
Berebeda dengan Laras yang masih saja dilanda bimbang berkepanjangan. Ervin yang sudah aktif lagi di kantor sering kehilangan fokus hanya karena bayangan kebersamaannya bersama Laras dan dua anaknya yang kini berada jauh di negara lain. Seperti saat ini, dia baru saja ke luar dari ruang rapat setelah satu jam bergelut dengan berbagai dokumen dan perdebatan dengan kliennya.
"Sepertinya Anda sedang kurang fokus?" keluah Dedrik yang masih aktif mendampinginya walau umurnya sudah tak muda lagi.
Ervin menghentikan langkahnya, dia berbalik hingga berhadapan dengan Dedrik yang berjalan di belakangnya. Dedrik dan para staf yang terkejut oleh pergerakan tidak biasa presdir mereka itu pun refleks ikut menghentikan langkahnya walau tubuh mereka sempat goyah karenanya.
"Ada apa, tuan muda?" tanya Dedrik.
"Majukan semua jadwalku sebulan ke depan, menjadi sepuluh hari dari sekarang. Aku ingin berlibur." Ervin berkata tegas sambil membagi pandangannya pada semua staf perusahaan yang ada di sana.
Tentu aja mereka semua dibuat bingung bukan main sekaligus juga pusing. Bagaimana mungkin mereka bisa menjadwal ulang semua jadwal sebulan hanya dengan waktu sepuluh hari saja? Itu terdengar mustahil. Namun, sang pembuat keputusan malah kembali berjalan tanpa merasa bersalah, lelaki itu mengabaikan para karyawannya yang sudah mulai sakit kepala di belakangknya.
Sementara itu, Dedrik langsung menyusul langkah Ervin. Dia tentu tidak bisa membiarkan perusahaan kacau hanya karena Ervin yang ingin kembali ke Selandia Baru demi bertemu dengan Laras dan dua anaknya.
"Tuan muda, perusahaan akan kacau jika Anda tidak ada di sini, apa lagi dua bulan ke depan jadwal Anda benar-benar penuh. Minggu ini Anda harus bertemu beberapa klien yang ada di Korea?" Dedrik berusaha mengingatakan beberapa jadwal penting yang tidak bisa Ervin undur atau majukan sesuka hati.
"Besok sore kita juga harus surfei pembangunan gudang baru di daerah Karawang dan esok harinya bukankah Anda sudah berjanji untuk berkunjung ke panti asuhan?"
Ervin terdiam, dia daratkan bokongnya di kursi kerja dengan kepala yang mulai pening. Dia lupa, jika dua bulan ini jadwalnya memang sangat padat. Dia bahkan harus beberapa kali terbang ke luar negeri dan luar kota untuk masalah pekerjaan. Belum lagi jika ada sesuatu yang terjadi di luar hal yang sudah dijadwalkan.
"Tapi, aku sangat merindukan mereka, Dedrik. Bagiamana caranya agar rinduku ini terobati?" keluh Ervin sambil memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Membayangkan tidak bisa bertemu dengan Laras dan anak-anaknya selama dua bulan lebih saja sudah membuatnya pusing.
"Maaf, Tuan muda," jawab Dedrik sambil meringis melihat miris nasib Ervin yang masih saja bergelut dengan masalah percintaan di saat umurnya sudah sedewasa ini.
...❤🩹...
Seminggu Papi dan Mami menghabiskan waktu bersama dengan Laras dan kedua cucunya, sementara Dion kembali sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk. Semunggu ini, dia sama sekali tidak pulang dan terus bepergian dalam rangka perjalanan bisnis.
Kini yang tersisa hanya tinggal Laras dan kedua anaknya. Mereka kembali menjalani kehidupan seperti bisanya, walau rasa sepi mulai menyelimuti rumah tinggal mereka.
__ADS_1
"Mah, kapan papah mau datang ke sini lagi?" tanya Nessa untuk ke sekian kalinya. Saat ini mereka sedang sarapan bersama sebelum berangkat ke sekolah.
Laras hampir saja tersedak ketika mendengar pertanyaan polos gadis kecilnya itu. Walau ini bukan pertama kalinya, tetapi entah mengapa, pertanyaan tentang Ervin selalu membuatnya terkejut dan menimbulkan reaksi yang tidak biasa di dalam hatinya.
"Papah sedang sibuk bekerja, sayang," jawab Laras setelah menangkan dirinya.
"Sama kayak Uncle Dion?" Mata polos Nessa tampak menggemaskan walau bibirnya manyun tanda mulai merajuk.
"Iya," angguk Laras. Dia alihkan matanya pada roti coklat yang ada di depannya.
"Kenapa semua orang dewasa itu harus sibuk bekerja sih? Bikin kesel aja." Ucapan itu lolos begitu saja dari mulut yang sedang mengunyah roti selai kacang. Siapa lagi kalau bukan Nevan.
Ya, selai kesukaan dua anak itu bahkan sama dengan Ervin. Selai kacang. Sesuatu yang bahkan tidak bisa Laras makan. Dia alergi kacang-kacangan, terutama kacang tanah. Tubuhnya akan langsung memerah jika dia tak sengaja memakan olahan kacang. Namun, tidak dengan kedua anaknya. mereka malah menyukainya.
"Kalau gitu gimana kalau kita yang temuin papah aja?" celetuk Nessa yang malah semakin membuat Laras terkejut hingga minumannya hampir tersembur ke luar.
"Iya, Mah. Ayo kita susul papah ke Indonesia!" Entah kenapa Nevan yang biasanya kalem pun kini ikut bersemangat?
"Kalau kalian sudah selesai, cepat bawa tasnya, kita berangkat sekarang," ujar Laras berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
Nessa dan Nevan mengangguk lemas lalu menuruti ucapan sang ibu, mereka pun bergegas menuju mobil untuk berangkat ke sekolah.
Pagi itu Laras memang bisa menghindar dari permintaan dua anaknya. Namun, kejadian itu terus berulang hingga membuat Laras hampir kehabisan kata untuk memberikan alasan pada kedua anaknya.
Malam sudah menunjukkan pukul satu dini hari ketika Laras berjalan menuruni tangga dengan gelas kosong di tangan. Wajahnya terlihat lemas dengan lingkar hitam yang terlihat jelas di bawah mata. Akhir-akhir ini dia tidak bisa tertidur dengan tenang, rengekan kedua anakanya untuk pergi ke Indonesia mulai mengusik ketenangannya.
Suara dering telepon rumah terdengar membuat Laras yang baru saja duduk di kursi makan pun mengalihkan perhatiannya, dia tatap lagi jam dinding yang terpasang tepat di depannya.
"Siapa yang menelepon malam-melam begini?" gumam Laras sambil beranjak berdiri lalu melangkah pelan menuju telepon itu berada.
__ADS_1
Tak ada rasa curiga yang terpikir, walau itu memang cukup asing, mengingat ini juga bukan saatnya untuk menghubungi seseorang.
"Halo," ujarnya sambil menempelkan gagang telepon di telinganya.
"Laras, kanapa kamu lama sekali mengangkat teleponnya heh?"
Laras mengernyitkan kening, ketika suara Dion terdengar. Tidak biasanya lelaki itu menghubunginya lewat telepon rumah dan di waktu seperti ini.
"Kamu tau ini jam berapa? Masih tanya, kenapa aku mengangkat teleponmu lama, hah?" Laras yang memang sedang merasa resah ditambah kurang tidur pun malah tersulut emosi. Ah, ingatkan kalau pagi tadi dia juga baru saja kedatangan tamu bulanan. Benar-benar paket komplit untuk membuat suasana hatinya hancur.
"Kamu ke Indonesia sekarang juga, aku sudah mengatur semuanya, sebentar lagi akan ada mobil yang menjemputmu dan mengantarkan kamu ke bandara," ujar Dion tiba-tiba.
"Ada apa ini, Dion? Kenapa tengah malam begini kamu suruh aku pergi ke Indonesia?" tanya Laras yang masih kesal dengan kelakuan kakak satu ayahnya itu.
"Papi kena serangan jantung dan sekarang tidak sadarkan diri. Aku dalam perjalanan menuju bandara dari sini, kita bertemu di sana." Dion berusaha menjelaskan apa yang terjadi.
"Apa? A--aku ... aku berangkat sekarang." Laras linglung, tiba-tiba saja tubuhnya limbung, bayangan kehilangan sang ayah pun berputar di kepala, gagang telepon jatuh begitu saja dari genggaman dengan tubuh hampir jatuh terhuyung.
"Laras ... Laras!" Suara panggilan dari gagang telepon terdengar. Tampaknya Dion tahu kondisi adiknya sekarang.
"Laras jawab aku!"
Laras berusaha mengumpulkan kesadarannya yang hampir saja larut dalam prasangka dan ketakutannya. Dia genggam kembali gagang telepon yang sudah tergantung itu dengan tangan yang gemetar.
"Iya, aku di sini," jawabnya dengan suara sedikit terbata.
"Tenangkan diri dulu, kamu bangunkan Nevan dan Nessa, tidak usah bawa apa pun, aku sudah menyiapkan semuanya. Cepatlah," ujar Dion yang mencoba untuk menenangkan Laras walau dari jarak jauh.
Andai saja dia ada di kota yang sama dengan Laras, mungkin saat ini dia akan menemui Laras sendiri. Namun, kini keadaan dirinya sendiri sedang berada di kota berbeda, hingga akan sangat membuang waktu jika dia pulang dulu ke rumah Laras.
__ADS_1
"Eum. Iya, aku akan berusaha secepat mungkin," angguk Laras. Bayangan perdebatannya dengan Papi terakhir kali pun berutar di kepala, bagaikan sebuah film yang terus berulang.
"Papi harus kuat, aku mohon," gumam Laras sambil berlari menuju lantai dua untuk membangunkan kedua anaknya.