Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab. 55 Bersikap egois


__ADS_3

Laras masuk ke kamarnya, dia mengambil sebuah buku yang sengaja dia simpan di sela lipatan baju. Itu seperti sebuah buku agenda dengan sampul kulit berwarna hitam. Tangan bergetar wanita itu mengusap buku yang dia tatap nanar. Etah kapan terakhir kali dia menyentuh buku itu? Laras pun sudah lupa tepatnya.


"Apa mereka melihat buku ini di belakangku?" gumam Laras sambil berjalan untuk duduk di sisi ranjang. Tatapannya tak pernah lepas pada buku yang kini masih tertutup di tangannya.


Satu tetas air bening itu jatuh begitu saja ketika tangannya perlahan membuka sampul kulit yang menutupinya. Sebuah foto pernikah sederhana dirinya dan Ervin tertempel di lembar pertama.


...Hari bersejarah yang membawaku pada sebuah pintu tanpa tahu apa yang akan kuhadapi setelahnya. Selamat datang kehidupan baruku....


Itulah yang tertulis di bawah selembar foto pernikahan sederhananya. Tak ada senyum dari wajah Ervin, bahkan Laras masih merasakan bagaimana dinginnya Ervin pada hari itu.


Perlahan Laras buka lembar kedua, dimana tumpukan berkas menjadi foto berikutnya. Laras tersenyum kecil ketika selembar foto Dedrik yang dia ambil diam-diam ikut serta di lembar ke dua itu.


...Dia adalah lelaki paling menyebalkan setelah Tuan. Lebih kejam dari dosen dan terlalu kaku melebihi kanebo kering. ...


Sebuah gambar emoji cemberut ikut menyertai di belakang tulisan itu. Membacanya, membuat Laras seakan dapat kembali merasakan kesal dan lelahnya pada saat itu. Mempelajari hal baru dengan orang asing, itu pun harus dikejar dengan waktu. Itu sangat melelahkan.


"Bagaimana kabar Bapak sekarang? Aku harap Bapak baik-baik saja," gumam Laras sambil mengusap pelan gambar lelaki paruh baya yang sempat dia anggap seperti ayahnya sendiri.


Begitu juga dengan lembar-lembar selanjutnya, itu semua berisi beberapa foto kenangan beserta tulisan yang menggambarkan kondisi saat itu. Buku itu pun ditutup dengan sebuah foto USG kedua anaknya ketika masih di dalam kandungan.


...Selamat datang buah hatiku. Kalian adalah permataku dan sumber kekuatanku....

__ADS_1


Ya, sesuai dengan berakhirnya kisah dalam buku itu, Laras mengira kisahnya dan Ervin hanya akan berakhir di lembar terakhir dengan hadiah dua anak kembar di dalam hidupnya. Namun, setelah lama berlalu, kini dia harus dipaksa menerima, jika kisahnya belum selesai. Dia hanya diberikan rehat untuk sementara waktu.


"Apa aku merindukanya? Dia bahkan sama sekali tidak berubah setelah lima tahun lalu," gumam Laras.


"Kenapa harus ada rasa ini ketika tahu kalau dia sudah mengetahui semuanya tentang Nevan dan Nessa?" Laras memegang dadanya yang masih saja merasakan perih.


"Kenapa harus merasa senang dan lega?" gumam Laras lagi.


Wanita itu bingung dengan perasaannya sendiri. Jelas, rasa marah dan luka itu masih ada di dalam hatinya, tetapi kenapa harus ada rasa senang dan lega yang terselip di dalamnya? Laras belum bisa memecahkan semua itu, dia masih bergelut dengan kebingungan hatinya sendiri.


...❤‍🩹...


Kehadiran Ervin benar-benar membuat kehidupan Laras terasa berebeda, begitu juga dengan Nevan dan Nessa. Ervin bahkan selalu mengambil alih tugas mengantarvdan menjemput si kembar ke sekolah.


Sudah setengah hari ini mereka berdua merajuk kepada Laras dan mogok bicara karena Laras terus menolak permintaan mereka. Laras pun dibuat pusing oleh ulah kedua anaknya, begitu juga dengan Ervin. Lelaki itu sudah berusaha merayu dua anak itu dan mencoba memberi pengertian akan keputusan Laras, tetapi mereka sama sekali tidak mau mengerti.


"Sebenarnya kamu apakan lagi sih anak-anakku? Kenapa semenjak aku bertemu lagi dengan kamu semua hidupku selalu berantakan? Sekarang anak-anakku yang selalu baik dan tidak pernah melawan pun malah memusuhiku!"


Laras menghembuskan napas lelah dengan tubuh yang jatuh duduk di sofa. Ini sudah lewat waktu makan siang, sementara anaknya malah menolak untuk makan. Laras khawatir, suasana hatinya kacau. Dia sudah tidak tahan lagi menahan semua kekacauan yang dia anggap disebabkan oleh kehadiran Ervin.


"Sebaiknya cepat kamu pergi dari rumah ini, aku tahu ini semua hanya trik kamu. Belum cukup kah kamu menghancurkanku selama ini? Aku lelah, Vin," keluh Laras sambil menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangis pun mulai terdengar seiring dengan bahu yang bergetar.

__ADS_1


Ervin melebarkan matanya, dirinya memang sangaja merencanakan ini semua. Terdampar di suatu sengara? Mana mungkin semua itu terjadi padanya. Itu semua adalah trik darinya dan sang sekretaris yang sebenarnya juga belum pulang ke Indonesia.


"Maafkan aku." Ervin bergumam lirih. Perlahan dia langkahkan kaki untuk menghampiri Laras dan berjongkok tepat di depan wanita itu.


"Awalnya aku hanya ingin menemui kamu dan menjelaskan semuanya. Aku juga ingin lebih dekat dengan anak-anakku. Tapi, sepertinya aku keliru, aku salah dalam bersikap sampai tanpa aku sadar aku sudah menyakitimu lagi."


Ervin tundukkan kepala dalam, dia benar-benar menyesal sekarang. Melihat Laras yang menangis tergugu di depannya membuat hatinya juga terasa sakit. Salahnya yang tiba-tiba hadir di dalam kehidupan Laras dan kedua anaknya. Namun dia juga tidak bisa menahan diri untuk melewatkan kesempatan yang ada.


Tangis Laras pecah. Lelah mengendalikan diri untuk terlihat baik-baik saja di depan Ervin, kini sudah tidak bisa lagi dia lakukan. Dia benci pada lelaki itu, sungguh. Melihat kehadiran Ervin, bagaikan sebuah hukuman untuknya. Namun, ada juga rasa bahagia ketika melihat anak-anaknya yang tampak tertawa bahagia dan dapat merasakan kasih sayang seorang ayah.


"Pukul aku, Ras. Hukum aku sesukamu, aku memang pantas menerimanya ... tapi setelah itu, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."


Ervin memohon dengan segenap hatinya. Dia dapat menerima apa pun asal jangan menyuruhnya untuk pergi dari Laras dan anak-anaknya. Lelaki itu tak akan bisa lagi untuk hidup tampa ketiganya. Biarlah dia bersikap egois untuk hal yang satu ini. Ervin tak mau lagi kehilangan keluarganya.


"Apa yang kamu mau, aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku, hem? Aku akan lakukan semuanya," ujar Ervin lagi sambil menatap Laras dengan mata yang mulai memerah.


Laras menggeleng pelan, tangisnya masih saja terdengar. Sungguh, dia sendiri bingung pada hatinya, apa lagi untuk memberikan sebuah keputusan. Laras tak tahu sama sekali, apa yang sebenarnya dia inginkan.


"Aku lelah." Laras segera bangkit dan berjalan cepat menuju tangga. Namun, secepat itu pula, Ervin menyusulnya kemudian memeluk tubuh ringkih itu. Berusaha memberikan kehangatan sekaligus menunjukkan ketulusan hatinya pada wanita yang tengah diliputi amarah.


"Jika lelah, maka istirahatlah. Aku tidak akan mengganggumu sampai kamu tenang ... aku akan menunggu sampai kamu siap untuk berbicara lagi dengaku. Anak-anak biar menjadi urusanku, aku akan memberi pengertian pada mereka," ujar Ervin lirih. Lelaki itu berbisik tepat di depan telinga Laras, hingga untuk sesaat wanita itu meremang. Namun, Laras berhasil mengendalikan tubuhnya dan kembali melepas pelukan Ervin walau tanpa kata yang terucap. Dia segera pergi menaiki tangga tanpa menoleh pada Ervin sama sekali.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ras," gumam Ervin lagi. Tatapannya tak pernah lepas dari punggung kecil Laras yang terus menjauh darinya hingga hilang ditelan oleh pembatas tangga.


__ADS_2