
"Itu hanya masa lalu!" Laras berujar dingin. Dadanya terasa sesak ketika Ervin terus menyalahkan dirinya sendiri untuk enam tahun yang begitu menyakitkan untuknya. Namun, tidak semudah itu, untuk dapat mengetuk kembali hatinya yang sudah terlanjur terkunci.
Apakah semua kesalahan yang terjadi di masa lalu akan berakhir hanya dengan sebuah pengakuan? Tidak sama sekali. Hatinya sudah terlanjur terluka, dan kehidupannya pun hampir hancur. Ingatkan, bagaimana Laras berjuang untuk ke luar dari kematian yang hampir saja merenggutnya dan kecacatan yang mengancam setelah dirinya sadar dari koma? Sungguh, semua itu bukanlah hal mudah. Bahkan setelah dia menganggap semuanya akan berakhir, ternyata Ervin malah menghancurkan semangatnya dan mengirimnya kembali dalam jurang luka. Laras kembali harus hidup dalam luka tak kasat mata dan berusaha menyembuhkannya demi hidup normal bersama kedua anaknya.
"Lebih baik Anda kembali, saya tidak ada hubungannya dengan masa lalu atau masa depan Anda," sambung Laras lagi sambil membalas tatapan Ervin dengan sorot mata tajam. Wanita itu bangkit hingga kini keduanya berdiri behadapan.
"Sebaiknya Anda kembali ke tenda Anda." Laras berbalik dan kembali berjalan menuju pintu tenda. Dia belum bisa berhubungan langsung dengan Ervin, walau itu hanya untuk berbicara. Hatinya masih terasa sakit ketika kilasan ingatan menyakitkan kembali membayanginya. Laras tidak mau kembali terperosok ke jurang yang sama. Kehidupan Ervin terlalu rumit untuk di masuki dengan kedua anaknya.
"Baby ...." Ervin mencekal tangan Laras hingga wanita itu terpaksa menghentikan langkahnya.
"Hubungan kita sudah berakhir enam tahun lalu ... dan, tolong tetaplah seperti itu," gumam Laras tanpa melihat Ervin, Dia lepaskan genggaman Ervin di pergelangan tangannya, lalu kembali membawa langkahnya masuk ke tenda.
Ervin terdiam dengan tubuh mematung, dia tidak menyangka jika Laras akan meminta hal semacam itu di awal pertemuan mereka, setelah bertahun berlalu.
"Bagaimana aku bisa melepasakan kamu lagi, Ras? Kamu lah alasan aku bertahan hidup dan melawan mereka hingga sampai pada titik sekarang. Bertemu denganmu adalah satu-satunya impianku selama empat tahun ini, Baby," gumam Ervin dengan satu tetes air mata menetes begitu saja membasahi pipinya. Tatapannya pun tak lepas dari pintu tenda yang sudah tertutup rapat.
Sementara itu, Laras yang juga masih duduk di balik pintu hanya bisa meneteskan air mata dan menangis dalam diam, ketika mendengar ucapan lirih Ervin. Dia bekap mulutnya erat, agar suara isak tangis itu tidak lolos dan mengganggu tidur kedua anaknya.
Jadi dia sudah tahu semuanya? Apa dia juga sudah tahu tentang Nevan dan Nessa? batin Laras sambil menatap kedua anaknya yang masih tertidur pulas.
Dari tenda lain, Dion mendengarkan semua percakapan antara Laras dan Ervin. Awalnya dia ingin ke luar untuk mengusir Ervin dari sisi Laras, tetapi niatnya dia urungkan saat Dion sadar, jika memang kedua orang itu harus bertemu dan berbicara dengan kepala dingin untuk menyelesaikan masalah yang sudah terlalu lama berlarut-larut.
Dalam diam, dia melihat Ervin yang berjalan gontai kembali ke tendanya. Rasa iba tiba-tiba merasuk di dalam hatinya. Dion dapat melihat sorot mata putus asa dan bahu yang tak lagi menunjukkan wibawa atau keangkuhan. Ervin jatuh begitu dalam di hadapan Laras, tatapan mengiba dan penuh permohonan terlihat jelas.
"Perjalanan kamu masih panjang, Ervin. Ini baru permulaan jika ingin kembali pada adikku," gumam Dion dengan tatapan yang rumit untuk diartikan.
...❤🩹...
__ADS_1
Esok paginya, setelah sarapan bersama. Dion, Laras, Nevan, dan Nessa, berencana untuk melakukan kegiatan autboand dan menjelajahi hutan buatan itu. Namun, langkah mereka terhenti ketika Nevan dan Nessa tidak sengaja melihat Ervin yang baru saja ke luar dari tenda.
"Papah!" Teriak Nessa dan Nevan bersamaan, mereka bahkan langsung berlari menghampiri Ervin dengan wajah cerianya.
"Pagi anak-anak," sapa Ervin sambil tersenyum senang, dia menyambut kedatangan kedua anaknya yang sudah berpakaian rapih.
"Kalian mau ke mana, kok udah rapih begini?" tanyanya sambil menatap penampilan Nevan dan Nessa.
"Kita mau autboand dan menjelajah hutan. Iya kan, Mah?" Nessa menjawab sekaligus meminta dukungan dari sang ibu yang malah mematung di depan tenda.
"Mereka sudah bertemu di hotel, aku juga gak tau kenapa Nevan dan Nessa bisa memanggil si brengsek seperti itu." Dion menjelaskan, setelah melihat wajah bingung dan terkejut Laras.
Wanita itu menoleh cepat pada Dion dengan tatapan tajamnya. "Jadi mereka sudah bertemu, tapi kamu gak bilang sama aku? Apa-apaan ini, Yon?"
"Maaf, Ras. Tadinya aku pikir kita gak akan ketemu lagi sama dia, makanya aku gak bilangin kamu," jawab Dion sambil tersenyum canggung dan tangan menggaruk belakang kepalanya,
"Astaga! Aku salah lagi deh," keluh Dion saat melihat Laras yang berjalan meninggalkannya.
"Ayo anak-anak, nanti kita kesiangan," ajak Laras tanpa menyapa Ervin sama sekali.
"Mah, gimana kalau Papah juga ikut?" tanya Nevan dengan wajah sumringah.
"Boleh ya, Mah? Mumpung Papah ada di sini." Nessa ikut berbicara dengan mata yang memohon dan kedua tangan mengatup di depan dada.
Laras menghembuskan napas kasar, terpaksa dia alihkan pandangan pada Ervin yang terlihat berdiam dengan kedua tangan dirangkul oleh Nessa dan Nevan.
"Ayo sayang, jangan menyusahkan orang lain," ujar Laras masih mencoba untuk berbicara dengan nada lembut. Dia tekan dalam-dalam rasa kesal, marah, dan kecewanya pada Ervin, demi kedua anaknya. Laras tidak bisa menyangkal jika Ervin adalah ayah kedua anaknya, tetapi dia juga belum bisa menerima kehadiran Ervin di sekitarnya.
__ADS_1
"Papah mau kan ikut sama kami? Ayolah, Pah ..." Nessa merengek sambil menggoyangkan tangan Ervin. Matanya sudah mulai memerah dengan selimut kaca yang hampir saja pecah.
Ervin tampak bingung, dia berusaha bertanya pada Laras lewat isyarat mata, tetapi wanita itu seolah terus menghindarinya.
"Baiklah, Papah akan ikut sama kalian, jika Mamah dama uncle kalian mengizinkan," jawab Ervin pelan. Matanya melirik Laras yang tampak menghembuskan napas dalam.
"Bolehkan Papah ikut sama kita, Mah? Uncle?" tanya Nevan kini beralih menatap Laras dan Dion bergantian.
"Gimana, Ras?" Tidak mau salah lagi, Dion memilih bertanya pada Laras sebelum memutuskan, walau dia sendiri tahu, bagaimana Nessa akan terus berulah jika keinginannya tidak dituruti.
"Terserah," jawab Laras singkat.
"Kalian sudah mendengar kan jawaban ibu kalian?" Dion pun kembali bersuara yang disambut oleh teriakan penuh kesenangan kedua anak berusia lewat lima tahun itu.
Ervin pun segera mengganti baju dan bersiap seadanya. Namun, pada saat itu juga dia baru saja sadar, jika dia sama sekali tidak membawa pakaian untuk melakukan aktifitas luar ruangan dan menjelajah. Semuanya hanya pakaian santai dan pakaian formal untuk bekerja.
"Akh, sial! Masa aku harus pergi dengan pakaian seperti ini?" gumamnya sambil menatap dirinya sendiri yang hanya memakai celana denim, kaos tipis dan sepatu kets yang dia beli acak sebelum mengikuti Dion kemarin.
"Sial, kalau aku ke luar menggunakan pakaian seperti ini, mereka akan langsung tahu kalau aku tidak berniat untuk berkemah," umpatnya lagi.
"Pah, ayo. Nanti kita terlambat!" teriak Nessa yang sudah tidak sabar untuk melakukan olahraga ekstrim itu. Walau usia mereka belum genap enam tahun, tetapi mereka memang sudah terbiasa beraktifitas di luar, bahkan melakukan berbagai olahraga yang sudah disarankan untuk mereka. Keduanya memang termasuk anak-anak yang aktif ketika sudah berada di alam, bahkan Nevan yang tidak pernah lepas dari permainan rubiknya pun seketika akan lupa jika sudah berada di alam bebas.
Dengan menebalkan muka, Ervin ke luar dari tenda dengan pakaian seadanya. Tatapan aneh dan heran langsung menyambutnya begitu lelaki itu ke luar. Semua orang yang sejak tadi menunggunya kini tak lepas menatap penampilannya yang aneh dan tidak cocok untuk dipakai di tempat seperti ini.
Dasar bodoh! Bisa-bisanya dia datang ke tempat ini tanpa persiapan? Walaupun berbohong, harusnya dia memastikan tidak akan ketahuan secepat ini. Dion mengumpat dalam hati sambil meringis, ikut merasakan malu ketika melihat penampilan Ervin.
Sementara itu, Laras menghembuskan napas lelah. Dia sudah bisa menebak jika Ervin memang berbohong tentang alasananya berada di sini. Tempat perkemahan yang tidak terlalu dikenal, membuatnya mustahil untuk wisatawan luar negeri bisa mengetahuinya. Apa lagi, setahu Laras, Ervin tidak suka berkegiatan di alam bebas.
__ADS_1