Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.38 Bertemu


__ADS_3

Malam ini adalah saatnya Laras datang ke pesta bersama Dion. Sejak sore tadi, Laras sudah bersiap dengan dibantu oleh Mami.


"Kalau sudah cantik, mau dandan kayak gimana pun, tetap aja cantik," ujar Mami sambil menatap penampilan Laras yang sudah rapih dengan riasannya.


Jangan bayangkan jika Laras akan memakai gaun cantik dengan riasan lembut atau pakaian yang menunjukkan lekuk tubuhnya. Tidak sama sekali. Saat ini, Laras sedang memakai stelan jas berwarna putih dengan rambut dia ikat ekor kuda dan kaca mata sebagai pelengkapnya. Riasannya pun dibuat sedikit tegas hingga membuat garis wajah Laras lebih terlihat.


"Makasih, Mami. Ini juga karena Mami yang bantu aku," jawab Laras sambil tersenyum senang.


"Harusnya para sekretaris itu berdandan seperti ini, jangan malah berlomba-lomba menaikan rok sampai kadang mami merasa malu melihatnya," kesal Mami ketika mengingat beberapa kali bertemu dengan sekretaris kolega kerja suaminya yang berpenampilan seksi.


"Kalau kayak gini, malah lebih mirip bodiguard, bukan sekretaris, Mami." Dion yang juga sudah rapih dengan setelannya tampak masuk begitu saja ke kamar Laras yang memang pintunya tidak tertutup rapat.


Laras dan Mami pun langsung menghentikan perbincangan keduanya sambil melirik kedatangan Dion. Mereka mengikuti langkah Dion hingga duduk di ranjang Laras dengan santainya.


"Mana ada bodyguard secantik ini. Iya kan, Ras?" ujar Mami sambil masih saja merapihkan penampilan Laras.


Laras terkekeh, dia memilih tak menjawab, dari pada harus memilih antara ibu dan anak yang selalu saja berdebat walau nyatanya mereka saling menyayangi.


"Sudah siap, kan? Mending kita berangkat sekarang, takutnya nanti kita terlambat," ujar Dion sambil menatap wajah ayu Laras dari pantulan cermin.


"Sudah kok. Tinggal pakai sepatu dan memilih tas, kalian sudah boleh berangkat setelah itu," jawab Mami sambil berjalan cepat menuju tumpukan sepatu dan tas yang sudah mami siapkan sejak tadi pagi. Wanita paruh baya itu memilih dengan begitu cermat lalu memberikannya pada Laras untuk dicoba.


...❤‍🩹...


Dion dan Laras turun bersama dari sebuah mobil mewah milik Dion. Keduanya tampak berdiri sejenak di samping mobil, tepat di ujung karpet merah yang menyambut kedatangan para tamu. Tentu saja, kedatangan mereka cukup menarik perhatian para tamu yang lain, mengingat selama ini, Dion memang jarang menggantikan ayahnya dalam menghadiri pesta.


"Sudah siap?" gumam Dion dengan suara yang pelan, hingga hanya dapat didengar oleh Laras.


"Heem," angguk Laras sambil mengedarkan pandangan, melihat situasi yang sedang terjadi saat ini.

__ADS_1


Dion tersenyum tipis lalu mulai berjalan beriringan bersama Laras yang juga tampak berjalan dengan agun dan penuh percaya diri, aura yang dipancarakan oleh keduanya bahkan mampu membuat para staf dan tamu yang mereka lewati, menahan pandangannya untuk melihat.


"Bukannya itu Dion Atmadja? Anak dari France Atmadja, pengusaha dan pebisnis handal dengan banyak saham tersebar di perusahaan besar?"


"Ini pertama kalinya, Dion Atmadja menghadiri sebuah pesta dari rekan bisnis. Biasanya, dia hanya akan diwakilkan oleh para asisten pribadinya."


"Kira-kira, siapa wanita yang berjalan di sampingnya? Dia tampak tegas dan berwibawa, bahkan auranya bisa menyamai Dion."


"Apa wanita itu adalah kekasihnya Dion Atmadja? Bukannya sudah lama dia tidak digosipkan memiliki hubungan dengan perempuan manapun?"


"Tidak mungkin. Wanita itu, terlihat lebih cocok menjadi seorang bodyguard atau asistennya."


Masih banyak lagi berbagai anggapan dari kebanyakan orang yang mengetahui identitas asli seorang Dion. Sosok Laras yang membuat mereka pangling, mengingat penampilannya yang jauh berbeda dari saat menggantikan Ervin dulu, membuat mereka menjadi penasaran.


Kedatangan Laras juga membuat seluruh tamu yang sudah berada di dalam area pesta mengalihkan perhatian untuk sesaat, mereka berlomba untuk menyapa dan membangun hubungan baik dengan Dion. Lebih singkatnya ... cari muka.


"Ini yang membuatku malas menghadiri pesta," bisik Dion sambil memperlihatkan wajah malas. Kedua tangannya berasa di saku, hanya sesekali dia keluarkan ketika menerima salam dari para rekan pengusaha yang ada, itu pun dengan wajah terpaksa.


"Orang-orang munafik yang memasang topeng ramah dan mengumbar kata manis hanya untuk merayu para tamu dengan strata lebih tinggi. Menjijikan." Dion bergidig ngeri sambil mengedarkan pandangannya ke sembarang arah. Namun, memang begitulah, orang membangun relasinya, dengan banyak rupa topeng di wajah dan mengabaikan hati nurani juga ketulusan. Semunya hanya demi sebuah benda yang bernama ... uang.


"Tinggal gak usah di lihat, apa susahnya," cuek Laras, yang harus kembali menyunggingkan senyum tipis pada seorang laki-laki yang baru saja datang.


"Gak bisa lah, nanti mereka menganggap aku arogan dong," bisiknya lagi setelah laki-laki yang menyapanya pergi.


"Emang kamu dari tadi ngapain, heh? Cuman senyum sama salaman doang, selebihnya juga aku yang bicara sama mereka," kesal Laras.


"Niat mau pura-pura jadi sekretaris kamu, ini malah jadi sekretaris beneran. Ck!" sambung Laras lagi sambil berdecak lirih.


Dion terkekeh pelan sambil menggaruk belakang kepalanya tanpa rasa bersalah. Lalu dia berujar santai. "Manfaatin adik pungut bentar, lagian kamu juga lagi manfaatin aku buat ketemu sama laki-laki brengsek itu."

__ADS_1


"Ck!" Laras memutar bola matanya, jengah. Mulut Dion memang terkadang suka lupa disaring kalau lagi bicara sama dia. Namun, itu tidak sama sekali membuat Laras merasa tidak nyaman. Sudah terbiasa ... mungkin kata itulah yang sekarang cocok menggambarkan hubungan mereka berdua.


Tanpa mereka berdua sadari, dari salah satu sudut ruang pesta itu, sepasang mata tengah memperhatikan mereka sejak keduanya masuk. Dia bahkan tidak pernah melepaskan pandangannya, walau hanya sedetik saja.


Ervin.


Ya, lelaki itu yang kini terus menjadikan Laras sebagai sasaran mata tajamnya. Ervin bahkan terus mengacuhkan orang-orang yang ingin menyapanya, demi agar tidak kehilangan sepasang anak manusia yang terus mengusik pikirannya.


"Bukannya itu laki-laki yang aku temui di bandara waktu itu?" gumam Ervin sambil memperhatiakn wajah Dion.


"Jadi dia adalah Dion Atmadja. Pantas saja, wajahnya terasa tidak asing waktu itu," sambung Ervin lagi.


"Tapi, kenapa wanita yang menangis di depan gerbang ada bersamanya?" Kini Ervin mengalihkan perhatiannya pada Laras.


"Apa dia wanita yang sama dengan wanita yang aku temui di bandara? Kalau benar, berarti wanita itu adalah istrinya Dion Atmadja?" Kerutan di kening Ervin terlihat semakin dalam, ketika berbagai pertanyaan semakin memenuhi kepalanya.


"Kalau memang dia adalah istri Dion, lalu untuk apa dia memaksa masuk ke rumahku dan menangis di depan gerbangku?" Ervin semakin bertambah bingung.


Lama memperhatikan, Ervin akhirnya mulai melangkahkan kakinya, dengan pandangan mengarah pada Laras. Dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa sebenarnya wanita itu? Jika memang mereka saling mengenal, kenapa tidak ada ingatan tentang wanita itu di kepalanya?


"Dion, dia mulai berjalan ke mari." Laras berbisik panik ketika melihat Ervin mulai mendekat. Ya, sebenarnya sejak masuk ke ruang pesta, Laras sudah melihat keberadaan Ervin. Laras juga sudah tahu, jika sejak tadi Ervin terus memperhatikannya dan Dion. Namun, dia berpura-pura acuh tak acuh.


"Biarkan saja, bukannya itu yang kamu mau?" jawab Dion santai.


"Jangan terlalu tegang, bersikaplah senatural mungkin dan palingkan mukamu, jangan melihat dia terus, atau dia akan sadar kalau sejak tadi kita sudah memperhatiakn dia," sambung Dion lagi sambil berdecak lirih.


"Iya. Bawel banget sih, udah kayak kakek-kakek," cebik Laras walau dia pun tidak bisa ke mana-mana.


"Selamat malam, Pak Dion, apa kabar?" Ervin mengulurkan tangannya di hadapan Dion. Lengkap dengan senyum menawan di wajahnya.

__ADS_1


Sementara itu, Laras berusaha keras untuk mengendalikan diri di depan lelaki yang sekarang ini begitu sangat dia ingin temui. Namun, begitu jarak mereka sudah dekat, bibirnya menjadi kelu dengan tubuh menegang seluruhnya. Hanya ada debat jantung yang semakin cepat di dalam dadanya.


Bagaimana ini?


__ADS_2