Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.12 Jalan pagi


__ADS_3

Laras menghentikan langkahnya di ujung tangga ketika tiba-tiba ponsel di tangannya bergertar. Keningnya mengernyit tipis ketika melihat itu adalah nomor panti. Tidak mau mengganggu tidur Ervin, Laras memilih berjalan ke arah balkon rumah.


"Halo," sapanya sambil menempelkan ponselnya di telinga.


"Halo, Kak Laras."


Kerutan di kening Laras terlihat semakin dalam ketika dia menyadari siapa yang menghubunghinya di larut malam begini.


"Nuri? Kamu belum tidur? Ada apa? Kenapa telepon kakak malam-malam begini?" tanya Laras dengan wajah berubah sedikit panik.


"Nuri kangen sama Kak Laras, Nuri mau ketemu Kak Laras." Suara anak kecil yang mulai terisak itu membuat hati Laras terenyuh. Nuri adalah adik panti yang sangat dekat dengan Laras. Biasanya Laras akan menyempatkan diri untuk datang ke panti dia hari sekali. Namun, ini sudah dia minggu dia tidak datang ke panti.


"Kakak juga kangen sama Nuri, tapi sekarang kakak sedang sibuk. Nanti, kalau kakak ada waktu, kakak pasti ke panti, ya. Sekarang Nuri tidur dulu, sudah malam, nanti kalau ketahuan Ibu gimana?" Laras berbicara sambil berbisik agar tidak mengganggu Ervin, padahal jaraknya dari kamar sudah cukup jauh.


"Tapi, Kakak janji nanti main ke panti, ya. Nuri kangen."


"Eum, nanti kakak pasti main," angguk Laras lagi.


Sambungan telepon pun terputus, Laras berbalik hendak kembali ke kamar, tetapi keningnya mengernyit ketika dia melihat ada seluet orang yang sedang berjalan ke arahnya. Karena curiga, Laras pun memilih bersembunyi di balik pilar sambil menunggu orang itu ke luar. Hingga, di saat orang itu melewatinya dan terlihat jelas wajahnya dari sorot lampu di halaman, Laras menghembuskan napasnya lega karena itu ternyata Ervin.


Laras pun bergerak maju dan menyentuh pundak Ervin. Namun, kesialan ternyata belum lepas dari Laras, karena Ervin refleks membanting tubuhnya dengan sangat kencang, hingga berakhir di atas kerasnya lantai dengan punggung yang terasa berdenyut.


"Akh! Ini aku, Laras! Kenapa Tuan memukulku?!" teriak Laras ketika melihat Ervin sudah mengangkat tongkatnya dan bersiap untuk memukulnya.


"Laras?" gumam Ervin sambil menghentikan pergerakannya dan menurunkan tongkatnya lagi.


"Iya. Memang ada siapa lagi di rumah ini selain kita?" gerutu Laras sambil beranjak bangun dengan bibir meringis menahan nyeri di punggungnya.


"Baguslah. Aku kira maling." Ervin berkata acuh sambil mulai berjalan kembali menuju kamar.


"Astaga? Apa dia anti dengan kata maaf? Kenapa sulit sekali dia bilang begitu? Gak tau apa kalau aku hampir mati karenanya?" gerutu Laras sambil memegang punggungnya yang terasa berdenyut.


Ervin tak acuh, dia masih berjalan lurus walau telinganya dapat mendengar jelas ucapan Laras yang menggerutu kesal.


Laras berjalan pelan mengikuti Ervin sambil menahan rasa sakit di punggung. Dia memilih segera merebahkan dirinya di ranjang tanpa perduli pada Ervin. Sungguh, hari ini dirinya sudah sangat lelah karena tumpukan berkas yang harus dia kerjakan dan sekarang harus ditambah dengan rasa sakit di punggungnya.


"Lengkap sudah penderitaanku hari ini. Semoga jangan ditambah dengan mimpi buruk." Laras kembali bergumam sebelum akhirnya menutup matanya hingga hanya dalam beberapa detik saja, wanita itu langsung terlelap.


Ervin menghembuskan napas pelan, saat mendengar napas Laras sudah teratur hingga dengkuran halus pun mengiringinya. Beranjak duduk di ujung ranjang, kemudian mengusap puncak kepala Laras lembut dengan wajah bersalah.


"Maaf," gumamnya sambil terus mengusap puncak kepala Laras. Entah mengapa, dia tidak bisa mengatakan maaf ketika berada di depan Laras, walau hatinya merasa bersalah. Namun, begitu Laras sudah tertidur, mulutnya seolah bergerak sendiri.

__ADS_1


Tanpa Ervin sadari, Laras tersenyum tipis walau matanya masih tampak tertutup.


...❤‍🩹...


Pagi di akhir pekan yang tampak sempurna dengan cuaca yang sangat indah. Terasa hangat oleh pancaran sinar matahari yang begitu indah.


Laras tersenyum pelan sambil menatap indahnya taman depan rumah dari jendela kamarnya. Dia berbalik ketika mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Ervin tampak ke luar dari sana masih dengan handuk yang menempel di tubuhnya.


"Hari ini cuacanya bagus, mau jalan-jalan pagi?" tanya Laras sambil tersenyum cerah. Setelah seminggu ini dia disibukkan dengan semua pekerjaan kantor, akhirnya hari ini dia sedikit bisa bernapas lega.


Ervin tidak menjawab, dia hanya mengangguk samar sambil menlanjutkan langkahnya menuju walk in closet untuk memakai baju yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Laras.


"Ayo," ujarnya sambil mendekati Ervin dan menggendeng tangannya untuk menuntun Ervin.


Namun, Ervin yang terkejut, refleks melepaskan tangan Laras sambil bergeser satu langkah menjauh. Laras tidak menyerah, dia kembali meraih tangan Ervin dan menggendengnya.


"Begini lebih mudah. Tuan enggak perlu menggunakan tongkat atau membawa Jojo lagi, selama ada aku," ujar Laras sambil tersenyum senang dan mengertakan tangannya di lengan Ervin.


Ervin berdehem pelan dengan tubuh yang terasa menegang. Ini terasa sangat asing untuknya yang terbiasa sendiri dalam melakukan apa pun. Namun, etah mengapa, ada sedikit rasa menggelitik di dalam hatinya, yang membuatnya merasa nyaman, hingga Ervin memilih menuruti Laras. Keduanya pun mulai melangkahkan kakinya ke luar dari kamar bersama-sama.


"Kali ini, gimana kalau kita jalan-jalan di tempat lain? Cari suasana baru yang lebih menyenangkan?" tanya Laras begitu keduanya ke luar rumah.


"Tidak ada yang lebih menyenangkan. Semuanya terasa sama untukku," jawab Ervin dengan wajah datarnya.


"Aku--"


"Jangan protes dulu, nurut sesekali sama istri." Laras memotong ucapan Ervin kemudian menutup pintu mobilnya.


Ervin terdiam dengan tubuh menegang kala mendengar ucapan Laras tentang status mereka sebagai sepasang suami istri. Jantungnya tiba-tiba berdebar begitu kencang hingga membuatnya gugup dengan rasa tidak nyaman dalam dada. Walau begitu, Ervin mencoba untuk tetap bersikap biasa saja di depan Laras.


"Kita ke sini ya, Pak," ujar Laras lagi pada sopir yang sudah bersiap di balik kemudi.


Sepanjang jalan, Laras tak berhenti berbicara, dia terus menerangkan apa yang dia lihat di sekitarnya. Bahkan setiap ada sesuatu yang menjadi patokan seperti mall atau patung yang mereka lewati, Laras akan mengatakannya pada Ervin, agar laki-laki itu bisa merasakan juga perjalanan pagi hari ini. Beberapa saat kemudian, mobil pun berhenti di sebuah parkiran. Laras ke luar lebih dulu kemudian menuntun Ervin.


Ervin mengernyit pelan ketika mendengar debur ombak yang begitu dekat, ditambah angin yang menyebarkan wangi khas laut menerpa tubuhnya.


"Pantai?" guman Ervin.


"Wah, Tuan memang sangat pintar. Seratus buat Tuan!" seru Laras takjub dengan tebakan Ervin yang memang benar.


Laras membawa Ervin ke tepi pantai dan berdiri di sana. Laki-laki itu terdiam sambil menutup mata, perlahan dia hirup aroma yang sudah begitu lama tak lagi dia rasakan. Entah kapan terakhir kali dia menginjakkan kakinya di pantai? Yang jelas, sejak dia mengalami kecelakaan, Ervin tidak pernah lagi ke luar dari rumah. Laki-laki itu seolah tengah menghukun dirinya sendiri, dengan memutuskan hubungan dengan orang lain, bahkan teman dan kerabatnya.

__ADS_1


"Akhirnya aku bisa nemenin Tuan jalan-jalan pagi," ujar Laras begitu keduanya berjalan di pinggir pantai yang masih cukup sepi, mengingat hari masih terlalu pagi.


Tanpa sadar, garis bibir Ervin tertarik ke atas, hingga menampilkan senyum tipis yang tampak sangat jarang terlihat. Merasakan butir pasir di sela-sela jarinya yang menggelitik, Ervin bahkan udah lupa bagaimana indahnya hamparan pasir yang dengan setia menerima terpaan ombak, walau dia harus terombang ambing karenanya.


"Bukannya selama ini kamu sering ngikutin aku?" tanya Ervin yang lagi-lagi membuat Laras terkejut.


"Jadi, Tuan tau?" tanya Laras sambil menoleh cepat pada Ervin. Matanya tampak memicing, penuh selidik. Selama ini, Laras memang suka menemani Ervin secara diam-diam. Dia akan mengikuti Ervin dari belakang hingga akhirnya suaminya itu kembali ke rumah.


"Tuan beneran gak bisa liat kan?" tanyanya sambil melambaikan tangan tepat di depan wajah Ervin.


Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Ervin dapat merasakan lagi sedikit kehangatan di dalam hatinya, setelah selama ini dia tutup rapat hingga tidak meninggalkan celah sedikit pun untuk siapa pun masuk. Namun, kini Laras berhasil mengetuknya dan menyelinap hingga memberikan kehangatan di sana.


"Ck! Kalau aku bisa liat, buat apa aku nikah sama kamu, heh?" decak Ervin dengan wajah yang berubah kesal. Walau dalam hati, dia merasakan hal yang berbeda.


"Ya, nurutin kemauan almarhun nyonya. Mungkin?" jawab Laras enteng.


"Aku bukan anak penurut!" Ervin langsung memotong ucapan Laras.


"Iya-iya, aku kalah, Tuan Ervin yang terhormat," jawab Laras sambil menghembuskan napas pelan. Dia terpaksa mengalah, dari pada melihat suasan hati Ervin yang akan segera memburuk.


"Aku kan cuman alat buat mempertahankan posisi kamu di perusahaan," gumam pelan Laras yang masih bisa didengar jelas oleh Ervin.


Ervin terdiam, ada rasa perih yang merambat di dalam hatinya, ketika mendengar ucapan Laras. Walau begitu, dia masih merasa semua yang dilakukan Laras untuknya setimpal dengan berapa banyak uang yang didapatkan oleh wanita itu juga. Ini bukanlah pernikahan atas daras cinta, tetapi pernikahan saling menguntungkan.


"Hah, ayo kita jalan lagi," ujar Laras yang kembali menuntun Ervin untuk berjalan lebih ke tengah, hingga Ervin cukup terkejut ketika merasakan air mulai menyentuh kakinya.


"Kamu tidak berniat untuk membunuhku di sini, kan?" tanya Ervin tiba-tiba sambil mengeratkan genggamannya di tangan Laras.


"Tuan kok tau?" tanya Laras santai, sambil tersenyum tipis.


"J--jadi kamu--" Ervin melebarkan matanya dengan wajah yang mulai mengeras. tampaknya sebentar lagi laki-laki itu akan murka pada Laras.


"Hahaha! Ya enggak lah, mana mungkin aku mau bunuh sumber penghasilanku," jawab Laras sambil tertawa renyah.


"Kamu--" Ervin tampak geram.


"Kenapa? Hidup itu jangan terus diabawa serius, Tuan. Sesekali bercanda gak ada salahnya, biar otot kita gak terlalu tegang," ujar Laras lagi sambil merangkul tangan Ervin dan menyandarkan kepalanya di sana. Tanpa sadar, Laras pun tersenyum senang.


"Lagian, sopir Tuan juga ngikutin kita kok. Jadi, kalau Tuan gak percaya sama aku, percaya saja sama dia. Dia gak akan ngelepasin aku kalau aku berbuat sesuatu sama Tuan," gumam Laras sambil mulai menutup matanya, menikmati kehangatan matahari yang menerpa tubuh keduanya.


Sepasang sejoli itu pun tampak berjalan kembali menyusuri garis pantai dan menikmati kebersamaan, tanpa peduli dengan orang sekitarnya yang sudah mulai berdatangan. Hingga tiba-tiba seseorang tak dikenal terdengar menyapa, dan membuat keduanya terkejut.

__ADS_1


"Ervin?"


__ADS_2