Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.65 Tamat


__ADS_3

"Sepertinya aku belum siap jika harus menerima penolakanmu. Lebih baik besok saja. Aku akan datang ke rumahmu untuk mengantarkan kalian ke bandara. Apa kamu masih punya cincin pernikahan kita?" tanya Ervin. Dia tidak yakin akan bisa menahan emosinya jika jawaban Laras tidak sesuai dengan harapannya.


"Maaf, tadinya aku mau memberikan kamu cincin baru, tapi karena kamu memberiku pilihan mendadak, jadi aku--" Ervin menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal sama sekali. Sebenarnya dia merasa malu melakukan itu, tetapi dia takut akan membahayakan Laras dan anak-anak jika Laras menolaknya. Eevin takut, dia tidak bisa lagi mengatur emosinya.


"Apa kamu tidak percaya diri?" tanya Laras. Wanita itu tampak memiringkan kepalanya demi melihat wajah gugup dan putus asa Ervin.


Ervin menoleh cepat ketika mendengar kata bernada ejekan dari Laras. Dia cukup kesal ketika melihat senyum tipis dan tatapan menelisik wanita di sampingnya.


"Tidak! Mana ada aku gak percaya diri," bantah Ervin langsung. Dia tak Terima dituduh seperti itu oleh Laras. Walau mungkin memang sekarang dia tak sepercaya diri seperti biasanya.


"Lalu? Apa arti ucapanmu tadi?" kejar Laras. Salah satu alisnya tampak naik, menanti jawaban dari lelaki di depannya, yang tampak sudah gugup dan kehilangan kata.


"I-itu...." Ervin kembali melajukan mobilnya ketika mobil di depan sudah sedikit menjauh.


"Aku masih menyimpan cincin itu," ujar Laras tiba-tiba.


"Apa kamu ingin aku memakinya?" tanya Laras lagi. Nadanya terdengar santai, walau tanpa sepengetahuan Ervin, tangannya pun tampak masuk ke dalam tas kecil di atas pangkuannya.


Ervin kembali menghentikan mobilnya. Akh, kemacetan panjang ini semakin terasa melelahkan karena ucapan Laras yang seolah sedang menudingnya bertubi-tubi. Tidak tahukah wanita itu, jika jantungnya sudah berdetak begitu cepat sejak tadi, hingga terus menguras energinya yang tinggal sedikit itu.


"Iya. Jika kamu menerimaku. Tapi, jika kamu tidak merimaku, maka kamu bisa membuang cincin itu di depanku sebagai tanda tidak ada harapan lagi untuk hubungan kita," jawab Ervin. Matanya menatap lurus iris mata Laras yang tak pernah bisa dia baca. Entahlah, sejak dulu dia memang selalu buntu membaca setiap ekspresi wajah wanitanya itu.


Mobil kembali berjalan, sekitar lima puluh meter ke depan. Lalu berhenti, di barisan ke tiga antrian lampu merah. Ah, kini ada beberapa menit untuknya berbicara serius dengan Laras tanpa harus terus mengalihakn perhatiannya pada kemacetan jalanan. Ternyata kemacetan semakin parah di lampu merah.


"Apa seperti ini?" Ervin langsung menoleh pada Laras. Matanya melebar dengan jantung yang berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya, ketika dia melihat pemandangan di depannya.


"Laras?" gumamnya masih belum percaya dengan apa yang dirinya lihat. Wanita itu tampak tersenyum begitu lembut sambil memperlihatkan jari tangannya yang sudah terpasang cincin nikah mereka berdua.


Laras mengangguk dengan kelopak mata yang menyipit, akibat senyum di bibirnya. "Aku tidak mau membuatmu menunggu lebih lama lagi. Jadi, aku putuskan untuk menjawab sekarang juga di saat hatiku sudah yakin sepenuhnya ... kalau ditunda lagi, aku takut akan berubah pikiran."


"Aku memberikanmu kesempatan sekali lagi untuk membahagiakan kami," sambung Laras lagi. Matanya mulai memanas walau senyum di bibirnya tidak luntur sedikit pun.


"Oh, Baby!" Ervin langsung menghambur ke pelukan Laras. Sungguh, dia tidak menyangka jika wanita itu pandai juga membuat moment romantis seperti ini. Walau, tempatnya memang agak ekstrime ya. Di lampu merah? Ervin gakin, jika dia menceritakan kejadian ini, sudah pasti orang itu akan tertawa puas. Namun, itu tidak penting sekarang.


"Makasih, Baby. Aku tidak akan lagi mengecewakan kamu. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ke dua ini. Akan aku buat kalian bertiga bahagia setiap hari, jam, menit, detik yang kita lalui, mulai saat ini." ujar Ervin masih memeluk tubuh Laras.


Rasa bahagia yang membuncah di dalam dada, membuatnya tak menghiraukan lagi suasana sekitarnya dan di mana kini mereka berada. Semangat dan energi yang tadi seolah hampir habis, kini terisi kembali. Ervin bisa merasakan tubuhnya begitu bugar dan dipenuhi semangat yang mungin tidak akan pernah habis lagi.


"Eum. Aku akan menagih semua janjimu hari ini, setiap kali kamu lengah," angguk Laras. Dia balas pelukan Ervin yang masih terasa sama nyamannya seperti dulu.


Suara nyaring kelakson dari kendaraan di belakang mereka, menarik kembali kesadaran Ervin dan Laras dari suasana kebahagiaan yang membawa keduanya pada dunia mereka berdua.


"Maaf...." Ervin nyengir sambil melepas pelukannya lalu mulai melajukan mobilnya. Ternyata lampu hijau sudah menyala sejak beberapa detik yang lalu.


Ervin meringis, ketika mendengar umpatan yang terdengar dari para pengendara yang merasa terhalang mobilnya. Ah, baiklah kali ini dia salah. Ervin mengusap tengkuknya merasa canggung dan sedikit malu pada Laras, karena tertalu larut dalam kebahagiaan, malah membuatnya lalai akan rambu lalu lintas dan membuat mereka mendapatkan beberapa umpatan dari pengendara lain.

__ADS_1


Sementara itu, Laras malah terkekeh. Suasana aneh dan sedikit menjengkelkan itu ternyata malah membuat warna baru di dalam hubungan mereka. Melihat wajah canggung Ervin pun malah membuatnya merasa terhibur. Ah, beginikah rasanya jika dia sudah berdamai dengan masa lalu dan rasa sakitnya? Tidak ada lagi sesak yang selalu mengganjal di dalam dada, atau beban berat yang selalu membuat napasnya terasa sesak. Semuanya seolah berubah menjadi ringan, hanya dengan sebuah kata. Berdamai.


Melihat reaksi Laras. Ervin ikut tersenyum, selanjutnya perjalanan mereka yang masih bergulat dengan kemacetan tak lagi menghancurkan suasana bahagia di dalam hati keduanya. Ervin tak pernah melepaskan genggamn tangan Laras, sesekali dia kecup punggung tangan wanitanya dengan gumaman ucapan terima kasih yang terus berulang.


Laras pun menikmati masa itu. Masa yang membuat hatinya kembali terasa nyaman dan berbunga, entah karena apa. Dia pun tak tahu apa sebabnya. Lebih tepatnya mungkin tidak perduli. Yang dia tahu, saat ini cinta itu telah kembali. Dia sudah yakin akan hal itu. Dan, itu sudah cukup. Jika ada yang menanyakan alasan. Maka dia akan menjawab dengan lantang. 'Ervin pantas menerima cintanya dan itu sudah cukup untunya'


...❤‍🩹...


"Kamu cantik banget hari ini, Baby," bisik Ervin tepat di telinganya Laras, ketika mereka tengah melakukan sesi pemotretan pasca pernikahan.


Sontak saja, ucapan itu mampu membuat rona merah di pipi Laras terlihat. Ervin terkekeh puas, setelah berhasil menggoda sang istri.


Tiga bulan dia harus bolak-balik ke Selandia Baru, karena proses perpindahan Laras dan anak-anaknya kembali ke Indonesia. Laras juga harus mencari orang untuk menggantikannya mengurus restorannya yang berada di sana.


Mempersiapkan pernikahan bukanlah hal mudah. Walau itu dilakukan dengan sederhana, tetapi moment bersejarah tetap harus berkesan dan penuh dengan keindahan. Untung saja Mami menawarkan diri untuk membantu, hingga semuanya bisa selesai pada waktunya.


"Udah ih, gombal mulu." Laras memukul dada Ervin sambil membuang muka. Sejak setelah dia menerima kembali Ervin, lelaki itu seperti tidak pernah kehabisan kata manis dari bibirnya. Ah, dia rasa sebentar lagi akan terkena diabetes jika terus seperti ini.


"Aku jujur lho, Baby. Kamu memang cantik. Ah, jadi gak sabar," jawab Ervin sambil mengambil dagu Laras dan mengahadapkannya kembali padanya.


Cup! Satu kecupan ringan sukses mendarat di bibir kemerahan Laras. Ervin bahkan tak sungkan melakukan semua itu walau lampu plash kamera masih terus berkilat ke arah mereka.


"Sekali lagi!" teriak sang pengarah gaya sambil melihat pasangan pengantin baru itu. Lalu melanjutkan perkataannya. "Lebih lama lagi!"


"Gak papa dong. Mereka malah seneng kalau kita memiliki banyak pose yang bagus," jawab Ervin santai. Dia kembali mengambil dagu Laras dan memberikan kecupan yang lebih lama.


Ah, tidak. Ini bukan sebuah kecupan, karena perlahan Ervin mulai ******* lembut bibir Laras. Laras sempat membuka mata lebar, terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Dia hampir saja melepaskan tautan bibir itu, jika saja sang fotografer tak menahannya.


"Tahan sebentar lagi!" teriak fotografer sambil terus mengambil gambar dari berbagai sisi.


"Oke, bagus! Ganti pose lain!"


Laras menarik napas dalam lalu menghembuskannya ketika Ervin melepaskan tautan bibir mereka. Dia rasakan wajahnya memanas dan debar jantung yang berkejaran. Napasnya memburu seolah baru saja lari maraton.


"Ck! Puas ngerjain aku?" Laras berdecak kesal ketika melihat wajah santai dan tanpa bersalah Ervin. Tidak tahukah Ervin, jika sudah lama dia tidak melakukan aktivitas seperti itu. Dan, dia bahkan belum siap sekarang. Apa lagi di depan banyak orang seperti ini.


"Belum. Ini bahkan belum sampai permulaannya, Baby." Ervin menggeleng pelan.


Lihatlah wajah yang menampilkan senyum menyebalkan itu, Laras ingin sekali menyiramnya dengan air sekarang. Perasaan dulu Ervin tak semesum ini. Apa dia yang salah ingat?


"Aku merindukanmu, Baby. Jika saja tidak ada pemotretan seperti ini ... aku pastikan kamu sudah berada di atas ranjangku sekarang."


Laras melotot tajam. Apakah benar dia menikah dengan Ervin? Jangan-jangan ada lelaki yang menyamar seperti lelaki itu sekarang? Ugh, itu adalah hal yang paling mengerikan yang pernah dia bayangkan.


"Jangan menatapku seperti itu. Aku hanya tidak kuat menahan rindu. Salah kamu yang membuatku menunggu begitu lama." Ervin melingkarkan tangannya di perut Laras yang tengah memunggunginya, lalu dia letakkan dagunya di pundak Laras.

__ADS_1


"Tidak ada yang menyuruhmu menunggu," tukas Laras.


"Aku yang mau menunggumu. Karena aku yakin kamu akan kembali padaku. Kita berdua sudah ditakdirkan bersama, aku yakin itu. Di mana pun kamu berada dan sejauh apa pun kita berpisah, suatu hari nanti kita pasti akan kembali bertemu dan bersama. Dan, sekarang aku bisa membuktikan kalau keyakinanku benar."


Ervin tersenyum bangga. Dia hirup aroma tubuh Laras yang malah membuatnya semakin menginginkan sesuatu yang lebih.


"I love you, Baby," ujar Ervin lagi dengan mata memejam, menikmati aroma yang telah menjadi favoritnya sejak beberapa tahun lalu.


"I love you more, Ervin," sambut Laras.


Tanpa aba-aba Ervin langsung mengangkat Laras dan menggendongnya ala bridal style, lalu berjalan meninggalkan area pemotretan. Memancing tatapan penuh tanya dari para staf fotografer.


"Sesi kali ini selesai. Istriku lelah," ujar Ervin tak acuh, hingga menimbulkan reaksi terkejut dari semua orang yang ada di sana. Ah, perkataan itu memang hanya sebuah alasan belaka.


Namun, langkah Ervin terhenti dengan hebusan napas lemas, ketika dua bocah kecil tampak berlari menghampiri mereka.


"Mamah, Papah, ayo kita berfoto bersama!" Siapa lagi kalau bukan Nevan dan Nessa.


Sontak para staf fotografer langsung menahan tawanya yang hampir saja meledak ketika melihat bahu Ervin yang jatuh lemas.


"Turunin aku," ujar Laras sambil terkekeh pelan. Wajah melas Ervin ternyata cukup menghibur di kala dia dibuat malu setengah mati oleh suaminya itu.


"Ayo sayang, kita berfoto bersama." Laras menyambut kedua anaknya. Mereka pun melakukan beberapa pose foto. Begitu juga dengan Dion, Mami, dan Papi, yang menyusul kemudian.


Ah, tampaknya angan-angan Ervin tidak akan tercapai hingga malam tiba, karena setelah pemotretan selesai. Nevan dan Nessa tak pernah lepas dari Laras. Itu semua karena mereka tahu rencana bulan madu Laras dan Ervin yang akan pergi selama seminggu ke Texas. Ervin ingin membawa Laras ke makan sang ayah, sekaligus menikmati keindahan negara itu.


...❤‍🩹Jodoh itu rahasia Sang Pencipta, jika dia sudah memberi takdir untuk bersama. Siapa yang bisa lari dari ketentuan-Nya? Semuanya akan kembali pada kehendak-Nya. Penderitaan ... kesulitan ... rasa sakit ... putus asa. Itu semua adalah rangkain takdir yang sudah direncanakan oleh-Nya. Dia mencintai dengan caranya, begitu juga kita yang hanya bisa menerima cintanya walau terkadang terasa tidak adil. Namun, itulah Cinta. Semua orang memiliki caranya sendiri dalam menunjukan cintanya. Cinta ... kata misterius yang bahkan tak pernah pasti apa arti di dalamnya. ...


...Seperti Laras yang berusaha lari dari Ervin yang merupakan takdirnya. Namun, ternyata kembali berujung di tempat yang sama. Keduanya hanya melakukan perjalanan untuk mendewasakan diri sebelum akhirnya bertemu kembali dengan pribadi yang lebih baik.❤‍🩹...


...TAMAT...


Makasih untuk semua yang udah setia nungguin cerita Laras dan Ervin. Semoga cerita ini bisa menghibur dan menemani waktu senggang kalian semua🙏🥰 Salam dari keluarga Ervan👋👋





Akh iya, saat ini aku sedang melanjutkan novel Mafia Story dengan cerita versi terbaru dari anak-anaknya. Yang mau kepo-in. Yuk mampir di sana. Bisa langsung baca di Bab MS2-Bab.1. Jika ingin langsung ke cerita anak-anak Agra dan Alisya ya🙏🥰



__ADS_1


__ADS_2