Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.52 Teh Camomile


__ADS_3

"Aku-" Laras terdiam dengan hati yang bimbang. Entah kata apa yang pantas untuk menggambarkan perasaanya saat ini? Dia bingung mengungkapkan.


"Aku tidak bisa memaafkanmu," sambungnya yang membuat hati Ervin tercabik dalam sekejap mata.


"Aku tahu, salahku padamu memang sangat besar. Tapi, tidak bisakah kamu memaafkan aku, Ras? Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Apa pun yang kamu minta dariku, akan aku turuti, asal kamu bisa memaafkan aku." Ervin mengiba, dia benar-benar putus asa. Lelaki itu tidak mau lagi kehilangan kesempatan untuk dekat dan bersama dengan wanita yang dia cintai.


"Maka menjauhlah dariku," ujar Laras sambil memalingkan wajahnya. Sungguh, dia tidak ingin goyah lagi jika sampai Ervin terus berada di sampingnya.


"Tidak! Aku mohon jangan meminta itu dariku, Ras." Ervin menyimpan kembali makanannya dan menghampiri Laras, dia genggam kedua tangan lembut itu dengan penuh permohonan.


"Aku mau melakukan apa pun, tapi tidak untuk menjauhi kalian bertiga, Ras. Kamu dan anak-anak kita adalah tujuanku. Hidupku hanya untuk kalian," ujar Ervin lagi dengan mata yang semakin memerah.


"Kamu adalah alasan aku bertahan hidup dan melawan mereka, hingga kini bisa berada di titik ini, Ras. Kebagiaan kamu adalah satu-satunya impianku, tapi tidak untuk menjauhimu. Aku hancur tanpa kamu, Ras," sambung Ervin lagi yang terus mengiba tanpa menghiraukan lagi harga dirinya di depan wanita yang amat dia cinta.


Laras masih terdiam. Wanita itu mengeraskan hatinya, walau nyatanya air mulai berkumpul di pelupuk matanya.


"Makanlah dan minum obat, aku lelah." Laras melepas genggaman tangan Ervin lalu berbalik hendak ke luar dari tenda Ervin. Namun, langkahnya terhenti ketika suara sesuatu yang terjatuh di belakangnya terdengar.


Mata Laras membola ketika dia melihat tubuh Ervin yang ambruk tepat di bawah kakinya. Lelaki itu tampak merintih lirih dengan setengah kesadaran yang tersisa.


"Ervin?" Laras langsung kembali menghampiri Ervin, dia kembali dibuat terkejut dengan suhu tubuh Ervin yang terasa meningkat.


"Jangan tinggalin aku, Ras." Ervin masih bergumam di sisa kesadarannya.


"Ayo kembali ke matras, kamu demam." Laras memilih mengabaikan ucapan Ervin dan membantu lelaki itu untuk bangkit lalu kembali tidur di matras agar lebih nyaman. Susah payah Laras menopang tubuh Ervin yang jauh lebih besar darinya.

__ADS_1


Laras memutuskan membantu Ervin untuk menyiapkan kompres sebagai usahanya untuk menurunkan suhu tubuh lelaki itu. Hampir semalaman Laras habiskan di tenda Ervin untuk merawatnya. Dia bahkan sampai tertidur di sana, hingga bangun ketika pagi sudah mulai menjelang.


Laras kembali mengukur suhu tubuh Ervin saat dia sendiri baru saja bangun. Hembusan napas lega terdengar ketika melihat jika suhu tubuh lelaki itu sudah kembali normal.


"Baguslah, sekarang aku sudah bisa kembali ke tenda," gumamnya ketika melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul lima pagi. Sebentar lagi waktunya Nevan dan Nessa untuk bangun, mereka akan panik jika melihatnya tidak ada di sekitar tenda.


"Laras." Ervin yang terusik dengan gerakan Laras ternyata ikut terbangun. Laras yang sudah berdiri pun kembali menolah pada lelaki itu.


"Aku hanya memastikan demam kamu sudah turun, aku akan kembali ke tenda," ujar Laras, berusaha menjelaskan walau tak mendapatkan pertanyaan. Namun, langkahnya kembali terhenti ketika genggaman tangan Ervin kembali menahannya.


"Terima kasih," gumam lelaki itu dengan suara yang masih terdengar parau. Ervin berusaha duduk walau seluruh tubuhnya masih terasa pegal.


"Istirahat saja, aku harus segera ke tenda karena sebentar lagi anak-anak akan bangun." Laras memilih mengalihkan pembicaraan, daripada harus menjawab permintaan maaf Ervin.


Tidak ingin memaksakan Laras, Ervin mengangguk pelan sambil melepaskan genggaman tangannya. Dia menatap kepergian Laras yang masih saja terasa menyakitkan untuknya. Lagi dan lagi, wanita itu menolak dirinya.


"Kamu menginap di tenda Ervin?" Langkah laras terhenti ketika Dion memergokinya di depan tenda.


"I-itu ... semalam dia demam dan kesadaraannya menurun, jadi aku memutuskan untuk mengompresnya, tapi ternyata aku ketiduran," jawab Laras jujur. Gerak tubuhnya tampak kikuk hingga membuat Dion menahan tawanya. Pemandangan Laras yang sedang gugup adalah sesuatu yang cukup langkalangka baginya.


"Oh begitu? Mau yang lain juga tidak apa-apa, aku bisa memakluminya," goda Dion sambil menaik turunkan alisnya.


"Apa? Jangan berpikir yang bukan-bukan, aku tidak akan melakukan itu," jawab Laras, walau dia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah.


"Eh, tapi ini kamu mau ke mana kok sudah bawa tas?" tanya Laras yang kini teralihkan oleh penampilan Dion yang sudah rapih dengan tas besar di belakang punggungnya.

__ADS_1


"Aku harus segera kembali, ada klien yang tiba-tiba datang dan ingin bertemu pagi ini juga di hotel. Ini sangat penting, jadi aku tidak bisa menolaknya. Aku sudah membawa perlengkapan kita dan memesan sarapan untuk kalian. Tolong sampaikan permintaan maafku pada anak-anak," jelas Dion yang kembali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Awalnya dia ingin pergi tadi malam, tetapi dia tidak bisa pulang begitu saja tanpa pamit lebih dulu pada Laras.


"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan, ini masih terlalu pagi," jawab Laras yang hanya dijawab anggukkan kepala oleh Dion.


Laras melanjutkan langkahnya setelah melihat Dion semakin menjauh. Lelaki itu memang sangat sibuk, hingga dia tidak bisa melakukan apa-apa jika ada acara dadakan seperti sekarang ini. Sebagai pewaris tunggal perusahaan keluarga, tentu kewajibannya bukan hanya untuk keluarganya, tetapi juga kelangsungan banyak karyawan yang bergantung hidup di dalam perusahaannya.


Setelah masuk ke tendanya, Laras memilih untuk mulai mengemas barang-barang dirinya dan anak-anak yang masih tersisa, tidak lama setelah itu Nevan dan Nessa pun terbangun. Usai membersihkan diri ketiganya menikmati pagi di depan tenda dengan berteman teh dan susu hangat, sambil menunggu sarapan mereka datang.


Matahari mulai menampakan diri ketika Laras bisa melihat Ervin ke luar dari tendanya. Nevan dan Nessa yang juga melihat itu pun langsung memanggil lelaki itu untuk duduk bersama.


Laras membuatkan teh hangat untuk Ervin saat lelaki itu sudah sampai di depan tenda mereka lalu menyerahkannya tanpa kata.


"Terima kasih." Ervin menerima sambil menatap wajah Laras yang masih tanpak datar, bahkan cenderung menghindarinya.


"Dion ke mana? Aku tidak melihatnya sejak tadi," tanya Ervin setelah menyeruput teh camomile yang masih saja terasa menenagkan untuknya. Dia tersenyum senang, saat mengetahui jika Laras tak melupakan kesukaannya.


"Uncle udah pulang. Biasa ... sibuk." Nessa menjawab dengan gaya bicaranya yang lucu hingga membuat Ervin tampak tersenyum sambil menahan gemas.


"Papah nanti pulang bareng kita kan, Mah?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir mungil Nevan.


Tubuh Laras menegang, mulutnya tiba-tiba saja kelu, tak tahu jawaban apa yang dia inginkan.


"Papah mungkin nanti naik taksi saja." Ervin yang melihat reaksi Laras langsung menyimpulkan jika wanita itu keberatan bila dirinya harus kembali berada di antara mereka.


"Di sini tidak ada taksi," ujar Laras yang kembali membuat Ervin terdiam. Dia ke sini menggunakan mobil sewaan yang tentu saja langsung kembali begitu dia sampai. Sekarang, dia juga bingung harus kembali mengunakan apa jika Laras tak memberinya tumpangan.

__ADS_1


"Gimana ini? Mana aku tidak punya nomor sewa mobil di sini," gumam Ervin sambil menggaruk belakang kepalanya pelan.


__ADS_2