Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab. 56 Ingin tidur bersama


__ADS_3

Ervin menghembuskan napasnya, dia berusaha menenangkan hatinya yang juga terus merasa sakit akan penolakan demi penolakan yang dilakukan oleh Laras. Walau begitu, dia berusaha untuk tetap menerimanya sebagai bentuk hukuman atas apa yang selama ini dia lakukan.


Suara dering ponsel mengalihkan perhatianya, dia tatap nomor dari Indonesia yang tentu dirinya tahu, siapa yang ada di balik panggilan itu. Bergegas dia berjalan menjauh sambil mengangkat telepon itu.


"Ada apa?" tanyanya dengan suara yang berubah tegas dan berat khas Ervin dengan tabiat dingin.


"Tuan muda, apa benar Anda menemukan keberadaan Nyonya? Apa saya harus menyusul Anda ke sana untuk menjelaskan pada Nyonya apa yang sebenarnya terjadi?"


Ya, suara bernada khawtair itu adalah milik Dedrik, lelaki yang kini sudah berumur hampir enam puluh tahun itu masih setia menjaga Ervin dan aktif di perusahaan ketika Ervin tak ada di tempat.


"Tidak usah. Aku akan berusaha memberinya pengertian sendiri. Semua ini adalah kesalahanku, maka aku juga yang harus membereskannya," jawab Ervin yang diiringi dengan hembusan napas berat di akhir kalimatnya.


"Baiklah, saya percaya Anda dapat menyelesaikan semuanya dan membawa Nyonya kembali. Hubungi saya jika Anda membutuhkan bantuan, saya akan langsung datang ke sana."


Sambungan tetepon berakhir setelah mereka membicarakan tentang pekerjaan dan perkembangan perusahaan selama Ervin berada di Selandia Baru.


"Sudah jam tiga," gumam Ervin ketika matanya sekilas melihat angka di layar ponselnya. Dia kembali ke meja makan, di mana hidangan makan siang belum tersentuh sama sekali.


"Anak-anak itu benar-benar merajuk?" sambungnya lagi sambil menatap ke lantai dua. Ervin pun berinisiatif untuk mengambil kudapan yang selalu disiapkan oleh Laras dan dua gelas susu. Dia melangkahkan kaki menuju lantai dua dengan nampan di tangannya.


"Ah, ternyata tidak terlalu sulit," gumamnya setelah sampai di ujung tangga. Sungguh, ini pertama kalinya dia melakukan hal ini, dan ternyata sulit juga membawa nampan sambil menaiki tangga. Beberapa kali tangannya oleng karena gerakan langkah dan membuat susu di gelas hampir tumpah.


Perlahan dia ketuk pintu bertuliskan Nevan, lalu beralih pada pintu di sebelahnya.


"Nevan, Nessa? Ini Papah ... buka pintunya, ayo kita bicara," ujar Ervin sambil berdiri di antara pintu tersebut.


Sepuluh detik Ervin harus menunggu, hingga dia hampir saja ingin kembali memanggil. Namun, suara kunci pintu terbuka terdengar. Ervin menatap pintu bertuliskan Nevan dengan penuh harap.


"Akhirnya." Ervin menghembuskan napas lega, ketika Nevan terlihat membuka pintu dan dia juga bisa melihat Nessa berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Masuk, Pah," ujar Nevan sambil berbalik dan berjalan kembali ke kamarnya.


Ervin mengangguk sambil mulai melangkahkan kakinya mengikuti dua bocah kecil itu.


"Papah bawa kudapan dan susu, kalian pasti lapar, kan?" tanya Ervin sambil menaruh nampan di tangannya pada meja, lalu duduk di sofa kecil yang ada di sana.


"Makasih, Pah. Tapi, kami berdua enggak lapar." Kedua anak itu serempak menggeleng, menolak apa yang dibawa oleh Ervin.


Ervin menghembuskan napas pelan. Tenryata kedua anaknya benar-benar sedang merajuk.


"Kalian marah sama Mamah dan Papah?" tanya Ervin sambil menatap wajah kedua anaknya bergantian.


"Kami cuma mau merasakan tidur bersama Mamah dan Papah, seperti teman kami. Mereka selalu membanggakan kedua orang tuanya pada kami," ujar jujur Nevan lengkap dengan mata sedikit berkaca-kaca dan kepala menunduk.


Perkataan jujur dari anak itu seolah sebuah busur panah yang tepat menancap di dadanya. Sakit sekali. Ervin tak menyangka, jika Nevan dan Nessa selama ini memendam rasa sakitnya sendiri, akibat konflik kedua orang tuanya.


"Nevan bahkan sering dibilang tidak punya ayah sama teman di sekolah. Kami mau buktikan sama mereka, kalau kami memiliki seorang ayah." Kini Nessa yang ikut mengadu, seolah suatu pukulan yang kembali mengenai dada Ervin.


"Kita gak mau lihat Mamah sedih," ujar polos Nevan yang membuat napas Ervin tercekat hingga tenggorokannya terasa sakit.


Ervin memeluk kedua anaknya dengan perasaan campur aduk, satu tetes air mata bahkan lolos ketika dia kecup ubun-ubun dua bocah itu. Rasa bersalah yang begitu besar kini bukan hanya dia rasakan pada Laras, tetapi kedua anaknya yang juga terluka.


Bagaimana bisa mereka begitu dewasa di saat umur yang masih sangat belia? Mereka berdua bahkan memendam luka hanya karena tak mau semakin menambah luka di hati ibunya?


Ini semua salahku. Semua ini karena bodohanku yang tidak bisa mengenali istriku sendiri. Aku yang membuat mereka sengsara seperti ini, batin Ervin, menyalahkan dirinya sendriri.


"Sekarang kalian makan dulu." Ervin melepas pelukannya setelah merasa dirinya sendiri tenang. Namun ujung matanya melihat sesuatu yang mencurigakan di balik selimut. Senyumnya pun terbit setelahnya.


"Kalian sudah makan?" tanyanya lagi sambil menatap kedua anaknya.

__ADS_1


"Eum, itu--" Nevan menggaruk belakang kepalanya, sementara Nessa menunduk dalam.


"Coba, ceritakan sama Papah. Siapa yang mengajarkan untuk berbohong." Ervin tak marah, dia malah mendudukan kedua anaknya di pahanya lalu meminta mereka untuk bercerita. Awalanya memang sulit untuk membuat mereka mau mengatakannya, tetapi setelah lima belas menit meyakinkan jika dirinya tidak akan marah. Nevan dan Nessa pun mulai menceritakan semuanya.


Ternyata itu semua adalah makanan yang sering dibawakan oleh Dion untuk menemani mereka menonton film bersama atau bermain di kamar ketika Dion menginap.


Ervin dibuat gelang-gelang kepala, ketika ternyata selama ini Laras tidak tahu tentang keberadaan makanan itu di kamar Nevan. Nevan juga belum pernah memakannya sebelumnya, hanya saja kali ini keduanya tidak memiliki cara lain untuk membuat Laras bisa menerima kehadiran Ervin di rumah mereka.


"Kalian tahu ini salah? Karena kalian merajuk seperti ini, ibu kalian belum makan siang sampai sekarang." Ervin mencoba memberi pengertian.


Nevan dan Nessa terlihat terkejut yang diakhiri dengan rasa bersalah.


"Maaf," gumam keduanya bersamaan.


Ervin menghembuskan napas pelan lalu mulai menarik garis bibirnya membentuk senyuman.


"Lain kali jangan diulangi lagi, ya?" pinta Ervin yang langsung mendapat anggukan dari kedua anak itu.


"Kalau kalian mau sesuatu atau ada apa pun, kita bicara baik-baik seperti ini. Gimana?" tanya Ervin.


"Iya, Pah," angguk keduanya.


"Bagus. Sekarang lebih baik kalian istirahat dulu saja." Ervin membereskan tempat tidur Nevan yang penuh dengan bungkus makanan.


"Tapi. kami mau ketemu Mamah dulu," ujar Nessa yang sudah hampir menangis karena merasa bersalah pada Laras.


"Ibu kalian juga sedang istirahat, nanti kalau sudah bangun baru kalian minta maaf. Ayo, sekarang bersiap tidur siang dulu," ujar Ervin yang langsung diangguki oleh kedua anaknya. Mereka melangkah gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap tidur.


Ervin hanya menggeleng kepala melihat tingkah kedua anaknya. Dia menemani Nevan dan Nessa sampai tertidur lelap, lalu ke luar dengan membawa bekas jajanan dan nampan berisi susu dan kudapan yang masih utuh.

__ADS_1


Namun, langkahnya terhenti ketika suara pintu terbuka dari kamar Laras terdengar. Ervin mengalihkan perhatiannya hingga mata keduanya pun kembali bertabrakan.


Laras tampak mematung di pintu yang setengah terbuka, sementara Ervin pun masih berdiri kaku di depan pintu kamar Nevan yang baru saja tertutup.


__ADS_2