Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.26 Perpisahan


__ADS_3

"Laras, ada apa sama kamu? Baby?" Ervin terus memanggil istrinya, sementara tangannya juga mengetuk pintu kamar mandi tanpa henti. Sungguh, dia sangat khawatir saat ini.


"Aku gak apa-apa, kok. Tadi cuman sedikit mual aja, kayaknya masuk angin." Laras langsung menenangkan Ervin, begitu dia ke luar dari kamar mandi.


"Beneran kamu gak papa, hem? Tadi Herdi bilang muka kamu pucat." Ervin menangkup pipi Laras sayang.


"Beneran. Aku gak papa." Laras membawa Ervin untuk duduk di pinggir ranjang, kemudian dia rebahkan kepalanya di pangkuan sang suami.


"Kita ke rumah sakit aja, yuk. Atau, aku suruh Herdi untuk memanggil dokter ke sini saja." Ervin masih tampak khawatir. Tangannya mengusap lembut kepala sang istri, hingga membuat Laras mulai terbuai.


"Gak usah, nanti juga mendingan. Aku mau tidur sebentar ya, boleh kan?" tanya Laras sambil mulai menutup matanya. Nyaman rasanya bisa bersikap manja seperti ini pada seseorang. Kepalanya memang sedikit pening, bukan hanya efek dari mual beberapa saat yang lalu. Memikirkan akan berpisah dengan Ervin, terasa lebih menyiksa baginya. Apa lagi sebentar lagi Ervin akan segera mendapatkan penglihatannya kembali.


"Kalau dia bisa melihat, Tuan tidak akan membutuhkan kamu sekarang."


"Kalau aku bisa melihat, untuk apa aku harus menikahimu?"


Perkataan Dedrik dan Ervin di awal pernikahannya kembali terngiang. Laras tiba-tiba saja merasa takut. Dia takut, akan dibuang oleh Ervin, setelah laki-laki itu mendapatkan penglihatannya lagi.


Aku harap, tidak ada yang berubah, walau kamu sudah bisa melihat lagi. Kamu bisa menerimaku, walau mungkin keberadaannku sudah tak lagi berguna untukmu, batin Laras dengan satu bulir bening lolos begitu saja dari sudut matanya.


"Tidurlah, akhir-akhir ini kamu memang terlalu memaksakan diri. Maaf, karena aku sudah menjadi beban untuk kamu, baby." Ervin memelankan suaranya di kalimat terakhir. Rasanya begitu menyiksa, saat dia harus terus bergantung pada orang yang dia cintai.


"Maaf, baby. Aku memang lelaki tidak berguna, bahkan aku tidak tahu jika kamu sedang sakit," gumam Ervin lagi.


Laras tak menjawab, dia masih menutup mata, walau tak bisa dia pungkiri, jika air matanya pun tak dapat lagi dia bendung.


Sepertinya aku mulai mencintaimu. Kenapa sakit sekali, ketika mendengar kamu merendahkan dirimu sendiri seperti itu? batin Laras.


...❤‍🩹...


...Beberapa hari kemudian. Bandara keberangkatan internasiaonal .......


"Kamu yakin gak mau ikut denganku ke Texas?" tanya Ervin, entah untuk yang keberapa kalinya. Sejak semalam, Ervin terus menanyakan hal yang sama pada Laras.


"Maaf. Aku di sini akan menunggu kamu datang," jawab Laras sambil bergelayut manja di tangan sang suami.


"Jangan lupa kasih kabar sama aku, ya." Ervin masih menikmati sikap manja Laras yang sebentar lagi tidak akan lagi dia rasakan setiap saat.


"Eum. Jangan bosan kalau nanti setiap hari aku spam kamu, ya." Laras terkekeh ringan, seolah perkataannya adalah sebuah lelucon.


"Aku gak akan pernah bosan. Mendengar suara kamu mungkin akan menjadi sesuatu yang sangat aku nantikan selama di sana, baby." Ervin mendaratkan kecupan ringan di pelipis istrinya. Mereka seolah sedang berada di duanianya sendiri. Keduanya bahkan tak perduli walau sejak tadi telah menjadi perhatian banyak orang.


"Jaga kesehatan, jangan kerja terus. Aku akan menanyakan keadaan kamu sama Herdi, jadi kamu tidak bisa lari atau pun berbohong," ujar Ervin lagi.

__ADS_1


"Eum. Aku akan tetap sehat sampai kamu bisa melihat rupaku," angguk Laras dengan penuh percaya diri.


"Jangan berani melihat wanita lain. Aku cemburuan." Laras kembali berbicara dengan nada yang terdengar manja dan sedikit merajuk.


"Gak akan." Ervin pun menjawab dengan penuh keyakinan.


"Jangan dekat-dekat dengan perawat yang ada di sana."


"Aku akan meminta perawat laki-laki."


"Jangan lupa makan."


"Kamu lupa, di sana ada Dedrik yang akan menggantikanmu?"


"Jangan sakit."


"Aku akan selalu sehat."


"Jangan lupakan aku."


"Kamu sudah menguasai seluruh hati dan pikiranku."


"Jangan terlalu lama."


"Aku pasti kangen."


"Aku lebih kangen lagi."


"Aku bakal nunggu kamu."


"Aku akan cepat pulang."


Suara panggilan dari pusat informasi menghentikan ucapan random sepasang suami istri yang tengah takut berjauhan itu.


"Tuan, sudah waktunya berangkat," Herdi mengingatkan.


"Aku pergi dulu," pamit Ervin.


"Eum," angguk Laras sambil menegakkan tubuhnya.


"Hati-hati di jalan. Cepat kabari aku kalau sudah sampai di sana." Laras menghambur ke pelukan Ervin, dia mulai terisak di sana. Begitu sulit melepaskan sang suami, walau itu hanya bersifat sementara.


Untuk pertama kalinya berjauhan, Laras merasa ini terlalu berat untuk dijalani. Namun, tida ada pilihan lain, karena ini untuk kebaikan sang suami.

__ADS_1


"Pasti. Kamu juga harus baik-baik saja di sini, jangan mikirin aku terus, hem," canda Ervin, mencoba menghibur sang istri. Dia kecup lagi puncak kepala istrinya yang masih asik dalam pelukannya.


"Eum," angguk Laras, sebagai jawaban.


"Mari, Tuan muda." Salah satu anak buah Ervin yang akan mendampinginya selama perjalanan kembali mengingatkan.


Perlahan, Laras melepaskan pelukannya, dia kecup kedua pipi sang suami lalu mencium tangan Ervin berulang kali.


"Aku akan sangat merindukan kamu, my baby," ujar Laras yang langsung membuat senyum Ervin mengembang begitu lebar.


"Apa tadi kamu bilang? Bisa katakan sekali lagi?" pinta Ervin. Setelah sekian lama, mereka menjalin hubungan selayaknya suami istri, tak sekalipun dia mendengar kata panggilan mesra dari istrinya. Ini adalah momen yang sangat langka.


"Aku akan sangat merindukan kamu, my baby," ulang Laras dengan wajah yang sudah merona. Malu rasanya, mendengar dia mengatakan kata manis seperti itu pada Ervin.


"Aku juga, baby. Aku akan sangat-sangat merindukan kamu. I love you, baby." Tanpa sadar, Ervin kembali memeluk Laras dan memberikan banyak kecupan di pelipisnya. Ah ... dia sangat bahagia. Jika bisa, dia ingin membatalkan penerbangan kali ini dan kembali pulang ke rumah untuk menghabiskan waktu lebih lama bersama istri tercinta.


"Aku pergi dulu." Walau berat, tetapi Ervin harus segera sembuh. Dia tak ingin lagi menjadi beban untuk Laras. Ervin ingin menjadi seseorang yang dapat diandalkan untuk Laras, terlebih melindunginya. Itu semua hanya bisa dia diapatakan ketika matanya sudah bisa melihat kembali.


"Eum." Laras mengangguk. Terlalu sulit untuk mengucapkan kata perpisahan. Laras hanya bisa bergumam dalam sesak yang mendera di dada.


Perlahan, Ervin lepaskan dekapannya pada sang istri, lalu berlalu, meninggalkan Laras yang masih setia melihatnya, walau jarak di antara mereka makin jauh.


Laras masih berada di bandara, kala pesawat yang ditumpangi oleh Ervin mulai terbang, membumbung tinggi.


"Baiklah, sekarang sudahi galaunya, Laras. Kamu harus kembali mengurus perusahaan." Laras menghembuskan napas kelasar, sambil bergumam untuk menyemangati diirnya sendiri.


...❤‍🩹...


"Aku tidak akan pernah merubah keputusanku kalau kamu tidak mau menerima persyaratanku." Seorang wanita muda tampak duduk angkuh di depan Laras, sudah cukup membuat Laras yakin jika dia adalah orang kaya dari lahir.


"Bagaimana saya bisa menuruti persyaratan tidak masuk akal seperti itu, Nona. Tuan Ervin adalah suami saya, mana mungkin saya membiarkan Anda mendekatinya," tolak Laras. Dia tidak habis pikir, entah di mana wanita itu meninggalkan urat malunya, hingga tanpa ragu mengancam istri sah hanya untuk mendekati suaminya. Benar-benar tidak masuk akal.


"Kalau dia bukan suami kamu, mana mau aku duduk dengamu di sini. Kamu itu hanya anak panti asuhan yang tidak tahu malu," cibir wanita itu.


"Tidak salah? Sebenarnya siapa yang tidak tahu malu di sini?" Laras malah bertanya kembali.


"Kalau tidak ada lagi yang ingin Anda bicarakan, maka saya lebih baik pamit. Terlalu banyak kesibukan. Harusnya saya tidak datang ke sini hanya membuang waktu untuk melayani wanita seperti kamu."


Laras bangkit, dia sambar tas dan berkas yang terlah dia siapkan untuk kembali membuat perjanjian kerja sama dengan wanita itu. Namun, setelah pertemuan ini, Laras sadar. Jangankan untuk bekerja sama, bahkan untuk melihatnya saja, kini dia merasa enggan.


"Permisi," ujar Laras lagi. Dia lebih memilih segera pergi dari restoran bintang lima.


Dasara manusia tidak tahu malu!" geram Laras dan hati.

__ADS_1


__ADS_2