Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.9 Apa badanku bau?


__ADS_3

"Ke mana dia?" tanya Ervin saat Dedrik datang untuk memberitahu tenang waktu makan malamnya. Dia cukup merasa aneh ketika tidak merasakan keberadaan Laras di sampingnya dalam waktu lama, setelah beberapa hari ini wanita itu terus menempel padanya bagaikan benalu.


"Nyonya sedang mempelajari tugasnya di ruang kerja saya, Tuan. Sepertinya Nyonya belum ke luar dari sana sejak siang tadi," jawab Dedrik.


"Saya akan memanggil nyonya setelah mengantar Anda ke ruang makan," sambung Dedrik lagi.


"Tidak usah, biarkan saja dia." Ervin mulai melangkahkan kakinya ke luar dari kamar dengan suasana hati yang entah kenapa kembali buruk. Ada rasa kesal yang menekan di dalam hatinya, hingga rasanya dia ingin marah-marah saja.


...❤‍🩹...


"Ugh, jam berapa ini?" gumam Laras sambil menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku. Dia memutar kepalanya mencari jam yang terpasang di dinding sambil mengerjap pelan, agar pandangannya menjadi lebih jelas. Hingga beberapa saat kemudian, Laras dikejutakan dengan apa yang dia lihat.


"Ya ampun, udah jam delapan malam?" ujarnya sambil mencari ponselnya untuk memastikan dia tidak salah lihat.


Sejak siang tadi, Laras tidak ke luar dari ruang kerja Dedrik untuk mulai mempelajari berkas yang Dedrik berikan padanya. Namun, sepertinya dia tertidur ketika menjelang sore karena kelelahan hingga baru saja bangun saat hari sudah beranjak malam.


"Ini sudah lewat waktu makan malam Ervin? Aduh, pasti dia marah lagi," keluhnya sambil membereskan berkas di atas meja dan buru-buru ke luar dari ruangan itu untuk menemui Ervin dan meminta maaf seblum laki-laki itu kembali murka.


Laras menghentikan langkahnya begitu dia sampai di depan kamar Ervin, ada rasa gugup dan takut yang membuatnya ragu untuk mengetuk pintu. Namun, setelah mengatur napasnya yang memburu karena berlari menaiki tangga dan menenangkan debar jantungnya, Laras memberanikan diri untuk mengatuk pelan kemudian membukanya dengan sangat hati-hati.


Jantungnya kembali berdebar lebih cepat ketika Laras melihat Ervin yang masih duduk bersandar di ujung ranjang sambil mendengarkan sesuatu melalui sebuah earphon.


"T--tuan ...." Laras memberanikan diri untuk melangkah masuk dan mendekati Ervin.


"Bersihakn tubuhmu dulu, aku tidak suka berbicara dengan orang yang masih kotor," tekan Ervin tanpa menoleh pada Laras.


"B--baik, Tuan," angguk Laras. Walau dia cukup kecewa dengan Ervin yang bahkan tidak menanyakan tentang makan malam padanya, Laras masih menuruti ucapan Ervin kemudian beranjak pergi menuju kamar mandi.


"Haish, tega sekali sih dia. Bukannya nanyain aku udah makan apa belum, eh malah disuruh mandi," gerutu Laras begitu dia sampai di kamar mandi.


"Apa badan aku sebau itu? Padahal 'kan aku gak ngapa-ngapain," sambung Laras algi sambil menciumi tubuhnya sendiri yang berdiri di dedpan washtafel.

__ADS_1


Sementara itu, Ervin langsung menghembuskan napasnya kasar sambil mengembalikan earphone di telinganya pada tempatnya.


"Dasar wanita ceroboh, gimana bisa dia langung menuruti saja ucapanku tanpa berpikir dulu?" gumam Ervin sambil kembali duduk tegap di atas ranjang lalu beranjak berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Kamu bisa membawa makanan untuknya sekarang," ujarnya pada seseorang yang tampak berdiri di depan pintu.


"Baik, tuan muda," angguk laki-laki itu lalu berlalu begitu saja dari hadapan Ervin.


...❤‍🩹...


"Ke luar."


Laras terkejut ketika Ervin tiba-tiba mengucapkan perkataan itu padanya. Dengan wajah bingung, Laras pun mulai kembali melangkahkan kakinya mendekati Ervin.


"A--apa maksud Anda, Tuan?" tanya Laras yang masih bingung.


"Aku tidak mau lagi kehilangan waktu tidurku hanya karena kamu," jawab Ervin sambil bergerak menarik selimut sambil merebahkan dirinya hingga akhirnya hampir menutupi seluruh tubuhnya.


Dasar laki-laki brengsek, aku doain kamu suka dan bucin sama kau, baru tau rasa! batin Laras dalam hati.


Wanita itu pun berjalan ke luar dari kamar, hingga tiba-tiba dia dikejutkan dengan keberadaan Dedrik di depannya lengkap bersama hidangan makan malam yang terlihat sangat enak.


"Tuan menyuruh saya, membawa makan malam untuk Anda ke mari," ujar Dedrik sambil beranjak dari tempat duduk dan menarik kursi untuk Laras.


"Makasih, Pak," ujar Laras sambil menatap penuh binar semua makanan yang ada di sana. sungguh, sebenarnya perutnya sudah lapar sejak tadi, tetapi Laras manahannya dan memilih segera mandi karena ucapan Ervin.


Dedrik hanya mengangguk kemudian pamit untuk pergi ke lantai bawah lagi. Matanya melirik sedikit pada Ervin yang tampak duduk di sisi ranjang dengan posisi menatap pintu. Laki-laki paruh baya itu hanya tersenyum sambil mengeleng kepala pelan lalu melanjutkan langkahnya.


Tanpa disangka, kondisi itu pun terus berulang hampir setiap malam. Laras selalu menghabiskan waktunya di ruang kerja Dedrik untuk mempelajari semua tentang perusahaan, terkadang Laras bahkan datang ke kamar ketika malam sudah sangat larut.


Sama seperti malam ini, Laras baru saja ke luar dari ruang kerja Dedrik setelah malam menunjukkan pukul setengah satu. Namun, baru saja dia menutup pintu dan berbalik hendak melanjutkan langkahnya, dia kembali dikejutkan dengan kedatangan Ervin yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depannya.

__ADS_1


"Astaga!" Laras hampir saja kembali terpental dan menabrak pintu karena terkejut oleh kehadiran Ervin di depannya. Namun, untung saja, tangan Ervin sigap menahan tubuh Laras hingga semua itu bisa dicegah.


Laras terdiam dengan tubuh mematung, tanpa sadar matanya menelusuri setiap garis wajah Ervin yang masih saja menunjukkan raut datar. Mulai dari tulang rahang yang terlihat tegas, lalu bergerak ke atas hingga berhenti di bibirnya yang tampak kemerahan, beralih pada hidung yang tampak mancung hingga menambah ketampanan laki-laki itu. Namun, hatinya tiba-tiba saja terasa perih, ketika dia berhenti di mata yang terlihat kosong dan tanpa ekspresi. Mata yang sudah tidak bisa lagi melihat dan menjadi satu-satunya kekurangan laki-laki itu.


"Bukannya besok kamu harus ikut Dedrik ke kantor?" tanya Ervin sambil melepaskan tangannya dari pinggang Laras.


"Iya," angguk Laras sambil menegakkan tubuhnya lagi hingga kini keduanya tampak berdiri berhadapan.


"Lalu, kenapa sekarang kamu masih di sini?" tanya Ervin lagi sambil mulai memutar tubuhnya dan melangkah meninggalkan Laras yang tampak bingung.


"A--aku menyiapkan diri untuk besok. Aku tidak mungkin ikut Pak Dedrik ke kantor kalau belum bisa mengerti semua tentang kantor itu sendiri," jawab Laas sambil menyusul langkah Ervin yang berjalan lebih dulu.


Ervin tidak menjawab ucapan laras, dia memilih terus melangkah menuju lift kemudian masuk ke dalamnya yang langsung disusul oleh Laras. Keduanya berdiri bersisian dengan Laras yang tampak cangung.


"Kamu memang tidak boleh terlihat bodoh di depan mereka. Tapi, kamu juga tidak bisa terlihat lemah, apa lagi sakit karena mereka akan memanfaatkan apa saja yang menjadi celah kelemahan kamu," ujar Ervin tiba-tiba.


Laras menoleh cepat demi melihat wajah suaminya, masih saja datar seperti biasanya, bahkan Laras bisa melihat jelas jika Ervin sama sekali tidak meliriknya.


Tiba-tiba saja pipinya terasa panas, hanya dengan kata yang bahkan masih ambigu untuknya. Namun, itu sudah membuatnya merasa diperhatikan oleh Eevin, walau dengan cara yang berbeda.


Jangab geer dulu, Ras. Mungkin aja dia cuman gak mau aku mengacaukan perusahaannya. Laras menggeleng cepat, menyadarkan dirinya sendiri dari pemikirannya yang sudah menjalar ke mana-mana.


Keduanya pun ke luar dari lift, begitu pintu terbuka lalu berjalan beriringan menuju ke kamar.


"Iya, aku akan menjaga kesehatan lebih baik lagi," jawab Laras dengan nada suara yakin.


"Aku gak suka perempuan yang banyak bicara. Lebih baik sekarang kamu bersihkan diri, tubuhmu bau." Ervin berkata acuh sambil bersiap untuk tidur.


Laras kembali terdiam sambil menatap suaminya yang kini sudah duduk di ujung ranjang. Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Ervin. Kadang laki-laki itu bersikap baik dan terasa sangat perhatian, tetapi terkadang dia juga mudah sekali berkata dingin seperti lelaki yang tidak berperasaan.


"Iya, aku akan mandi sekarang, Tuan Ervin yang terhormat," jawab Laras sambil mencebik kesal kemudian berjalan cepat menuju kamar mandi dengan langkah kaki yang dihentakkan.

__ADS_1


Ervin tidak menggubris, dia hanya menyeringai tipis sambil menggeleng pelan, kemudian menarik selimut agar menutupi kedua kakinya. "Ini baru permulaan, kamu tidak tahu kehidupan seperti apa yang akan kamu jalani di sini, gadis kecil."


__ADS_2