
"Sepertinya Ervin benar-benar ingin kembali bersama dengan kamu, Ras?"
Laras terdiam ketika mendengar ucapan Papi ketika dia sedang mendampingi Papi menyantap sarapannya. Dia cukup terkejut oleh ucapan lelaki paruh baya itu, setelah beberapa minggu yang lalu, jelas Papi mengeluarkan ucapan yang menandakan penolakan atas kedekatannya dengan Ervin.
"Apa kamu masih ragu, Nak?" Papi kembali bertanya, mungkin karena melihat wajah kebingungan anak perempuannya.
Laras menggeleng pelan, dia tatap mata sayu Papi yang juga menyimpan beribu kehangatan di dalamnya.
"Aku hanya belum yakin kepada diriku sendiri," jawab Laras sambil mulai menundukkan pandangannya. Pundaknya pun ikut jatuh, seolah tak ada semangat untuk membahas hal seperti itu.
Kini masalahnya bukan berada di Ervin. Laras sadar, jika sekarang dirinyalah yang memiliki masalah. Keraguan untuk menjalin hubungan lagi, membuatnya terus meragu untuk menerima Ervin kembali.
"Kenapa? Apa kamu takut Ervin kembali tidak bisa melindungimu seperti dulu?" tanya Papi. Tangannya mengusap lembut puncak kepala Laras, seolah sedang memberikan ketenangan.
Laras masih diam. Dia tak tahu harus menjawab apa.
"Papi sudah menyelidiki semuanya. Sekarang kondisi Ervin sudah jauh berbeda. Dia sudah mengalahkan semua orang-orang tamak yang dulu menjadi penghalang hubungan kalian. Ervin sudah sah menjadi satu-satunya pemilik dari perusahaan keluarganya."
Laras menatap wajah sang ayah dengan raut terkejut. Dia tidak menyangka jika Papi mampu melakukan itu untuk dirinya.
"Roland sudah masuk penjara sejak tiga tahun lalu, sementara ibunya dirawat di rumah sakit, karena mengidap penyakit terlarang." Papi mulai menceritakan nasib orang-orang yang dulu terus memperlakukannya seperti hewan buruan.
"Wanita yang dulu berpura-pura menjadi kamu, juga sudah resmi menjadi penghuni rumah tahanan, tak lama setelah putusan pada Roland. Ervin sudah berhasil mengalahkan mereka. Dia benar-benar sudah mempersiapkan semuanya, agar kamu gak lagi merasakan kesusahan seperti dulu. Sekarang kamu tidak perlu khawatir dengan keselamatan Nevan dan Nessa lagi," ujar Papi sambil tersenyum tenang.
Meski wajah sang ayah masih sedikit pucat, tetapi kini kondisisnya sudah lebih stabil dari sebelumnya, hingga setelah pemeriksaan terakhir hari ini, dia pun diizinkan pulang.
"Papi tahu semua itu sejak kapan?" tanya Laras dengan tatapan penuh selidik. Dia memang sudah tidak pernah lagi mencari tahu tentang Ervin dan masalah rumit di dalam keluarganya itu, hingga dirinya tidak penah tahu apa yang terjadi pada lelaki itu selama enam tahun ini.
__ADS_1
"Sekitar seminggu setelah pulang dari rumahmu," jawab Papi dengan wajah tak berdosanya.
Kerutan di kening Laras makin terlihat jelas.
"Mana mungkin papi akan diam saja kalau ada yang mendekati anak perempuan papi? Tentu saja papi harus mengetahui semuanya tentang laki-laki yang sudah berani mendekati putri papi ini." Papi mengusap lembut pipi Laras, dia tersenyum penuh percaya diri, hingga senyum itu akhirnya menular pada Laras.
Laras tangkup tangan papi yang masih berada di pipinya, dia ambil lalu cium penuh kasih.
"Papi tidak akan ikut canpur pada keputusan kamu, Ras. Papi hanya membantu kamu untuk memutuskan. Itu juga membantuku agar lebih tenang jika kamu akan memilihnya," sambung Papi lagi dengan suara yang begitu lembut, hingga perkataan itu mamapu menyentuh hati Laras.
"Terima kasih, Papi." Laras tak lagi mampu menahan diri untuk tidak menjatuhkan diri di dalam pelukan sang ayah. Walau pertemuan mereka sangat terlambat, tetapi Laras sangat bersyukur karena di dalam keidupannya, dia bisa merasakan cinta dari seorang ayah yang sesungguhnya.
"Ada apa nih, kok kalian romantis begini. Ini masih pagi lho." Mami yang baru saja datang bersama dengan Dion tampak melihat suami dan anak permpuannya sambil tersenyum lembut. Mereka tampak ikut bahagia, melihat kedekatan antara Laras dan Papi.
"Jangan cemburu ya, kami hanya sedang mengobrol. Iya, kan Sayang." Papi mengurai pelukannya pada Laras lalu menjawab dengan perkataan menggoda. Lelaki paruh baya itu bahkan sempat mengerlingkan salah satu matanya pada Laras.
"Tidak usah sok begitu, apa Anda lupa jika Anda bahkan sering menggoda anak saya yang masih kecil, Tuan Dion yang terhormat?" Laras berdecak lirih lengkap dengan wajah geli dan mata tajamnya yang menyorot Dion.
"Jangan sembarangan kamu bicara? Anak itu adalah keponakanku kalau kamu lupa," judes Dion sambil memalingkan wajah dan bersedekap dada.
"Sudah-sudah, sampai kapan kalian akan main seperti ini, hem? Enggak sekalian saja pada main sinetron," lerai Mami yang sudah cukup jengah melihat candaan dari ketiga orang di sana. Dia tidak cukup kreatif untuk memilih kata dan menimpali sandiwara anak dan suaminya, hingga akhirnya merasa diasingkan.
"Yah, Mami gak bisa ikutan." Dion tertawa sambil memeluk ibunya yang tengah membereskan bekas sarapan Papi. Laras pun ikut membersamai dengan tawa keempat orang itu yang terdengar begitu bahagia.
...❤🩹...
"Aku akan menunggumu sampai kamu mau memberikan aku kesempatan lagi untuk membahagiakan kalian bertiga."
__ADS_1
Laras terdiam dengan ingatan tentang ucapan Ervin ketika mereka berdua berjaln-jalan di sekitar rumah sakit malam tadi. Suasana dingin dan sedikit sunyi malam itu membuat kesan tersendiri untuk Laras. Belum lagi semua ucapan Ervin yang seolah terus mengungkapkan pengharapan dan rasa cintanya.
"Aku paham kamu butuh waktu untuk berdamai dengan masa lalu, tapi jangan halangi aku untuk menyembuhkan luka di hatimu."
Angin semilir di malam itu menerpa, memberikan rasa dingin yang perlahan menyusup di sela helaian benang dan masuk menyentuh kulit. Laras memeluk tubuhnya untuk meredam dingin itu yang ternyata tak bertahan lama.
"Pakai ini. Jangan menolak ya, aku tau kamu kedinginan." Ervin menyelimuti tubuh Laras dengan jaketnya yang hampir menelan seluruh tubuh Laras. Harum semerbak parfum yang bercampur dengan aroma khas tubuh Ervin langsung menyeruak ke dalam indra penciumannya.
Laras sempat tertegun untuk beberapa saat. Tanpa sadar, dia hirup dalam wangi yang begitu menenangkan itu, walau beberapa saat kemudian kesadarannya pun pulih hingga membuat Laras terperanjat dan menggelengkan kepala pelan.
Jangan terbuai, Ras, batin Laras, mencoba menyadarkan dirinya sendiri.
"Mamah, kami sudah pulang!" Teriakan kedua anaknya, menyadaran Laras dari lamunannya. Wanita itu mengalihkan perhatainnya pada arah suara sambil tersenyum lembut. Namun, senyum itu kembali redup ketika ada Ervin yang tampak berjalan di belakang kedua anaknya.
Ah, dia lagi, keluhnya dalam hati, padahal dia sendiri yang meminta tolong pada Ervin untuk menjaga Nevan dan Nessa tadi malam.
Entahlah. Bertemu dengan Ervin selalu menguras lebih banyak tenaga untuknya. Itu adalah salah satu alasan Laras terus menghidar dari mantan suaminya.
"Mamah, aku mau menginap di rumah Papah, apa boleh?" tanya Nessa begitu mereka sampai di depan Laras.
Laras menatap ERvin dengan kerutan di keningnya, seolah bertanya apa lagi ini?
"Tadi aku sempat membawa mereka ke rumah, Nevan dan Nessa senang melihat kamar dan wahana bermain yang sudah aku siapkan untuk mereka," jelas Ervin seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Laras.
"Iya, Mah. Rumah papah sangat luas, kamar kami juga sangat bagus. Aku dan Nevan suka. Iya, kan Van?" Nessa bercerita dengan penuh semangat, matanya berbinar dengan senyum full yang membuat bibirnya begitu lucu.
Laras masih terdiam dengan keterkejutannya. Sejak kapan Ervin menyiapkan kamar dan keperluan anakknya? Sejauh itukah harapan Ervin padanya?
__ADS_1