
Malam sudah menunjukkan pukul sepuluh ketika Dion melihat Laras duduk sendiri di balkon lantai dua rumah. Dion tampak menghembuskan napas pelan lalu meneruskan langkahnya yang berniat untuk mengambil air di lantai bawah.
"Apa sih yang dia harapkan dari laki-laki pengecut macam si Ervin itu? Bikin kesel aja," gerutunya sambil menuruni anak tangga dengan langkah cepat.
"Brengsek lo Ervin, bisa-bisanya lo nikah lagi sama orang lain, padahal Laras yang udah berusaha buat bantu dan nemenin lo waktu masih buta. Gak tau diri!" Dion masih saja asik menghardik sambil mengambil dua cangkir kopi lalu menuangkan kopi instan ke dalamnya.
Dia mengubah niatnya untuk mengambil air putih, sungguh hatinya juga merasa panas ketika mendengar berita tentang Ervin dan kematian Alfredo, begitu sampai di rumah pagi tadi.
"Berita duka. Pengusaha terkenal yang sudah lama tinggal di Texas; Alfredo, telah meninggal dunia. Anaknya sekaligus CEO dari RK Elektronik, Ervin Alarik, terpantau kini sedang berada di bandara Soekarno hata untuk segera terbang menuju ke Texas. Beliau pergi bersama dengan sang istri yang selama ini tidak pernah tampil dan selalu menolak wawancara. Mereka tampak serasi, bahkan sang istri selalu berada di sisi Ervin."
"Brengsek!" umpat Dion, saat ingatan potongan airtikel yang dia baca bersama Laras tentang Ervin, di sana bahkan mereka bisa melihat jelas gambar Ervin dan istri barunya.
Ervin merasa ikut sakit hati, ketika dia menjadi saksi bagaimana selama ini Laras mencoba untuk kembali pulih dan melakukan pengobatan dengan begitu gigih, walau dia sendiri dalam keadaan mengandung anak kembar sekaligus. Laras bahkan tak kenal lelah, walau dia tahu jika terapi yang dilakukan oleh Laras terasa menyakitkan.
"Gue bakal pastiin lo nyesel karena udah nyampakin cewek setulus Laras," geramnya lagi sambil menyeduh kopi di gelasnya.
"Akh, sialan!" umpatnya sambil mengibaskan tangannya cepat, ketika air panas tak sengaja mengenai punggung tangannya.
"Ini semua gara-gara cowok sialan itu!" umpatnya masih menyalahkan Ervin atas segala kecerobohannya sendiri yang menuangkan air panas tanpa melihatnya.
Dion terdiam dengan tangan dia biarkan di bawah guyuran air wastafel untuk mendinginkannya. Ingatannya kembali pada saat Laras memaksakan diri untuk berlatih hingga terjatuh dan berakhir dengan kakinya yang terkilir cukup parah hingga harus menghentikan terapi jalannya.
Flashback
Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Itu sudah lewat tiga puluh menit dari jadwal istirahat Laras biasanya. Dion yang masih sibuk mengerjakan tugas kantornya, tiba-tiba dikejutkan oleh suara benturan keras dari arah kamar Laras. Kamar mereka memang bersebelahan, hingga Dion bisa mendengar apa yang terjadi di kamar wanita hamil itu.
"Laras?" gumamnya sambil segera beranjak dari kursi lalu berlari ke luar dan mengetuk pintu kamar Laras.
__ADS_1
"Ras, apa itu tadi?" Kamu gak apa-apa kan?" teriaknya tak perduli lagi jika harus membangunkan bibinya yang juga sudah berada di kamar.
"Aku tidak apa- Akh!"
Mendengar teriakan itu, Dion tak pikir panjang, dia langsung masuk ke kamar Laras walau tanpa izin dari sang empunya.
"Astaga, Ras! Kamu kenapa bisa jatuh begini, heh?"
Alangkah terkejutnya Dion ketika melihat Laras yang sedang duduk di lantai dengan tangan memegang kakinya. Jelas, dia sudah tahu apa yang wanita itu lakukan di malam-malam begini, karena ini bukan kali pertama dia memergoki Laras diam-diam tetap berlatih berjalan tanpa pengawasan.
"Gak usah ngoceh dulu, bantuin aku, kakiku sakit," ujar Laras sambil meringis. Dia tahu, jika dibiarkan, maka Dion akan lebih dulu mengomelinya dengan rangkain kata yang panjangnya melebihi panjang kereta listrik, sebelum menolongnya.
Dion yang baru saja hendak membuka mulutnya kembali langsung terdiam dengan hembusan napas kasar. Lalu berjalan menghampiri Laras dan menggendongnya menuju tempat tidur.
"Kamu latihan diam-diam lagi?" tanya Dion sambil mengangkat tubuh Laras yang kini tengah hamil besar.
"Maaf," jawab Laras dengan kepala menunduk dan wajah memelas.
"Lo gak kasian sama baby Bakpao gue heh? Kalau terjadi apa-apa sama mereka gimana, heh?" tanya Dion lagi sambil melihat perut buncit Laras dengan tatapan nanar, sementara wanita yang sedang menjadi sasaran omelan Dion, hanya tertunduk lesu sambil sesekali meringis menahan sakit.
"Gue tau lo pengen cepet sembuh dan bisa jalan lagi, tapi lo juga harus mikirin mereka, Ras. Bukannya lo pernah bilang, kalo lo milih balik, karena anak yang lo kandung? Sekarang kenapa lo egois, heh? Lo cuma mikirin kesedihan lo tanpa tau apa yang akan mereka dapet kalo lo terus kayak gini?"
Kini, Dion sudah tidak tahan lagi. Laras memang pekerja keras dan tidak mudah menyerah, tetapi dia juga harus sadar jika sekarang ada dua nyawa lagi yang harus dia jaga dalam tubuhnya. Biarkan wanita itu sakit hati akan ucapannya, asalkan Laras bisa berpikir jernih dan tidak memaksakan diri lagi.
Laras terisak, bahunya perlahan bergetar karena tangis. Tangannya mengelus pelan perut buncitnya yang langsung dibalas gerakan halus dari dalam. Dion membiarkan tangis Laras, dia hanya fokus pada kaki Laras yang tampak memerah, sepertinya terkilir. Itu semua terbukti ketika bibinya datang dan langsung menyatakan jika kaki Laras terkilir cukup parah.
Flashback off ....
__ADS_1
Dion berdiri di ujung tangga dengan dua cangkir kopi di tangannya, dia tatap punggung wanita yang pernah menjadi cintanya. Wanita yang memberinya dunia baru dan membuka hatinya tentang gadis di sekitarnya. Ya, sebelum dia bertemu dengan Laras, Dion sering dimanfaatkan oleh para gadis yang menjalin hubungan hanya untuk memerasnya dengan cara halus. Namun, tidak dengan Laras. Gadis sederhana yang bahkan tidak pernah minta dibelikan apa pun padanya, walau dia tahu jika dirinya adalah anak orang berada. Sebaliknya, Laras malah selalu memarahinya jika dia menghamburkan uang dan membeli sesutu yang tidak penting. Sikap itulah yang membuat Dion terpesona oleh Laras dan akhirnya jatuh cinta.
Perlahan, Dion langkahkan kakinya untuk menghampiri wanita yang masih tetap dalam posisi yang sama.
"Ekhm!" Dion berdehem pelan sambil duduk di samping Laras. Tangannya terulur memberikan secangkir kopi di pada wanita itu.
Laras mendongak, dia cukup terkejut ketika mendengar suara deheman pelan, tetapi senyum tipis terukir ketika dia melihat sosok Dion yang kini duduk di sampingnya.
"Makasih," ujar Laras sambil menerima uluran kopi dari tangan Dion.
Dion tak menjawab, dia hanya sedikit memiringkan kepalanya ke samping sambil mengedikkan bahu, lalu menyeruput kopi miliknya sendiri. Rasa hangat sedikit panas, yang bercampur dengan pait di ujung lidah dan aroma semerbak memenuhi indra penciumannya. Rasa itu membuat Ervin memejamkan matanya sebentar, menikmati sensasi yang diberikan air berwarna hitam pekat itu. Bisa dipastikan, dia tidak kan bisa tidur setelah ini.
Keduanya terdiam untuk beberapa saat sambil menatap lurus ke atas, di mana ada bulan setengah lingkaran yang tampak bersinar di sela-sela awan kelabu yang banyak menutupi hitamnya langit malam itu.
"Masih memikirkannya?" tanya Dion tanpa mengalihkan perhatiannya dari bulan yang kini sedikit terutup oleh awan.
"Bohong kalau aku bilang tidak," jawab Laras sambil menoleh pada Dion sekilas, lalu menundukkan kepalanya, dia tatap permukaan kopi di dalam cangkir di genggamannya.
Dion menghembuskan napasnya pelan sambil mengalihkan pandangannya ke sembaranga arah.
"Lebih baik kamu lupakan saja dia, Ras. Dia tidak pantas untuk kamu pertahankan," ujar Dion sambil menatap wajah Laras yang masih tampak menunduk dalam.
"Izinkan aku menunghunya kembali, Yon. Aku mau menemuinya," jawab Laras sambil membalas tatapan Dion dengan mata berkaca-kaca.
Ada rasa sakit yang masih saja menghantam hatinya ketika dia melihat wajah Laras yang tampak sendu dan mengiba. Sekuat apa pun dia tahan dan berusaha hilangkan, rasa sayang itu masih tetap ada di sudut hatinya dan akan mekar bila saja dapat mendapatkan balasan.
"Untuk apa lagi kamu menunggunya, Ras? Jelas-jelas dia sudah melupakan kamu, bahkan dia sudah menikah lagi saat kamu bahkan tak ada kabar," kesal Dion yang sudah kadung kesal dan kecewa dengan keputusan Laras.
__ADS_1
"Aku hanya ingin bertemu dengannya sekali lagi dan mendengarkan penjelasannya. Bilapun kali ini tidak berhasil, setidaknya aku udah berusaha dan itu tak akan membuatku menyesal nantinya," jelas Laras.
Dion kembali menghembuskan napasnya tanpa mengalihkan pandangan dari wanita di hadapannya. Entah ini akan baik atau tidak, tidak salah jika mencoba lebih dulu, bukan? Setidaknya Laras tidak akan penasaran, walau mungkin akhirnya akan lebih menyakitkan.