
Esok paginya, Laras pergi ke kantor bersama dengan Dedrik. Dia tampak terlihat lebih dewasa dan tegas, saat memakai baju yang sudah disiapkan oleh Dedrik sebelumnya. Keduanya lebih dulu menemui beberapa orang kepercayaan Dedrik yang nantinya akan membantu Laras dan Ervin dalam menjalankan perusahaan.
"Tenang saja, semuanya akan berjalan dengan baik," ujar Dedrik ketika keduanya berada di dalam lift kantor,
"Iya, Pak. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak terlihat gugup," angguk Laras sambil terus menguatkan dirinya.
Pintu lift terbuka di lantai lima belas gedung perusahaan milik Ervin. Laras menghembuskan napas kasar sebelum kemudian melangkahkan kakinya ke luar menuju ke ruang rapat yang sudah disediakan. Dedrik sengaja membawa Laras melalui lift khusus, agar wanita itu bisa leluasa mengatur perasaannya.
Semangat, Laras. Kamu pasti bisa, gumam Laras dalah hati, ketika mereka sudah sampai di depan ruang rapat. Dia mengepalkan tangannya yang sudah terasa sangat dingin, hingga hampir mati rasa.
"Selamat siang semuanya, perkenalkan ini adalah istri Tuan Ervin, yaitu Nyonya Larasti. Mulai besok, beliau akan menggantikan posisi saya di perusahaan ini." Dedrik berucap lantang dan tanpa ragu, memperkenalkannya pada para pemegang saham dan para petinggi perusahaan.
"Apa maksudmu, Tuan Dedrik, Memangnya Anda mau ke mana?" tanya salah satu petinggi kantor yang memang tidak suka dengan kepemimpinan Ervin.
"Saya akan menemui Tuan Alfredo dan membantunya di sana. Semantara itu, posisi saya akan digantikan oleh Nyonya Laras," jawab Dedrik.
"Anda tidak salah? Dia bahkan belum memiliki pengalaman kerja. Bagaimana bisa dia memimpin perusahaan ini?"
"Iya benar. Kami tidak setuju jika dia menggantikan Anda."
Laras menatap Dedrik dengan hati yang mulai gusar, walau begitu dia terus berusaha untuk tetap tenang. Namun, sesaat kemudian perhatiannya teralihkan pada seseorang yang terasa familiar dalam ingatannya. Laki-laki itu tampak hanya menatap intens padanya sambil menyeringai tipis.
Kerutan di kening Laras terlihat sambil berhumam pelan dengan rasa penasaran di dalam hatinya. "Roland? "
...❤🩹...
"Apa Bapak gak bisa mengundur lagi keberangkatan ke Texas? Sepertinya mereka belum bisa menerima aku untuk menggantikan Bapak di sini," ujar Laras ketika keduanya dalam perjalanan pulang dari kantor. Mengingat penolakan dari para petinggi perusahaan membuat Laras semakin ragu akan bisa melakukan tugas untuk memimpin perusahaan.
"Maaf, Nyonya, saya tetap harus pergi besok pagi. Tenang saja, saya yakin Anda bisa mengatasi semua itu. Pro kontra dalam sebuah keputusan pasti akan selalu ada, tinggal bagaimana kita menghadapinya saja ... mengabaikan atau menjadi beban?" jawab Dedrik dengan nada bicara yang sangat tenang.
Laras menatap wajah Dedrik lekat, laki-laki berumur lima puluh tahunan itu terlihat sangat bijaksana dalam mengambil keputusan, semua ucapannya pun tidak ada yang bisa dia ragukan, begitu penuh pertimbangan dan kehati-hatian. Namun, semua itu yang membuat Laras menjadi merasa terbebani dalam menggantikan Dedrik.
__ADS_1
"Anda harus tahu, jika saya ke Texas bukan hanya untuk memenuhi keinginan Tuan Alfredo, saya juga akan menyelidiki rumah sakit tempat Tuan muda menunggu antrian pendonor mata. Saya merasa ada sesuatu di sana, hingga setelah beberapa kali kesempatan untuk mendapatkan pendonor, selalu saja dibatalkan di akhir bahkan secara tiba-tiba," jelas Dedrik. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya ke depan, seolah sedang menerawang dan mengingat lagi apa yang terjadi belakangan ini.
"Maksud Bapak, ada seseorang yang sengaja membuat Tuan Ervin tidak mendapatkan pendonor?" tanya Laras dengan kening berkerut dalam. Tiba-tiba saja jantungnya berdebar lebih cepat, ada rasa marah saat dia mendengar sesuatu yang janggal terjadi pada Ervin.
"Benar," angguk Dedrik.
"Kira-kira siapa yang tega berbuat begitu sama Tuan Ervin?" tanya Laras lagi sambil menatap Dedrik penuh selidik.
"Saya sudah mencurigai seseorang, tapi tanpa adanya bukti saya belum bisa mengungkapkannya pada Anda, maaf," jawab Dedrik.
"Tidak apa, Pak. Aku bisa mengerti," angguk Laras.
"Anda juga harus berhati-hati dengan tuan Ronald." Dedrik kembali berbicara hingga membuat Laras menatapnya penuh.
"Bukankah dia andik tiri tuan Ervin? Kenapa aku harus berhati-hati dengannya?" tanya Laras dengan kening berkerut dalam. Sebenarnya ketika di kantor dia juga sedikit janggal dengan sikap Roland padanya yang bahkan sama sekali tidak menyapa.
"Jangankan adik tiri, bahkan saudara kandung saja bisa saling menghancurkan jika itu tentang harta."
...❤🩹...
"Untuk apa kamu melamar kerja di tempat lain, Dion? Perusahaan Papi bahkan bisa memberikan tempat apa pun yang kamu mau." Seorang wanita paruh baya tampak berbicara dengan anak laki-lakinya di ruang keluarga rumah yang terasa mewah.
"Biarkan saja, Mami. Papi lebih senang kalau dia mau bekerja dari nol di perusahaan orang lain."
"Nah, Papi aja setuju. Pokoknya aku akan kerja di perusahaan itu," ujar Dion dengan penuh keyakinan.
"Terserah kamu saja lah. Dasar ... anak sama ayah sama saja!" kesal wanita paruh baya itu.
"Kalau gitu besok pagi aku mulai kerja," sambut Dion dengan penuh semangat.
"Apa?! Jadi kamu sudah melamar kerja di sana?"
__ADS_1
"Aku sudah memenuhi semua syaratnya dan besok mulai bekerja," angguk Dion yang menambah frustasi ibunya.
Bagaimana tidak? Dion adalah anak satu-satunya, dan sekarang malah memilih kerja di perusahaan orang, alih-alih bekerja di perusahaan ayahnya, sebagai penerus.
Bagaimanapun caranya, aku akan tetap berada di samping Laras. Aku akan memastikan kalau dia hidup dengan baik dan tidak dimanfaatkan oleh keluarga itu, batin Dion dengan seringai tipis di bibirnya.
...❤🩹...
Pagi harinya, Dedrik benar-benar pergi ke Texas. Laras mengantarnya sampai di depan pintu, sementara Ervin bahkan tak menemui Dedrik dari semalam. Laki-laki itu memilih mengurung diri di kamarnya, demi menghindari Dedrik. Dia bahkan tak membiarkan Dedrik untuk masuk ke kemarnya dan berbicara dengannya.
"Maafkan Ervin ya, Pak. Dia hanya tidak mau melepaskan Bapak, aku yakin di dalam hatinya, dia pasti merasa sangat sedih," ujar Laras ketika keduanya sudah berada di teras rumah.
"Saya tau, Nyonya. Sejak kecil, tuan muda memang seperti ini ketika sedang merajuk. Saya sudah terbiasa dengan semua itu," jawab Dedrik sambil terkekeh ringan, walau dalam hati dia merasa bersalah dan tidak nyaman ketika tidak melihat wajah Ervin lebih dulu sebelum meninggalkannya.
"Ah iya, aku lupa kalau Bapak lebih lama berada di samping Tuan Ervin." Laras tersenyum canggung saat mengingat semua itu.
"Saya titip tuan muda, Nyonya. Kabari saya jika terjadi sesuatu, saya akan berusaha membantu sebisa saya dari sana. Saya tau, jalan Anda kedepannya mungkin tidaklah mudah, tapi, saya harap Anda tetap setia berada di sampaing tuan muda, " ujar Dedrik lagi sambil tersenyum tipis.
"Tentu, Pak. Hati-hati di jalan, jangan lupa beri kabar jika sudah sampai di Texas." Laras berujar dengan rasa sesak yang tiba-tiba melanda hatinya.
"Pasti. Sampai jumpa lagi, Nyonya," ujar Dedrik sambil membungkuk kilas, kemudian berbalik dan masuk ke dalam mobil yang sudah siap mengantarnya ke bandara.
Laras tersentak ketika merasakan bulir halus yang membasahi pipinya. Tangannya mengusap bekas air mata di pipinya dengan senyum hambar. Walau, dirinya belum mengenal lama Dedrik, tetapi entah mengapa, dia merasa sudah begitu dekat dengan Dedrik.
Semoga, suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi, Pak, batin Laras. Dia berbalik dan masuk kembali ke rumah untuk bersiap berangkat ke kantor.
Sementara itu, dari lantai dua rumah, Ervin berdiri di kaca kamarnya dengan menatap lurus ke luar. Tangannya mengepal erat, menahan sesak yang terasa begitu menyiksa di dalam dadanya.
Laras yang baru saja masuk ke dalam kamar, mencebik kesal ketika melihat punggung tegap Ervin yang tega mengacuhkan Dedrik di saat laki-laki itu hendak pergi dari sana. "Gak nyangka, di balik wajah datarnya, dia malah kayak anak kecil kalau lagi ngambek, pake mogok ngomong dan ngunci diri di kamar segala."
Ervin mengeratkan kepalan tangannya ketika telinganya mendengar jelas ucapan samar Laras, wajahnya pun tampak berubah merah padam dengan rahang yang mengeras hingga pembuluh darah di leharnya tampak menonjol.
__ADS_1
Entah apa yang akan dia lakukan pada Laras selanjutnya? Hanya Ervin saja yang tahu.