Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.11 Tekanan


__ADS_3

"Apa tuan Dedri tidak salah pilih? Kenapa dia mempercayakan peruhaan pada seorang perempuan yang baru saja menjalani wisuda? Dia bahkan tidak memiliki pengalam kerja."


"Aku yakin, perusahaan ini tidak akan bertahan lama, jika kita tetap mempertahankan kedudukan perempuan itu."


"Aku dengar, dia adalah seorang gadis yang tidak tahu asal usulnya dan dibesarkan di panti asuhan. Aku yakin, dia mau menikah dengan tuan Ervin, hanya karena menginginkan hartanya saja."


"Itu lebih masuk akal sih. Jaman sekarang, mana ada yang mau menikah dengan seorang laki-laki buta, jika bukan karena hartanya."


"Dasar wanita murahan! Aku yakin, dia juga yang memperalat tuan Dedrik untuk memberikan posisinya padanya. Wanita tidak tahu malu!"


Laras menghembuskan napas berat, begitu sampai di dalam ruangannya. Rasa sesak dan sangat menyakitkan kala telinganya mendengar jelas semua penghinaan dari para karyawan dan petinggi perusahaan, yang membicarakannya secara terang-terangan. Walau, saat ini Laras sudah menempati posisi Dedrik di perusahaan, tetapi tidak ada kehormatan atau bahkan pengakuan dari sebagian karyawan dan petinggi perushaan.


Ini sudah seminggu dia bekerja di perusahaan, tetapi keberadaannya seperti tak terlihat di mata beberapa orang.


"Ya ampun, aku sedang bekerja di perusahaan, tapi seperti sedang melewati gang rumpi emak-emak, sakit kupingku lama-lama," kesal Laras sambil duduk di kursinya dengan kasar.


Siapa yang akan tahan jika setiap hari dia dihina secara terang-terangan seperti itu? Laras pun masih manusia biasa yang memiliki batas kesabaran.


"Sayang sekali, di sini aku sebagai pengganti pak Dedrik. Kalau bukan, udah pasti aku kasih sambel seember tuh mulut, biar tambah pedes sekalian," gerutu Laras, dengan kening yang mengernyit dalam.


Namun, semua itu tidak bertahan lama, ketika suara ketukan pintu terdengar dan memaksanya untuk menetralkan raut wajahnya lengkap dengan senyum lebar di bibirnya.


"Masuk," ujarnya yang disusul dengan pintu terbuka dan kehadiran seorang wanita berumur penghujung dua puluhan.


"Ada apa, Ema?" tanya Laras begitu tahu kalau itu adalah Ema --sekretaris Dedrik yang lama.


"Saya membawa beberapa berkas yang harus Nyonya tandatangani," ujar Ema sambil berjalan menghampirinya kemudian menaruh semua berkas di tangannya ke atas meja.


Laras membulatkan matanya, begitu melihat tumpukan berkas yang ada di depannnya. "Ema, ini gak salah? Sebanyak ini?"


"Iya, Nyonya. Ini semua laporan dari beberapa divisi dan klien yang bekerja sama dengan kita," jawab Ema.


"Ya udah, aku baca dulu. Kamu boleh kembali," angguk Laras sambil menghembuskan napasnya pelan. Namun, belum sempat dia mengambil berkas di depannya, pintu terbuka kembali hingga membuat perhatian Laras teralihkan.


"Roland?" gumam Laras sambil menatap laki-laki yang kini sedang tersenyum manis ke arahnya.


"Hai kakak ipar? Sepertinya akhir-akhir ini aku begitu sibuk sampai lupa menyapamu," ujarnya sambil berjalan ke arah Laras dengan gaya santainya.


"Ah iya, aku bawakan bunga untuk kakak iparku tersayang," sambungnya lagi sambil menatuh bunga itu di atas meja kerja Laras, lalu duduk begitu saja di kursi depan Laras.

__ADS_1


Laras masih diam, dia bahkan hanya melihat sekilas pada buket bunga pemberian adik iparnya itu.


"Bagaimana kerja di ruangan ini? Pasti nyaman sekali kan?" tanya Roland lagi sambil menyeringai tipis.


Laras menghembuskan napasa pelan sambil menegakkan tubuhnya, lalu berbicara dengan nada santai.


"Terima kasih atas kujungannya ... dan bunganya juga." Laras mengambil buket bunga dari Roland kemudian menggesernya, kemudian mengambil salah satu berkas yang tadi diatarkan okeh Ema. Laras membukanya sambil melanjutkan perkataannya.


"Tapi, apa Anda lupa kalau ini adalah jam kerja? Jadi sebaiknya Anda segera kembali ke kursi Anda. Saya bukan orang yang suka makan gaji buta."


Roland mengepalkan tangannya erat saat mendengar ucapan menohok dati Laras. Wajahnya pun berubah merah padam dengan gurat oenuh kebencian di sorot matanya. Laki-laki itu berdiri dengan gerakan kasar dan segera berjalan ke luar dengan hentakan kaki yang terdengar berat kemudian menutup pintu kencang, hingga suara terasa memekakkan telinga.


Laras menggeleng pelan sambil tersenyum miring. Tangannya mengambil buket bunga di meja kemudian meleparnya ke tong sampah yang tidak jauh dari tempatnya duduk.


"Tidak sopan!" gumamnya pelan.


❤‍🩹


Menjelang sore hari, Laras tampak berjalan ke luar kantor. Sopir yang bertugas untuk mengantar jemput Laras pun langsung membukakan pintu mobil untuk Laras. Mereka meninggalkan area kantor seperti biasa.


Namun, tanpa mereka sadari, seseorang tampak memperhatikannya dengan tatapan tajam dan penuh kebencian.


"Tenanglah Renita. Aku yakin, sebentar lagi dia akan segera menyerah. Mana ada manusia yang tahan jika diperlakukan tidak adil oleh orang yang jelas-jelas memiliki kedudukan di bawahnya. Itu adalah penghinaan paling menyedihkan." Laki-laki yang tak lain adalah Rolan, menyeringai tajam dengan sejuta rencana di dalam kepalanya untuk menghancurkan Laras.


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya? tanya Renita mengalihkan perhatiannya pada Roland.


"Jika dengan hinaan ini dia masih bisa bertahan, aku mempunyai rencana selanjutnya yang akan memaksanya untuk menyerah dan keluar dari perusahaan."


Kedua orang itu saling melempar senyum percaya diri, dengan rencana mereka yang selanjutnya.


...❤‍🩹...


Laras menghempaskan tubuhnya di sofa ruang keluarga, dia benar-benar lelah sekarang dan ingin merebahkan diri walau sebentar. Tubuhnya begitu lemas seolah kakinya sudah tidak memiliki tulang.


"Nahan kesal itu ternyata lebih capek daripada ngerjain skripsi yang gak tidur sampe tiga hari," keluhnya sambil menghembuskan napas lelah dan menutup matanya.


Sementara itu, tanpa Laras tahu, Ervin tampak berdiri tidak jauh darinya, hingga laki-laki itu bisa mendengar semua yang dikeluhkan Laras.


"Kenapa dia?" tanyanya pada seseorang yang ada di belakangnya. Dia adalah sopir yang bertugas untuk mengantarkan Laras ke kantor. Ervin sekaligus menugaskannya untuk mengawasi Laras di kantor.

__ADS_1


"Tampaknya banyak dari petinggi dan para karyawan di kantor yang belum bisa menerima keberadaan Nyonya, Tuan. Mereka bersatu untuk memojokkan dan menekan Nyonya agar Nyonya menyerah," jawab sopir itu yang bernama Hendri.


Ervin mengeratkan kepalan tangannya katika mendengar penjelasan dari Hendri, dia tentu tahu siapa yang berada di balik kekacauan ini.


"Baiklah, kamu boleh kembali," ujar Ervin dengan suara yang terdengar dingin dan menekan.


Perlahan Ervin menghampiri Laras yang ternyata sudah tertidur di sofa. Ervin duduk di sofa single dan berdiam diri di sana. Suara napas Laras yang terdengar teratur membuatnya tahu jika wanita itu telah terlelap.


Ervin menghembuskan napas pelan sambil menyandarkan tubuhnya. Ada rasa iba di dalam hatinya, ketika mengetahui jika Laras kini begitu tertekan di kantor dan itu disebabkan olehnya.


"Maaf," gumamnya sangat pelan, hingga mungkin hanya dirinya sendiri yang bisa mendengarnya.


...❤‍🩹...


Ervin masih saja terjaga saat jarum jam bahkan sudah menunjuk pada angka satu. Kepalanya terus memikirkan ucapan Hendri tentang Laras dan reaksi Laras ketika dia bertanya tentang perusahaan sewaktu makan malam.


"Gak ada masalah, kok. Semuanya baik-baik aja, aku cuman butuh sedikit lebih beradaptasi lagi dengan cara kerja di kantor."


Nada suara ceria terdengar jelas ketika wanita itu menjawab pertanyaannya. Dia seolah sedang meyakinkan Ervin jika memang tidak ada masalah di kantor. Padahal, Ervin bertanya hanya untuk memastikan, karena dia sudah tahu semuanya sejak awal.


"Kenapa dia menyembunyikan semuanya dariku?" gumam Ervin dengan kening yang mengernyit dalam.


Perhatiannya teralihkan ketika dia juga baru menyadari jika Laras belum datang ke kamarnya setelah tadi dia pamit untuk kembali ke ruang kerja Dedrik untuk mengerjakan laporan yang belum selesai.


"Ish!" Ervin akhirnya mengambil tongkatnya dan beranjak dari tempat tidur, dia kemudian berjalan menuju ke luar untuk mencari keberadaan Laras.


Namun, langkahnya terhenti ketika dia merasa ada seseorang yang tengah berbicara dari ujung balkon lantai dua.


Siapa? guamnya dalam hati sambil menutup pelan pintu kamarnya dan menguncinya rapat.


Ervin mulai melangkah mencari asal suara, untuk lebih mendengar jelas apa yang sedang dibicarakan oleh suara itu.


Dalam pencahayaan yang minim, Ervin terus berjalan sambil menajamkan pendengarannya. Jantungnya berdebar kencang, seiring dengan emosi yang mulai naik. Entah ke mana para menjaga di luar hingga ada seseorang yang bisa lolos dan menyelinap ke rumahnya seperti ini?


Tidak ada rasa takut sama sekali walau Ervin memiliki kekurangan. Satu yang mereka lupakan dan tidak tahu darinya. Karena kehilangan penglihatannya, selama tiga tahun ini dia mengasah keempat indra lainnya untuk membantunya tetap hidup.


Langkahnya terhenti ketika tiba-tiba ada yang menyentuh pundaknya dari belakang. Konsentrasinya pun langsung buyar begitu saja karena terkejut oleh sentuhan yang tiba-tiba.


Siapa itu?

__ADS_1


__ADS_2