Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.2 Hari pernikahan


__ADS_3

“Belum cukup kamu meninggalkan aku dan bunda demi istri jalangmu itu, hah? Sekarang kamu juga akan mengambil Dedrik dariku?!” teriak Ervin pada Alfredo di ujung sambungan telepon.


“Ada Roland yang akan membantumu di sana, Ervin. Sekarang aku yang membutuhkan Dedrik untuk mengurus perusahaan di sini,” jawab Alfredo dengan suara yang terdengar lemah.


“Ini perusahaan Bunda. Aku tidak sudi membiarkan Roland untuk menguasainya. Atau mungkin kamu memang ingin mengambil perusahaan Bunda dariku?” Ervin mengepalkan tangannya erat dengan wajah yang berubah merah padam akibat emosi yang menguasai tubuhnya.


“Tidak begitu, Ervin. Roland juga adikmu, dia tulus ingin membantu kamu.”


“Bulshit! Papah terlalu buta sampai dibodohi oleh jal*ng itu dan anaknya yang hanya menginginkan harta kita! ”


“Ervin! Jaga bicaramu!”


“Aakh!” Ervin membanting ponselnya ke sembarang arah, dia sudah muak dengan sikap Alfredo yang selalu membela Letisya dan Roland. Alfredo sudah dibutakan oleh cinta Letisya hingga tidak bisa lagi melihat niat lain wanita itu.


“Tuan!” Suara Dedrik dari balik pintu membuat Ervin mengalihkan perhatiannya.


“Saya akan masuk untuk membantu Anda memilih baju untuk acara siang nanti, Tuan.” Suara Dedrik kembali terdengar.


“Hem.” Ervin hanya berguman sebagai jawaban, kemudian berjalan menuju ranjang dan duduk di sisinya.


❤️‍🩹


Pagi-pagi sekali, beberapa mobil sudah terparkir di depan panti asuhan, mereka semua adalah orang-orang yang bertugas mempersiapkan Laras untuk acara pernikahan yang akan dilaksanakan pada siang nanti.


Sejak kedatangan Tuan Dedrik dua hari lalu, Bu Sri memang menyuruh Laras untuk tinggal di panti sambil memikirkan keputusan yang akan dia ambil.


Laras terdiam sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Begitu cantik dan anggun dengan kebaya modern berwarna putih yang dia pakai dan riasan khas pengantin. Tidak terlalu tebal, tetapi pas di wajahnya yang memang sudah terlihat manis.

__ADS_1


Aku tidak tahu ini keputusan yang benar atau salah. Semua ini aku lakukan hanya untuk membalas budi atas apa yang sudah mereka berikan padaku. Entah apa yang akan aku hadapi ke depannya? Aku hanya bisa berharap semuanya berjalan dengan lancar, batin Laras dengan pandangan gusar.


Entah kenapa, sejak semalam hatinya merasa sangat gusar? Dia tidak bisa tenang walau itu hanya sedetik saja. Jantungnya bahkan berdebar lebih cepat dari biasanya.


Menikah? Bahkan dia belum pernah memikirkannya. Namun, inilah sekarang yang harus dia hadapi. Bahkan dia harus menikah dengan laki-laki yang belum pernah dirinya temui.


Suara pintu terbuka membuat Laras langsung mengalihkan pandangannya, dia menatap nanar wanita paruh baya yang baru saja masuk ke kamarnya. Senyuman teduh wanita yang sudah mengurusnya dan menggantikan posisi orang tua untuknya, bahkan mampu membuat Laras hampir meneteskan air mata.


Salah satu alasan Laras menerima pernikahan ini adalah Bu Sri. Sore itu, setelah dia bertemu dengan Tuan Dedrik, Bu Sri menceritakan tentang perjanjiannya dengan nyonya Davina yang meminta Laras untuk dijodohkan dengan anak semata wayangnya. Jika setuju maka nyonya Davina akan menjadi donatur tetap panti asuhan.


Awalnya Bu Sri mengira itu semua hanyalah sebuah candaan, hingga tiba-tiba Dedrik datang dan menagih janjinya. Bu Sri merasa terkejut karena selama bertahun-tahun mereka tidak pernah bertanya tenang Laras lagi. Pada malam itu, Bu Sri meminta maaf pada Laras, karena dirinya menjadi penghalang untuk Laras dapat menggapai cita-citanya. Dia bahkan seperti seorang ibu panti yang menjual anak asuhnya demi ketenteraman panti asuhannya.


Mendengar semua itu, Laras memang terkejut dan sempat kecewa pada Bu Sri. Malam itu, Laras bahkan tidak bisa tidur sama sekali, karena rasa marah yang mengusai hati dan pikirannya. Namun, lambat laun dirinya juga mengerti jika mungkin ini semua adalah takdir yang harus dia terima, sekaligus sebuah kesempatan membalas budi pada Bu Sri yang telah merawat dan membimbingnya dengan penuh kasih sayang, juga pada keluarga nyonya Davina yang telah memberikan kehidupan dan kemudahan untuknya dalam menempuh pendidikan, hingga kini dirinya bisa menjadi seorang sarjana dengan nilai yang sangat memuaskan.


“Kamu cantik sekali, Ras, Ibu sampai pangling,” ujar Bu Sri sambil berjalan menghampiri Laras dengan tatapan penuh kekaguman, walau terselip luka di dalam hatinya ketika dirinya harus melihat Laras menikah dengan orang yang belum dia kenal.


Dari semua anak-anak yang dia asuh, banyak di antara mereka yang pergi karena diadopsi pada waktu masih kecil, kemudian menghilang begitu saja. Namun, Laras tidak, dia terus menolak diadopsi dengan alasan ingin menunggu kedatangan orang tua kandungnya dan takut jika suatu hari nanti kedua orang tuanya menemukannya di sini, mereka akan kesulitan karena dirinya sudah diadopsi.


“Makasih untuk selama ini, Bu. Ibu sudah aku anggap seperti orang tua aku sendiri,” ujar Laras dengan wajah yang terlihat sendu. Melihat air mata yang mengalir di wajah Bu Sri, membuatnya juga tidak bisa menahan diri untuk menangis.


“Maafin ibu, ya, Laras. Karena ibu, kamu jadi terpaksa menikah sekarang,” sendu Bu Sri sambil memeluk tubuh Laras.


“Maafin laras juga ya, Bu. Laras udah banyak ngerepotin Ibu. Doain Laras agar bisa menerima semua ini dengan ikhlas ya, Bu,” jawab Laras yang ikut terbawa suasana.


Keduanya sempat berada di posisi yang sama untuk beberapa saat, hingga tiba-tiba Bu Sri ingat tentang riasan Laras yang akan berantakan jika dia biarkan terus dalam kondisi seperti ini. Wanita paruh baya itu pun akhirnya melepaskan pelukannya pada tubuh Laras, kemudian menghapus air mata Laras dengan sangat hati-hati.


“Sepertinya ibu terlalu terbawa suasana karena kali ini ibu bukan mengantar anak ibu yang akan pergi diadopsi oleh keluarga barunya, tapi sekarang ibu harus melepas kamu untuk membangun sebuah keluarga baru dengan seseorang,” ujar Bu Sri dengan kekehan kecil menyertai perkataannya.

__ADS_1


Laras tersenyum sipu ketika mendengar ucapan Bu Sri, dia tampak menundukkan kepala malu, jika harus mengingat dirinya yang menikah hari ini.


Sebuah ketukkan di pintu memecah suasana penuh kasih sayang di antara Bu Sri dan Laras, keduanya tampak mengalihkan perhatiannya pada pintu masuk yang mulai terbuka, lalu menampilkan staf profesional yang sejak tadi berjaga di panti untuk memastikan persiapan yang dilakukan oleh Laras di sini.


“Mobil yang akan mengantar nona Laras menuju tempat pernikahan sudah datang, mari kita berangkat sekarang,” ujar laki-laki berbadan tegap dengan rambut cepak itu.


“Baik, Pak. Ini Laras juga sudah selesai,” jawab Bu Sri sambil tersenyum ramah.


“Ayo, Nak, sekarang sudah saatnya kamu pergi pada calon suami kamu,” ujar Bu Sri sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Laras bangun.


Laras mengangguk, dia berpegangan pada lengan Bu Sri dan terus begitu hingga akhirnya mereka sampai di depan panti. Laras terdiam, begitu dia berhasil melewati pintu masuk panti dan kini berada di teras bangunan yang cukup besar itu.


Matanya mengerjap beberapa kali dengan kepala mengedar, melihat apa yang ada di depannya saat ini. Tiga buah mobil mewah yang berbaris apik di depannya dengan banyak laki-laki berpakaian hitam yang sangat rapi tersebar di mana-mana.


“Silakan masuk, Nona,” ujar seorang laki-laki yang tadi memanggilnya ke kamar sambil membuka pintu mobil untuknya.


“T—terima kasih, Pak,” jawab laras sambil menatap pada Bu Sri yang tampak sudah sangat bersiap untuk melepaskannya.


Laras pun akhirnya masuk ke mobil dengan diantar oleh anak-anak panti lainnya yang berseru senang karena hari ini begitu banyak mobil mewah yang datang ke panti mereka.


Laras menutup mata sambil menarik napas dalam, dia kemudian menghembuskannya perlahan dengan sebuah harapan di dalam hati, jika kehidupannya setelah ini akan lebih baik dari sebelumnya.


Satu yang belum laras mengerti dari keputusan keluarga kaya itu untuk menjadikannya seorang menantu padahal dirinya sendiri hannyalah seorang yatim piatu yang tidak sebanding dengan kekayaan keluarga mereka. Ada sedikit rasa waswas di dalam dirinya ketika mengingat hal buruk yang mungkin saja terjadi setelah dia menikah dengan laki-laki dari keluarga kaya itu.


“Semoga saja, semua prasangka burukku tidak menjadi sebuah kenyataan,” gumam Laras pelan. Dia kemudian melambaikan tangan ketika mobil perlahan mulai bergerak menjauh dari panti tempatnya tinggal dan tumbuh. Saksi hidup perjalanan dirinya sejak berumur tujuh tahun, sampai akhirnya pergi saat ini.


Namun, baru saja beberapa meter iring-iringan mobil itu melaju dari panti, tiba-tiba saja seorang laki-laki muda tampak menyusulnya menggunakan sebuah sepeda motor dan berteriak. “Laras! Berhenti!”

__ADS_1


...Bersambung


...


__ADS_2