
Akhirnya Laras menyerah dengan keinginan si kembar. Dia pun memberikan tumpangan untuk Ervin atas permintaan Nevan dan Nessa. Kini dia tengah menyetir dengan Ervin berada di sampingnya, sementara anak-anak duduk di kursi belakang.
"Kamu akan langsung pulang atau ke hotel dulu?" tanya Ervin setelah beberapa saat hanya obrolan anak-anak yang menghiasi perjalanan mereka.
"Aku harus langsung pulang," jawab Laras singkat.
"Yah, jadi kita pisah lagi dong sama Papah." Tiba-tiba Nessa bersuara dengan helaan napas lesu, seolah berat untuk meninggalkan Ervin.
"Besok bukannya kalian sudah harus kembali ke sekolah?" Laras langsung membungkam mulut Nessa yang hendak kembali merengek untuk lebih lama tinggal di kota itu.
"Iya, Mah. Lagi pula, lain kali kita pasti bisa bertemu lagi sama Papah. Iya kan, Pah?" Nevan yang melihat wajah sedih Nessa pun ikut menjelaskannya.
"Iya. Papah pasti akan kembali menemui kalian secepatnya," angguk Ervin. Dia bertekad untuk tetap mendekati Laras dan kedua anaknya dalam kesempatan apa pun.
"Jangan berjanji kalau tidak bisa menepatinya." Laras berucap lirih dengan raut yang datar.
Ervin mengerutkan keningnya ketika melihat reaksi Laras. Dia tahu, wanita itu pasti masih marah karena masalah beberapa tahun lalu. Walau itu bukan kesalahan yang disengaja, tetapi Ervin sadar, semua terjadi kerena kebodohannya yang tidak bisa mengenali istrinya sendiri dan malah memercayai wanita lain.
Tidak lama kemudian, Laras menghentikan mobilnya di parkiran hotel.
"Makasih ya atas tumpangannya," ujar Ervin sambil membuka sabuk pengaman dan bersiap turun.
"Mah, aku mau pipis dulu," ujar Nessa tiba-tiba.
"Ya sudah, turun dulu saja biar Nessa bisa ke toilet," tawar Ervin yang masih berusaha mendekati Laras.
"Ayo, mamah antar kamu ke toilet dulu." Laras pun membuka sabuk pengamannya dan bersiap untuk turun.
__ADS_1
Mereka pun membagi tugas, Nevan menunggu bersama Ervin sekaligus mengurus administrasi kamar, sementara Laras dan Nessa ke toilet.
"Jadi saya tidak bisa menginap lagi di sini?" tanya Ervin setelah dia mendapatkan penjelasan dari petugas hotel. Ternyata sekretaris Ervin sudah membawa semua barang Ervin dan melakukan cek out dari hotel itu dua hari lalu. Sementara, sekarang kondisi kamar sudah full, hingga Ervin tidak bisa lagi memesan kamar di sana.
"Papah ikut pulang saja sama kami," ujar polos Nevan yang sama sekali tidak tahu masalah diantara dua orang tuanya. Anak itu hanya masih merindukan sosok ayah di dalam kehidupannya.
"Apa mamah kalian akan mengizinkannya? Papah rasa tidak." Ervin menghembuskan napas lelah. Kini dia benar-benar terdampar di negri orang.
"Mah, Papah boleh ikut pulang gak ke rumah kita? Kasihan Papa gak dapet kamar," tanya Nevan tiba-tiba, ketika melihat Laras dan Nessa menghampirinya.
Laras yang belum tahu permasalahan yang terjadi di hotel pun, mengalihkan perhatiannya pada Ervan, seolah meminta penjelasan.
"Begini, Ras--" Ervin mulai menceritakan apa yang terjadi padanya dan asistennya yang sudah terlanjur kembali ke Indonesia.
"Kalau diperbolehkan, apa aku bisa menginap di rumah kamu barang semalam saja? Nanti malam aku akan memesan tiket ke Indonesia," ujar Ervin dengan suara pelan. Sungguh, entah untuk ke berapa kalinya dia tidak mendapatkan muka di depan Laras di pertemuan kali ini.
"Boleh ya, Mah. Kita juga masih kangen sama Papah. Kita masih mau sama Papah." Nevan dan Nessa ikut menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memohon pada Laras untuk mengizinkan Ervin ikut pulang bersama mereka.
"Apa sih yang kamu lakuin sama anak-anakku? Aku gak mau kamu manfaatin mereka hanya demi kepentingan kamu sendiri," protes Laras dengan wajah yang sama sekali tidak bersahabat.
"Aku tidak pernah melakukan apa pun sama mereka, Laras. Bahkan mereka yang menemukan aku, mereka tahu kalau aku itu ayahnya," sangkal Ervin langsung.
"Mereka anak aku! Mereka tidak pernah menjadi anak kamu!" tekan Laras dengan mata yang melebar dan wajah tak terima.
"Anak kita, Baby," ujar lembut Ervin. Dia sama sekali tak merasa marah walau kini Laras tengah menuduhnya.
"Ada darah aku juga di dalam tubuh mereka kalau kamu lupa," sambung Ervin lagi dengan senyum tipis di bibirnya. Senyum yang entah mengapa terlihat sangat menyebalkan untuk Laras.
__ADS_1
"Kamu pikir jadi ayah cukup hanya menyumbangkan air mani saja? Kalau begitu, kamu sama saja seperti hewan," gerutu Laras dengan suara pelan, walau masih dapat didengar jelas oleh Ervin.
"Eh?" Ervin jelas terkejut dengan ucapan Laras. Ucapan lirih itu bagaikan sebuah anak panah yang menusuk tepat ke jantungnya. Begitu menyakitkan. Betul memang, selama ini dia bahkan belum berbuat apa pun untuk kedua anaknya, tetapi itu juga bukan karena keinginannya. Dia bahkan tidak pernah tahu kalau sudah memiliki dua orang buah hati bersama dengan Laras.
"Aku bukanlah orang yang tidak bertanggung jawab, Laras. Selama ini, aku tidak pernah tahu keberadaan mereka, mana bisa aku melakukan kewajibanku sebagai seorang ayah. Sekarang, aku mohon padamu, tolong beri aku kesempatan untuk melakukan itu pada mereka," ujar Ervin panjang lebar.
Laras mendengus sambil membuang muka. Tidak salah memang yang dikatakan oleh Ervin. Semua ini bukan salah lelaki itu sepenuhnya. Ada andil kesalahannya juga yang tidak pernah memberitahu keberadaan anak -anak itu pada ayah mereka.
"Aku bahkan tidak pernah mengatakan kalau mereka itu anak kamu. Kenapa kamu begitu percaya diri?" Laras masih saja mencoba untuk menyangkal kenyataan. Dia berbalik memunggungi Ervin dengan hati yang kian resah.
"Karena aku percaya padamu, Baby. Dan aku juga tahu darah dagingku," ujar Ervin dengan suara yakin. Melihat punggung Laras, membuatnya ingin memeluk wanita yang begitu dia rindukan. Namun, Ervin urungkan saat mengingat kemarahan yang akan dia terima dari Laras.
Laras terdiam, hatinya semakin merasa bingung. Rasa sakit dan rindu kini menyatu menjadi satu, membuat perasaan aneh dan tak nyaman yang semakin menyiksanya. Marah? Entahlah, dia sendiri bingung untuk mengungkapkannya.
"Tolong percaya sama aku, Baby. Aku--"
"Jangan panggil aku seperti itu!" Laras langsung memotong ucapan Ervin. Dia sungguh sudah tak sanggup lagi menahan rasa sakit setiap kali ucapan itu terucap dari bibir Ervin. Semuanya tak lagi sama seperti dulu ... dan tidak akan pernah kembali sama.
"Harus berapa kali aku bilang, hubungan kita sudah berakhir enam tahun lalu, jadi jangan terlalu percaya diri!" kesal Laras yang sudah semakin memucak.
"Tapi, bagiku hubungan kita masih sama, Ras. Aku tidak pernah merasa memutuskan hubungan denganmu. Dan itu tidak akan pernah terjadi," bantah Ervin yang juga masih bertahan dengan keyakinannya sendiri.
"Jika memang itu yang kamu rasakan ... maafkan aku, Ras. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Ervin berjalan ke depan Laras, dia cukup terkejut ketika melihat mata memerah wanita itu. Ternyata Laras tengah menahan tangis.
"Baby--" Ervin hendak mendekati Laras, tetapi wanita itu langsung menghindar. Ada rasa hampa di hati Ervin ketika Laras terus menolah sentuhan darinya.
"Jika hubungan keluarga terlalu berat untukmu, bagaimana kalau seorang teman?" tawar Ervin, sama seperti Laras di awal pernikahan mereka. Pertemanan pula yang Laras tawarkan pada Ervin saat itu.
__ADS_1
Laras terdiam, dia seolah dibawa kembali pada kenangannya bersama Ervin di awal pernikahan. Namun, kini semuanya berbalik. Jika dulu dirinya yang harus bersusah payah menaklukan keras hatinya Ervin. Sekarang, Ervin yang harus memohon padanya untuk sebuah kata maaf.
Apa aku terlalu berlebihan? Kenapa rasanya aku menjadi orang jahatnya sekarang?