
Ervin membuka matanya kembali setelah dirinya sama sekali tidak bisa tertidur, karena pikirannya yang tidak bisa lepas dari wanita yang baru dinikahinya. Sikap Laras yang memilih tidur di atas lantai daripada tidur satu ranjang dengannya, memang cukup membuat Ervin kepikiran.
Bukan hanya harga dirinya yang terasa sedikit tersentil karena menganggap Laras memang tidak mau tidur dengannya yang buta, tetapi dia juga kesal karena sisi gantle dalam dirinya merasa jatuh, jika membiarkan seorang wanita tidur sendiri di atas lantai sementara dirinya berbaring nyaman di ranjang.
"Ck!" Ervin berdecak pelan sambil menyingkirkan selimutnya dengan kasar dan beranjak bangun.
Laki-laki itu kemudian mulai melangkahkan kakinya perlahan dan berjalan menuju sisi lain ranjangnya, di mana Laras tertidur hanya beralaskan karpet bulu. Namun, kemudian langkahnya terhenti dengan tubuhnya yang hampir saja terjatuh, ketika kakinya tak sengaja tersandung kaki Laras.
"Ya ampun," gumamnya sambil menggeleng pelan. Pengetahuannya tentang denah rumah dan kamarnya kini harus diperbaharui lagi, gara-gara Laras yang tidur sembarangan.
Perlahan Ervin mulai kembali berjalan sambil meraba sekitarnya agar tidak kembali tersandung tubuh Laras. Saat kira-kira dirinya sudah berdiri di sampimg tubuh Laras, Ervin mulai berjongko kemudian menyelipkan kedua tangannya di bawah pundak dan kaki Laras, lalu mengangkatnya dan memindahkannya ke atas ranjang.
Wanita itu tampak hanya menggeliat ketika sudah berpindah ke ranjang, sementara Ervin memilih kembali memutari ranjang dan tidur di samping Laras. Setelah melakukan semua itu, ternyata tidurnya kembali tidak tenang, karena Laras yang tidur dengan terus bergerak hingga menggagu dirinya.
Ervin pun memutuskan untuk bangun dan masuk ke kamar mandi dengan wajah yang terlihat tidak terlalu segar karena kurang tidur. Namun, begitu dia ke luar dari kamar mandi, telinganya jelas mendengar suara pergerakan seseorang di ranjangnya. Bahkan Ervin sempat terdiam lebih dulu beberapa saat untuk memastikan tebakannya sebelum mulai membuka suara.
"Sedang apa kamu?" tanyanya dengan tatapan lurus dan wajah datarnya.
Laras terkejut bukan main ketika suara Ervin tiba-tiba saja terdengar tanpa dia tahu kedatangan laki-laki itu lebih dulu.
Apa dia terbang? Kenapa aku selalu tidak bisa mendengar langkah kakinya? gumam Laras dalam hati.
"I--ini, aku lagi beresin tempat tidur," jawab Laras sedikit tergagap.
Ervin tak menjawab, dia memilih untuk ke luar dari kamar tanpa memperdulikan Laras lagi.
"Heuh." Laras menghembuskan napasnya kasar, ketika melihat laki-laki yang selalu saja membuatnya tegang itu akhirnya ke luar dari kamar.
"Satu ruangan sama dia, kayak lagi ada di kandang singa. Bikin deg degan mulu," gumamnya sambil bergidik ngeri kemudian memeluk dirinya sendiri sambil melanjutkan perkataannya. "Uh, serem."
...❤️🩹...
Ervin bertemu dengan Dedrik di lantai satu rumahnya, laki-laki paruh baya itu sudah siap menyambut kedatangan Ervin di depan lift.
"Selamat pagi, Tuan. Bagaimana tidur Anda malam ini?" tanya Dedrik begitu dia melihat Ervin keluar dari lift.
"Pagi, Dedrik," angguk samar Ervin.
__ADS_1
"Anda ingin berolahraga pagi ini?" tanya Dedrik ketika melihat baju yang dikenakan oleh Ervin.
Ervin mengangguk samar sebagai jawaban kemudian kembali melangkahkan kakinya mendahului Dedrik menuju ke halaman belakang.
"Anda tidak turun bersama Nyonya?" tanya Dedrik sambil mengikuti langkah Ervin.
Ervin menghentikan langkahnya sesaat begitu mendengar kata Nyonya dari Dedrik, keningnya pun tampak berkerut tipis. Dedrik yang melihat reaksi tuannya itu ikut berhenti sambil menunggu jawaban yang akan Ervin katakan.
Namun, ternyata Dedrik harus menahan kecewa ketika sedetik kemudian Ervin kembali melanjutkan langkahnya dengan wajah yang berubah datar, sama seperti biasanya.
"Beri tahu dia semua jadwal harianku dan jelaskan apa tugasnya," ujar Ervin sambil berdiri di depan rumah anjing yang tampak cukup mewah itu.
"Jojo," panggilnya.
Sementara Dedrik langsung membuka pintu rumah anjing itu, hingga peliharaan yang selama ini selalu menemani Ervin ketika ingin ke luar rumah pun datang menghampiri Ervin.
Dedrik memakaikan kalung untuk mengaitkan tali pada tubuh Jojo kamudian memberikan tali itu pada Ervin.
"Anda bena-benar tidak mau ditemani?" tanya Dedrik lagi. Laki-laki itu masih saja merasa khawatir setiap kali Ervin ke luar rumah sendiri, walau sudah ada Jojo yang melindunginya.
Jojo adalah anjing terlatih yang memang sudah bertugas untuk menjadi petunjuk jalan sekaligus pelindung untuk Ervin ketika berada di luar rumah.
Dedrik menatap kepergian Ervin dengan rasa iba di dalam hatinya. Dia menghembuskan napas berat kemudian mengalihkan perhatiannya pada balkon di lantai dua rumah itu, di mana itu adalah balkon kamar Ervin yang sekarang sudah tidak pernah digunakan lagi, setelah Ervin kehilangan penglihatannya.
...❤️🩹...
"Sayang, kamu tidak memberi selamat sama kakak tirimu? Aku dengar dia baru saja menikah." Seorang wanita tampak menyandarkan kepalanya manja di dada polos laki-laki yang bersandar di kepala ranjang. Setengah tubuh polos keduanya tampak tertutup selimut setelah permainan panas yang dilakukan mereka tadi malam.
"Nanti saja lah. Lagian, aku yakin pernikahan ini hanya sebuah sandiwara. Mana ada wanita yang mau menikah dengan laki-laki buta seperti dia," jawabnya sambil tersenyum sarkas. Tangannya terus mengelus rambut wanitanya.
Wanita itu terkekeh ringan, menanggapi ucapan prianya. Jari lentiknya asik bermain di wajah sang pria dengan gerakan yang menggoda.
"Benar juga. Aku yakin, kakak tirimu paling dimanfaatkan oleh wanita yang menginginkan hartanya."
"Wanita itu tidak tahu akan berhadapan dengan siapa. Laki-laki buta itu bahkan tidak pantas untuk hidup, apa lagi mewarisi semua harta itu," ujarnya dengan nada remeh.
"Lihat saja, sebentar lagi, aku akan menguasai semua perusahaannya di sini," sambungnya lagi.
__ADS_1
...❤️🩹...
Laras baru saja membuka pintu kamarnya, ketika seorang pelayan mengatakan jika Dedrik sudah menunggunya di lantai bawah. Wanita itu pun segera melangkahkan kakinya untuk menemui laki-laki yang sudah mengatur pernikahannya dengan Ervin.
"Selamat pagi, Pak. Bapak, memanggil saya?" tanya Laras begitu dia sampai di depan laki-laki setengah baya itu.
"Ah iya, Nyonya. Hari ini saya akan memberitahu Anda tentang semua keseharian Tuan Ervin dan apa saja yang perlu Anda lakukan setelah saya pergi," ujar laki-laki itu sambil memberikan beberapa berkas pada Laras.
Laras menerima semua berkas itu dan membacanya dengan seksama. Kerutan halus tampak muncul beberapa kali ketika wanita itu mencoba memahami semua yang tertulis di sana.
"Untuk hari ini, Anda cukup memahami apa yang ada di sana lebih dulu. Besok pagi akan saya beritahu tugas Anda yang lainnya sebagai seorng istri dari Tuan Ervin." Dedrik kembali bersuara setelah dia memperhatian Laras kurang lebih lima belas menit.
Laras mengangkat kepalanya cepat dengan mata yang terbuka sempurna. "Masih ada lagi?"
"Semua ini hanya menjelaskan tentang keseharian tuan Ervin, sementara tugas Anda yang sesungguhnya akan saya jelaskan besok," jawab Dedrik sambil tersenyum kecil.
Dia tahu jika Laras pasti akan sangat terkejut dengan semua ini, tetapi melihat reaksi wanita itu yang tampak lucu malah mebuatnya tak bisa menahan senyum.
"Baiklah. Aku akan mencoba menghafal semuanya," jawab Laras dengan wajah yang sudah terlihat lelah, walau dia bahkan belum memulai semua ini.
"Oh iya, Tuan Ervin ke mana ya? Aku tidak melihatnya setelah ke luar dari kamar," tanya Laras sambil mengedarkan pandangannya.
"Ah, tuan muda sedang berjalan-jalan di sekitar rumah, sebentar lagi juga pasti akan kembali," jawab Dedrik.
"Kebetulan sekali, aku juga ingin ke luar. Aku akan menyusulnya," ujar Laras sambil menyimpan semua berkas di tangannya ke atas meja kemudian berdiri dengan penuh semangat.
Setelah berpusing ria dengan segala tugas kuliah lalu menyusun skripsi dan mempersiapkan diri untuk wisuda, dirinya bahkan belum sempat menghirup udara segar. Rasanya sekarang Laras ingin berjalan-jalan ke luar sebentar sebelum otakanya kembali diperas oleh semua berkas yang harus dia pelajari dari Dedrik.
"Tapi, Nyonya--"
"Aku akan pulang sebelum tuan Ervin kembali!" teriak Laras sambil berlari ke luar rumah besar itu.
Tuan Dedrik hanya menggeleng lemah ketika melihat tingkah Laras yang masih kekanakkan. Hatinya menjadi sedikit ragu untuk menyerahkan semua tanggung jawabnya pada gadis yang baru saja lulus kuliah itu.
"Semoga saja keputusanku tidak salah," gumamnya penuh harap.
Sementara itu, Laras yang sudah sampai di depan rumah kini tampak mulai membuka gerbang. Namun, baru saja dia melewati pagar besi itu, sebuah mobil sport tampak berhenti tepat di depannya. Laras mengerjap beberapa kali akibat terkejut dengan apa yang terjadi di depannya.
__ADS_1
Belum sempat berekasi, dia kembali dikejutkan ketika melihat pintu mobil sport itu mulai terbuka kemudian seorang lelaki tampak ke luar dari dalam sana lalu berdiri di depannya sambil tersenyum dan memyapanya. "Hai, cantik."