Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.17 Selimut putih


__ADS_3

"Ternyata selama ini aku benar, Laras dipaksa menikah dengan pemilik perusahaan yang buta itu untuk menjalankan perusahaannya. Dasar manusia licik! Berani sekali mereka memperalat Laras untuk hal seperti ini!"


Dion menatap kepergian mobil Laras dari dalam mobilnya sendiri. Selama ini, dia belum memiliki kesempatan untuk melihat atau menemui Laras secara langsung, mengingat kesibukannya yang sangat padat sebagai seorang pegawai baru.


Namun, di balik itu, Dion terus berusaha mencari tahu tentang suami Laras. Dia pun mengetahui jika Ervin ternyata bukanlah orang yang sempurna, bahkan Ervin sudah lama tidak datang ke kantor karena keterbatasannya itu.


"Aku gak akan biarin kamu diperalat sama mereka, Ras. Aku akan selametin kamu dari mereka, bagaimana pun caranya." Dion bertekad untuk mendapatkan Laras kembali, walau sekarang laras sudah menjadi istri orang.


...❤‍🩹...


Laras menggeliatkan tubuhnya yang terasa sangat sakit akibat tertidur dalam keadaan duduk d kursi kerjanya. Keningnya mengernyit ketika dia melihat ada sebuah selimut yang menghangatkan tubuhnya.


"Sssh," desisnya sambil memijat tengkuknya yang terasa berdenyut. Namun, belum sempat penglihatannya jelas kembali, dia dikejutkan oleh seseorang yang juga tampak tertidur di depannya.


"T-tuan?" gumam Laras sambil mengerjapkan matanya, merasa tidak percaya jika Ervin kini tampak ikut tertidur di depannya.


Gak mungkin kan kalau dia mau menyelimuti aku? batin Laras sambil kembali mengalihkan perhatiannya pasa selimut tipis berwarna putih itu.


Walau hatinya menyangkal apa yang dia pikirkan, tetapi ternyata dia tak sanggup menahan bayangan wajah datar Ervin yang sedang menyelimutinya ketika tertidur.


"Ya ampun, apa yang aku pikirkan? Sadar Laras." Laras menangkup kedua pipinya yang tiba-tiba saja terasa memanas. Garis bibirnya pun melengkung sempurna, hingga memperlihatkan senyum yang tampak sangat manis. Sayang sekali, semua itu tidak bisa dilihat oleh Ervin.


"Sudah, Ras. Jangan berpikir terlalu jauh, mungkin pelayan yang melakukan ini. Iya, kan?" gumam Laras masih mencoba menyadarkan sendiri dirinya yang sudah berpikir ke mana-mana.


Memilih kembali mengambil berkas yang ada di depannya untuk memeriksanya, tiba-tiba sebuah notofikasi pesan di layar ponselnya terlihat, hingga membuat dia menaruh kembali berkas di tanganya.


Tak membalas, Laras malah memutuskan untuk menelepon orang itu langsung. Untung saja, tidak menungu waktu lama orang diseberang sana menjawab panggilannya.


"Ada apa sebenarnya, Pak? Kenapa, tuan muda bisa kacau begitu tadi sore?" tanya Laras, sambil bernajak ke luar dari ruangan itu.


Dedrik, Itu lah yang sekarang sedang berbicang dengan Laras di luar ruang kerjanya dengan suara yang seperti orang sedang berbisik.

__ADS_1


"Tidak apa, Nyonya. Mungkin tadi tuan muda hanya marah karena aku memintanya untuk kembali ke perusahaan," jawab Dedrik dari seberang sana, yang membuat Laras langsung mengangguk pelan. Matanya melirik sekilas pada Ervin yang masih menutup mata sebelum dia menutup rapat pintunya.


"Lalu saya harus gimana, Pak? Para pemegang saham dan petinggi kantor, mendesak saya untuk membawa tuan Ervin. Mereka mengancam akan mendesak untuk mengganti CEO perusahaan, jika sampai tuan Ervin tidak turun tangan." Laras berujar panik sambil sesekali melirik ke arah pintu, memastikan jika Ervin belum bangun.


"Maafkan saya, Nyonya, sepertinya kali ini saya tidak bisa lagi membantu. Nyonya harus bisa meyakinkan tuan muda sendiri," jawab Dedrik dengan suara yang terdengar bersalah.


Laras mengehembuskan napasnya pelan, kepalanya tiba-tiba terasa pening karena terus menemui jalan buntu. Entah bagaimana dia harus menghadapi Ervin dan membujuknya agar mau kembali terlibat dalam perusahaan? Rasanya Laras sudah mau menyerah saja. Namun, dia tidak mungkin mengacuhkan kewajibannya sebagai seorang istri dan janjinya pada Dedrik. Terlebih, selama ini dirinya sudah banyak berhutang budi pada keluarga Ervin.


"Baiklah, nanti biar aku coba sendiir saja. Semoga, kali ini tuan Ervin mau mendengarkan aku," ujar laras dengan suara yang sangat lemah, seolah dia sendiri tidak percaya dengan ucapannya sendiri.


Sambungan telepon terputus begitu sana. Laras menjatuhkan tangannya yang tiba-tiba saja terasa sangat lemas, lalu memilih untuk berbalik dan membawa kakinya melangkah menuju ke ruang kerjanya lagi dengan tubuh yang terlihat lunglai.


"Semangat, Laras. Kamu harus bisa membujuk Ervin untuk kembali ke kantor bagaimana pun caraya, atau para pemegang saham dan petinggi perusahaan akan semakin berani menenkan tuan Ervin," gumam Laras, begitu dia ada di depan pintu. Dia menghembuskan napas kasar sebelum tangannya mulai terulur untuk memegang gagang pintu. Namun .....


"Astaga?!" Laras terjingkat kaget ketika pintu itu lebih dulu terbuka hingga dia bisa melihat seseorang yang berdiri di depannya.


"T-tuan? Tuan, sedang apa di sini?" tanya Laras dengan suara yang terdengar gugup.


Mata Laras mengikuti langkah suaminya, kerutan di kening pun terlihat begitu dalam. Debar jantungnya yang terasa tak karuan bahkan belum bisa dia kendalikan, begitu juga dengan banyaknya pertanyaan yang muncul di dalam pikirannya.


"Apa dia mendengar semua percakapan aku dan pak Dedrik?" guamam Laras saat Ervin sudah semakin menjauh darinya lalu menghilang ketika laki-laki itu sudah masuk ke dalam kamar.


"Ish, terserah saja lah. Bagus malah kalau dia mendengar ucapan aku tadi, setidaknya dia tahu apa yag sebenarnya terjadi di perusahaan," gumam Laras sambil mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. Namun, langkahnya kembali terhenti ketika sebuah suara laki-laki terdengar mengintrupsinya.


"Jangan masuk lagi ke ruangan itu, atau aku tidak akan pernah mau ke kantor lagi!"


Laras terdiam dengan tubuh kaku, dia mengerjap pelan, seolah belum yakin jika suara itu benar dari suaminya yang sudah jelas dia melihat laki-laki itu sudah masuk ke dalam kamar beberapa saat yang lalu.


"Itu suara Ervin apa hantu? Bukannya tadi dia sudah masuk ke kamar, kenapa sekarang suaranya seperti ada di belakangku?" gumam laras dengan suara yang sangat lemah.


"Kamu dengar?" Suara Ervin kembali terdengar.

__ADS_1


Perlahan Laras mulai kembali memutar tubuhnya dengan mata sedikit tertutup, hingga beberapa saat kemudian matanya melebar sempurna begitu dia bisa melihat jika Ervin betul-betul berada tepat di belakangnya. Saking terkejutnya, bahkan Laras sampai kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjatuh, jika Ervin tidak sigap menangkap pinggang istrinya.


Laras mengerjap pelan dengan posisi tubuh masih berada di pelukan Ervin, terkadang dia meragu akan kebenaran, jika laki-laki itu benar-benar tidak bisa melihat, tetapi di satu sisi dia juga bisa mebuktikan sendiri jika suaminya itu memang buta.


"Jangan menatapku, aku tidak akan bertanggung jawab jika kamu jatuh cinta," ujar Ervin tiba-tiba sambil menarik kembali tangannya, hingga Laras refleks menegakkan tubuhnya.


"Ekhm ... siapa juga yang liatin, geer!" cebik Laras sambil bergerak gelisah, wajahnya bahkan sudah kembali memerah.


Ervin hanya tersenyum tipis kemudian melangkah menuju ke pintu kamar lagi, tanpa mau menanggapi ucapan sang istri. Dia tahu jika saat ini Laras pasti sedang salah tingkah, itu semua terdengar jelas dari nada suaranya yang sedikit terbata.


"Mau jalan sendiri atau aku paksa?" Ervin kembali menghentikan langkahnya dengan wajah sedikit menoleh ke samping, lalu berujar pada Laras.


"Heuh?" Laras tampak linglung, dia tahu jika pekerjaannya masihlah sangat banyak. "Tapi, gimana dengan kerjaannya?"


"Ck! Ikut aku atau aku paksa?" Ervin terdengar sangat kesal.


Laras mencebik kesal, walau tubuhnya refleks mengkerut ketika mendengar suara berat dari suaminya. Beberapa kali dia melihat sendiri bagaimana Ervin jika sedang marah, ternyata menjadi suatu tekanan juga untuk dirinya.


"I-iya, ini aku ikut Tuan saja," jawab Laras sambil menutup kembali pintu ruang kerjanya dan mulai membawa kakinya mendekati Ervin.


Laki-laki itu menyeringai di balik punggung lebarnya lalu mulai kembali melanjutkan langkahnya dengan laras mengekor di belakang.


Polos banget dia, hanya dengan satu geraman kacil, sudah mampu membuatnya menurut.


"Apa yang tadi Tuan bilang itu sungguhan? Tuan mau datang ke kantor bersama saya, besok?" tanya Laras sambil terus berjalan di belakang Ervin.


"Kita lihat saja besok," jawab Ervin datar.


"Yes! Akhirnya aku behasil! Tuan, tenang aja, besok aku janji akan menjaga Tuan dengan sangat baik," ujar Laras penuh semangat.


Ervin tidak lagi menjawab, dia memilih tak acuh pada ucapan Laras, walau senyum di bibirnya terlihat semakin merekah.

__ADS_1


__ADS_2