Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.40 Menyerah


__ADS_3

"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Dion saat keduanya sudah berada di dalam perjalanan pulang.


"Sepertinya aku lebih baik menyerah, dia benar-benar sudah melupakan aku," jawab Laras lemas. Wanita itu menyandakan punggungnya dengan tatapan ke luar jendela mobil.


Dion melirik Laras di sela menyetirnya, dia menghembuskan napas pelan. Ada rasa iba di dalam hatinya, melihat perjalanan hidup Laras yang tidak pernah berjalan mulus, mulai dari keluarga dan cintanya. Tidak ada satu pun yang mampu memberikan rasa aman dan bahagia untuk wanita itu.


"Apa pun keputusan kamu, aku akan selalu medukungmu, Ras. Begitu juga dengan Papi dan Mami, aku yakin mereka juga akan selalu berada di belakangmu," ujar Dion sambil menepuk pelan pundak Laras.


Rasanya akan tidak pantas baginya walau hanya untuk memberikan saran atau mengucapkan kata sabar untuk Laras saat ini. Meski dia juga tak selalu bahagia, tetapi selama dia tahu, kehidupan Laras masih lebih menyakitkan dan penuh perjuangan bila dibandingkan untuknya sendiri.


Laras menolah, menatap wajah Dion. Laki-laki yang selalu siap siaga menolongnya walau dirinya sudah mneorehkan luka untuknya.


"Terima kasih, Yon. Aku gak tau harus gimana kalau gak ada kamu di samping aku," jawab Laras tulus.


Dion tak menjawab, lelaki itu hanya tersenyum sambil mengangguk pelan, lalu kembali fokus pada jalan di depannya.


...❤‍🩹...


"Kamu yakin mau pergi sekarang?" tanya Mami entah untuk yang ke berapa kalinya.


Laras beranjak dari duduknya di lantai lalu memilih duduk di samping mami. Dia genggam tangan wanita paruh baya yang sudah Laras anggap sebagai ibunya sendiri.


"Iya, Mami. Semakin lama aku di sini, semakin aku sulit untuk melupakan dia. Aku mau memulai hidup baru tanpa ada bayang-bayang dia lagi, Mami," jawab Laras dengan tatapan yang sendu.


Mami menghela napas pelan, dia begitu tidak rela jika harus membiarkan Laras pergi membawa dua cucunya yang begitu lucu. Rumahnya akan kembali terasa sepi, begitu juga dirinya yang akan kembali merasakan hampa. Namun, Mami tidak bisa berbuat apa pun, dia hanya bisa terus mendukung semua keputusan Laras, setelah mencoba memberikan saran.

__ADS_1


Berbeda dengan Laras yang sedang mengemasi barang-barangnya dan kedua anak kembarnya, di dalam kamar Dion, laki-laki itu terlihat sedang uring-uringan karena keputusan Laras yang memilih pergi, setelah menyerah dengan Ervin.


"Dasar brengsek!" Entah untuk keberapa kalinya, Dion mengucapkan kata umpatan yang sama sambil mengacak rambutnya. Laki-laki itu kini juga dilanda kecewa, karena Ervin yang sama sekali tidak menghiraukan Laras, dan sekarang Laras pun memilih untuk pergi ke suatu tempat yang jauh dari kota.


"Laki-laki pengecut! Aku pastikan kamu akan menyesal karena sudah menyia-nyiakan semua pengorbanan Laras!" geram Dion sambil mengepalkan tangannya dengan begitu erat. Sorot matanya pun penuh dengan kebencian.


...❤‍🩹...


Laras masih terdiam sambil menatap dua bayi mungil yang tengah tertidur lelap di atas ranjangnya. Ada rasa sesak di dalam dada, ketika dia mengingat nasib kedua anaknya yang bahkan belum pernah melihat dan bertemu dengan ayah kandungnya. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang, karena tanpa dukungan dari Ervin, terlalu bahaya untuk kedua bayinya jika harus muncul ke permukaan.


"Maafkan Mamah, Nak. Mungkin untuk sekarang kalian memang belum ditakdirkan untuk bertemu dengan ayah kalian," ujar Laras lirih, beserta tetes air mata yang kembali jatuh membasahi pipinya. Bukan hal mudah bagi dirinya untuk memutuskan pergi dari sini, tetapi dia juga tidak mau terus bergantung pada keluarga Dion.


Ingatannya kembali pada saat dirinya kembali dari pesta malam itu.


Flashback ....


"Ada apa?" tanya Laras sambil menoleh ke arah belakang. Matanya melebar kala dengan jelas dia melihat ada dua mobil van yang sedang mengikuti mereka.


"Mereka pasti sudah mengetahui keberadaanku, Yon," ujar Laras lagi dengan raut wajah yang berubah panik. Ingatan saat kejadian kecelakaan itu pun kembali melintas hingga membuat tubuhnya bergetar hebat.


"Tenangkan dirimu, Ras. Aku janji kita akan kembali dengan selamat." Dion yang melihat perubahan sikap Laras pun langsung menggenggam tangan wanita itu, berusaha untuk menguatkannya sambil terus mengendalikan mobil dalam kecepatan yang semakin tinggi.


Luka fisik memang dapat diobati dan kini sudah pulih seutuhnya, tetapi luka tak kasat mata yang terus mengajar hingga menjadikan sebuah trauma berkepanjangan, terasa lebih menyiksa dan sulit untuk mengobatinya.


Laras terus mencoba untuk mengendalikan dirinya, dia tarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Laras melakukan itu berulang kali, hingga perlahan dirinya bisa mengendalikan traumanya.

__ADS_1


"Good. Sekarang, kamu bisa bantu aku telepon asistenku?" tanya Dion sambil memberikan ponselnya pada Laras.


Laras mengangguk sambil menerima ponsel milik Dion, lalu menghubungi nomor asisten pribadi Dion. Setelah tersambung, Laras memosisikan ponsel itu di dekat mulut sahabatnya, agar dia bisa berbicara.


"Lakukan rencananya, hadang mereka semua sekarang," titah Dion yang langsung disetujui oleh sang asisten. Sambungan telepon pun berhenti sampai di sana. Tidak lama kemudian, ada beberapa mobil yang muncul di belakang mobil Dion lalu mencegat penguntit itu hingga Dion bisa dengan leluasa melarikan diri.


"Kamu sudah tau kalau mereka akan berbuat seperti ini?" tanya Laras sambil menatap lekat wajah sahabatnya.


Dion menoleh kilas pada Laras sebelum menjawab pertanyaan wanita itu dengan mimik wajah yang terlihat santai.


"Dengan kamu datang langsung ke rumah Ervin, mereka pasti akan mengetahui siapa kamu. Anak buah Roland itu ada di mana-mana, Ras. Jika pada saat status kamu sebagai istri Ervin saja tidak menghalangi mereka untuk mencelakai kamu, apa lagi sekarang, di saat kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan mereka. Jelas, semua itu akan membuat dirinya semakin bebas untuk berbuat sesuatu padamu, mengingat dia tidak akan menjadi seseorang yang dicurigai jika terjadi sesuatu padamu," jelas Dion.


"Jadi sekarang mereka sudah mengetahui keberadaanku?" tanya Laras yang semakin bertambah was-was.


"Awalnya aku ragu, apalagi kamu gagal menemui Ervin. Tapi, dengan adanya dua mobil yang menguntit kita, sekarang aku menjadi yakin kalau mereka sudah tahu keberadaan kamu," jawab Dion sambil menganggukkan kepalanya.


Laras terdiam, dia cukup terkejut dengan perkataan Dion, terlebih itu semua karena kecerobohan dirinya sendiri. Laras hanya ingin menemui Ervin dan meminta penjelasannya, tetapi kini dia tidak mau membahayakan nyawa kedua anaknya.


"Untung saja dulu aku pernah bekerja di kantor Ervin dan berada langsung di bawah Roland, jadi aku bisa sedikit tahu tentang sikap dia dan cara kerjanya," sambung Dion lagi, mengingat pekerjaannya semasa dirinya masih mengejar Laras.


Flashback off ....


Laras menghapus air mata yang masih saja mampu mengalir, walau rasanya sudah banyak cairan itu jatuh karena alasan yang sama. Dia baru saja hendak beranjak dari ranjang ketika tiba-tiba pintu kamarnya dibuka secara kasar, hingga membuat Laras dan dua anaknya terkejut.


"Ssshh." Laras langsung menenangkan kedua anaknya, dengan menepuk dada dua bayi itu dengan gerakan yang lembut.

__ADS_1


"Kamu gak boleh pergi dari rumah ini tanpa izin dariku!" ujar laki-laki yang kini terlihat berdiri di tengah pintu kamar Laras dengan napas yang masih memburu dan wajah memerah.


Laras terdiam dengan wajah terkejut, dia berdiri dengan sorot mata bingung. Sebenarnya apa yang terjadi?


__ADS_2