
"Apa yang terjadi, aku dengar ada kekacauan di kantor?" tanya Ervin pada Hardi yang datang melapor. Keduanya kini tengah berada di sebuah ruang kerja rahasia yang Laras bahkan belum tahu tentang ruangan itu.
"Benar, Tuan. Semua itu terjadi karena Tuan Roland. Dia sengaja menghasut para keluarga korban untuk menuntut ganti rugi lebih pada perusahaan. Bahkan, jumlahnya terbilang tidak masuk akal." Roland menjawab dengan kepala menunduk dalam.
"Dia lagi?" geram Ervin. Tangannya mengepal erat hingga pembuluh darahnya tampak menonjol.
"Heh!" Ervin menghembuskan napas kasar beriringan dengan wajahnya yang menoleh ke sembarang arah. Ada senyum getir yang tampak di wajah tampannya.
"Jadi dia belum menyerah juga?" gumam Ervin yang malah membuat hatinya semakin teririis.
Sangat menyakitkan, hatinya seolah kembali remuk untuk kesekian kalinya. Marah? Benci? Kecewa? Atau bahkan sebuah cinta? Entah perasaaan yang mana yang membuat Ervin merasakan begitu sesak di dalam dada.
"Baiklah, kamu boleh kembali," ujarnya setelah cukup lama dia hanya terdiam dengan perasaan kacau.
"Saya permisi." Hardi menghembuskan napas pelan lalu membungkukkan tubuhnya sekilas sebelum akhirnya berlalu dari ruangan itu, meninggalkan Ervin yang masih ingin berkelut dengan perasaannya sendiri.
Namun, perhatiannya teralih ketika ponsel di sakunya terdengar berdering. Ervin mengambilnya, dia tahu itu dari siapa, dari dering yang memang berbeda dari yang lainnya.
"Tuan muda, Anda tidak apa-apa?"
Tenggorokannya tercekat, terasa perih seolah ada sesuatu yang mengganjal di sana, kala dia mendengar suara yang sudah beberapa minggu ini dia rindukan.
"Ekhm!" Ervin berdeham pelan sebelum menjawab pertanyaan dari Dedrik. Laki-laki yang selama ini dengan sabar mendampinginya dalam situasi terburuknya.
"Kemana saja kamu, baru menghubungiku? Aku kira kamu sudah melupakanku," jawab Ervin, bagaikan seorang anak yang tengah merajuk.
Keningnya mengerut dalam, tak suka ketika mendengar kekehan kecil dari ujung sambungan telepon.
"Maafkan saya, Tuan muda. Saya lumayan sibuk di sini," ujar Dedrik.
"Ck!" Ervin hanya berdecak pelan.
"Saya dengar, salah satu gudang ada yang mengalami kebekaran?" tanya Dedrik yang langsung membuat Ervin kembali terdiam dengan wajah berubah kesal.
"Laras?" Ervin sudah pasti tahu, jika tidak ada siapa pun yang akan melaporkan semua itu secepat ini selain istrinya.
__ADS_1
"Saya memang menyuruhnya untuk memberitahu apa yang terjadi di perusahaan, Tuan. Anda tidak perlu marah padanya," jawab Dedrik, seolah sudah tahu jika Ervin akan menyalahkan Laras karena wanita itu memberitahunya.
Ervin tak menjawab, dia hanya terdiam sambil kembali menata perasaannya.
"Tuan muda ...." Dedrik menjeda ucapannya. Laki-laki itu meragu untuk mengucapkan kata yang sudah berada di ujung lidah.
"Apa?"
"Kembalilah ke kantor, mereka membutuhkan Tuan muda. Saya takut Nyonya tidak akan sanggup menghadapi masalah ini," sambung Dedrik dengan satu tarikan napas.
"Hahaha!" Ervin tertawa keras walau nyatanya air sudah membendung di pelupuk matanya. "Mana mungkin laki-laki buta sepertiku mampu mengurus perusahaan, Dedrik. Kamu jangan gila."
"Tuan muda Bisa! Saya yakin, Tuan muda mampu melakukan itu semua, walau dengan keadaan sekarang," jawab Dedrik yakin.
"Sudahlah, Dedrik, jika kamu menghubungiku hanya untuk mengatakan itu, sebaiknya kamu tidak usah menghubungiku lagi!" Ervin hendak memutus sambungan telepionnya dan Dedrik. Namun, suara seseorang yang terdengar tak asing, membuatnya mengurungkan niatnya.
"Sudahlah Dedrik, kalau memang anak buta itu tidak mau memegang perusahaan, biarkan saja. Lagi pula masih ada Roland yang akan menggantikannya menjalankan perusahaan."
Ervin mengeratkan genggamannya pada ponselnya, dia tahu pasti itu suara siapa. Istri muda sang ayah. Wanita yang telah menghancurkan rumahtangga kedua orang tuanya dan merebut seluruh kasih sayang ayah darinya. Kini, dia pun ingin perusahaan milik bundanya? Jangan harap! Ervin besumpah tak akan menyerahkan harta peninggalan ibunya pada mereka, walau dengan cara apa pun.
"Itu, Ervin. Kemarikan Dedrik, saya mau bicara."
"Ervin, serahkan urusan ini pada Roland. Dia akan membantu kamu menyelesaikan masalah kebakaran itu."
Panas, seolah ada api yang membakar Dada Ervin, begitu menyakitkan hingga laki-laki itu merasakan kesulitan bernapas.
"Aku tiak akan memberikan apa pun padanya!" tekan Ervin.
"Kamu bahkan tidak bisa melihat apa pun, bagaimana kamu akan menyelesaikan masalah ini, heh? Kamu pasti tahu, jika ini semua memengaruhi citra perusahaan di mata publik dan itu berarti juga berpengaruh pada nilai saham!" sentak Alfredo yang tanpa sadar malah menambah luka di hati ERvin.
"Seseorang yang tidak tahu apa artinya setia, tidak berhak menilai siapa pun, termasuk aku!" Ervin langsung mematikan ponselnya begitu selesai mengucapkan kata itu.
Ponsel ditangannya pun dia lempar ke sembarang arah, hingga berakhir dengan kehancuran. Tangannya memukul dadanya berulang kali, berharap sesak itu dapat terobati.
"Dasar tamak! Mereka bahkan tidak pernah puas, setelah mengusai perusahaan laki-laki tua itu. Sekarang, mereka ingin merebut perusahaan Bunda juga." Ervin mengeratkan giginya dengan mata memerah.
__ADS_1
"Akh!" Tak sanggup lagi membendung sesak dalam dada, Ervin berteriak histeris sambil memukul meja dengan kekuatan penuh, lalu menyapu semua barang yang ada di atasnya tanpa terkecuali.
Dadanya naik turun seiring suara napas yang terdengar memburu. Ervin menegakkan kembali tubuhnya lalu mulai membawa kakinya melangkah ke luar dari ruangan itu. Langkahnya terlihat sedikit goyah, serupa lelah hati dan tubuhnya.
Mengapa dunia ini begitu tidak adil padanya? Belum puaskah Dia mengambil cinta pertamanya dan penglihatannya di waktu yang sama? Sang kekasih hati yang tidak akan pernah terganti. Wanita yang telah memberinya hidup dan menyayanginya hingga ujung hidupnya.
"Bunda, Ervin lelah. Bolehkah Ervin menyerah?" gumamnya sangat lirih, hingga hanya dapat terdengar oleh dirinya saja.
Tetes darah terlihat di lantai, meninggalkan bercak merah di marmer putih bersih itu. Mengikuti langkah laki-laki yang telah patah hati untuk kesekian kali.
"Ya ampun, Tuan?!"
Laras yang memang sedang mencari keberadaan Ervin, membelalakan matanya ketika melihat laki-laki itu yang tampak kacau, lengkap dengan darah yang menetes dari salah satu tangannya. Dia berlari panik menghampiri laki-laki yang tak lain adalah suaminya.
"Ada apa ini, Tuan. Ya ampun, Anda terluka!" Laras panik bukan main, dia langsung mengambil tangan Ervin dan menuntunnya untuk segera duduk di bangku. Namun, baru saja Laras hendak melangkahkan kakinya, tanganya lebih dulu dihempaskan oleh Ervin hingga tubuhnya pun hampir kehilangan keseimbangannya.
Laras terdiam dengan mata mengerjap pelan, dia menatap lekat wajah Ervin yang tampak sendu dan penampilannya yang kacau. Entah apa yang terjadi pada laki-laki itu, hingga dia menjadi seperti ini?
Tak menyerah, Laras berusaha menekan perasaannya. Dia kembali mendekati Ervin dan meraih tangannya dengan gerakan yang lebih lembut.
"Izinkan aku obatin dulu lukanya ya, setelah itu Tuan boleh marah lagi sama aku," ujar Laras dengan suara yang begitu lembut.
Perlahan, Laras membawa tangan Ervin menuju ke sofa yang tidak jauh dari sana, kemudian menuntunnya untuk duduk. Bersamaan dengan itu, seorang pelayan menyiapkan kotak p3k untuk Laras.
Wanita itu hanya mengangguk pelan, sebagai tanda terima kasih pada pelayan yang sudah menyiapkan semuanya, lalu menaruh tangan Ervin di pangkuannya.
"Tahan sebentar ya, ini sedikit perih," ujarnya lagi, sebelum mulai membersihkan luka di tangan Ervin dan mengobatinya.
Ervin masih terdiam dengan wajah datarnya, walau tanganya sedikit tersentak ketika merasakan perih dari obat yang dipilih oleh Laras untuk mengobati lukanya.
Laras mengulum senyum sambil melirik kilas wajah datar sang suami. Walau beberapa saat yang lalu, dia sempat terkejut dan takut pada Ervin, tetapi ketika melihat betapa malangnya nasib laki-laki itu dan segala tingkah yang seperti anak kecil, mampu menghapus segala ketakutannya berganti dengan simpati dan rasa jenaka dalam hatinya.
Baginya, Ervin seperti seorang anak kecil yang meranjuk atau bahkan tantrum, karena kehilangan sesatu yang begitu dia sayangi dan cintai. Laki-laki itu, hanya sedang mencari perhatian dan kenyamanan dari sekitarnya yang sulit untuk mengerti dengan perasaannya.
"Sudah," ujarnya sambil mengusap perban yang baru saja dia pasang membalut tangan Ervin.
__ADS_1
"Ekhm ... m-makasih," gumam Ervin pelan.
Senyum cerah langsung terukir di wajah gadis muda itu. Pipinya bahkan tampak merona, hanya dengan ucapan terima kasih dari Ervin.