Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.19 Pertauhan


__ADS_3

Laras mulai melakukan persentasi di depan para pemegang saham dan petinggi perusahaan, tentang semua yang sudah direncanakan dirinya dan Ervin semalam. Namun, belum sempat dia menyelasaikan presentasinya, orang-orang itu terus menyerangnya dengan berbagai pertanyaan yang seakan sedang menyudutkan Laras.


"Bagaiman Anda bisa melakukan semua ini tanpa menambah kerugian perusahaan?"


"Jika kita mengikuti keingin keluarga korban, itu hanya akan menambah kerugian kita!"


"Rencana ini bukalah solusi. Itu hanya akan menambah berat beban kita untuk menutupi kerugian."


"Bagaimana mungkin rencana bodoh ini bisa terjadi? Kami semua jelas akan menolak. Kalian akan membuat perusahaan bangkrut?"


"Kali ini harga saham juga sudah mulai menurun, kalian malah ingin kita menyetujui untuk memberikan ganti rugi yang sangat besar pada para korban itu? Hah, tidak masuk akal."


"Bukankah lebih baik kita tuntut saja orang-orang bodoh itu dengan sedikit drama? Lagi pula polisi saja tidak bisa menemukan penyebab kebakaran itu."


"Iya, benar. Bagaimana kalau kita buat pegawai yang meninggal itu untuk menjadi tersangka? Semua ini akan selesai. Mereka tidak akan menuntut apa pun lagi dari kita, dan nama perusahaan pun akan bersih kembali."


Laras terdiam, napasnya terasa tercekat karena semua ucapan kotor yang ke luar dari para laki-laki paruh baya terhormat itu. Mereka bahkan secara terang-terangan merencanakan sebuah fitnah dan rencana licik di depan umum.


Bibir Laras tiba-tiba saja mejadi kelu, dia tidak bisa lagi berucap untuk mebantah. Semua ini terlalu mengejutkan untuk dirinya yang selama ini hanya hidup di kalangan sederhana. Laras harus berhenti sejenak untuk mengatur emosi dan keterkejutannya sebelum kembali mulai membuka suara.


Namun, belum sempat dia berbicara, tiba-tiba saja Laras kembali dikejutkan dengan suara kencang yang memekakan telinga. Refleks, Laras langsung menoleh pada sumber suara. Matanya melebar ketika dia melihat suaminya kini tampak berdiri dengan tangan yang memerah dan napas memburu.


"Ervin?" gumam Laras dengan suara yang sangat pelan, hingga mungkin hanya dirinya saja yang bisa mendengar.


"Keputusan saya sudah bulat. Saya mengadakan rapat ini bukan untuk meminta persetujuan kalian, tapi untuk memberitahu. Jadi, kami tidak menerima saran apa pun!" ujar Ervin tajam.


"Lalu, bagaimana kalau Anda kalah? Bukankah setidaknya ada sesuatu untuk jaminan? Walau bagaimana pun, kita semua akan menanggung rugi jika Anda gagal dalam rencana ini." Kini Roland mulai angkat bicara dengan seringai hina di bibirnya.


Laras menatap tajam wajah santai dengan ekspresi sedikit tengil milik Roland. Sungguh, dari semua yang dilakukan oleh laki-laki itu padanya, perkataan ini yang membuat dia mengerti, jika dirinya memang harus berhati-hati dengan adik iparnya itu.

__ADS_1


"Saya akan mengundurkan diri dari posisi CEO, jika memang rencana ini gagal," putus Ervin.


Semua orang di ruang rapat itu saling memandang dengan wajah terkejutnya. Walau begitu, Laras bisa melihat beberapa orang tampak tersenyum tipis.


"Rapat selesai. Laras, ayo kita pergi dari sini." Ervin kembali berujar sambil bediri tegak dan bersiap untuk menerima tangan sang istri.


"T--tapi."


"Laras." Laras yang hendak membantah, hanya bisa kembali menutup mulutnya, ketika suara Ervin sudah berubah dalam dan dingin. Sungguh, laki-laki itu terlihat menyeramkan ketika suaranya sudah berubah.


"Baiklah," ujar Laras pelan, sambil menghampiri Ervin lalu menggandeng tangannya.


Keduanya memilih segera pergi dari area ruangan yang terasa begitu pengap itu. Walau Laras tidak setuju dengan taruhan yang dibuat oleh Ervin, dia belum bisa mengatakannya saat ini. Melihat wajah Ervin yang masih tampak tegang, Laras memilih untuk memendamnya sementara waktu.


...❤‍🩹...


"Tuan, apa itu tidak terlalu berlebihan? Bagaimana kalau nanti kita tidak bisa meluluhkan hati mereka dan bernegosiasi kembali dengan para wali korban?"


Laras menghembuskan napas kasar, ternyata membawa Ervin bukanlah sesuatu yang tepat. Bukannya menenangkan para pemegang saham dan meberinya keringanan untuknya, Ervin malah mengacaukan semuanya dan menambah rumit urusan ini.


"Tuan sadar gak sih, kalau aku itu hanya seorang perempuan yang baru saja lulus kuliah. Jangankan menangani permasalahan perusahaan seperti ini, bahkan bekerja di perusahaan pun aku belum pernah. Tapi, sekarang Tuan malah memberian taruhan yang sangat besar, untuk sesuatu yang bahkan aku saja tidak yakin akan bisa mengatasinya." Laras menangkup wajahnya. Sesak rasanya di dalam dada, dia ingin membantu dan membalas budi apa yang sudah diberikan keluarga Ervin padanya selama ini, tetapi kenapa semua ini terasa sangat sulit?


Ervin terdiam, bibirnya tiba-tiba terasa kelu hingga sulit untuk dia gerakkan. Sungguh, di ruang rapat, dia benar-benar melupakan fakta tentang Laras. Dia terlalu terbawa emosi karena ucapan memojokkan mereka pada Laras. Namun, kini untuk menyesal pun sudah terlambat, dia terlanjur mengatakannya dan sekarang mereka harus menghadapi semuanya. Tidak ada kata untuk mengeluh atau menyerah. Saat ini waktunya Ervin kembali berjuang dan untuk itu, dia membutuhkan Laras di sampingnya.


"Kamu tidak percaya padaku?" tanya Ervin tiba-tiba.


Laras mendongak, dia menatap Ervin dengan tatapan putus asa. Sungguh, saat ini dia bahkan tidak tau, apakah keputusan yang benar jika dia percaya pada Ervin? Seseorang yang bahkan tidak bisa melihat lagi?


"Aku tidak akan membiarkan siapa pun memiliki perusahaan peninggalan Bunda. Aku yakin, kita pasti bisa mengalahkan mereka." Ervin memegang pundak Laras, wajahnya memancatkan raut penuh harap.

__ADS_1


Laras terdian dengan mata terus menatap wajah Ervin. Entah apa yang harus dia lakukan sekarang, tetapi mungkin ini lah jalan bagi Ervin agar bisa semangat lagi dalam mengurus perusahaan. Kini, salah satu tugasnya akan segera berhasil. Benar, bukan?


"Jadi Tuan mau berjuang bersamaku sekarang? Tuan mau kembali ke perusahaan dan mengalahkan mereka?" tanya Laras dengan mata berkaca-kaca. Tiba-tiba saja semangatnya kembali begitu saja.


"Eum. Kamu mau kan berjuang bersamaku?" tanya Ervin sambil tersenyum tipis.


"Iya, tentu aku mau. Ayo kita kalahkan mereka," angguk Laras dengan satu tetes air mata yang lolos begitu saja membasahi pipinya


"Makasih, Ras. Makasih, karena kamu sudah mau percaya pada laki-laki tidak berguna seperti aku. Aku janji, aku tidak akan mengecewakan kamu." Ervin tersenyum lebar, tanpa sadar dia menarik tubuh Laras dan mendekapnya begitu erat. Sungguh, semenjak kecelakan hari itu, ini adalah pertama kalinya, Ervin mendapatkan semangat kembali dalam hidupnya.


Tubuh Laras mematung, sikap Ervin yang tiba-tiba, jelas membuatnya terkejut setengah mati, apa lagi dia dikejutkan oleh Ervin yang memeluknya. Walau, ini bukan pertama kalinya, tetapi rasanya tetap berbeda. Jantungnya bahkan seolah ingin mendobrak ke luar, saking kencangnya debaran itu.


"Euh!" Laras refleks mendorong tubuh Ervin cukup keras, hingga laki-laki itu melepaskan pelukannya dengan wajah bingung.


Sikap Laras, tiba-tiba saja membuat suasana menjadi canggung, Ervin berdeham pelan sambil mundur dua langkah untuk memberi jarak pada Laras, lalu berkata pelan. "Maaf, aku--"


"A ... i--itu, aku mau ke toilet." Laras segera memotong ucapan Ervin kemudian segera berjalan menuju ke luar ruangan demi menghindari Ervin. Dia pun benar-benar pergi ke toilet dan masuk ke dalam salah satu bilik yang ada di sana.


...❤‍🩹...


Sementara itu, di salah satu ruang VIP restoran bintang lima, Roland dan semua orang yang mendukungnya, tampak sedang merayakan keberhasilan mereka dalam memprofokasi Ervin di rapat pagi tadi.


"Ternyata mudah sekali membuat si buta itu masuk ke dalam perangkap kita. Bahkan kita mendapatkan sesuatu yang lebih dari yang kita rencanakan sebelumnya." Laki-laki dengan kepala botak itu mulai berbicara sambil terkekeh puas.


"Benar. Dia bahkan tidak tahu kemampuannya sendiri, sampai berani mempertaruhkan jabatannya. Apa dia lupa, jika di kantor itu sudah tidak ada lagi yang mau memihak padanya?" Laki-laki dengan rambut kelimis, terlihat menimpali.


"Sepertinya otaknya itu sudah tumpul saking lamanya tidak pernah digunakan. Ish, sayang sekali, padahal dulu dia termasuk CEO yang cukup diperhitungkan karena kepintarannya."


"Itu dulu, sebelum dia megalami kecelakaan dan kehilangan semuanya sampai depresi. Sekarang, dia tak ubahnya seseorang yang tidak berguna." Roland yang tak suka dengan ungkapan terakhir pun langsung menyela.

__ADS_1


Suasana pun terasa canggung, semua pendukukng Roland tampak saling lirik, saat melihat laki-laki itu menatap tajam ke depan dengan tangan yang menggenggam erat gelas berisi wine.


__ADS_2