Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab. 54 Ke rumah Laras


__ADS_3

"Jadi ini rumah kalian?" tanya Ervin setelah dia ke luar dari mobil Laras yang terparkir di depan rumahnya.


Ya, karena permintaan kedua anaknya dan rasa iba akan nasib Ervin, Laras akhirnya memilih untuk membawa lelaki itu ke rumahnya, walau hatinya masih merasa bimbang dan belum bisa berdamai sepenuhnya.


"Iya, Pah. Ini rumah kami. Gimana? Bagus kan, Pah?" Nessa menjawab dengan penuh semangat.


"Iya, rumah kalian bagus sekali," angguk Ervin sambil tersenyum tulus.


Rumah Laras memang tidak terlalu besar, tetapi penataannya sangat indah, apa lagi ada beberapa tanaman di sekelilingnya, yang membuat suasana menjadi lebih asri.


Laras memilih memisahkan diri, dia berjalan menuju ke belakang mobil untuk mengambil barang-barang yang harus dikeluarkan.


"Tuanggu sebentar ya. Papah mau membantu ibu kalian dulu," ujar Evin yang sejak tadi tangannya selalu digenggam oleh Nessa.


"Iya, Pah," angguk Nessa sambil melepaskan rangkulan tangan Ervin. Sementara itu, Nevan sudah menyusul Laras lebih dulu, untuk membantu. Anak kecil itu memang sudah terbiasa membantu Laras dalam segala hal.


"Sini, biar ini aku saja yang angkat." Ervin mengambil alih tas ransel besar yang hendak dikeluarkan oleh Laras dari bagasi mobil.


Namun, Laras tak menghiraukan ucapan Ervin. Dia masih saja mau mengangkat tas ransel itu, hingga akhirnya Ervin terpaksa merebutnya langsung dari tangan Laras.


"Sekarang sudah ada aku, kamua bisa mengandalakan aku untuk tugas seperti ini," ujar Ervin setelah berhasil mendapatkan tas ransel yang memang cukup berat itu.


"Ini di taruh di mana?" sambung Ervin lagi.


"Biarkan saja di sana, biar nanti aku ke luarkan dulu isinya," jawab Laras setelah mereka masuk ke dalam rumah.


Ervin pun menaruh tasnya di tempat yang ditunjuk oleh Laras.


"Tinggalkan saja dulu. Sebentar lagi waktunya makan siang, biar aku siapkan dulu," ujar Laras sambil melangkahkan kakinya menjauh dari Ervin.


Ervin segeera menyusul langkah Laras. Dia tentu tidak mau kehilangan kesempatan untuk membantu wanita itu, apa pun yang harus dia kejakan.


"Apa tidak ada yang membantumu mengurus rumah? Kamu pasti lelah setelah menyetir cukup jauh dan melakuan perkemahan dua hari kemarin." Ervin mulai merasa khawatir dengan kesehatan Laras yang tampak terus mengerjakan semuanya sendiri.

__ADS_1


"Selama aku bisa mengerjakannya sendiri, kenapa harus menyuruh orang lain?" tanya Laras cuek. Wanita itu mulai membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa makanan yang sengaja sudah dia siapkan di sana, lalu menghangatkannya menggunakan microwife.


Ervin melihat semua yang dilakukan oleh Laras. Dia tidak pernah tahu jika wanita yang dicintainya itu memiliki banyak keahlian. Bukan hanya di kantor, tetapi juga di dapur, bahkan mengurus anak-anaknya.


"Apa ada yang bisa aku bantu? Mau aku siapkan yang lain?" tanya Ervin setelah cukup lama dia memperhatikan kesibukan Laras. Sungguh, memperhatikan wanita itu membuatnya seolah sedang terhipnotis hingga sulit untuk mengendalikan dirinya sendiri. Senyum tipis bahkan tidak pernah redup dari wajah tampannya.


"Tolong ambilkan gelas di sana," ujar Laras yang tengah membuat teh buah dan juga jus untuk anak-anaknya.


Sigap, Ervin langsung melakukan apa yang diminta Laras. Hatinya menghangat ketika dia menyadari jika wnaita itu tidak lagi mengacuhkannya atau menghindarinya seperti sebelumnya.


Setelah semua menu makan siang hampir selesai, Nevan dan Nessa pun turun dari lantai dua dengan wajah yang masih terlihat sangat segar. Mereka makan siang bersama dengan makanan yang ada.


Ervin kembal tersenyum saat suapan demi suapan masakan Laras kembali dia rasakan. Sungguh, dirinya sangat merindukan wangi khas masakan Laras yang sudah lama tidak dia rasakan.


"Setelah makan, kalian kembali ke kamar untuk tidur siang," ujar Laras setelah semua makanan di meja tandas, begitu juga dengan jus yang dia buat.


"Iya, Mah," angguk keduanya.


Laras hendak membereskan meja makan dan mencuci piring ketika Ervin menghentikan pergerakannya.


"Tidak usah, aku sudah terbiasa seperti ini. Lagi pula, aku juga tidak yakin, kamu bisa melakukannya," jawab Laras sambil mulai menyusun piring bekas.


"Gimana kalau kita bagi tugas? Aku yang cuci piring, kamu yang bersihin meja?" Ervin mengambil piring yang sudah disusun oleh Laras lalu menaruhnya di washtafel, begitu juga dengan cangkir dan gelas lainnya.


"Bilas saja, lalu simpan di mesin cuci piring," ujar Laras sambil sedikit melirik Ervin yang kini sudah berdiri di depan washtafel.


"B-baik," jawab Ervin, walau wajahnya terlihat sekali sangat kebingungan.


"Mesin cuci piringnya ada di bawah." Laras langsung memberitahu letak mesin cuci piringnya, seolah tahu jika Ervin memang tengah mencarinya.


"Ah, iya," angguk Ervin sambil melihat ke bawah, tepat di depan kakinya. Dia mulai membilas satu per satu piring dan gelas, walau lelaki itu masih terlihat kaku dan kesulitan dalam melakukannya.


Tanpa sadar Laras mengulum senyum ketika melihat wajah kesulitan Ervin yang malah terlihat lucu di matanya.

__ADS_1


"Sini, biar aku bantu susun." Laras mendekat lalu mengambil piring yang sudah dibilas dan mulai menyusunnya di mesin pencuci piring.


Keduanya tampak larut dalam pekerjaan sederhana yang tanpa sadar menumbuhkan sebuah kebersamaan.


"Sudah. Sekarang, kamu istirahat saja," ujar Ervin, entah untuk yang ke berapa kalinya.


"Baiklah. Kamar kamu ada di sana, nanti aku bawakan baju milik Dion untuk kamu pakai sementara waktu," ujar Laras sambil menunjukkan sebuah kamar tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Itu memang kamar tamu yang jarang sekali dipakai.


"Baju Dion? Dia sering menginap di sini?" Ervin malah terpaku dengan ucapan tentang baju Dion. Rasa cemburu mulai kembali muncul, ketika bayangan liarnya tentang hubungan Laras dan Dion pun terlintas.


"Iya," angguk Laras tanpa membantah. Wanita itu pun melangkahkan kaki untuk naik ke lantai atas.


"Iya? Mudah sekali dia bilang begitu di hadapanku?" gerutu Ervin. Rasa cemburu mulai tumbuh dalam hati lelaki itu.


Laras yang masih mendengar gerutuan Ervin hanya bersikap tak acuh dan berpura-pura tidak mendengar. Langkahnya terus terayun menaiki anak tangga untuk mencapai kamar kedua anaknya, di mana Dion sering menginap.


Beberapa saat kemudian, Laras kembali dengan satu stel baju di tangannya.


"Ini baju ganti kamu. Kamu bisa istirahat di kamar itu," ujar Laras sambil menunjuk sebuah pintu kamar yang terlihat belum dibuka.


"Iya. Terima kasih, Ras," angguk Ervin, walau rasa kesal masih menyelimuti hatinya.


"Baiklah, aku ke atas dulu." Laras segera berlalu seolah tanpa ada beban meninggalkan Ervin sendiri.


Ervin kembali mengangguk. Dia menatap punggung Laras yang terus menjauh dan akhirnya menghilang ketika sudah sampai di lantai dua rumah itu. Matanya kemudian beralih menatap seluruh isi rumah yang juga masih tertata rapih, dia tatap satu per satu bingkai foto yang tertempel di dinding rumah.


"Ini, bukannya keluarga Atmadja? Apa Laras sedekat ini dengan keluarga Dion?" gumam Ervin, saat matanya terpaku dengan sebuah bingaki foto besar yang menampilkan gambar Laras, Nevan, Nesa, yang sedang berfoto dengan Dion dan kedua orang tuanya. Dalam foto itu, Laras terlihat sangat senang, begitu juga dengan kedua anaknya.


"Akh, kenapa di sini terasa sakit sekali?" Ervin memegangi dadanya ketika rasa perih mulai merasuk di sana.


"Lihat saja, nanti aku juga akan melakukan foto bersama dengan Laras dan kedua anakku dengan status sebagai keluarga, bukan orang asing seperti kalian," gumam Ervin, berusaha menghibur dirinya sendiri dengan rasa percaya dirinya yang masih tersisa.


Setelah cukup puas memandangi potret Laras dan kedua anaknya, Ervin memilih segera masuk ke kamar. Sungguh, dia harus segera mandi agar rasa panas di dalam dada hingga kepalanya cepat mereda.

__ADS_1


Cemburu buta memang menyusahkan ya, Vin?


__ADS_2