
Ervin terus melangkahkan kakinya menuju kepada Laras dan Dion. Tidak ada satupun gerak gerik dari kedua orang itu yang dia lewatkan. Sejak tadi, matanya bahkan tak pernah lepas dari Laras dan Dion.
"Selamat malam pak Dion. Apa kabar?" tanya Ervin sambil mengulurkan tangannya di hadapan laki-laki di depannya. Sementara itu, matanya melirik tipis wanita misterius yang sudah membuatnya penasaran. Ervin bisa melihat jika tubuh wanita itu menegang, saat dia menghampirinya. Itu sempat dia lihat walau hanya sekejap.
"Selamat malam, tuan Ervin. Seperti yang Anda lihat, kabar saya sangat baik," jawab Dion sambil menyambut uluran tangan Ervin. Senyum lebar pun terlihat menghiasi wajahnya, seolah laki-laki itu tengah menyambut sumringah kedatangan Ervin di hadapannya.
Ervin tersenyum canggung, matanya kembali melirik pada Laras yang tampak selalu mengalihkan peratian darinya.
Kenapa aku merasa wanita itu sedang menghindariku ya? batin Ervin sambil terus mencuri pandang pada Laras.
"Saya turut berduka atas meninggalnya tuan Alfredo. Maafkan saya, karena tidak hadir di hari pemakaman." Dion yang melihat Laras mulai tidak nyaman langsung mengalihkan perhatian Ervin.
"Ah, soal itu ... tidak apa-apa, saya tentu bisa mengerti bagaimana kesibukan Anda. Apa lagi, ayah saya memang tidak dikebumikan di sini," jawab Ervin, masih terdengar ramah.
"Oh ya, ini--" Ervin sengaja menggantung ucapannya sambil melihat ke arah Laras seolah memberi kode bahwa dia ingin berkenalan dengan Laras.
"Ah, perkenalkan saya Ara, sekretaris pribadi tuan Dion." Laras langsung memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya di depan Ervin. Wanita itu berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan dirinya dan menyapa Ervin dengan gerak tubuh sewajar mungkin.
"Oh, ternyata Anda sekretarisnya pak Dion." Ervin sedikit terkekeh canggung sambil menyambut uluran tangan Laras, lalu memperkenalkan dirinya sendiri pada wanita itu.
Apa dia bukan wanita yang di bandara? Bukankah wanita itu sudah memiliki anak? Tapi, dia bukan istri Dion dan dari penampilannya, dia juga tidak seperti seorang wanita yang sudah memiliki anak, batin Ervin sambil memperhatikan Laras seluruhnya.
"Sepertinya Anda tidak datang dengan istri Anda?" tanya Dion sambil mengedarkan pandangannya, seolah mencari keberadaan istri Ervin di sana, walau kenyataanya tidak ada yang pernah bertemu langsung dengan istri Dion, setelah laki-laki itu dapat melihat lagi.
__ADS_1
"Oh itu ... dia tidak suka dengan keramaian, lagipula dia juga sedang kurang sehat, jadi tidak bisa hadir," jawab Ervin sambil terkekeh pelan. Jelas, itu semua hanya sebuah alasan, karena sebetulnya, memang istrinya yang sekarang tidak pernah mau ikut saat dia menghadiri acara seperti ini, bahkan acara kentor sekalipun.
"Em, begitu ternyata. Semoga istri Anda segera memabik." Dion mengangguk-anggukkan kepalanya seolan ikut prihatin dengan kondisi istri Ervin.
"Sepertinya Anda sangat mencintai istri Anda." Laras ikut membuka suara. Sejak tadi dia sudah sangat penasaran akan hubungn Ervin dengan wanita itu.
Ervin terkekeh canggung sambil negusap tengkuknya sebelum mengatakan jawaban atas pernyataan Laras. "Dia adalah wanita yang mendukung saya di saat saya terpuruk, mana mungkin saya tidak mencintainya."
Walau sebenarnya aku juga masih bingung dengan hatiku yang sekarang. Rasa cinta itu seolah semakin hari semakin hilang, batin Ervin, melanjutkan perkataannya.
Sementara itu, Laras tersentak oleh ucapan Ervin, tubuhnya sedikit goyah. Dia tidak pernah menyangka jika Ervin akan memuji wanita lain dan melupakannya secepat itu.
Apa ini? Dia bilang wanita itu yang mendukungnya di saat dia terpuruk? batin Laras sambil tetrsenyum miris.
Lalu, jika wanita itu yang menemaninya pada saat terpuruk ... jadi selama ini dia anggap aku apa? Apa artinya semua pengorabananku selama ini?
"Anda sakit? Wajah Anda pucat, nona," tanya Ervin yang melihat perubahan wajah Laras, hingga membuat Dion pun mengalihkan perhatiannya.
"Ras?" gumam Dion sambil menyentuh bahu wanita itu. Dia berusaha memberikan kekuatan untuk Laras.
"Ekhm!" Laras berdehem pelan sambil menetralkan wajahnya, lalu pamit untuk pergi ke toilet pada kedua laki-laki di depannya. "Saya tidak apa-apa. Sepertinya saya harus ke toilet. Permisi."
Laras segera pergi dari hadapan Ervin dan Dion dengan langkah cepat, dia harus segera sampai di toilet agar dapat menyembunyikan air matanya dari mereka berdua. Sementara itu, Ervin dan Dion, tampak kompak melihat punggung Laras yang semakin menjauh. Keduanya bahkan tak mengalihkan pandangan hingga tubuh Laras menghilang sepenuhnya.
__ADS_1
"Tampaknya sekretaris anda sedang tidak baik-baik saja, pak Dion," gumam Ervin sambil kembali mengalihkan perhatiannya pada Dion.
"Tidak apa-apa, itu memang sudah bisa. Anda tentu tahu, seorang perempuan memang memiliki suasana hati yang mudah berubah tanpa bisa kita mengerti," jawab santai Dion, walau dalam hati dia juga sangat mengkhawatirkan Laras.
Ish, lagian lo ngapain juga pake muji wanita murahan itu di depan dia? Ya, dia pasti bakalan sedih lah, mana ada istri yang bisa nerima kalau suaminya muji wanita lain di di depannya sendiri? batin Dion, mengumpat Ervin. Jika saja saat ini dia tidak sedang mendukung Laras mencari tahu tentang Ervin, sudah bisa dipastikan, Ervin tidak akan lolos dari amukannya. Namun, kali ini Dion harus menahan emosinya, demi kelancaran rencana yang telah dia susun bersama dengan Laras.
"Ah, begitukah?" Ervin seolah tidak terlalu percaya dengan ucapan Dion. Dia masih merasa penasaran akan perubahan ekspresi yang terlihat jelas di wajah wanita itu.
"Oh iya, saya penasaran ... apa Anda bercerai dengan istri pertama Anda?" tanya Dion tiba-tiba. Ervin bahkan langsung menatap Dion dengan penuh tanya dan wajah terkejut bukan main.
"Apa maksud Anda?" Bukannya menjawab Ervin malah mengajukan pertanyaan balik pada Dion.
"Ah, maaf jika pertanyaan saya menyinggung Anda. Terkadang mulut saya memang suka berbicara lancang." Dion meringis seolah menyesal dengan pertanyaannya, walau sebenarnya itu semua memang dia sengaja. untuk memancing Ervin.
"Apa maksud Anda dengan istri pertama saya? Saya tidak pernah bercerai. Istri saya yang sekarang adalah istri pertama saya," jawab Ervin dengan kening berkerut dalam.
Dion terdiam, begitu juga Laras yang baru saja sampai di belakang Dion dan mendengar ucapan ERvin barusan.
"Istri pertama?" gumam Laras dan Dion bersamaan. Suara keduanya sangat lirih hingga hanya mereka sendiri yang mampu mendengarnya. Tiba-tiba, rasa bingung dan tanya memenuhi pikiran keduanya.
Apa dia benar-benar ingin melupakan aku, bahkan menghapus keberadaanku dari dunia luar? batin Laras yang semakin merasa kalut. Sepertinya dia memang tidak bisa mendesak Ervin saat ini, terlebih kini mereka ada di pesta orang lain.
"Begitukah? Saya pikir, istri Anda adalah Nyonya Larasati?" tanya Dion setelah dia terdiam beberapa saat untuk mencerna situasi yang sedang terjadi saat ini.
__ADS_1
"Larasati--" Ervin hendak menjawab ketika tiba-tiba ponsel di saku jasnya bergetar dan mengalihkan perhatiannya. Dia pun mengambilnya dan melihat siapa penelepon itu. Keningnya terlihat berkerut ketika menatap layar benda pipih di tangannya hingga membuat Laras dan Dion penasaran.
Siapa yang meneleponnya? batin Laras mencoba mencari tahu.