
Flashback, setelah Laras tengah menemui anak Pak Herlambang di sebuah restoran ....
"Permisi." Laras berucap tegak, lalu pergi begitu saja tanpa menunggu balasan dari wanita tak tahu malu itu.
"Cih! Dia pikir, Ervin akan tetap setia pada wanita miskin dan jelek sepertinya? Tidak mungkin," geram wanita itu sambil menatap tajam kepergian Laras.
"Bagaimana? Apa kamu yakin bisa merebut Ervin lagi dari tangan wanita itu?" Seorang laki-laki tampak duduk di depannya tanpa permisi, hingga mengalihkan perhatian wanita yang tengah kesal setengah mati itu.
"Roland? Apa lagi maumu?" tanya wanita itu sambil menatap lelaki di depannya sinis.
"Ayolah, Elena. Jangan terlalu muna jadi perempuan. Mana mau kakakku pada wanita kotor sepertimu. Kamu bahkan tak pernah datang kepadanya lagi ketika dia dalam keadaan terpuruk. Menurutmu, apa dia akan memaafkan kamu?" tanya Roland dengan seringai meremehkan.
Elena Herlambang. Wanita yang merupakan mantan kekasih Ervin itu terdiam. Selingkuh dengan sahabat Ervin sendiri. Karena kesalahan itu dia menghancurkan hidup laki-laki yang sangat tulus mencintainya. Bukan hanya cinta seorang Ervin yang dia renggut, tetapi juga sahabat, dan kepercayaan Ervin pada orang lain pun ikut hilang.
"Bukan aku tidak mau menemuinya, tapi aku dikirim ke luar negeri sama Papahku, karena isu yang merugikan perusahaan. Kamu juga tahu itu, kan?" dalih Elena dengan raut wajah yang penuh penyesalan. Dia tak bermaksud untuk meninggalkan Ervin, hanya saja, dirinya tak mampu melawan ayahnya sendiri.
"Tapi, sekarang kamu sudah terlambat, Elena. Ervin sudah memiliki wanita lain di dalam hidupnya." Roland terlihat menatap nanar Elena, walau itu malah terlihat seperti mengejek oleh wanita itu.
"Tidak ada kata terlambat, Roland. Aku akan menyingkirkannya dari kehidupan Ervin, apa pun caranya."
Roland tersenyum tipis, sementara tatapannya tak lepas dari Elena. Keganasan wanita itu lebih mengerikan, dia sudah melihat itu. Kini, dirinya bisa melihat kobaran api amarah di mata Elena, dan itu akan sangat menguntungkan untuknya.
...❤🩹...
Dion baru saja masuk ke area pusat perbelanjaan, ketika tak sengaja dia melihat Laras masuk ke dalam mobil dengan banyak belanjaannya. Baru saja dirinya hendak menyapa, ketika seseorang karyawan berlari ke arahnya dengan sebuah tanda pengenal di tangannya.
"Mba, tunggu, KTP nya ketingalan!" teriakan seorang petugas keamanan itu mengalihkan perhatian Dion, apa lagi ketika dia melihat, petugas itu berlari mengejar mobil Laras yang sudah terlanjur pergi.
"Mami masuk dulu saja, ada sesuatu yang harus aku kerjakan," ujar Dion pada sang ibu yang menjadi alasananya berada di sini sekarang. Laki-laki itu langsung mengejar petugas keamanan setelah mendapat persetujuan dari sang ibu.
"Ada apa, Pak?" tanya Dion setelah berhasil mengejar petugas keamanan itu.
__ADS_1
"Ini, Mas, sepertinya KTP mba tadi jatuh di kasir, saya mau mengembalikannya tapi mobilnya sudah jauh," jawab laki-laki berusia pertengahan tiga puluh tahunan itu, sambil memperlihatkan kartu Tanda penduduk itu pada Dion.
"Oh, kebetulan saya mengenalnya. Bapak bisa titipkan kepada saya, biar saya yang kembalikan nanti." Dion yang melihat nama Laras tertera di sana pun langsung meminta kartu itu.
"Beneran, Mas? Ah, syukurlah kalau gitu, Saya titip ini ya, Mas." Petugas keamanan itu pun langsung memberikan kartu Tanda penduduk milik Laras pada Dion.
Dion tersenyum, setelah mendapatkan KTP itu. Dia pamit dan segera mengejar mobil Laras. Dion cukup senang, karena berkat KTP itu, dia bisa mendapat alasan untuk bertemu dengan Laras lagi, setelah pertemuan terakhir beberapa bulan lalu, yang menyebabkan dirinya harus merelakan wanita itu dan pergi dari perusahaan.
"Ini jalan menuju panti? Apa dia mau ke sana?" gumam Dion masih mengikuti mobil Laras. Cuaca yang hujan, membuatnya memilih mengikuti mobil Laras dibandingkan dengan mencegatnya di tengah jalan, mengingat jalanan pun licin dan tidak baik untuk berkendara terlalu cepat.
"Mami, maaf aku ada urusan mendadak, nanti aku telepon sopir untuk menjemput Mami di sana." Sambil mengendara, tak lupa Dion juga mengabari ibunya.
Namun, baru saja dia mematikan sambungan teleponnya, kini dia dikejutkan oleh kejadian yang tak terduga.
"Laras!" teriak Dion. Dia terkejut bukan main, sambil berusaha menginjak pedal rem sekuat-kuatnya hingga tubuhnya terhuyung ke depan dan hampir menabrak dashboard mobil. Jantungnya terasa bertalu ketika melihat, sebuah truk menabrak mobil Laras dengan begitu kencang. Hanya dalam hitungan detik, kebahagiaannya yang ingin bertemu Laras terenggut dan berganti dengan rasa takut.
"Laras?" Dion bergumam linglung. Otaknya bahkan belum dapat menyimpulkan apa yang baru saja terjadi. Sekuat tenaga dia coba menenangkan diri sambil berusaha ke luar dari mobil.
"Laras!" Matanya melebar ktika dia melihat Herdi tengah berusaha mengeluarkan Laras dari mobil walau dirinya sendiri dalam keadaan luka parah. Dion bisa melihat dadak ke luar di beberapa bagian tubuhnha. Semntara kondisi Laras sudah tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir menyatu dengan derasnya air hujan di siang itu.
"Tolong." Dion segera membantu Herdi, dia ambil alih tubuh tak berdaya Laras dari tangan laki-laki itu.
"Tolong selamatkan Nyonya. Ini semua bukan kecelakaan biasa. Dia harus tetap hidup," gumam Herdi sebelum laki-laki itu jatuh terkapar di samping mobil.
"Iya, aku akan menyelamatkannya, aku berjanji." Walau masih terkejut dengan ucapan terbata Herdi, Dion mencoba terus berpikir cepat. Dia segera membawa Laras masuk ke dalam mobil.
"Ayo, kamu juga harus segera ke rumah sakit." Dion kembali dan berusaha menolong Herdi, tetapi laki-laki itu menolak dan meminta Dion untuk segera membawa Laras dari sana.
Dion berusaha tetap dalam keadaan sadar, dia bawa mobil dengan kecepatan tinggi, menembus hujan yang masih saja turun dengan derasnya menuju rumah sakit terdekat. Matanya kadang melihat ke belakang, di mana Laras terbaring dengan darah yang masih saja ke luar dari luka-luka di tubuhnya.
"Aku mohon, bertahanlah Ras. Lebih baik aku merelakanmu dan melihatmu bahagia bersama laki-laki lain, dari pada harus melihatmu seperti ini, Ras," gumam Dion dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk. Hatinya ikut hancur ketika melihat Laras dalam keadaan seperti itu. Dia tak mau kehilangan wanita yang dikasihinya bagitu lama. Wanita yang selalu berusaha dia jaga dan telah memiliki tahta di dalam hidupnya.
__ADS_1
...❤🩹...
Dedrik baru saja ke luar dari kamar mandi ketika dia melihat banyak panggilan tak terjawab dari nomor di Indonesia. Kerutan di keningnya pun terlihat begitu dalam, mengingat setelah ada Laras, dia jarang mendapat telepon dari orang lain, selain wanita itu.
Tidak menunggu lama, Dedrik langsung menghubungi menghubungi nomor Laras. Namun, beberapa kali dia mencoba, tetap tak dapat terhubung.
"Ada apa ini? Biasanya dia tidak pernah membiarkan ponselnya mati," gumam Dedrik. Jarinya bergerak mencoba menghubungi nomor Herdi, tetapi nihil. Itu juga tak terhubung.
Setelah berulang kali mencoba, akhirnya dia memilih menghubungi nomor rumah kediaman Ervin. Dirinya bahkan tak memikirkan lagi perbedaan waktu diantara kedua negara yang cukup banyak. Jika dipikir, mungkin sekarang di Indonesia sudah lebih dari tengah hari.
Tak ada juga yang menerima panggilannya. Dedrik pun mengabaikan. Dia mengira itu hanya panggilan iseng atau salah sambung belaka. Dedrik memilih naik ke ranjang untuk beristirahat setelah hari ini dia bekerja lembur di kantor hingga tak sempat menemui Ervin. Laki-laki itu berencana untuk menjenguk tuan mudanya besok pagi, sebelum berangkat ke kantor.
Pagi buta, ponselnya kembali berdering, sebuah panggilan mampu membangunkan tidur lena Dedrik yang hanya beberapa jam saja, tak pikir panjang Dedrik langsung menjawabnya.
"Tuan, Nyonya dan Herdi kecelakaan." Kalimat pertama yang terdengar mampu membuat jantung Dedrik seolah berhenti berdetak. Untuk sesaat, bibir laki-laki itu terasa kelu hingga sulit untuk digerakan.
Kejadian apa lagi ini? pikirnya.
"Jangan bercanda? Saya pastikan kamu tidak akan melihat matahari lagi jika bermain-main dengan saya!" sentak Dedrik dengan mata yang mulai memerah dan rahang mengeras. Kesadarnnya langsung pulih ketika kata mengejutkan itu merenggut suasana tenang awal harinya.
"Saya tidak bercanda, Tuan. Sebuah truk menabrak mobil Nyonya–"
Dedrik terdiam dengan tubuh kaku sambil terus mendengarkan penjelasan kejadian dari seberang sana. Jangankan untuk membalas ucapan dari seorang anak buahnya di Indonesia, bahkan untuk menggerakan bibirnya saja dia tak bisa.
Bagaimana dia mengatakan semua ini pada Ervin? Dedrik tak bisa membayangkan, bagaimana hancurnya Ervin jika mengetahui apa yang terjadi pada Laras di saat dirinya tak ada di samping istrinya itu.
"Pastikan tak ada yang memberitahu Tuan Muda tentang kabar ini. Dia sedang dalam pemulihan, itu tidak boleh gagal jika mau penglihatannya kembali semula," putus Dedrik.
"Baik, Tuan." Setelah mendapat jawaban dari seberang, Dedrik langsung menutup sambungan teleponnya.
Dia berganti menghubungi anak buah yang kini sedang menjaga Ervin di rumah sakit, memastikan jika tuannya tak mendapatkan kabar itu.
__ADS_1
"Jangan biarkan tuan muda menerima telepon dari siapa pun di Indonesia," titahnya yang juga langsung disetujui oleh anak buahnya.