
"Mataharinya indah ya," ujar Ervin sambil duduk tepat di samping Laras. Pandangannya menatap lurus indahnya semburat jingga kemerahan di ujung lautan, mengiringi matahari yang hendak tenggelam ke peraduan.
Mengakhiri hari dengan pandangan indah matahari tenggelam ke peraduannya, dilengkapi oleh tawa ceria dua si kembar adalah sesuatu yang sangat sempurna. Apa lagi ada Laras di sampingnya. Sungguh, dia merasa bersyukur akan semua yang telah terjadi.
"Iya." Laras menoleh melihat wajah Ervin, sebelum kembali memalingkan wajahnya pada luasnya lautan yang tengah berwarna serupa dengan langir sore ini.
"Terima kasih," ujar Laras tiba-tiba.
Perhatian ERvin teralih. Dia menatap wajah Laras. Entah mengapa, dia merasakan ada yang berbeda dari pandangan Laras saat ini. Namun, lelaki itu masih ragu untuk menyimpulkannya.
"Terima kasih untuk apa?" tanya ERvin, bingung.
"Untuk semuanya." Laras kembali menatap lurus ke depan, dia mana dua anaknya masih saja asik bermain berdua.
"Apa maksud kamu, Ras? Aku tidak melakukan apa pun hingga kamu harus mengucapkan kata terim akasih padaku." ERvin masih bingung.
Laras menoleh kembali, dia menatap tepat pada iris mata Ervin yang terasa teduh, walau masih terlihat kebingungan di sana. Mata keduanya sempat bertaut cukup lama. Laras bahkan bisa merasakan jika dirinya mulai terlena oleh sorot mata teduh lelaki di sampingnya.
"Aku juga tidak tahu. Aku hanya ingin mengatakan itu." Laras memalingkan wajahnya saar udah tidak mampu lagi menahan debar jantung yang memburu. Dia bahkan yakin, kalau saat ini pipinya pasti sudah memarah. Untung saja, dia masih bisa bersembunyi dalam pancaran sirat kemerahan matahari senja yang memantul dari luasnya lautan.
Ervin terkekeh pelan, matanya jelas menangkap raut tersipu di pipi Laras. Wajah malu-malu dan salah tingkah itu, kenapa begitu terlihat lucu? Hingga menarik ribuan kupu-kupu di dalam perut untuk mengepakkan sayapnya.
"Cantik." Ah, kata itu tiba-tiba lolos begitu saja dari mulutnya. Ervin bahkan tak bisa menahan kekagumannya pada wanita hebat di sampingnya.
"Iya, sinar senjanya cantik banget," ujar Laras sambil mengalihkan perhatiannya pada Ervin.
"Hah?" Erving mengerjap. Dia yang tengah menikmati keindahan wajah wanita di depannya, seolah dipaksa untuk beralih haluan karena suara Laras.
"Senjanya cantik." Laras mengulang ucapannya. Tanpa sadar, garis bibir wanita itu tertaik ke atas, hingga membentuk lengkung indah.
Untuk kesekian kalinya, Ervin kembali terpesona pada semua hal yang ada pada diri wanita yang bernama Larasati. Nama yang sederhana, tetapi menyimpan sosok wanita yang begitu kuat dan hebat di dalamnya.
"Vin?" Laras mengernyit, bingung melihat ERvin yang malah tampak bengong.
"Eum? Sorry-sorry ... tadi kamu ngomong apa?" Tampaknya saat ini aura CEO atau pemilik perusahaan sedang menghilang entah ke mana dari diri Ervin, yang tersisa hanya seorang laki-laki ang tengah jatuh cinta.
Ya, Ervin hanyalah lelaki dewasa yang tengah menikmati indahnya jatuh cinta dan menunggu penuh harap akan kesediaan wanita pujaannya, untuk menerima perasaannya.
__ADS_1
"Senja-nya." Laras kembali menatap warna merah yang masih tersisa di ujung lautan, lalu meneruskan uccapannya. "Kamu tadi sedang memuji senja kan?"
Slah satu alis ERvin tampak naik. "Kata siapa aku sedang memju senja?"
"Kalau bukan, terus apa yang cantik?" tanya Laras, sambil mengerutkan keningnya.
"Aku bahkan tidak pernah melihat senja. Mana bisa aku memujinya," gumam Ervin sambil menggeser sedikit duduknya hingga tubuhnya kini merapat pada Laras.
Laras tampak menatap Ervin dengan sorot mata protes akan tindakan Ervin. Lalu, berujar dengan suara yang dalam, karena menahan kesal. Apa lagi, ketika tangan Ervin lancang menyusup ke pinggangnya. "Terus, sejak tadi ngapain kamu di sini kalau bukan melihat senja?"
"Buat apa kau melihat senja, kalau kamu terasa lebih menarik untukku?" ujar Ervin santai. Dia alihkan pandangannya ke depan di mana Nevan dan Nessa tampak sedang berajalan menghampiri.
"Ish, gombal," cebik Laras sambil membuang muka.
"Aku gak punya bakat buat ngegombal, apa lagi sama kamu," jawab Ervin bahkan tanpa melepaskan tangannya dari pinggang Laras.
"Terus, tadi apa kalau bukan gumbal?"
"Kenyataan, lah." ERvin menjawab singkat.
"Mamah, Papah, kita laper," keluh Nessa begitu mereka sampai di depan kedua orang tuanya.
"Eum. Perut aku udah bunyi-bunyi, nih. Papah denger gak?" keluh Nessa sambil mengelus perutnya berulang kali.
Nevan berlagak seolah tengah mendengarkan suara di perut Nessa, lalu mengangguk sambil menjawab. "Iya nih. Ya udah, gimana kalau sekarang kita makan dulu? Nessa dan Nevaan mau makan apa, hem?"
"Ikan!" teriak kedua anak itu dengan wajah riangnya.
"Okay, ayo kita makan ikan!" Ervin melepaskan tangannya yang masih bertahan di pinggang bagian belaknag Laras. Lalu, mengangkat Nessa ke dalam gendongannya sambil beranjak berdiri.
Ervin kemudian berbalik lebih dulu dan mengulurkan tangannya ke depan Laras yang masih duduk.
Laras yang sudah bersiap untuk berdiri tampak terdiam sesaat sambil melihat wajah ERvin dengan sorot mata seolah sedang bertanya 'Apa?'
Namun, sedetik kemudian dia langsung mengerti dan menyambut uluran tangan Ervin. Senyum tertahan tampak terlihat di wajah Laras yang hari ini terlihat lebih ceria dari biasanya.
"Makasih," ujarnya sambil mulai berjalan, dengan Nevan di sisinya dan menggandeng tangannya.
__ADS_1
"Love you." Bukan membalas ucapan terima kasih Laras. Ervin malah, membisikan kata cinta tepat di depan daun telinga Laras. Hingga membuat wajah wanita itu kembali tersipu.
❤🩹
Jam di dashboard mobil sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun, mereka masih berada di tengah jalan dengan jarak yang cukup jauh dari rumah. Ternyata, mobil Ervin terjebak macet hingga membuat keduanya harus bersabar mebahan penatnya menunggu di tengah kemacetan. Semnentara itu, Nevan dan Nessa sudah terlelap di kursi belakang.
"Maaf, aku gak tau kalau kondisi jalan akan macet begini," ujar Ervin sambil sambil menatap wajah Laras.
"Enggak usah minta maaf. Ini semua bukan salah kamu ... siapa juga yang akan tahu pasti tentang kondisi jalanan? Apa lagi, ini juga terjadi karena ada galian yang hampir mnutupi setengah sisi jalan," jawab Laras. Senyum tipis tampak terlihat.
"Kamu pasti lelah kan? Mau aku gantiin nyetir?" tawar Laras. Dia sudah tentu tahu bagaimana letihnya Ervin hari ini. Dari menyetir sendiri, menemani kedua anaknya bermain, bahkan mengambil alih semua kegiatan, tetau saja menguras banyak tenaganya.
"Gak usah, aku masih kuat kok." Ervin langsung menolak sambil tersenyum lembut.
"Yah, gerimis," keluh Ervin ketika bulir air mulai berjatuhan di kaca depan mobilnya.
Laras yang sejak tadi sedang menunduk tampak mengalihkan pandangan, lalu mengangguk.
"Kamu kenapa? Ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Ervin, dia melihat sejak tadi Laras tampak sedikit gusar.
"Heh? Enggak kok." Laras menggeleng pelan.
"Lalu? Kamu lelah? Tidur saja, aku gak papa kok nyetir sendiri. Lagi pula, besok pagi kamu sudah harus ke bandara." Tangan Ervin mengusap pelan puncak kepala Laras. Berat rasanya melepaskan Laras dan kedua anaknya kembali pergi jauh darinya. Namun, untuk saat itu, dia belum memiliki hak untuk meminta lebih. Tidak ada yang bisa dia lakukan, kecuali hanya pasrah pada keadaan.
"Kamu gak papa, aku dan anak-anak kembali eke Selan,dia Baru?" Laras memberanikan diri untu bertanya. Kedua tangannya tampak meremas, meredam rasa gugup yang entah mengapa terasa begitu neyiksanya.
"Kalau aku bisa ... tentu aku tidak ingin melepaskan kamu untuk kembali ke sana. Jauh darimu dan anak-anak adalah siksaan yang paling berat untukku," jawab Ervin. Senyum gertir terlihat jelas di wajah tampannya.
"Tapi, saat ini aku belum memilik hak untuk melakukan itu," lanjut Ervin lagi. Hembusan napas lemah terdengar di akhir kalimatnya. Namun, tawa hambar tampak menyambut setelahnya.
"Gak papa. Aku tau, aku hanya perlu menunggu sampai kamu siap. Iya, kan?" Ervin memilih menyembunyikan rasa gundah dalam hatinya dengan tawa yang jelas dipaksakan.
"Bagaimana kalau sekarang aku sudah menemukan jawabannya?" tanya Laras pelan. Kepalanya bahkan menunduk dalam. Tak bernai menatap mata penuh harap dari lelaki di sampingnya.
"Kamu serius?" Ini terlalu mengejutkan, hingga membuat dia tak mampu untuk mempercayainya. Ervin butuh mendengarnya lagi untuk meyakinkan diri.
"Apa kamu yakin ingin mendengar jawabanku sekarang? Mungkin ini akan mengecewakanmu," ujar Laras sambil memberanikan diri untuk menatap mata yang penuh binar harapan itu.
__ADS_1
"Tunggu dulu...." Tiba-tiba Ervin merasa tidka yakin untuk mendengar jawaban Laras sekarang. Rasa takut tiba-tiba merasuk, mengintimidasi pikirannya, hingga bimbang mulai menyelimuti.
Mata keduanya bertaut begitu dalam, seolah tengah larut dalam perasaannya masing-masing. Menikmati setiap getaran dalam dada, dan mempersiapkan diri untuk maju ke fase selanjutnya. Entah itu kebersamaan atau perpisahan?