
"Ombaknya gak terlalu tinggi. Lautnya juga terlihat berwarna biru. Ah, langitnya juga sangat cerah." Laras menceritakan apa yang dia lihat di sekitarnya. Keduanya menikmati waktu bersama di tempat yang terasa menenangkan, bagi Laras maupun Ervin.
"Ervin?" Laras yang mendengar seseorang memanggil nama suaminya pun menghentikan langkahnya, lalu menoleh cepat.
"Iya, ini beneran kamu kan, Vin?" tanya laki-laki muda bermata sipit dengan wajah tampak tidak seperti orang lokal.
"Siapa ya?" Laras mengambil alih pembicaraan saat melihat Ervin tak berbicara apa pun.
"Ini gue, Key ... Kiyoshi," jawab laki-laki itu dengan mata tak lepas dari Ervin.
"Kita pergi dari sini," bisik Ervin pada Laras.
"Tapi, Tuan--"
"Ayo," desak Ervin.
"Maaf." Laras mengangguk pelan pada laki-laki yang mengaku bernama Key itu, kemudian menuntun Ervin lagi untuk berjalan pergi dari sana.
"Vin, tungu!" Key berlari mengejar Ervin yang berjalan semakin cepat.
"Vin, gue minta maaf soal Elena. Gue gak bermaksud selingkuh sama dia. Semua itu salah paham, lo harus dengerin penjelasan gue dulu," ujar Key dengan wajah memelas.
Namun, semua itu tidak membuat Ervin mau membuka hatinya. Sebaliknya, laki-laki itu malah berjalan lebih cepat lagi, hingga tanpa sadar membuat Laras cukup kesulitan mengimbangi langkahnya.
Laras pun menuntun Ervin untuk masuk ke dalam mobil lebih dulu kemudian hendak berbalik untuk menemui Key. Namun, belum sempat dia menegakkan tubuhnya kembali, Ervin terlebih dulu menahan tangannya.
"Aku akan menyelesaikannya. Tuan, tunggu sebentar," ujar Laras sambil melepas tangan Ervin.
Ervin pun perlahan mengendurkan tangannya dan melepaskan tangan Laras. Dia menghembuskan napas pelan sambil menegakkan tubuhnya dengan rasa aneh di dalam dada.
"Maaf, Taun Kiyoshi, bisa kita berbicara sebentar," ujar Laras sopan.
Key tampak terdiam dengan pandangan tak lepas dari pintu mobil Ervin.
"Mari," ujar Laras lagi sambil mempersilahkan Key untuk berjalan lebih dulu, sedikit menjauh dari mobil.
Kiyoshi menghembuskan napas lelah lalu memilih untuk mengikuti Laras dengan langkah lunglai. Keduanya berbicara cukup lama, hingga akhirnya Laras bisa meyakinkan Kiyoshi untuk pergi lebih dulu dan jangan memaksakan keinginannya pada Ervin, mengingat kondisi Ervin yang sekarang.
"Jadi, Ervin sudah kehilangan penglihatannya sejak tiga tahun lalu?" tanya Key yang tidak tahu menahu tentang Ervin, setelah kejadian yang memisahkan persahabatan mereka.
"Benar, Tuan. Maka dari itu, saya harap Anda bisa mengerti dan memberikan waktu lebih lama lagi untuk Tuan Ervin," angguk Laras.
Ervin menghembuskan napas berat, lalu mengangguk perlahan, walau raut wajahnya menunjukkan ada penyesalan di sana.
"Terima kasih atas pengertiannya, Tuan." Laras pun berpamitan pada Key dan segera kembali ke mobil.
__ADS_1
"Kita ke mana lagi sekarang?" tanya Laras sambil duduk di samping Ervin.
"Pulang," jawab Ervin dengan wajah yang tampak berubah datar kembali.
Laras menghembuskan napasnya pelan, kemduian menyentuh lengan Ervin yang tampak mengepal kuat, sambil berkata dengan nada halus. "Gak usah dipikirin, dia gak akan pernah ganggu waktu kita lagi, hem?"
Ervin terdiam dengan mata mengerjap pelan. Entah mengapa, dia merasa api amarah dan kekesalannya perlahan mulai menurun saat Laras menyentuh tangannya?
"Gimana kalau malam ini kita menginap di sekitar pantai? Kata orang, suasana pantai bisa membuat kita merasa lebih tenang," ujar Laras sambil tersenyum senang.
"Pulang," jawab Ervin sambil menyandarkan tubuhnya dan menutup mata.
Laras menghembuskan napas pelan, kemudian mengangguk. "Baiklah, sekarang kita pulang."
Sampai di rumah, Ervin masih saja terlihat murung. Laki-laki itu kembali pada mode awal yang dingin dan jarang bicara. Ervin langsung masuk ke kamar dan membersihkan diri, dia bahkan tak ke luar lagi sampai waktu makan siang. Sementara itu, Laras memilih untuk masuk ke ruang kerja dan kembali sibuk dengan berkas yang seolah tidak ada habisnya.
...❤🩹...
Hari sudah berganti malam, Laras masuk ke kamar yang sudah tampak gelap. Awalnya, dia pikir kalau Ervin sudah tidur dan tidak lagi menunggunya seperti biasa. Namun, sesaat kemudian dia kembali dikejutkan ketika melihat laki-laki itu masih duduk tegap di atas ranjang dalam keadaan ruangan gelap gulita.
Astaga, apa dia gak bosen buat aku jantungan terus?! gerutu Laras sambil mengelus dada.
"Kenapa gelap-gelapan? Sengaja ya, biar aku kaget?" tanya Laras sambil berjalan menghampiri Ervin yang tampak mulai bereaksi.
Laras menghembuskan napas pelan. Rasa iba di dalam hatinya semakin terasa, ketika dia melihat keadaan Ervin yang seperti ini. Setelah mengganti pakaian tidur, Laras pun ikut duduk di samping Ervin yang masih menunggunya.
"Ada apa? Tuan masih memikirkan kejadian di pantai?" tanya Laras yang sudah tidak tahan dengan sikap Ervin yang terus terlihat murung.
"Makasih," gumam Ervin tiba-tiba. Laras bahkan langsung menatap Ervin dengan wajah tak percaya. Setelah sekian lama mereka bersama, tidak pernah sekali pun Ervin mengatakan kata itu padanya.
"Apa Tuan sedang sakit?" tanya Laras dengan wajah polosnya, sambil menempelkan punggung tangan di kening Ervin.
"Enggak demam?" gumamnya lagi sambil menempelkan punggung tangannya yang lain di keningnya sendiri.
"Ish!" Ervin mengambil tangan Laras yang berada di keningnya sambil berdecak kesal. Laki-laki itu kemudian berdehem pelan, karena tiba-tiba saja merasa canggung.
"Kalau gak demam, apa Tuan sedang bermimpi?" tanya Laras lagi terlapau linglung.
"Ayolah, apa kamu sebodoh ini?" desah Ervin yang tidak bisa lagi menahan kekesalnnya saja. Dia hanya ingin mengucapkan terima kasih, tetapi kenapa urusannya jadi panjang begini?
"Jadi, Tuan beneran bilang makasih sama aku? Waah, daebak!" Laras menatap wajah prustasi Ervin dengan sorot mata takjub dan tidak percaya.
"Enggak usah berlebihan, itu kan cuman sebuah kata," ujar Ervin sambil menoleh ke sembarang arah.
"Iya, itu emang cuma sebuah kata sederhana, tapi kalau ke luar dari mulut Tuan, jadi luar biasa," angguk Laras.
__ADS_1
"Terserah kamu saja, aku tidak peduli." Ervin memilih untuk merebahkan tubuhnya dengan posisi memunggungi Laras.
"Tapi, aku peduli! Pokoknya hari ini harus dicatat di memo biar jadi kenangan," ujar Laras sambil mengambil ponselnya dan mencatat di sana.
"Hari sabtu, 4 April, pukul 00.29 pertama kali Tuan Ervin mengatakan kata terima kasih padaku," ujarnya lagi, sambil menuliskan semuanya di aplikasi memo.
Ervin melirik sekilas ke arah Laras, ketika mendengar ucapan wanita itu. Senyum tipis terukir di wajahnya, walau kemudian dia menghembuskan napas pelan sambil menutup mata, bersiap untuk menuju ke alam mimpi.
Sementara itu, Laras masih asik dengan kebahagiaannya karena mendapatkan kata terima kasih dari Ervin. Walaupun itu sangat singkat, tetapi nyatanya itu sungguh sangat berarti untuk Laras.
Gak nyangka, Ervin memiliki sisi lembut dan hangat juga. Aku kira dia hanya tau ekspresi dingin saja, guamamnya dalam hati. Matanya melirik kilas tubuh Ervin yang berbaring miring di sampingnya, kemudian terkekeh ringan.
Laras sempat tertegun saat matanya tak sengaja melihat wajah tenang Ervin ketika sedang tertidur lelap. Entah apa yang sebenarnya dia rasakan sekarang pada Ervin? Laras hanya merasa ada yang tidak nyaman di dalam hatinya setiap kali dia melihat wajah Ervin. Entah itu iba, kasihan, atau hanya sekedar kesal karena merasa dimanfaatkan?
"Mulai saat ini, aku janji akan menjadi mata untuk Tuan. Jadi, Tuan gak perlu sungkan lagi nanya apa pun sama aku. Aku akan menceritakan apa pun yang aku lihat sama Tuan."
"Eh?!" Laras langsung menutup mulutnya sendiri kala dia menyadari apa yang baru saja terucap. Matanya terbuka lebar menatap wajah Ervin, memastikan laki-laki itu memang sudah tidur dan tidak dapat mendengar ucapannya.
"Ah, bodo amat. Mending aku tidur," ujarnya, memilih bersiap untuk merebahkan diri di samping Ervin.
"Oke, waktunya tidur, besok kita kerjakan rencana lain," ujarnya lagi sambil mulai menutup mata dan segera mengikuti Ervin ke alam mimpinya.
Tanpa Laras sadari, Ervin membuka matanya sambil menghembuskan napas pelan. Rasanya begitu hangat di dalam hati, kala mendengar ucapan Laras yang terdengar tulus untuknya.
...❤🩹...
Waktu menunjukkan pukul lima pagi saat Laras menggeliatkan tubuhnya sambil mengerjap pelan. Namun, keningnya mengernyit pelan ketika merasakan sesuatu yang terasa berat di atas perutnya.
Apa ini? gumamnya sambil meraba sesuatu yang menimpa di sana. Namun, ketika Laras telah sadar sepenuhnya dan bisa mengetahui apa yang ada di sana, Laras langsung melebarkan matanya sambil membungkam mulutnya yang hampir saja berteriak kencang.
"Astaga, kenapa dia lakukan ini padaku? Apa karena semalam sudah bilang makasih, jadi dia sudah berani menyentuhku begini?" gerutu Laras sambil meringis pelan.
Bagaimana dia tidak terkejut, jika dia mendapati wajah Ervin tepat berada di samping kepalanya hingga napasnya saja bisa menerpa pipi Laras dengan begitu leluasa? Sementara, tangan Ervin pun dengan nyaman memeluk perutnya hingga kini tubuh mereka merekat erat.
"Ish, gimana caranya aku bisa lepas dari kungkungan laki-laki mesum ini?" gumam pelan Laras sambil mulai memegang tangan Ervin dan mencoba mengangkatnya.
"Ya ampun, kenapa tubuhnya berat sekali, padahal kalau di lihat, dia sama sekali tidak berotot." Laras sudah cukup tertekan, dia memiliki sebuah rencana untuk mengembalikan suasana hati Ervin pagi ini, tetapi kenapa sekarang dia malah terjebak di tangan suaminya?
"Ayo coba satu kali lagi. Kamu pasti bisa, Ras," gumam Laras sambil mulai mengangkat tangan Ervin dan memindahkan tubuh laki-laki itu dari atasnya dengan sangat hati-hati. Namun ....
"Eugh ..." Ervin malah mengeratkan pelukannya hingga ujung hidung laki-laki itu menempel di pipi Laras.
"Astaga." Laras mengedip pelan dengan tubuh mematung. Semua yang sebelumnya dia lakukan, kini tak lagi berarti, karena kedua tangannya pun sudah berada di dalam pelukan laki-laki itu. Laras hanya bisa meringis pelan sambil menghembuskan napas pasrah. Sepertinya rencananya pagi ini, tidak akan bisa terjadi.
"Tega banget sih Tuan sama aku, masa pagi-pagi udah diiket gini."
__ADS_1