Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.21 Ruang kelas tiga


__ADS_3

"Ibu?!" Tiba-tiba saja suara teriakan seseorang mengalihkan atensi mereka. Laras mengalihkan perhatiannya pada seorang laki-laki paruh baya yang sedang berjalan ke luar dari rumah petakan itu dengan langkah sedikit tertatih. Banyak lebam yang terlihat di wajahnya, hingga membuat Laras meringis ngilu membayangkan rasa sakitnya.


Wanita yang tadi melempar kantong plastik pada Laras ikut menoleh, dia segera menghampiri laki-laki itu dengan wajah yang berubah khawatir.


"Bapak, ngapain ke luar. Bapak kan masih sakit, ayo masuk lagi, bapak harus banyak istirahat," ujar wanita itu sambil membantu laki-laki yang dia sebut bapak untuk berjalan.


"Tunggu dulu, Bu. Dia siapa? Kenapa ibu marah-marah sama dia?" Laki-laki paruh baya itu memilih untuk melihat Laras yang sudah berantakan dan sedikit bau sampah.


"Selamat siang, Pak. Perkenalkan, saya Laras dari perusahaan RK Elektronik." Laras langsung memperkenalkan dirinya sambil tersenyum ramah.


Terlihat jelas perubahan wajah laki-laki paruh baya itu ketika mendengar perkataan Laras, tetapi sepertinya dia mencoba untuk meredam amarahnya.


"Maaf, Pak, Bu, boleh kami minta waktunya sebentar untuk berbicara?" tanya Laras lagi masih mempertahakan senyum ramahnya.


Sementara itu, para warga yang sudah terlanjur ke luar pun, terlihat memerhatikan interaksi Laras dan pria paruh baya itu. Termasuk Herdi yang tampak sedang memberikan informasi pada Ervin tentang Laras.


"Suruh mereka masuk, Bu. Tidak baik berbicara di luar seperti ini," ujar laki-laki paruh baya itu, sebelum akhirnya memilih masuk lebih dulu.


"Masuklah." Walau terlihat tidak suka dengan keputusan suaminya, tetapi wanita paruh baya itu pun memilih menurut dan mempersilahkan Laras dan Ervin untuk masuk.


"Terima kasih, Bu, Pak." Laras berucap dengan nada gembira, senyumnya merekah begitu lebar. Dia pun menghampiri Ervin untuk mengajaknya masuk.


"Pak Herdi tunggu di luar aja, biar kami berdua yang masuk," pinta Laras sambil mengambil paper bag di tangan Herdi sekaligus menggenggam tangan Ervin.


"Maaf, Tuan, saya sedikit kotor, jadi kita seperti ini saja ya," sambung Laras lagi sambil mengeratkan genggamannya di tangan Ervin.


Laki-laki itu tak menjawab, tetapi dia mengikuti langkah Laras yang membantunya berjalan menuju ke rumah orangtua korban kebakaran pabrik itu.


"Mau apa lagi kalian ke rumah saya? Apa kalian tidak puas setelah membuat saya seperti ini?" tanya Laki-laki paruh baya itu yang diketahui bernama Darno.


"Maaf, Pak. Tapi, bisa bapak ceritakan siapa ya g mendatangi Anda sebelum kami? Karena, jujur saja, tidak ada perintah dari perusahaan untuk melakukan pemaksaan pada keluarga korban," ujar Laras dengan sangat sopan dan berhati-hati.


"Alah, gak usah berkelit, jelas-jelas yang mendatangi kami itu dari perusahaan kalian. Kalian memang tidak berprikemanusiaan! Kami hanya meminta keadilan bagi anak kami yang telah meninggal karena kelalaian kalian dalam mengelola perusahaan. Tapi, kalian malah memaksa kami menandatangani surat damai secara paksa! Dasar orang-orang picik!" teriak wanita paruh baya itu sambil menatap Laras dengan penuh rasa kecewa. Matanya tampak berkaca-kaca menahan sakit dan sesak di dalam dada.


"Anakku meninggal! Kalian pikir, ada yang bisa mengganti nyawanya? Tidak! Bahkan jika kalian beri kami semua yang kalian miliki, itu tidak ada pernah bisa menggantikan nyawa anak kami."


Laras menunduk dalam, sungguh dia tak kuat lagi melihat kesedihan yang terlihat jelas dari wajah sepasang paruh baya di depannya.


...❤‍🩹...


"Sebaiknya kita pulang dulu, kamu harus membersihkan diri sebelum kita lanjutkan ke rumah sakit," ujar Ervin ketika mereka berdua sudah ada di dalam mobil kembali.


"Heem," angguk Laras sebagai jawaban.

__ADS_1


"Apa tuan tau, siapa yang mungkin bisa melakukan semua itu pada mereka?" tanya Laras yang masih belum bisa menerima perbuatan orang yang telah mengancam orang tua korban untuk menandatangani surat damai.


"Kenapa mereka bisa dipaksa menandatangani surat damai, sementara informasi yang datang ke perusahaan malah sebaliknya? Mereka menuntut dua kali lipat dari jumlah yang kita tawarkan untuk ganti rugi," sambung Laras lagi.


"Terkadang, itu memang terjadi dalam situasi seperti ini," jawab Ervin dengan suara yang terdengar datar.


"Mereka cenderung mencari kesempatan di dalam kesempitan orang lain, tanpa tahu itu dapat merugikan diri mereka sendiri."


...❤‍🩹...


Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, laras dan Ervin kembali berangkat menuju ke rumah sakit, untuk menjenguk korban luka-luka yang masih melakukan perawatan di rumah sakit.


Lara kembali menatap lamat wajah tegas suaminya. Entah berapa banyak lagi kejutan yang akan dia dapatkan dalam satu masalah ini? Belum cukup kah kejutan yang sudah dia dapatkan semenjak menikah dengan Ervin? Menanggung tanggung jawab yang begitu besar seperti ini ternyata memang cukup menyulitkannya. Apa lagi dengan keadaan Ervin yang sekarang.


"Apa Tuan yakin, sekarang tidak akan terjadi apa-apa? Bagaiamana kalau mereka malakukan hal yang lebih parah dari istrinya Pak Darno?" tanya Laras dengan wajah yang masih terlihat gelisah. Sejak tadi dia melarang Ervin ikut ke rumah sakit karena takut terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan seperti sebelumnya. Namun, Ervin bersikeras tetap ikut, hingga kini keduanya berada di dalam mobil yang mulai memasuki area rumah sakit tujuan mereka.


Ervin menghembuskan napas kesal lalu berbicara dengan sisa kesabarannya pada istrinya itu. "Harus berapa kali saya peringatkan, Laras? Jangan panggil saya tuan. Apa kamu belum mengerti juga?"


Laras terdiam dengan mata berkedip pelan. tenggorokannya tiba-tiba terasa kering, hingga sulit untuknya menelan salivanya sendiri. Kenapa dia selalu lupa akan hal itu? Ah, bagaimana ini?


"T-tapi ... tadi tidak apa-apa?" gumam Laras dengan pipi yang menggembung dan kepala menunduk dalam.


Herdi yang tidak sengaja melihat ekspresi itu di wajah sang nyonya, hanya bisa mengalihkan pandangan secepatnya agar tidak kelepasan karena terlalu gemas pada istri majikannya itu.


"Tadi adalah kesepatan terakhir. Mulai sekarang tidak ada toleransi lagi. Kamu paham?" Ervin berujar dengan suara dingin, walau terdengar sedikit getaran di dalamnya.


"I-iya," angguk Laras.


"Iya apa?" tanya Ervin sambil mengulum senyumnya. Laras dibuat semakin panik, dia mengedarkan pandangannya, mencari alasan agar bisa segera lari dari suaminya.


Laras menghembuakan napas lega dengan rasa syukur si dalam hatinya. Situasi bahkan seolah sedang berpihak padanya, saat ini karena, tepat saat Ervin bertanya, Herdi menghentikan mobilnya di lobi rumah sakit, hingga mengalihkan perhatian Laras.


"Ah, kita sudah sampai. Aku akan turun duluan," ujar Laras sambil segera ke luar dari mobil, demi untuk menghindari suaminya sendiri.


"Ck!" Ervin berdecak kesal, ketika ucapannya tak dihiraukan oleh Laras. lebih lagi, ketika Herdi sebagai supir yang tak peka dengan perasaannya saat ini.


"Biar saya bantu, Tuan muda." Suara Herdi kembali menyapa telinga hingga, hingga dengan terpaksa, Ervin pun ke luar dengan dibantu oleh sopirnya. Sementara itu Laras sudah lebih dulu pergi ke lobi untuk menanyakan ruang rawat para korban.


"Di mana istriku?" tanya Ervin ketika dia malah dibantu oleh Herdi, alih-alih Laras.


"Nyonya sudah ada di resepsionis, Tuan," jawab Herdi sambil membantu Ervin berjalan masuk ke rumah sakit.


"Bukannya kita sudah tahu di mana letak kamar mereka? Mau apa lagi dia ke resepsionis?" Ervin tahu jika saat ini Laras sedang menghindarinya, hanya karena sebuah panggilan yang diganti.

__ADS_1


Herdi terdiam, dia terlalu takut untuk menjawab.


"Ck! Apa susahnya sih mengganti panggilan saja? Lagian, dia juga baru beberapa bulan memanggilku dengan kata itu," kesal Ervin.


"Bawa aku ke kursi tunggu," titah Ervin lagi, yang membuat Herdi kebingungan. Namun, walau begitu Herdi masih menurutinya.


"Tinggalkan aku sendiri," titah Ervin lagi setelah duduk.


"Tapi, Tuan--" Herdi mengernyit bingung, dia tentu tidak mau meninggalkan tuannya sendiri di tempat ramai begini.


"Herdi? Kamu tinggalkan aku di sini, atau kupotong gaji kamu bulan ini?" ancam Ervin dengan wajah tak berdosa dan suara datarnya.


Herdi melebarkan matanya penuh. Ancaman bosnya itu memang tidak pernah main-main, jika tidak pecat, maka potong gaji. Sungguh tega memang.


"B-baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi," angguk Herdi, kemudian berjalan menjauh dari Ervin.


"Akh tunggu!" Hendri menghentikan langkahnya ketika mendengar terikan Ervin, dia kemudian mendekat kembali.


"Jangan memberi tahu dia kalau kita sudah tau nomor kamar mereka," ujar Ervin yang langsung disetujui oleh Herdi. Dia pun kembali berjalan menjauh dari tuannya itu. Diam-diam Herdi mengirimkan pesan pada Laras, untuk memberitahu keberadaan Ervin yang memilih menunggunya sendiri.


"Ayo, aku udah dapet nomor ruangan mereka," ujar Laras ketika sudah berdiri di depan Ervin dengan wajah riangnya.


"Eum," angguk Ervin sambil beranjak berdiri.


Keduanya pun berjalan bersama menuju ruang rawat yang dimaksud. Laras malah tampak sedikit canggung, tetapi dia berusaha untuk menutupinya mengingat urusan perushaan lebih penting dibandingkan dengan perasaannya sendiri saat ini.


"Apa ini? Bukannya ini ruang rawat kelas tiga?" gumam Laras begitu dia sampai di depan salah satu ruang rawat korban.


"Ruang kelas tiga? Bukannya aku suruh kamu memberikan mereka ruangan setidaknya kelas dua atau kelas satu untuk yang cedera parah?" Kerutan di kening Ervin terlihat begutu dalam. Kecewa sangat jelas tergambar di wajah tampan CEO perusahaan itu.


"Aku juga tidak tahu. Aku menyuruh Emma sesuai dengan perintah yang Anda berikan. Tapi, ternyata seperti ini?" Laras memelankan suaranya di kalimat terakhir. Pandangannya pun mengedar melihat situasi di ruangan itu yang jauh dari kata layak. Bukan hanya ruangannya yang dihuni oleh banyak pasien, tetapi karena ruangannya terlalu sempit, hingga barang-barang pun terlihat berserakan di mana-mana, bahkan ada anak kecil yang tengah bermain di sana.


"Kenapa begitu ramai di sini?" tanya Ervin lagi.


"Ini benar-benar tidak layak disebut ruang perawatan, tempat ini seperti pengungsian," gumam Laras dengan mata berkaca-kaca dan hati yang kembali menjerit menahan sakit.


"Permisi ...." Laras akhirnya membuka suara setelah cukup malam berdiri di ambang pintu, hingga mengalihkan hampir semua orang yang ada di ruangan itu. Seorang perempuan muda dengan perut buncit terlihat menghampirinya. Sepertinya perempuan itu tengah mengandung.


"Kalian siapa ya?" tanyanya pada Laras sambil melirik pada Ervin.


Laras terdiam, tenggorokannya tiba-tiba saja tercekat ketika melihat wajah lelah wanita yang tengah mengandung dengan usia kehamilan yang pasti sudah besar.


"Apa kalian juga salah satu korban dari kebakaran pabrik itu? Kalian juga dipindahkan ke ruangan ini?"

__ADS_1


__ADS_2