Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.48 Pengakuan


__ADS_3

Dion menyalakan api unggun ketika hari sudah mulai malam, selain untuk menghangatkan suasana malam yang terasa semakin dingin, api unggun juga bertujuan untuk penerangan alami. Walau di sana sudah disediakan lampu kecil yang bersinar kekuningan, tetapi rasanya tidak lengkap jika perkemahan tidak menyalakan api unggun.


"Ayo kita buat barbequ untuk menu makan malam hari ini," ujar Laras sambil membawa daging yang sudah dimarinasi dan beberapa pelengkap lainnya.


"Aku mau sosis!" teriak Nessa sambil berlari menghampiri Laras.


Sementara itu, Dion dan Nevan bertugas untuk menyiapkan api dan panggangan untuk barbequ malam ini.


"Kemarikan dagingnya, biar kita saja yang memanggang," ujar Dion yang diangguki juga oleh Nevan. Mereka memang sering melakukan perkemahan, dan selama itu urusan memasak akan menjadi tugas para lelaki, sementara para wanita akan menyiapkan hal lain. Mereka berbagi tugas dengan sangat baik, hingga tidak ada yang merasa diberatkan.


Sementara itu, dari tenda yang lain, Ervin malah menikmati mie instan sambil melihat pemandangan yang membuat hatinya iri sekaligus merasakan kesenangan dan ketenangan yang selama ini seakan hilang dari hidupnya.


"Kamu cantik, Laras. Senyummu persis sama seperti yang aku bayangkan dulu. Tulus dan penuh kasih sayang," gumam Ervin tanpa mengalihkan perhatiannya dari keempat orang yang masih sibuk dengan acara mereka sendiri.


Jam sepuluh malam, Nevan dan Nessa pun berpamitan untuk tidur lebih dulu. Walau sedang tidak berada di rumah, keduanya tetap melakukan kebiasaan mereka dan tidur tepat waktu. Laras pun ikut ke dalam, untuk menemani kedua anaknya hingga lelap.


Sementara itu, Dion masih bertahan di luar. Menikmati udara malam yang dingin adalah salah satu kenikmatan yang hanya dia bisa lakukan sewaktu-waktu saja, mengingat jadwal pekerjaaannya yang selalu menyita banyak waktu. Itu sebabnya, dia selalu mengajak Nevan dan Nessa untuk berlibur, ketika ada waktu luang bersama.


Namun, ketenanganannya tiba-tiba terusik ketika dia tidak sengaja melihat seseorang dari salah satu tenda tetangga. Pria yang tidak asing, walau pencahayaan malam itu memang tidak terlalu terang.


"Bukannya dia Ervin? Apa dia berusaha untuk mengikuti kami ke sini?" gumam Dion dengan mata memicing.


Dion mulai membawa kakinya melangkah menghampiri lelaki yang dia curigai adalah Ervin. Sungguh, dia tidak mau kehadiran Ervin akan menghancurkan suasana hati Laras dan liburan mereka.


"Ervin?" tanya Dion begitu sampai di tenda single yang berada tidak jauh dari tendanya.


Pria yang hendak masuk ke tenda pun kembali menegakkan tubuhnya dan berbalik menghadap Dion. Ervin pun cukup terkejut ketika melihat keberadaan Dion di depannya. Namun, walau begitu dia berusaha untuk bersikap normal.

__ADS_1


"Tuan Dion? Anda juga ada di sini? Wah, kebetulan sekali, ya," ujar Ervin sambil berjalan menghampiri Dion lalu mempersilahkannya untuk duduk di depan tenda sewa miliknya. Ternyata cepat juga dirinya ketahuan, padahal sudah berusaha untuk bersembunyi dari pandangan Dion dan Laras.


"Untuk apa kamu ada di sini?" Dion sudah muak berpura-pura baik di depan Ervin, dia bahkan tidak lagi mengidahkan etika berbicara dengan sesama pengusaha. Yang ada di depannya sekarang bukanlah Ervin seorang pengusaha, tetapi Ervin yang merupakan mantan suami adik perempuannya.


Ervin mengernyitkan keningnya, walau dia tahu maksud dari pertanyaan Dion, tetapi dia juga belum mau ketahuan secepat ini. Apa lagi nada bicara Dion yang terasa kurang bersahabat, membuatnya harus lebih berwaspada lagi.


"Apa maksud Anda, Tuan? Seperti yang Anda lihat, saya sedang berkemah di sini," jawab Ervin santai. Senyum tipis pun terlihat menghiasi wajahnya.


"Sudahlah, Ervin. Aku tahu niat busukmu mengikuti kami ke sini. Tapi, jangan harap kamu bisa mendekati mereka, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah membiarkan kamu kembali menghancurkan kehidupan adikku," geram Dion. Dia menatap tajam Ervin. Tangannya pun mengepal erat, menahan emosi yang membujuknya untuk memberikan pukulan pada laki-laki yang telah mempermainkan perasaan Laras hingga kedua keponakannya tidak merasakan kasih sayang seorang ayah. Namun, untung saja Dion masih cukup waras untuk meredam semua perasaan bencinya.


Setelah mengucapkan itu semua, Dion segera kembali ke tendanya tanpa mendengar jawaban dari Ervin. Baginya, cukup dia memberikan peringatan pada Ervin, tanpa mendengar apa pun alasan yang hanya akan menjadi sebuah omong kosong untuknya.


Namun, langkahnya terhenti ketika dia melihat Laras yang juga sedang menatapnya dengan sorot mata rumit. Dion merasa sudah tertangkap basah, dia mengusap tengkuknya untuk menghilangkan rasa canggung.


"Anak-anak sudah tidur?" tanyanya kemudian, sambil menghampiri wanita itu dengan langkah pelan.


"Tidak! Aku sama sekali tidak tahu kalau dia juga ada di sini," jawab Dion tegas. Namun, Laras tak bergeming.


"Ras--" Dion mencoba meraih tangan Laras, tetapi wanita itu langsung menjauh. Tatapan Laras masih saja tertuju pada Ervin yang juga masih berdiri di tempatnya.


"Jika ada orang lain yang membeci Ervin, maka itu adalah aku, Ras. Kamu tentu tau itu, bukan? Aku bahkan sudah membencinya, sebelum dia menyakitimu, Ras," ujar Dion, berusaha meyakinkan Laras, jika dia tidak akan pernah bekerja sama dengan Ervin, apa lagi untuk mempertemukan Laras dan Ervin lagi.


"Aku capek, aku tidur duluan," ujar Laras setelah lama terdiam, dia pun langsung berbalik dan kembali ke tenda dengan langkah cepat, tanpa menunggu jawaban dari Dion.


"Tapi, Ras--" Ucapan Dion terputus karena Laras yang sudah terlanjur masuk ke dalam tenda. Dia menghembuskan napas kasar dengan tatapan masih tertuju pada pintu masuk tenda yang sudah tertutup rapat.


"Baiklah, aku juga akan pergi ke tendaku. Selamat malam, Ras," ujar Dion, lalu membawa kakinya melangkah menuju tenda single yang berada tepat di sisi tenda Laras yang berukuran lebih besar.

__ADS_1


...❤‍🩹...


Laras sama sekali tidak bisa tidur, pertemuannya dengan Ervin membuat pikiran dan perasaannya kacau balau. Malam sudah mendekati dini hari, ketika Laras memutuskan untuk ke luar dari tenda. Dia menggosok kedua tangannya ketika hawa dingin menusuk tulang menyambut.


Laras duduk di kursi lipat yang sudah tersedia di depan tenda, dia sandarkan tubuhnya hingga kepalanya mendongak menatap langit malam yang terlihat gelap di sela dedaunan rindang di atasnya.


Ribuan bintang terlihat menghiasi langit malam, hingga membuat dia tampak terdiam dan larut dalam pikirannya sendiri.


"Di sana ada rasi bintang biduk, bentuknya seperti layang-layang. Aku juga bisa melihat rasi bintang orion dari sini. Wah, indah sekali malam ini. Dia terlihat gagah dengan busur panahnya."


Laras terperanjat ketika mendengar suara yang sangat dia kenal, cepat dia tegakkan tubuh dan memalingkan wajah ke arah suara.


Deg!


Jantungnya seolah berhenti berdetak ketika matanya melihat jelas sosok yang kini tengah berdiri tepat di sampingnya. Untuk beberapa saat manik mata keduanya sempat bertabrakan, hingga Laras lebih dulu mengalihkan pandangan dan membuang muka, menghindari tatapan lelaki itu.


Apa maksudnya menirukan ucapanku pada waktu itu? batin Laras, mengingat ucapannya ketika dulu dia sering mendeskripsikan apa yang dia lihat pada Ervin, sebagai pengganti matanya.


"Sayang sekali, malam ini aku tidak bisa menemukan rasi bintang itu? Apa kamu mau mebantuku seperti dulu?" tanya Ervin masih menatap Laras dengan senyum yang tidak pernah hilang.


Sebenarnya, dia ke luar dari tenda karena ingin melakukan hajatnya di toilet. Namun, saat perjalanan pulang, dia melihat Laras yang tengah duduk sendiri di luar tenda.


Laras masih terdiam. Tangannya mencengkram erat jaket yang melindunginya dari dinginnya udara malam ini.


"Maafkan aku, Baby. Aku terlambat mengenali kamu," ujar Ervin lagi yang kini terlihat berdiri di depan Laras. Dia tidak perduli, walau wanita itu sama sekali tidak tertarik untuk melihatnya. Setidaknya, Laras masih bisa mendengar suaranya.


"Aku memang bodoh. Bagaimana mungkin aku bisa keliru mengenali kamu dan mempercayai wanita gila itu?" Ervin masih terus berbicara.

__ADS_1


"Maafkan aku karena sudah membuat kamu terluka, Baby," ujar Ervin lagi, dengan mata yang mulai memerah.


__ADS_2