Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.50 Panik?


__ADS_3

"Yon, pinjamkan bajumu!" ujar Laras yang sangat tidak nyaman dengan penampilan Ervin saat ini. Itu sangat memalukan, jika sampai dilihat oleh para pengunjung yang lain.


"Hem ...." Dion mengangguk pasrah lalu memberikan isyarat pada Ervin untuk mengikutinya ke tenda, dengan menggunakan dagunya.


Ervin pun mengikuti Dion tanpa protes sama sekali. Yang utama sekarang adalah mendekati Laras kembali, masalah harga diri dan rasa malu, biarkan dia tinggalkan dulu untuk sementara waktu.


"Pakai ini," ujar Dion, setelah dia mengeluarkan pakaian yang dia siapkan. Untung saja, dia terbiasa membawa pakaian cadangan ketika bepergian, hingga dia memliki satu stel baju lebih untuk diberikan pada Ervin.


"Makasih," Ervin menerimanya kemudian mengganti pakaiananya di tenda milik Dion, untuk mempersingkat waktu.


Setelah drama salah kostum Ervin, kelima orang itu pun kini pergi ke tempat permainan autboand bersama. Sepanjang jalan Nevan dan Nessa tidak pernah melepaskan tangan Ervin, sementara Laras dan Dion berjalan berdampingan di belakang.


"Setelah melihat semua ini, apa yang kamu rasakan, Ras?" tanya Dion tiba-tiba.


Laras tak langsung menjawab, dia memberi jeda beberapa saat sebelum mulai membuka suara dengan nada berat. "Aku tidak tahu. Semuanya terasa menyakitkan."


Dion menghembuskan napas berat. Dia tahu, tidak akan mudah bagi Laras untuk berdamai dengan masa lalunya yang teramat menyakitkan.


"Aku akan mendukung apa pun keputusan kamu, Ras. Tapi, pikirkan matang-matang, apa yang akan kamu lakukan ke depannya. Aku tidak ingin kamu berkorban untuk anak-anakmu, tapi aku juga tidak bisa menutup mata atas dua malaikat itu, Ras," ujar Dion sambil tersenyum tipis pada Laras. Tangannya merangkul pundak Laras, sebagai tanda dukungannya untuk adik perempuannya itu.


"Makasih, Yon. Kamu selalu mendukungku dan mendampingiku dalam keadaan apa pun. Makasih, Bang." Laras membalas rangkulan Dion, dengan menempatkan salah satu tangannya di pinggang lelaki itu.


Keduanya tersenyum walau mungkin ada rasa sakit dan luka yang tersembunyi di dalam hatinya. Saling mengingatkan sebagai adik kakak adalah hal yang terbaik yang bisa mereka lakukan satu sama lain. Mungkin saat ini adalah waktu untuk Dion membantu Laras. Suatu saat nanti, akan hadir giliran Laras yang harus membantu Dion dalam masalahnya.


Sementata itu, Ervin terus memperhatikan interaksi antara Dion dan Laras yang menurutnya cukup janggal dan terlalu dekat. Hatinya tiba-tiba merasa panas, seolah ada api yang menyala di sana. Namun, lelaki itu berusaha menyembunyikannya demi rencana untuk mendekati Laras dan kedua anaknya.


Apa mereka tidak terlalu dekat? Walau bagaimana pun mereka tetap saja laki-laki dan perempuan. Bagaimana kalau nanti ada orang yang mengira kalau mereka adalah sepasang keksaih?


Ervin menggerutu kesal dalam hati. Sepertinya dia lupa akan ucapan Dion yang jelas mengatakan jika Laras adalah adiknya.

__ADS_1


...❤‍🩹...


Setelah istirahat dan makan siang, rombongan Laras, Ervin, Dion, Nevan, dan Nessa pun mulai melakukan kegiatan kedua, yaitu menjelajah. Mereka akan diberikan peta yang berisi trek penjelajahan hutan.


Dion yang menjadi ketua berjalan paling depan dengan peta di tangan, sementara Laras yang juga sudah sering melakukan kegiatan ini, menjadi orang yang berjalan paling belakang, sedangkan Ervin, Nevan, dan Nessa, berjalan di tengah.


Walau awalnya sempat ada perdebatan antara Ervin dan Dion, dikarenakan Ervin yang tidak setuju Laras ditempatkan paling belakang. Namun, semuanya bisa diselesaikan secara baik-baik, karena Laras memang kesulitan membaca peta, jadi itu harus dipegang oleh Dion. Lagi pula, selama ini Laras memang selalu berada di belakang, sementara dua anaknya di tengah. Posisi itu juga membuat Laras lebih leluasa untuk mengawasi kedua anaknya, hingga dia merasa lebih tenang.


Walau tampak kesulitan, Ervin berusaha untuk mengimbangi langkah Dion agar Laras tidak tertinggal. Namun, ternyata berjalan di hutan tidaklah semudah yang dia bayangkan, hingga beberapa kali dia hampir tejatuh dan tergelincir. Untung saja, Laras selalu siaga menjaganya.


Seperti saat ini, ketika Laras melihat jalan Ervin yang sedikit pincang karena tergelincir beberapa saat yang lalu, wanita itu meminta berhenti untuk beristirahat.


"Kamu gak papa, kan?" tanya Dion sambil memberikan air minum pada Ervin, karena air minum Ervin sudah habis sejak tadi.


"Aku gak papa, kok. Cuma belum terbiasa saja berjalan di medan yang seperti ini," jawab Ervin setelah menenggak air minum yang diberikan oleh Dion.


Sementara itu, Laras memilih untuk memeriksa kedua anaknya, memastikan mereka tidak kelelahan karena perjalanan yang ternyata lumayan panjang dan menguras tenaga.


"Gimana dia?" tanya Laras pada Dion.


"Cuma keram, istirahat sebentar juga akan baik lagi," jawab Dion santai.


Laras mengangguk, mereka pun istirahat sekitar sepuluh sapai lima belas menit di tempat itu, dan kembali melanjutkan perjalanan yang masih tersisa setengahnya.


"Maaf, karena aku kita jadi lebih lama," ujar Ervin yang kini memilih berjalan beriringan dengan Laras.


"Kalau mau membantu, lebih baik kamu jaga diriku sendiri saja, jangan sampai kamu lebih merepotkan lagi," jawab Laras tanpa ada rasa iba di dalam rangkaian katanya.


Ervin mengangguk. Dia tidak menyangka jika aktivitas mereka akan sangat melelahkan seperti ini, karena ada Nevan dan Nessa di sana, tetapi ternyata semuanya salah. Nevan dan Nessa kini bahkan terlihat lebih bugar dibandingkan dengan dirinya.

__ADS_1


Ini semua pasti karena setelah tidak ada Laras, aku tidak lagi memperhatikan kesehetanku. Aku baru sadar, sudah lama tidak berolahraga lagi, batin Ervin, mengingat kegiatannya selama enam tahun ini yang hanya disibukkan dengan urusan kantor.


Sore, menjelang terbenam matahari, mereka baru saja sampai kembali ke tenda masing-masing. Setelah beristirahat sebentar dan membersihkan diri, Laras pun menyiapkan menu makan malam, dari berbagai sisa bahan makanan yang tersedia.


Hidangan khas jepang yang bernama shabu-shabu, menjadi pilihan masakan sederhana dan mudah untuk dibuat malam ini. Dengan menyediakan dua macam kuah, sayuran mentah, irisan daging sisa membuat barbequ malam kemarin, dan pelengkap lainnya, makan malam pun tersaji dengan cepat dan tentunya menggungah selera.


"Panggil dia, aku tidak yakin dia bisa menyiapkan makanan malam ini," ujar Laras pada Dion. Walau mulutnya berbicara, tetapi matanya tak sama sekali menatap keberadaan Dion di sampingnya.


"Cie, yang mulai perhatian," goda Dion sambil tersenyum mengejek.


"Aku hanya tidak mau kita disalahkan karena menelantarkan orang, setelah menyiksanya," jawab Laras, tentu saja itu hanya alasan atau pembenaran yang dia ucapkan tanpa tahu apa yang sesungguhnya dia rasakan dalam hati.


"Baiklah. Aku akan memanggilnya," angguk Dion sambil hendak berjalan menjauh dari Laras. Namun, langkahnya terhenti ketika Nevan dan Nessa memanggilnya.


"Biar kami saja yang memanggil Papah," ujar Nessa penuh semangat sambil menarik Nevan.


"Baiklah. Hati-hati berjalan ya." Dion mengangguk santai.


Laras menatap kepergian kedua anaknya, walau tidak terlalu jauh, tetapi jarak antar tenda juga tidak lah dekat.


"Kenapa lagi? Kamu mau menyusul mereka dan melihat kondisi si brengsek?" tanya Dion, kembal menggoda Laras.


"Tidak ada! Siapa juga yang perduli padanya," jawab Laras sinis.


"Aku hanya khawtair sama anak-anakku. Kamu tega sekali menyuruh mereka pergi beruda saja," sambung Laras lagi malah menyalahkan Dion.


Perdebatan keduanya tidak selesai sampai di sana, mereka masih saja beradu mulut sampai suara Nevan dan Nessa mengejutkan keduanya.


"Mamah, Uncle, Papah gak bisa jalan!" seru Nevan dan Nessa bersamaan.

__ADS_1


"Apa maksud kalian?" tanya Laras dengan wajah panik yang tidak bisa lagi dia sembunyikan. Dia bahkan tanpa sadar langsung berlari menghampiri kedua anaknya. Sementara itu, Dion malah terdiam dengan raut bingung, melihat reaksi Laras.


"Apa-apaan ini?" ujarnya sambil beranjak berdiri dengan wajah masih saja terlihat linglung.


__ADS_2