
"Aku gak nyangka, ternyata CEO kita itu ganteng banget ya. Kalau tau gitu, aku juga mau deh jadi istrinya. Walaupun dia buta, tapi hartanya gak bakalan abis tujuh turunan."
Laras yang tengah mereda debar jantungnya di salah satu bilik toilet, terdiam sambil menajamkan telinganya ketika ada seseorang yang terdengar sedang membicarakan suaminya.
"Tapi, kalau gak cinta gimana? Aku sih gak mau ya nikah sama orang yang gak aku cinta, apa lagi hanya untuk masalah harta." Suara lain terdengar menimpali.
"Yaelah, jaman sekarang itu kita sebagai perempuan harus berfikir realistis, hidup itu bukan cuman soal cinta. Emang perut kamu bisa kenyang cuman pake cinta? Enggak, kan? Yang terpenting itu duit, say."
Suara orang pertama terdengar kembali. Laras mengepalkan tangannya, dia tidak suka ada seseorang yang meremehkan Ervin. Walau Ervin memang memilik kekurangan, bukan berarti itu bisa menjadi bahan hinaan orang lain, apa lagi memanfaatkannya hanya demi harta.
"Siapa sih yang berani ngomongin suami aku di kantor? Dia gak nyadar apa kalau dia itu bekerja di kantor suami aku? Bikin kesel aja," decak Laras sambil bersiap untuk ke luar dari bilik toilet.
"Realistis sih emang perlu, tapi kalau terlalu realistis malah mirip cewek matre gak sih?" Laras berucap sambil mencuci tangannya tepat di samping kedua wanita yang tengah merapikan tampilannya.
Mendengar ucapan Laras, dua orang perempuan yang tengah berdiri di depan kaca pun langsung menoleh dengan wajah penasaran. Laras bisa melihat jelas jika salah satu diantara mereka menatapnya dengan kilat kemarahan di mata. Namun, begitu mereka melihat jelas siapa yang baru saja berbicara, keduanya hanya bisa menunduk malu dengan sikap salah tingkah.
"Nyonya Laras?" gumam wanita dengan baju blazer warna coklat muda.
"Gak usah sok kepedean dan mengukur kemampuan suami saya. Walau dia memiliki kekurangan, setidaknya mulutnya tidak pernah menganggap remeh orang, seperti kalian," ujar Laras sambil menatap tajam satu per satu kedua karyawatinya itu, lalu mulai melanjutkan perkataan yang membuat kedua wanita itu tampak cukup terkejut dan ketakutan dibuatnya. "Lagi pula, aku rasa kalian masih butuh pekerjaan di sini, kan? Atau mau aku hubungi HRD buat urus pesangon kalian sekarang juga?"
Wajah kedua wanita itu langsung pucat pasi ketika melihat raut wajah serius Laras. Apa lagi, Laras langsung pergi ke luar dari toilet wanita itu, tanpa menghiraukan lagi keduanya. Mereka benar-benar panik bukan main.
Akibat ulah dua wanita itu, Laras pun melupakan rasa gugupnya karena kejadian di ruangan bersama Ervin. Sebaliknya, kini dia malah berjalan cepat menuju ke ruangannya, agar dua wanita itu tak berani menyusulnya lagi. Sungguh, rasa gugupnya kini sudah berganti menjadi rasa kesal yang sangat.
Namun, langkahnya terhenti ketika getar ponsel di sakunya terdengar. Laras melebarkan matanya ketika melihat nama yang tertera di layar benda pipih itu, hingga dia buru-buru mengangkatnya.
"Halo, Pak," ujar Laras sambil menempelkan ponselnya di telinga.
"Kami sudah berhasil menangkap pelaku pembakaran pabrik Anda. Anda bisa datang ke kantor polisi sekarang?" tanya seseorang yang menyelidiki tentang kebakaran pabriknya.
"Benarkah, Pak? Baik, Pak, saya akan ke sana secepatnya. Terima kasih, informasinya, Pak." Laras berujar cepat. Dia sangat senang, karena kini satu per satu masalah yang menimpanya akan segera terselesaikan, dia juga menjadi yakin akan menang dari para pemegang saham dan Roland.
Laras melanjutkan langkahnya dengan wajah sumringah, dia sudah tidak sabar ingin mengatakan ini semua pada Ervin. Laras yakin, jika suaminya juga akan senang dengan kabar yang dia dapatkan. Namun, begitu dia masuk ke dalam ruangan, Laras dikejutkan dengan Ervin yang sudah bersiap akan pergi.
"Mau ke mana?" tanya Laras sambil mendekati Ervin yang sudah berdiri tidak jauh dari pintu masuk.
"Ayo kita bertemu dengan para perwakilan korban, kalau perlu kita langsung datangi ke rumah sakit dan rumah mereka masing-masing untuk membuktikan keseriusan kita dalam meminta maaf," ujar Ervin yang sudah berdiri dari duduknya.
"Tapi, kita belum membuat janji dengan mereka, lagi pula aku harus segera ke kantor polisi," ujar Laras yang ingin mengajak Ervin ikut serta ke kantor polisi.
Mendengar kata 'kantor polisi' Ervin mengerutkan keningnya dalam, sebelum berujar dengan penuh rasa penasaran. "Ngapain kamu mau ke kantor polisi?"
"Aku dengar, polisi sudah berhasil menangkap pelaku pembakaran pabrik, mereka ingin kita segera datang ke sana untuk melihatnya," jawab Laras dengan senyum yang kembali merekah.
"Benarkah? Jadi pelakunya sudah ditangkap?" tanya Ervin. Laki-laki itu masih sedikit ragu jika pelakunya akan sangat cepat ditangkap.
"Iya. Makanya, kita harus cepat ke sana untuk memastikan," ujar Laras sambil menyambar tasnya dan mulai menggandeng tangan Ervin.
__ADS_1
"Baiklah, kalau gitu kita ke kantor polisi dulu," angguk Ervin sambil mulai melangkahkan kakinya ke luar dari ruangan, bersama dengan Laras yang dengan setia selalu ada bersamanya.
...❤🩹...
Kantor polisi ....
"Apa Anda mengenal tersangka?" tanya petugas polisi yang mengantar mereka melihat tersangka pembakaran gudang.
Laras terdiam beberapa saat, dia benar-benar tidak mengenal orang itu. Selain karena dia masih baru berada di kantor, dirinya juga belum pernah datang ke gudang.
"Dia mengaku melakukan ini karena sakit hati. Pelaku dipecat secara tidak hormat dari perusahaan Anda satu tahun yang lalu karena ketahuan melakukan kecurangan, sejak saat itu dia tidak bisa lagi mendapatkan pekerjaan. Karena itu juga, dia ditinggalkan oleh istrinya setelah anak mereka yang mengidap kangker paru-paru meninggal dunia lima bulan yang lalu," ujar salah satu petugas polisi yang menangani kasus pembakaran gudang milik perusahaan Ervin.
Laras terdian dengan tangan yang terus digenggam oleh Ervin. Wanita itu tampak sangat terkejut dengan kenyataan yang baru saja diungkapkan oleh petugas polisi itu. Dia tak menyangka jika ada yang mampu melakukan itu dan mencelakai banyak pekerja lainnya hanya untuk membalas dendam.
Sementara itu, Ervin tampak masih terdiam dengan tangan yang tak pernah lepas menggengam jari jemari dingin dan bergetar Laras. Dia tahu, jika saat ini wanita itu pasti kembali terkejut karena kasus ini. Entah apa yang laki-laki itu pikirkan dalam diamnya, mungkin hanya dia sajalah yang tahu?
"Jadi dia ingin balas dendam pada perusahaan?" tanya Laras dengan suara yang terdengar bergetar.
"Benar, Nyonya. Tersangka menyalahkan perusahaan atas semua kesialan yang terjadi dalam hidupnya," jawab petugas polisi itu ramah.
Mata Laras langsung berkaca-kaca, perasaannya bercampur aduk tak menentu. Sedih, marah, dan prihatin, semuanya bercampur jadi satu.
Setelah mendapatkan penjelasan dari polisi dan melihat tersangka, Laras dan Ervin pun memilih untuk segera kembali ke rumah. Karena kesibukan hari ini, tak terasa hari sudah bergati malam ketika keduanya sampai di kediaman.
"Besok saja kita bertemu dengan para keluarga korban, biar nanti aku suruh Emma untuk membuat janji dulu," ujar Laras ketika mereka sedang berjalan masuk ke rumah.
"Eum, baiklah, berarti aku hanya tinggal izin tidak masuk kantor saja besok." Laras mengangguk patuh.
Wanita itu masih shock karena informasi di kantor polisi, hingga dia menjadi tidak terlalu banyak berbicara seperti biasanya.
Ervin menggenggam tangan Laras yang sejak tadi masih melingkat di lenganya, hingga wanita itu mendongak menatap wajah sang suami.
"Jangan terlalu dipikirkan. Semuanya akan baik-baik saha," ujar Ervin tiba-tiba, seolah dia tahu jika Laras tengah gundah.
...❤🩹...
Esok harinya, Ervin dan Laras benar-benar pergi menemui para keluarga korban kebakaran. Berbeda dari sebelumnya yang hanya mengandalkan Emma dan pengacara perusahaan untuk berunding dengan mereka, kini keduanya memilih untuk datang langsung dan mendengar keinginan para keluarga korban, sekaligus melihat kondisi sebenarnya.
"Kita mau ke mana dulu, Tuan?" tanya Laras, setelah keduanya duduk di dalam mobil.
"Jangan panggil aku Tuan, Laras," tekan Ervin, seolah sangat tidak suka dengan panggilan Laras padanya.
"Eh? Bukannya selama ini, Anda tidak keberatan kalau aku panggil begitu?" tanya Laras bingung.
"Tidak untuk sekarang," bantah Ervin.
Laras tampak berdehem pelan sambil melirik canggung pada kursi kemudi di mana Herdi tampak sedang tersenyum tipis. Wanita itu meringis malu, ketika dia harus membahas hal seperti itu di depan orang lain.
__ADS_1
"Lalu aku harus panggil siapa?" gumam Laras bingung.
Ervin tak menjawab, dia hanya duduk tegap dengan pandangan lurus ke depan, seolah-oleh tak mendengar ucapan Laras.
Tanpa terasa mobil berhenti di sebuah pemukiman padat penduduk. Laras mengedarkan pandangannya ke sembarang arah, mengingat kini mobil hanya berhenti di pinggir jalan.
"Kita ke rumah siapa? Aku kira mau ke rumah sakit dulu?" tanya Laras sambil terus memutar lehernya, melihat ke sembarang arah.
"Kita akan pergi ke rumah salah satu korban meninggal, rumahnya ada di gang kecil itu, jadi kita terpaksa untuk berjalan kaki menunju ke sana."
"Tidak apa, Pak." Laras tersenyum ramah pada Herdi kemudian bersiap untuk turun dari mobil. Sementara itu, Herdi pun sigap membantu Ervin untuk turun dari pintu mobil yang lain.
"Sudah siap untuk bertemu dengan keluarga korban?" tanya Laras setelah sudah berada di samping sang suami, lalu menggandeng tangannya.
Ervin berdehem pelan sambil mengangguk samar. Laras tersenyum sambil berujar penuh semangat. "Baiklah, kalau gitu, ayo kita temui keluarga korban."
Keduanya pun berjalan dengan Herdi sebagai petunjuk jalan. Laki-laki itu juga membawa beberapa hadiah untuk keluarga korban, agar Ervin dan Laras tak terkesan datang dengan tangan kosong.
Kedatangan Ervin dan Laras di kampung kecil itu, tentu saja mampu menarik perhatian para warga, mereka saling berbisik dan menatap keduanya dengan penuh rasa ingin tahu.
"Padahal udah pake baju yang paling sederhana di rumah, tapi tetep aja jadi pusat perhatian orang," gerutu Laras pelan. Dia sudah bekerja keras untuk merayu Ervin, agar mau hanya memakai kaos biasa dan celana denim sederhana. Semua Laras lakukan agar Ervin tidak terlihat terlalu mencolok di mata para keluarga korban, mengingat mereka masih dalam keadaan berduka.
Beberapa saat berjalan menapaki gang kecil itu, kini keduanya berhenti di depan sebuah rumah petakan sederhana, seperti sebuah kontrakan berbaris. Jika di lihat dari depan, bahkan luas rumah itu lebih kecil dari kamar tidur Ervin sendiri.
"Itu rumahnya, Tuan, Nyonya." Herdi menunjuk salah satu rumah di urutan ke tiga dari tempat mereka berdiri.
Laras menghembuskan napas pelan, dia bahkan masih dapat melihat ada tumpukan kursi plastik di depan rumah itu, mungkin untuk pengajian setiap malam. Matanya tampak berkaca-kaca ketika melihat seorang wanita paruh baya dengan menggunakan daster sederhana ke luar dari pintu rumah tersebut. Matanya masih terlihat sayu, wajahnya pun sedikit pucat dengan lingkaran berwarna hitam gelap di sekitar matanya. Melihat itu saja, Laras sudah bisa merasakan kesedihan yang melanda wanita paruh baya itu.
"Permisi, Bu." Laras perlahan melepaskan lengan Ervin lalu membawa kakinya melangkah mendekati wanita yang tengah membawa plastik di tangannya itu.
"Iya. Ada apa ya, Neng? Mau cari siapa?" Wanita paruh baya itu mengalihkan perhatiannya pada Laras, menatap sayu walah senyum ramah terlihat di wajahnya.
Hati Laras teriris, melihat senyum yang terlihat sangat dipaksakan itu. Namun, walau begitu Laras memilih untuk menahan semua itu, dan bersikap biasa saja.
"Kami dari perusahaan RK elektronik–" Laras mulai memperkenalkan diri dengan sangat hati-hati. Namun, kata-katanya terhenti oleh lemparan pelastik yang dibawa wanita paruh baya itu yang tepat mendarat di wajahnya. Seketika sampah yang ada di dalamnya pun berhambur mengenai tubuh Laras.
"Nyonya!" Herdi yang berdiri di samping Ervin pun refleks langsung berteriak ketika melihat Laras dilempar plastik berisi sampah tepat di wajahnya. Namun, ketika dia ingin menolongnya tangan Laras terangkat untuk mencegah pergerakannya. Herdi pun hanya bisa kembali terdiam dengan wajah menatap khawatir.
"Ada apa dengan Laras?" Ervin berujar panik sambil mencari keberadaan sang istri.
Entah apa yang akan dilakukan oleh Ervin jika sampai tahu apa yang diterima Laras di tempat itu.
"Untuk apa kalian datang ke sini? Kami tidak menuntut apa pun lagi, jadi jangan ancam kami! Apa tidak cukup kalian mengambil nyawa anak kami, sampai kalian tega mencelakai suamiku juga, hah?!" Wanita paruh baya itu berteriak histeris, hingga memancing para tetangganya untuk ke luar dari rumah.
Sementara itu, Laras dan Ervin tampak terkejut bukan main. Selama ini di antara keduanya tidak ada yang memerintahkan untuk mengancam keluarga korban apa lagi sampai mencelakainya. Lalu, siapa yang melakukan itu dengan nama perusahaan? Apa maksudnya mereka melakukan ini, hingga membuat kekacauan bertambah besar?
Lagi kurang enak body nih, maaf ya, kalau telat up😊🙏
__ADS_1