
"Total ada dua orang yang meninggal dunia karena luka bakar dan dan ada tujuh orang mengalami luka-luka." Laras terdiam saat bayangan laporan yang diucapakan oleh Ema lokasi kebakaran sore tadi.
Tanpa terasa bulir air mata mengalir begitu saja hingga membasahi pipinya. Rasa bersalah dan bingung yang menjadi belenggu di hatinya, membuat Laras kehilangan arah. Pandangannya menatap jauh ke depan, di mana lampu taman belakang tampak menyala dengan begitu indah. Namun, nyatanya semua itu tak dapat mengurangi kegundahan dalam dirinya.
"Ayo makan dulu," ujar Ervin yang entah sejak kapan berdiri di belakang Laras.
Laras masih terdiam, entah karena memang tidak mendengar ucapan Ervin, atau memang tidak mau menjawab.
"Aku harus gimana, Tuan? Mereka ... mereka terluka dan meninggal," gumam Laras masih dengan isak tangisnya.
"Makan dulu, baru nanti kita pikiran bareng jalan keluarnya," ujar Ervin sambil berjalan ke depan Laras dan mengulurkan tangannya.
Laras menatap uluran tangan Ervin kemudian mengalihkan pandangannya ke lain arah tanpa berniat menyambutnya. Dia bertanya pelan dengan suaranya yang sudah mulai parau. "Apa Tuan masih memiliki napsu makan, setelah semua yang terjadi pada mereka?"
Ervin menghembuskan napas pelan sambil menarik kembali tangannya, dia tersenyum hambar sambil menatap lurus ke depan. "Sebagai pemimpin perusahaan, kita harus realistis, Laras. Kalau kamu memang kasihan pada para korban, maka perjuangkan hak mereka untuk mendapatkan pemakaman yang layak dan perawatan yang terbaik. Kita tidak bisa hanya terpaku pada kesedihan mereka."
Laras menatap wajah Ervin lekat, walau perkataan Ervin terdengar tak berperasaan bagi dirinya yang berhati lembut dan mudah terenyuh akan sebuah kejadian memilukan. Namun, Laras juga tidak menyakal, jika logikanya membenarkan ucapan sang suami.
"Dalam kejadian ini, kita bukan penonton atau bahkan korban, Laras. Kamu adalah orang yang bertanggungjawab walau sebenarnya bukanlah pelaku. Tapi, itu adalah resiko dari seseorang yang pemimpin. Kita sudah gagal menjaga keselamatan mereka, maka itu harus kita pertanggungajawabkan bagaimana pun caranya."
Laras masih terdiam. Dia mulai mengerti apa yang kini terjadi padanya dan bagaimana caranya mengatasi situasi seperti ini. Namun, itu sama sekali tidak membuat beban di dalam hatinya mereda.
"Bagiamana dengan kerugian perusahaan?" tanya Laras.
"Usaha ada naik dan turun. Jika sekarang kita sedang dalam penurunan dan harus merugi karena kejadian ini, itu wajar terjadi. Tapi, itu jangan menjadi alasan untuk kita hanya berdiam diri dan menyerahkan semuanya pada takdir. Sebaliknya. Bekerja lebih giat untuk menggati kekurangan itu."
Laras mengerjap pelan, matanya fokus melihat raut wajah serius Ervin yang tampak semakin menawan. Selama mereka menikah, sepertinya baru kali ini dia mendengar Ervin berbicara panjang lebar. Itu sangat menakjubkan. Laras bahkan tak bisa mengalihkan perhatiannya dari sosok laki-laki yang kini telah menjadi suaminya.
__ADS_1
"Tuan gak marah sama aku?"
Pertanyaa polos yang ke luar begitu saja dari bibir Laras membuat Ervin tak kuasa menahan kekehannya. Jadi, selama ini Laras juga takut jika dirinya akan marah? Sungguh menggemaskan.
"Untuk apa aku arah padamu? Ini musibah, bukan?" tanya Ervin.
"Jadi, Tuan gak marah?"
"Kalau aku marah, untuk apa aku ada di sini sekarang, hem?" Ervin menaikan salah satu alisnya dengan wajah menoleh pada Laras seolah dia dapat melihat Laras.
Tubuh Laras sempat menegang, seolah dia bisa merasakan jika Ervin sedang menatapnya saat ini. Namun, beberapa saat kemudian dia tersadar jika Ervin tidak bisa melihat. Walau begitu, Laras masih saja penasaran hingga tanpa sadar tangannya melambai tepat di depan wajah Ervin yang kini berjarak cukup dekat dengannya.
"Ekhm!" Laras berdehem untuk mengurangi rasa canggung yang tiba-tiba saja terasa. "Katanya mau makan? Ayo, kita makan sekarang."
Laras mengambil tangan Ervin sambil beranjak berdiri. Walau sempat terkejut dengan sikap Laras, tetapi sesaat kemudian Ervin mengangguk pelan sebagai jawaban. Keduanya pun berjalan beriringan menuju meja makan.
...❤🩹...
Pagi harinya, Laras berangkat ke kantor dengan penuh semangat. Tangannya memegang sebuah map, hasil dari pekerjaan lembur dirinya dan Ervin, untuk mengatasi masalah kebakaran gudang yang terjadi kemarin siang.
Namun, terkadang kenyataan tidak sesuai dengan rencana yang sudah kita siapkan. Itu pula yang terjadu pada Laras pagi ini. Begitu mobil yang membawanya memasuki kantor, ternyata di lobi sedang terjadi kerusuhan dari para keluarga korban yang meminta pertanggungjawaban dari perusahaan.
"Sebaiknya Anda masuk lewat lift pribadi saja. Terlalu berbahaya jika Anda memperlihatkan diri pada mereka tanpa ada persiapan lebih dulu," ujar Hendri sambil melanjukan mobilnya melewati para keluarga korban yang sedang memaksa masuk ke dalam perusahaan dan melanjutkannya hingga ke parkiran khusus.
"Kenapa mereka sampai harus ke sini, padahal kemarin aku sudah menugaskan Ema untuk memberikan semua yang terbaik untuk para korban?"
Laras tampak kembali goyah, tangan di pangkuannya saling meremas dengan manik mata yang bergerak gelisah.
__ADS_1
"Tenangkan diri Nyonya. Anda harus tetap terlihat kuat di depan para petinggi perusahaan. Saya akan mencari tahu apa yang terjadi dengan para wali korban kebakaran itu." Hendri mencoba menenangkan Laras yang sudah mulai panik lagi.
Menghirup napas dalam hingga terasa memenuhi seluruh rongga dadanya, lalu menghembuskannya kembali dengan sedikit kasar. Laras melakukan itu berulang kali, hingga dirinya merasa lebih tenang dari sebelumnya.
"Aku udah lebih tenang. Makasih ya, Pak." Laras bersiap untuk turun dari mobil dengan Hendri yang sigap membuka pintu untuknya. Laras menghentikan langkahnya kemudian berbalik hingga berhadapan dengan Hendri, lalu berujar sambil tersenyum manis. "Oh ya, aku tunggu kabar tentang mereka secepatnya ya, Pak."
Untuk beberapa saat, Hendri sempat mematung ketika matanya melihat jelas senyum manis dari Laras. Walau begitu, secepat kilat dia menetralkan lagi raut wajahnya, lalu mengangguk pelan dan mengalihkan perhatiannya dari wajah Laras. "Baik, Nyonya. Saya akan berusaha secepat mungkin mendapatkan informasi dan melaporkannya pada Anda."
"Eum," angguk Laras kemudian melanjutkan langkahnya menuju lift khusus yang berjarak tidak jauh dari tempatnya berdiri, meninggalkan Hendri yang masih berusaha keras menahan gugup karena kejadian yang sudah lalu.
"Mana bisa semanis itu? Kalau sampai bos tau, aku bisa langsung dipecat. Haish, sial!" gerutu Hendri sambil mengacak rambut di belakang kepalanya.
...❤🩹...
"Emi, tolong segera masuk ke ruanganku," ujar Laras begitu dia sampai di depan meja kerja sekretarisnya.
"Baik, Bu," angguk Ema sambil segera menyiapkan berkas yang memang harus dia laporkan pada Laras.
"Ema, kenapa mereka bisa ada di bawah? Bukannya kemarin aku sudah menugaskan kamu untuk mewakiliku bertemu dengan mereka?" tanya Laras sambil beranjak duduk di kursi kerjanya.
"Maafkan saya, Nyonya. Tapi, kemarin saya sudah menemui mereka dan mereka pun sudah setuju dengan apa yang akan kita berikan. Saya juga bingung, kenapa sekarang mereka malah datang ke aktor dan membuat keributan." Ema menunduk dalam dengan tangan saling meremas, takut akan kena marah atau bahkan dipecat oleh Laras.
"Astaga ...." Laras menghembuskan napas pelan sambil memijat pangkal hidungnya yang mulai terasa berdenyut. Semua yang sudah dia rencanakan semalaman, bahkan sekarang sama sekali tidak bisa dilakukan. Dia harus mulai dari awal lagi dan melakukan negosiasi dengan keluarga korban untuk yang ke dua kalinya.
Belum sempat Laras bernapas dan memikirkan langkah selanjutnya, tiba-tiba saja pintu ruangan diketuk dan terbuka begitu saja tanpa menunggu dirinya mepersilahkan masuk.
"Anda tidak lihat kekacauan yang terjadi di lobi? Mereka memaksa masuk dan mengancam akan menuntut perusahaan juga menuduh perusahaan tidak perduli dengan keselamatan karyawan!" sentak seorang laki-laki tua dengan perut sedikit uncit. Dia adalah salah satu pemilik saham utama di perusahaan ini, Laras pernah bertemu dengannya saat Dedrik pertama kali membawanya ke kantor.
__ADS_1
'Ya ampun, apa lagi ini?' desah Laras dalam hati. Belum juga tengah hari, dia sudah mendapatkan dua masalah berat yang harus segera diselesaikan.