya, tiba-tiba dia dikejutkan kembali dengan suara Ervin yang baru saja ke luar dari kamar mandi.
"Sedang apa kamu?"
...Bersambung...
__ADS_1