
"Dion ...." Papi memanggil sang anak yang menunjukan raut wajah penuh amarah padanya.
"Papi selingkuh dari Mami?" tanya Dion langsung pada pertanyaan yang tadi mendominasi di dalam pikirannya.
"Bukan begitu, Dion." Papi mencoba meredam kemarahan anak lelakinya lalu mengajaknya untuk segera pergi dari sana, agar tidak mengganggu Laras.
"Benar kata Papi, Nak. Lebih baik kita pergi dari sini, kasihan Laras." Mami ikut menenangkan Dion.
Walau masih kesal, Dion mengikuti kedua orang tuanya untuk pergi dari depan kamar Laras. Dia tahu jika Laras pasti sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja sekarang.
Mereka bertiga memutuskan untuk berbicara di ruang kerja papi. Papi dan Mami pun menceritakan apa yang sudah terjadi dan kenapa Laras bisa menjadi anak dari Papi.
Dion terdiam dengan tangan mengepal. Sekuat tenaga dia terus mencoba mengendalikan emosinya yang sudah memuncak. Ternyata semua kesalahan Papi waktu itu adalah ulah dari salah satu teman Papi, tetapi sayangnya kini teman Papi itu sudah meninggal, hingga Dion tidak bisa meminta pertanggungjawabnnya.
"Jadi sekarang aku dan Laras benar-benar menjadi adik kakak?" cetus Dion sambil tersenyum miris. Entah bagaimana sekarang dirinya harus bersikap untuk menanggapi kenyataan ini, semuanya terasa membingungkan.
Papi dan Mami hanya mengangguk sebagai jawaban. Mereka seolah sudah kehabisan kata untuk kembali berucap tentang berita yang begitu mengejutkan itu.
...❤🩹...
Laras mengalihkan perhatiannya pada pintu masuk ketika suara ketukkan kembali terdengar.
"Ini aku, Ras. Bisa aku masuk?"
Laras terdiam kembali. Itu adalah suara Dion, tetapi entah kenapa kini suara itu terasa berbeda dari biasanya. Dia tarik napas dalam lalu menghembusaknnya pelan sebelum menjawab ketukkan pintu yang kedua. "Masuk aja, pintunya gak dikunci kok."
Laras yang sedang bermain dengan kedua anaknya, kini tampak mengalihkan perhatian pada seseorang yang baru masuk, dengan membawa nampan di tangannya.
"Makan dulu, Ras. Ini sudah lewat dari waktu makan siang, kasihan baby bakpao kalau ASI kamu sedikit," ujar Dion sambil menaruh nampan di tangannya pada atas meja.
__ADS_1
"Baby bakpao biar aku saja yang jaga," sambung Dion lagi sambil duduk di depan Laras, sementara di tengah mereka ada dua bayi yang tengah asik sendiri dengan mainan di tangannya.
Laras menghembuskan napas lelah, matanya menatap lekat lelaki yang kini tengah mengajak main kedua anaknya.
Laki-laki ini adalah kakakku? batin Laras masih belum sepenuhnya percaya dengan kenyataan yang baru saja dia ketahui.
Dion yang merasa dipandang oleh Laras pun kembali mengalihkan pandangannya pada wanita yang ternyata adalah adik satu ayahnya.
"Makan," ujarnya hanya dengan gerakan bibir saja.
Laras mengerejap lalu mengangguk canggung sebelum beranjak, sambil berujar pelan. "Makasih, Yon."
Rasanya lidahnya menjadi pahit dan selera makannya berkurang drastis, jika dirinya tidak ingat harus menyusui kedua anaknya yang selalu lahap, mungkin Laras tak akan memakan makanan yang dibawa oleh Dion.
"Makanlah. Itu semua aku bawa demi keponakanku, agar mereka bisa menyusu dengan baik dan tumbuh semakin besar," ujarnya, mencoba memecah suasana yang terasa canggung. Padahal selama mereka berteman, tak pernah ada rasa canggung. Semuanya mereka lakukan tanpa memikirkan apa pun, hingga tak ada juga yang perlu dikecewakan atau bahkan menuntut satu sama lain.
Jika saja ayah kalian bisa melakukan itu bersama dengan kalian, pasti hidupku sudah sempurna sekarang, batin Laras yang tanpa disadari kembali mengingat Ervin walau sudah berulang kali merasa kecewa.
"Jangan malah ngelamun ... makan," tegur Dion lagi ketika melihat Laras malah terlihat merenung.
Laras terperanjat, dia hanya tersenyum lalu mulai makan perlahan.
"Maaf," ujar Laras tiba-tiba, hingga membuat Dion mengalihkan perhatiannya.
"Aku gak tau kalau ternyata aku ini adalah ...." Laras kembali meneruskan ucapannya walau masih menggantung. Rasanya terlalu canggung untuk mengungkapkan statusnya kini di keluarga Atmadja. Wanita itu pun terlihat terus menghindar dari tatapan Dion.
Dion terkekeh ringan. Walau awalnya dia juga tidak bisa menerima kenyataan ini, tetapi setelah dirinya mengetahui cerita dari kelahiran Laras. Kini yang dia rasakan bukan lagi kemarahan, tetapi malah berbalik menjadi miris dan iba, akan nasib Laras dan ibunya yang menjadi korban dari kenakalan masa muda Papi dan temannya.
Laras terkejut, dia refleks menolehkan pandangannya demi melihat wajah Dion saat ini.
__ADS_1
Kenapa dia malah tertawa? kata itu lah yang tersirat jelas di raut wajah Laras saat ini.
"Kamu merasa bersalah karena menjadi adikku?" tanya Dion, masih dengan kekehannya.
Laras masih terdiam dengan tatapan penuh tanya. Sungguh, dia masih belum mengerti dengan pemikiran lelaki di depannya.
"Apa kamu tidak marah dengan masalaluku? Ibuku mungkin ...." Laras kembali menggantung ucapannya. Berat rasanya harus menuduh hal buruk pada ibu kandungnya yang ternyata sudah meninggal. Walau dia belum pernah bertemu di dunia nyata, tetapi Laras yakin jika ibunya bukanlah seseorang yang akan ada diantara hubungan suami istri.
Dion yang melihat wajah resah Laras memilih beranjak dan menghampiri wanita itu. Dion duduk di samping Laras lalu tersenyum tulus sebelum melanjutkan ucapannya.
"Sudahlah, gak usah banyak mikir, yang terpenting sekarang kami semua sudah menerima keberadaan kamu dalam keluarga kami. Mami bahkan sudah menganggap kamu seperti anak kandungnya sendiri. Sekarang, semuanya sedang menunggu kamu," ujar Dion, mencoba memberi pengertian pada Laras.
Laras masih terdiam, masalah ini benar-benar membuatnya merasa buntu. Ini adalah pertama kalinya dia dihadapakan dengan masalah keluarga yang begitu intim selain keluarga Ervin yang penuh permusuhan. Sungguh, Laras tidak bisa memastikan dan memutuskan apa yang dia rasakan dan akan dia lakukan selanjutnya.
...❤🩹...
"Wanita itu dilindungi oleh anak tunggal keluarga Atmadja. Ini akan lebih sulit untuk membungkamnya dibandingkan sebelumnya," ujar Roland saat dirinya sedang bertemu dengan Laras palsu di sebuah restoran untuk membicarakan kemunculan Laras asli.
"Kenapa dia bisa mengenal pewaris keluarga Atmadja? Dia itu hanya seorang anak yatim piatu, aku yakin dia pasti sudah merayu lelaki itu." Laras palsu terlihat menggebu-gebu.
"Aku tidak peduli dia dengan siapa sekarang, pokoknya aku mau dia segera menghilang dari sini, bila perlu mati saja sekalian," sambung Laras palsu lagi, tanpa ada belas kasih sama sekali.
Roland berdecak kesal, menyingkirkan Laras setahun yang lalu saja sudah cukup sulit, apalagi sekarang ketika Laras ada dalam lindungan keluarga Atmadja.
"Bukankah jika dia mati terlalu cepat, itu tidak akan seru? Bagaiman kalau kita buat dia tidak berdaya saja?" tanya Roland sambil mengangkat tajam salah satu alisnya selaras dengan senyum di bibirnya.
Laras palsu terlihat terdiam untuk beberapa saat,sebelum akhirnya tersenyum sambil mengangguk, menyetujui usul dari Roland.
"Buat dia cacat seumur hidup, sampai dia tidak lagi memiliki muka untuk mendekati suamiku," titah Laras palsu bagaikan seorang nyonya sungguhan lengkap dengan senyum kejamnya.
__ADS_1