
Ervin ke luar dari kamar mandi sambil terkekeh pelan, ketika bayangan kejadian pagi tadi kembali berputar di ingatannya. Bagaimana usaha Laras melepaskan diri darinya yang sebenarnya hanya berpura-pura tidur. Itu cukup menghibur dan menyenangkan di pagi harinya.
"Menggemaskan," gumamnya. Mengeleng pelan lalu membawa kakinya melangkah menuju walk in kloset.
...❤🩹...
"Gimana rasanya, enak gak?" tanya Laras sambil menatap wajah Ervin yang baru saja menyuapkan satu sendok nasi goreng buatannya.
Ervin terdiam dengan mulut yang perlahan mulai bergerak mengunyah menu sarapannya pagi ini. Nasi goreng spesial, karena itu adalah buatan Laras. Setidaknya itu yang diucapkan oleh istri kecilnya.
"Gimana ... enak gak? Ish, lama banget sih ngunyahnya," gerutu Laras yang sudah tidak sabar dengan wajah datar Ervin.
Nasi goreng adalah salah satu masakan andalannya yang selalu disukai oleh siapa saja yang mencicipinya. Setidaknya itu menurut adik pantinya dan Dion yang pernah dia masakan nasi goreng yang sama, ketika laki-laki itu membantunya mengerjakan tugas.
"Lumayan," jawab datar Ervin, setelah menelan nasi goreng itu yang langsung dibarengi oleh meminum air putih.
"Gak enak ya?" tanya Laras dengan wajah berubah lemas dan suara terdengar murung. Pundaknya seketika meluruh karena ternyata Ervin tidak menyukai nasi goreng buatannya.
Ervin tak kuasa menahan kekehannya, dia sudah bisa membayangkan ekspresi wajah Laras yang cemberut karena ulahnya. Walau dia tidak bisa membayangkan wajah asli istrinya, tetapi dalam pikirannya Ervin bisa menggambarkan samar rupa wanita yang dia nikahi itu, dari setiap sikap yang selalu dilakukan oleh Laras.
"Aku gak pernah bilang gitu," sangkal Ervin.
"Tapi, cara Tuan menelan nasi goreng aku sudah menggambarkan semuanya," lirih Laras.
"Aku hanya haus," ujar Ervin masih menampilkan senyum di bibirnya.
"Ya sudah, kalau gitu coba makan lagi." Laras masih cemberut dan belum percaya dengan alasan Ervin.
Ervin mengangguk, dia pun mulai menyendok nasi goreng Laras dan menyuapkannya lagi tanpa ragu. Dia bahkan tampak melakukannya dengan lahap.
Keduanya pun melanjutkan sarapan berdua. Pelayan yang melihat Ervin bisa tersenyum bahkan tertawa di depan Laras pun ikut bahagia. Kabar itu pun menyebar dengan cepat, hingga menjadi bahan pembicangan utama di seluruh kediaman Ervin dan Laras siang itu.
Berbeda dari hari sebelumnya, kali ini Laras hanya mengajak Ervin untuk menikmati piknik di halaman belakang, dengan menggelar tikar dan memakan camilan sambil menikmati angin yang berhembus pelan.
__ADS_1
"Tuan duduk di sini ya, kita piknik di belakang rumah, hehe." Laras terkekeh pelan, merasa lucu dengan ucapannya sendiri. "Cuacanya lagi enak, gak panas juga gak mendung, pas banget buat piknik kayak gini."
"Hem."
"Anggap aja kita lagi di puncak atau di pantai," ujar Laras sambil ikut duduk di samping Ervin. Dia kemudian mengambil buah apel dan mulai mengupasnya.
"Hem."
"Lagian, kalau aku ajak Tuan ke luar, aku takut kejadian kemarin keulang lagi. Jadi sementara ini, kita piknik di rumah dulu." Laras masih fokus pada buah apel dan pisau di tangannya.
"Rumah Tuan besar, sayang kan kalau dianggurin aja. Kita harus memanfaatkannya dengan baik," sambung Laras.
"Hem."
"Ck." Laras melirik kesal pada Ervin yang hanya menjawabnya dengan gumaman, padahal dirinya sudah berbicara panjang lebar.
"Mau makan apel?" tanya Laras lagi sambil memberikan garpu yang sudah ada potongan buah apel di ujungnya.
Ervin tak menjawab, tetapi dia menerima dan memakan apel pemberian Laras.
"Masih indah?" tanya Ervin dengan seulas senyum tipis di bibirnya.
"Masih. Di depan ada beberapa pohon bunga mawar merah, sebelah kirinya kumpulan pot bunga anggrek berbagai macam, aku gak tau semua jenisnya, tapi kayaknya kebanyak bunga anggrek bulan. Ada juga bunga mawar merah muda dan putih di sisi lainnya." Laras menjelaskan apa yang dia lihat, hingga bisa dibayangkan oleh Ervin.
Bibir Ervin mengulas senyum yang semakin lebar, walau matanya tampak berkaca-kaca. Dia kemudian bergumam pelan yang masih bisa didengar jelas oleh Laras. "Ternyata mereka masih ada? Bunda pasti senang kalau tau."
Laras terdiam, tiba-tiba saja ada rasa perih seolah sesuatu menggores hatinya. Ucapan sendu Ervin nyatanya mampu menyentuh hati Laras yang tau pasti bagaimana rasanya merindukan seseorang yang bahkan tidak bisa bertemu kembali.
"Indah dan cantik. Mereka pasti hidup dengan baik dan menunggu Tuan bisa melihat mereka lagi," ujar Laras sambil tersenyum.
Ervin mengangguk, walau tak lagi menjawab. Laras pun memilih mengalihkan pembicaraan mereka agar bisa mencairkan suasana hati Ervin yang kembali mendung karena ingat pada ibunya.
Namun, ternyata semua itu tidak berjalan lama, karena menjelang sore hari, seorang pelayan mengantarkan ponselnya yang sejak tadi berdering. Laras pun mengangkat telepon itu langsung di depan Ervin.
__ADS_1
"Halo, Nyonya. Selamat sore. Saya mau mengabarkan jika salah satu gudang kita mengalami kebakaran. Saat ini, pemadam kebakaran sedang berusaha menjinakan api," ujar Ema dari seberang sambungan telepon. Dari nada bicaranya, Laras sudah tahu pasti kondisi di sana tidak baik-baik saja.
"Baiklah, aku segera ke sana, kamu tenang dulu ya," ujar Laras dengan mata terus menatap wajah Ervin. Tangan dan tubuhnya sudah bergetar karena dirinya sendiri merasa takut, bingung, sekaligus merasa bersalah atas kejadian ini.
Ervin menoleh, dia bisa mendengar suara Laras yang terdengar bergetar. Perlahan, tangannya terulur lalu menggenggam tangan Laras.
"Gak akan ada apa-apa. Lebih baik tenangkan diri dulu, sebelum kamu ke lokasi," ujar Ervin dengan nada suara yang terdengar lebih hangat dari biasanya.
"Gimana ini, Tuan? A--aku harus gimana? A--aku takut," adu Laras dengan mata berkaca-kaca. Dia bahkan belum tau lokasi gudangnya dan seberapa besar kerugian yang harus ditanggung perusahaan karena kejadian ini. Belum lagi jika sampai ada korban. Laras bahkan tidak tau harus menghadapi semua ini dengan cara apa.
Entah ide dari mana, Ervin yang mulai mendengar isak tangis Laras pun menarik tubuh Laras hingga kini kepala wnaita itu pun persandar di dada bidangnya.
"Jangan panik dulu. Kejadiannya siang, mungkin belum terlalu parah sudah ketahuan. Aku yakin tidak akan terjadi apa-apa di sana," ujar Ervin sambil terus mengelus puncak kepala Laras.
Laras terdiam, dia pejamkan matanya sambil mencoba mengatur napas dan menata kembali perasaan yang sudah terlanjur panik. Tanpa disangka, aroma tubuh Ervin yang menempel padanya, ternyata bisa membuat hati Laras menjadi lebih tenang dari biasanya.
Beberapa saat kemudian, Laras pun sudah berada di area bekas kebakaran yang masih tampak berantakan. Ema menyambutnya dengan sangat hati-hati.
"Bagaimana keadaanya?" tanya Laras sambil berjalan menuju lokasi yang sudah dikerubungi banyak warga. Ada beberapa mnit mobil pemadam kebakaran dan ambulance yang bersiaga dengan perawat sigap menangani para korban.
"Ada beberapa korban yang sudah diselamatkan oleh pemadam kebakaran, hanya saja sepertinya mereka masih berusaha mencari karyawan lain yang masih terjebak di dalam," jawab Ema.
Laras tiba-tiba menghentikan langkahnya dengan wajah menatap Ema penuh. Keningnya tampak berkerut dalam dengan tatapan penuh selidik, kemudian mengutarakan pertanyaan. "Kenapa bisa ada banyak korban? Bukankah ini hanya gudang? Seharusnya para staf gudang dan penjaga bisa dengan mudah emnyelamatkan diri bukan?"
Laras masih ingat ucapan Ervin sebelum dia pergi ke sini. Ini adalah gudang yang tidak terlalu besar, hingga mudah untuk seseorang meloloskan diri, mengingat ada beberapa pintu ke luar juga. Ervin bahkan sempat meyakinkannya bahwa sangat tidak mungkin ada korban luka berat. Namun, kini yang terjadi, sama sekali di luar dugaannya.
"Entahlah. Tapi, saya dengar dari salah satu pemadam kebakaran, jika seluruh pintu ke luar dalam keadaan terkunci, jadi orang di dalam tidak bisa menyelamatkan diri," jawab Ema.
"Anda pemilik gudang ini?" Seorang polisi tampak menghampiri Laras dan Ema yang baru saja sampai di area gudang yang masih tampak mengepulkan asap cukup tebal.
"Benar," angguk Laras.
"Mohon ikut saya, kami membutuhkan keterangan dari Anda," ujar pria dengan stelan lengkap khas petugas kepolisian itu.
__ADS_1
Laras sempat meliat sekilas pada Ema, walau akhirnya dia tidak bisa membantah untuk mengikuti polisi itu.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?