
...Satu tahun kemudian .......
"Kamu yakin, masih mau kembali ke indonesia setelah mengetahui kondisi Ervin sekarang, Ras?" tanya Dion untuk yang kesekian kalinya. Saat ini, Laras sudah benar-benar pulih, setelah melahirkan perlahan kesehatannya pun semakin membaik. Semuanya sudah kembali seperti semula, Laras sudah bugar, bahkan dia melahirkan sepasang anak kembar yang begitu cantik dan tampan.
"Aku ingin menemui Ervin, Dion. Bukankah aku juga harus mempertemukan anak-anakku dengan ayahnya?" tanya Laras sambil membereskan perlengkapan sang anak yang akan dia bawa.
"Tapi, kita tidak tahu kabar Ervin sekarang, Ras. Setelah dia dikabarkan sudah bisa melihat dan kembali mengambil alih perusahaan, dia menjadi sangat tertutup, bahkan tidak ada yang bisa menyentuh kehidupan pribadinya. Aku pun gagal untuk menggali keadaannya sekarang." Dion masih terlihat khawatir untuk melepaskan Laras pergi ke indonesia demi mencari tahu tentang Ervin sendiri, apa lagi sekarang ada dua bayi yang akan ikut terancam jika kondisinya masih belum berubah.
"Biarkan aku yang pulang ke indonesia dulu, sekaligus menengok kedua orang tuaku di sana, aku akan memeriksa kondisi Ervin dan keluarganya. Kalau memang kondisinya aman untuk kamu kembali, maka kamu boleh menyusulku ke sana. Bagaimana?" tawar Dion sambil mengalihkan perhatiannya pada dua bayi berumur enam bulan yang masih tertidur pulas di box tidurnya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi bersama?" Laras malah berkata sumringah. Jika dia sendiri, mungkin dia akan merasa kerepotan mengurus dua bayi sekaligus, tetapi itu berbeda jiak Dion mau ikut dan membantunya. Secara, kedua anaknya juga sangat dekat dengan Dion.
"Ayolah, Uncle ... aku sama dua baby bakpao ikut, ya? Ya?" Laras berlagak imut di depan Dion, seolah sedang bermanja pada lelaki yang sudah beberapa bulan ini terus menjaganya dan dua anak kembarnya.
Dion menghembuskan napas lelah, jika sudah ada kata rayuan dari Laras, dia tidak akan pernah bisa menolak. Namun, dia masih bimbang. Apakah, ini akan menjadi yang terbaik untuk Laras dan kedua anaknya? Bagaimana jika nanti semua rencananya malah berbalik membahayakan satu wanita dan dua bayi kesayangannya itu?
"Tidak, Laras. Kamu masih harus menjalani terapi dan baby bakpaoku juga masih terlalu kecil untuk melakukan penerbangan jarak jauh." Dion memutuskan untuk tidak mengizinkan Laras ikut.
"Kalau begitu aku aduin sama Bibi dan Mami," rajuk Laras. Satu tahun lebih tak mendengar kabar Ervin, membuatnya hampir gila karena merindu. Bahkan kehadiran kedua bayinya pun tak bisa membuatnya melupakan seorang Ervin. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan kerinduan itu, jika wajah kedua anaknya bahkan sangat mirip dengan Ervin?
"Silakan. Aku yakin, mereka juga akan setuju denganku," tantang Dion tak mau kalah.
"Jangan, mentang-mentang sekarang kamu jadi kesayangan Mami dan Bibiku, terus kamu pikir aku takut kamu ancam begitu, ya?" sambung Dion lagi sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Lelaki itu pun tampak membuang muka dengan bibir cemberut.
__ADS_1
"Oke. Kita liat aja nanti!" Laras melanjutkan aktivitasnya, sementara Dion segera beranjak ke luar dengan hentakkan di setiap langkahnya.
Begitulah sekarang interaksi kedua sahabat yang sudah berubah status sebagai adik kakak, karena kedua orang tua Dion pun mengangkat Laras sebagai anaknya. Dion pun tidak mengerti apa yang membuat kedua orang tuanya bisa menerima Laras dengan begitu mudah, padahal sebelum Laras sadar, mereka selalu menentang dirinya yang dianggap sudah membawa kabur istri orang. Namun, setelah Laras bangun dan mulai mejalani terapi yang didampingi langsung oleh Bibi Joana, saat itu kedua orang tuanya datang untuk meminta Dion agar mengembalikan Laras pada suaminya
Mengejutkan, setelah mereka saling bertemu dan tinggal bersama untuk beberapa hari, kedua orang tuanya malah menyukai Laras dan menjadikan wanita itu anak angkatnya. Sejak saat itu, Laras menjadi anak dan keponakan kesayangan bagi kedua orang tua Dion dan Bibi Joana. Mereka bahkan sangat menyayangi dua baby bakpao.
...❤🩹...
"Jaga diri baik-baik ya, jangan lupa kabari bibi setelah kalian sampai di sana," ujar Bibi Joana sambil memeluk Laras.
"Iya, Bi. Aku pasti kabarin Bibi. Makasih untuk selama ini, Bi. Maaf, aku selalu merepotkan Bibi selama di sini," balas Laras sambil mengeratkan pelukannya. Suaranya pun mulai terdengar parau. Ternyata, Laras sudah kadung menyayangi Bibi Joana.
"Ah, jangan buat bibi menangis di sini, okay," pinta Bibi Joana sambil mengurai pelukannya pada Laras. Dia tertawa hambar, dengan mata memarah menahan tangis. Sepertinya, mulai sekarang rumahnya akan kembali sepi karena Laras dan dua baby bakpao pergi.
Laras tersenyum haru, dia tidak menyangka di balik kecelakaan dan musibah yang mendera, dia bisa menemukan keluarga baru yang begitu menyayanginya dan dua anak kembarnya. Mereka bahkan menjadi penolongnya dengan begitu tulus, tanpa ada pamrih sedikit pun.
"Baby bakpao juga pasti akan kangen banget sama eomanya," jawab Laras sambil berdiri di samping bibi Joana dan memeluknya dari samping.
"Harus itu. Walau bagaimana pun, aku yang membantumu untuk melahirkan dua baby bakpao ini, jadi mereka pasti akan merindukanku," ujar bibi Joana dengan wajah penuh percaya diri.
"Iya, iya. Bibi adalah eoma yang terbaik," angguk Laras yang hanya dijawab tawa kecil oleh dokter penggila drakor itu.
"Ayo, kita sudah dipanggil." Dion yang baru datang setelah mengurus semua berkas penerbangan dan bagasi, langsung mengalihkan perhatian dua wanita yang sedang menikmati kebersamaan terakhirnya.
__ADS_1
Setelah saling berpamitan dengan benar, mereka pun berpisah. Dion, Laras dan twins baby bakpao bersiap untuk penerbangan, sementara Bibi Joana memilih segera ke luar dari area bandara, mengingat waktunya masuk kerja tidak lama lagi.
...❤🩹...
"Gimana rasanya bisa kembali lagi ke sini?" tanya Dion ketika mereka baru saja turun dari pesawat.
"Udara kampung halaman memang beda ya. Walaupun gak sebersih di sana, tapi aku suka," jawab Laras setelah menghirup napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
"Iya deh, yang bucin banget sama tanah kelahiran, sampe ngidam pun yang dicari masih makanan Indonesia," sindir Dion yang mengingat kerepotannya ketika Laras mengidam bapao bapak-bapak yang mangkal di depan kampus. Dion sampai harus meminta tolong pada ibunya untuk membelikan bakpao yang sering Laras beli untuk mengganjal perut atau pengganti makan, jika sedang mengirit uang.
"Iya, maaf. Tapi, mau gimana lagi, kan twins baby bakpao yang mau," jawab Laras sambil mengulum senyumnya. Karena kejadian itu, sampai saat ini Dion menamai anaknya baby bakpao bahkan seluruh keluarga Dion.
Jangan pikir itu hanya satu-satunya kerepotan Dion tentang drama ngidam Laras yang tidak bisa lepas dari makanan khas Indonesia. Tidak sama sekali. Masih banyak lagi cerita menarik dari sepasang sahabat yang kini menjelma menjadi adik kakak itu.
"Jangan lupa tentang drama tengah malam kamu bangunin aku cuma gara-gara minta nyari nasi goreng, mana waktu itu musim dingin," ujar Dion lagi sambil melirik malas wajah polos Laras yang bahkan tak ada perasaan bersalah, setelah hampir setiap hari terus menyiksanya dengan berbagai permintaan mengidam yang aneh-aneh itu.
"Tapi, akhirnya kamu kembali tanpa hasil, dan Bibi Joana yang membuatnya. Ingat, kamu juga yang menghabiskan nasi goreng buatan Bibi Joana malam itu," sanggah Laras.
"Aku lapar lah, Ras. Dua jam aku keliling di musim dingin hanya untuk nyari nasi goreng yang sudah pasti tidak ada," keluh Dion. Sepanjang perjalanan keduanya hanya dihabiskan untuk mengenang masa mengidam Laras yang kadang membuat Dion kesal, walau tak jarang juga membuatnya tertawa senang.
Namun, perbincangan seru keduanya terhenti ketika seseorang memanggil mereka dari belakang. Dion menoleh demi melihat siapa yang memanggilnya. Namun, Laras tiba-tiba membeku dengan jantung yang berdebar begitu kencang. Dia masih mengenal suara itu, walau sudah lama tak mendengarnya.
"Mba! Mainan anaknya jatuh," ujar laki-laki yang kini terlihat berdiri tepat di belakang Laras sambil mengulurkan mainan bayi berwarna biru pada Laras. Sementara itu, Dion pun tampak membeku ketika dia sudah bisa mengenali siapa laki-laki yang kini berdiri di depannya.
__ADS_1
"Ervin?"