Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.46 Pertemuan yang mengejutkan


__ADS_3

"Tuan, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mereka berdua bisa mengira saya sebagai ayah mereka?" tanya Ervan setelah mereka duduk berdua di resto hotel tersebut, sementara itu Nevan dan Nessa sudah Dion titipkan pada asistennya agar mereka teralihkan dari Ervin.


"Ah, masalah itu tidak usah terlalu dipikirkan, mungkin mereka hanya salah mengenali orang," jawab Dion sambil tersenyum hampa.


Sial, kenapa dia bisa ada di hotel ini sih? Bisa habis aku kalau sampai Laras tau, batin Dion menggerutu kesal.


"Ah begitu ternyata. Saya juga menyangka begitu." Ervin menghembuskan napas elga sambil tersenyum tipis.


Dasar brengsek! Apa dia tidak memiliki firasat pada anaknya sendiri? Dion melirik sinis keberadaan Ervin sambil terus menggerutu dalam hati.


"Iya. Namanya juga anak-anak," balas Dion seadanya.


Ervin mengangguk-anggukkan kepalanya samar. Walau dirinya sudah mendengar jawaban dari Dion, tetapi sikap kedua anak itu entah mengapa, membuat hatinya terasa ada yang berbeda dan janggal, seolah ada sebuah harapan pada pengakuan Nevan dan Nessa adalah kebenaran.


Ah, tidak Ervin. Akan lebih memusingkan jika mereka adalah anakku. Kecuali jika mereka adalah .... Lamunan Ervin buyar karena Dion kembali membuka suara.


"Kalau boleh tau, ada urusan apa Anda berada di kota ini?" tanya Dion. Dia harus memastikan Laras tidak bertemu dengan Ervin, atau suasana hati adiknya itu akan kembali kacau. Butuh waktu lama Laras menata hatinya, dan kini setelah wanita itu sudah berdamai dengan keadaan, Dion tidak rela jika kedatangan Ervin akan menghancurkan semuanya kembali.


"Kebetulan saya ada sedikit pekerjaan di sini. Anda sendiri? Saya dengar Anda membuka menjadi suplayer besar di sini?" tanya Ervin balik.


"Ah, itu berada di kota sebelah, kebetulan sekali saya juga sedang ada urusan di sini. Bila Anda ada waktu luang, mungkin bisa mampir," tawar Dion walau sekedar basa-basi.


Semoga saja kamu sibuk, sambungnya dalah hati.


Dion memang memiliki beberapa supermarket khas produk Indonesia di sana, itu semua demi memudahkan Laras dalam menjalankan restorannya. Lagi pula, itu memang peluang bisnis yang lumayan menjanjikan di sana.


"Saya sangat berharap bisa mengunjungi Anda," jawab Ervin sambil tersenyum ramah.


Setelah berbicara singkat, Ervin dan Dion pun memilih untuk berpisah, mengingat ada jadwal yang harus mereka tepati.

__ADS_1


Dion menghembuskan napas lega, setelah beberapa saat lalu dirinya bagaikan sedang berada di wahana kora-kora yang menengangkan dan menaikan adrenalinya. Jantungnya bahkan masih belum tenang sepenuhnya sampai saat ini.


"Baiklah, semuanya sudah selesai. Aku harap tidak ada lagi drama seperti ini," gumam Dion sambil berjalan untuk menemui dua keponakannya. Percuma saja selama ini Laras pergi jauh untuk bersembunyi dari Ervin dan semua kerumitan hidup lelaki itu, jika akhirnya bertemu juga.


Sementara itu, tanpa Dion tahu, Ervin tampak menghubungi seseorang di sela langkahnya.


"Cari tahu tentang kedua anak itu, aku mau info secepatnya," titahnya dengan suara dalam. Setelah mendengar persetujuan dari anak buahnya, sambungan telepon pun terputus begitu saja.


...❤‍🩹...


"Mama udah di parkiran, kalian ada di mana?" Laras ke luar dari mobil sambil berbicara dengan melakukan video call bersama kedua anaknya.


"Kami masih ada di super market untuk membeli camilan, kamu tunggu di kamar saja." Terlihat Dion ikut berbicara sambil menampakkan wajahnya sekilas.


Laras harus mengundur keberangkatannya hingga dia baru sampai pagi ini, karena ada kendala yang harus dia bereskan lebih dulu sebelum meninggalkan retoran untuk beberapa hari.


"Ya udah, aku tunggu di resto hotel saja, sekalian sarapan," jawab Laras. Dia berjalan dengan pandangan yang masih fokus pada layar ponselnya. Tujuannya hanya pintu masuk resto hotel, agar dia bisa segera mengisi perut yang sudah keroncongan.


"Astaga, maaf saya tidak memperhatikan jalan," ujar Laras sambil mengambil ponselnya yang jatuh.


"Saya juga tidak melihat jalan, maafkan saya," balas lelaki itu yang tak lain adalah Ervin.


Keduanya sempat terdiam ketika tatapan saling bertubrukan. Seolah tengah memastikan orang yang ada di depannya, keduanya bahkan tak mengalihkan pandangan untuk beberapa saat.


Ervin? batin Laras sambil melebarkan matanya. Dadanya kembali tersentak hingga jantungnya berdebar begitu cepat tanpa bisa dia kendalikan.


"Maaf." Laras berujar pelan sambil berbalik dan hendak melangkahkan kakinya untuk kembali ke parkiran. Namun, belum sempat Laras menjauh, Ervin lebih dulu mencegahnya.


"Tunggu!" ujar Ervin sambil menahan tangan Laras.

__ADS_1


"Lepas." Laras tidak peduli, dia langsung melepas cekalan tangan Ervin dan segera berlalu menuju mobilnya kembali.


"Larasati!" teriak Ervin yang bahkan tidak digubris oleh Laras, wanita itu terus berlari dan segera masuk ke mobil dan menyalakannya.


"Ras, tolong tunggu dulu ... Laras!" Ervin mengetuk pintu mobil Laras yang sudah mulai melaju meninggalkan parkiran dan akhirnya meninggalkannya.


"Haish, sial!" umpat Ervin sambil menyugar rambutnya. Raut wajah lelaki itu kini berubah kacau.


Sementara itu, Laras tampak menyetir tak tentu arah. Yang dia inginkan saat ini hanya segera pergi jauh dan menghilang dari Ervin. Setelah cukup lama berkendara, Laras memilih untuk menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Wanita itu menelungkupkan kepalanya pada setir mobil sambil mengatur napasnya yang masih memburu.


"Kenapa dia ada di sini?" gumam Laras sambil menyandarkan tubuhnya di kursi. Dia tidak menyangka, bertemu dengan Ervin ternyata masih mampu membangkitkan luka dan sesak di dadanya, walau semua itu sudah berlalu sangat lama.


Laras tersentak ketika suara dering ponsel terdengar, dia langsung mengambil ponsel yang dia letakan asal di jok mobil. Nama Dion terpangpang jelas di layar, hingga membuat Laras harus menenangakan dirinya dulu dan memastikan penampilannya rapih. Teleponnya tadi terputus secara tiba-tiba karena ponselnya yang terjatuh, itu pasti membuat mereka khawatir.


"Mamah di mana? Kami udah sampe di resto tapi mamah gak ada?" Wajah Nessa langsung memenuhi layar ponselnya. Laras tersenyum gemas, ketika melihat wajah merajuk anak perempuannya.


"Maaf, sayang, tadi mamah ada urusan sebentar, gimana kalau kita langsung bertemu di perkemahan aja?" jawab Laras yang tidak ingin lagi pergi ke hotel itu.


"Oke, kalau gitu kita pergi ke perkemahan sekarang." Dion langsung mengambil alih pembicaraan saat Nessa ingin melakukan protes.


Laras mengangguk, dia pun kembali meminta maaf sebelum menutup teleponnya.


Sementara itu, sepasang mata tampak memperhatikan mereka bertiga dari kejauhan, dia pun mengikuti Dion dan kedua anak itu secara diam-diam.


"Apa benar mereka anak Laras?" gumam lelaki itu yang tak lain adalah Ervin.


"Tuan, pukul sepuluh kita berangkat ke bandara untuk penerbangan kembali ke Indonesia," ujar seorang wanita yang kini menjadi sekretaris Ervin dan sedang mendampinginya di sini.


"Batalkan saja, aku akan menetap di sini beberapa hari lagi. Kamu pulang sendiri saja," jawab Ervin, lalu segera berjalan cepat menuju parkiran di mana mobil yang akan mengantarnya sudah menunggu.

__ADS_1


"Aku gak akan kehilangan kamu lagi, Laras. Cukup sekali aku melakukan kesalahan dan membuatku kehilangan kamu selama lima tahun ini. Sekarang, aku pastikan kamu kembali padaku," gumam Ervin, saat dia sudah masuk ke dalam mobil dan mulai mengikuti mobil Dion.


__ADS_2