
Mami ke luar dari kamar Laras dengan wajah yang lemas. Mencoba menguatkan diri, mami mencoba menghubungi suaminya yang masih berada di luar kota untuk memberikan kabar tentang niat Laras untuk pergi.
"Halo, Papi." Hanya di panggilan ke dua suaminya langsung mengangkat telepon darinya. Mami cukup bisa bernapas lega sekarang.
"Apa apa, Mi? Papi lagi di jalan, mungkin setengah jam lagi sampai di rumah," jawab papi dari seberang sana. Ternyata laki-laki itu sudah dalam perjalanan pulang.
"Itu, Pah ... Laras mau pergi," jawab Mami dengan suara bergetar. Sungguh, dirinya sudah mencoba berbagai cara untuk mencegah Laras pergi, tetapi wanita itu tetap kukuh dengan keputusannya. Sepertinya, berurusan dengan Roland masih menjadi trauma terbesar untuk Laras, apa lagi sekarang ada dua nyawa yang harus dia lindungi.
"Maksud Mami apa? Mami sama Laras mau pergi jalan-jalan? Ya tinggal pergi saja, Papi gak papa kok gak disambut kalian pas dateng," ujar santai Papi tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
"Bukan gitu, Papi. Tapi, Laras mau pergi sama cucu kita. Dia mau pergi dari rumah kita." Mami mencoba memperjelas maksud ucapannya pada sang suami.
"Apa, Mami? Laras mau pergi dari rumah? Kenapa?" Suara Papi langsung meninggi, pertanda dia terkejut dengan ucapan istri tercintanya.
"Iya, Papi. Laras mau pergi dari rumah, dia gak mau tinggal lagi sama kita." Suara mami mulai terdengar parau, karena menahan tangis.
"Ulur waktu sampai aku kembali. Aku akan berbicara dengan Laras," ujar Papi dengan suara yang berubah tegas. Dia pun lupa akan panggilan antara keduanya. Jantungnya tiba-tiba seolah berhenti berdebar, dia tidak boleh lagi kehilangan Laras apa pun yang terjadi nanti.
"Sulit bagi Papi untuk menemukan kamu, Nak. Papi mohon, jangan buat Papi merasa bersalah untuk kedua kalinya. Cukup selama ini Papi hidup dengan bayang-bayang rasa bersalah karena kehilangan kamu dan ibumu. Sekarang, aku pastikan tidak akan kehilangan kalian untuk kedua kalinya," gumam Papi dengan mata memerah. Bayangan kesalahan satu malam bertahun-tahun lalu pun kembali terlintas di ingatan.
Flashback ....
Papi sedang menghadiri sebuah pesta pertemuan bersama teman-temannya di sebuah hotel, ketika tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing hingga pandangannya pun menjadi buram. Dia pun beranjak dari duduknya untuk pergi ke kamar yang sudah dia pesan sebelumnya.
"Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu di sana!" teriak salah satu teman pengusahanya yang memang sedikit nakal.
__ADS_1
Papi tak membalas, dia hanya mengibaskan tangan tanda tak akan suka dengan apa yang direncanakan oleh temannya itu.
"Aku yakin, malam ini kamu akan menyukainya!" teriak teman Papi dengan suara yang sangat yakin. Namun, itu tak membuat papi mencurigainya, mengingat temannya memang sering melakukan itu padanya yang selalu berakhir dengan penolakan.
"Ash, sial! Apa yang dia lakukan padaku?" Papi yang kini tengah menaiki lift untuk mencapai kamarnya, mulai merasa sesak dan panas di tubuhnya, dua kancing kemeja yang dipakainya bahkan sudah lepas.
"Brengsek!" umpat Papi dengan penglihatan yang semakin buram. Dia berjalan tertatih sambil meraba dinding, hingga akhirnya dia sampai di kamarnya.
"Tidak dikunci?" Papi tersenyum miring, dia sudah bisa menebak ada siapa di dalam kamar itu yang pastinya dipersiapkan oleh temannya.
"Dia benar-benar menyiapkannya?" gumam Papi lagi ketika melihat seorang wanita yang tengah tidur di ranjang.
"Akh, brengsek!" umpatnya lagi ketika tubuhnya langsung bereaksi hanya dengan menatap kaki mulus yang tak tertutup oleh selimut.
Sekuat tenaga dia mencoba untuk menahan dorongan hasrat dalam dirinya, tetapi semakin lama dia tahan, maka semakin tersiksa juga dia. Rasa panas, sesak, dan sakit, semakin menyiksa. Entah apa yang ditambahkan oleh temannya itu di dalam minumannya hingga dia menjadi seperti ini.
Beberapa saat berlalu, dia pun mulai mendekati dan menyentuh wanita yang masih tertidur lelap itu. Wanita yang masih terlihat muda dan segar. Walau wajahnya tak terlihat jelas, tetapi wangi tubuhnya yang segar sudah membuat hasrat Papi semakin meningkat.
Terganggu oleh sentuhan demi sentuhan asing, wanita itu pun terbangun. Dia terkejut bukan main, bahkan tangan Papi pun langsung ditepis dengan kasar sambil berucap penuh waspada. "Siapa kamu? Ngapain kamu ada di sini?"
Tubuh wanita itu bergerak terus berangsur menjauh dari Papi. Namun, Papi yang sudah terlanjur diperbudak oleh hasrat tidak bisa lagi membedakan apa itu penolakan atau hanya sandiwara untuk menambah panas suasana. Papi, tak pernah melepaskan tubuh wanita itu, hingga akhirnya malam panas itu terjadi tanpa tahu siapa sebenarnya yang dia gauli.
"Tolong jangan lakukan ini, aku mohon ... aku mohon," rintihan yang berulang kali diucapkan oleh wanita itu di tengah derai tangis dan kesakitan masih terdengar jelas di telinga papi. Sayangnya, malam itu papi sudah terlanjur menggila hingga melupakan belas kasihnya.
Papi baru sadar jika yang dia tiduri bukanlah wanita yang disiapkan oleh temannya setelah sebulan berlalu. Temannya memujinya karena kembali lolos dari rencananya padahal dia sudah memasukan obat pada minuman papi.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Papi terkejut ketika temannya asik tertawa sambil memuji kesetiaannya pada sang istri, hingga menolak kembali melakukan hubungan di luar pernikahan.
"Wanita itu mengadu padaku. Dia merasa kesal karena kamu sama sekali tidak datang ke kamar malam itu," jawab teman Papi dengan santainya.
"Apa? Jadi ... kalau dia bukan wanita yang kamu siapkan? Lalu, siapa wanita yang?" gumam Papi sambil kembali mengingat kejadian malam itu.
Pada saat itulah, Papi sadar akan kesalahannya. Ternyata, malam itu papi salah masuk kamar, karena efek obat yang membuat pandangannya buram. Dia pun langsung mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari tahu wanita yang telah bermalam dengannya. Namun, semuanya sudah terlambat, ketika dia tahu apa yang terjadi, wanita itu sudah terlanjur diusir oleh keluarganya karena hamil diluar nikah.
Papi selalu mencari keberadaan wanita itu, walau selalu berakhir tanpa hasil, hingga setelah satu tahun berlalu, papi pun menyerah dan menghentikan semua pencariannya. Walau rasa bersalah itu selalu ada dalam hatinya.
Flashback off ....
Papi langsung berlari menuju kamar Laras begitu sampai di rumah, dia tak perduli lagi dengan usianya yang sudah tidak muda lagi. Yang ada di pikirannya kali ini hanyalah Laras. Anak yang selama ini dia cari dengan susah payah. Anak yang mengobatinya dari rasa bersalah yang tidak pernah hilang dari dalam hatinya. Tanpa sadar, papi bahkan membuka pintu kamar Laras dengan dorongan yang kencang hingga terdengar suara benturan nyaring.
"Papi?" gumam Laras sambil beranjak berdiri, tetapi perhatiannya teralihkan pada kedua anaknya yang juga terkejut hingga tidur mereka terusik.
"Papi dengar kamu mau pergi dari sini?" tanya Papi sambil berjalan pelan menghampiri Laras dengan napas memburu dan mata memerah.
Laras mengangguk. Dia kembali mengalihkan perhatiannya pada papi ketika melihat kedua anaknya kembali tidur dengan tenang.
"Tidak. Kamu tidak boleh pergi dari sini tanpa izin dariku. Aku berjanji akan menjamin keselamatan kalian, tapi jangan pernah berfikir untuk pergi dari rumah ini, Laras," ujar papi yang membuat Laras malah menjadi bingung. Dia tidak tahu maksud dari perkataan laki-laki paruh baya di depannya.
"Apa maksud, Papi?" tanya Laras yang masih menatap Papi dengan wajah bingungnya.
"Kamu adalah anak kandungku, Laras," ujar papi dengan wajah putus asa. Laras terdiam dengan tubuh mematung. Entah apa yang harus dia lakukan sekarang, setelah mendengar sesuatu yang begitu asing di telinganya?
__ADS_1
Sementara itu, di sisi lain, Dion yang sedang berjalan menuju ke kamar Laras untuk menemui wanita itu pun, terlihat menghentikan langkahnya di depan pintu, ketika mendengar perkataan papi pada Laras.
"Anak kandung?"