Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.31 Malaikat pelindung


__ADS_3

"Kondisinya sudah stabil, kesadarannya semakin pulih. Laras juga tidak menderita komplikasi akibat benturan saat kecelakaan," ujar Bibi Joana. Dokter yang selama ini merawat Laras, sekaligus bibi dari Dion.


"Tapi kenapa dia sangat sulit untuk menggerakan tubuhnya, bahkan berbicara saja hanya mengeluarkan suara lirih?" tanya Dion yang masih merasa khawatir pada keadaan Laras.


"Itu adalah efek dari kondisi koma selama ini. Karena dia sudah lama tidak bergerak, maka otomatis sendi dan ototnya menjadi kaku hingga sulit untuk digerakan. Tapi, tenang saja, aku akan menjadawalkan terapi untuk melatih kembali kekutan otot dan sendinya lagi," jelas Bibi Joana.


Dion mengangguk-anggukan kepala, dia cukup puas dengan keadaan saat ini. Sejujurnya, hanya dengan melihat Laras yang bisa sadar kembali saja, sudah begitu membahagiakannya.


"Kehamilannya? Apa sekarang bayi yang ada di kandungannya bisa selamat?" tanya Dion lagi.


Sungguh, sebenarnya ada rasa hancur dalam hatinya ketika dia mendengar jika Laras sedang mengandung. Semua itu seolah menjelaskan, jika semua yang dikatakan Laras tentang hubungannya dan Ervin adalah benar. Sekaligus, membuat dia sadar, jika kini tak ada lagi harapan untuknya dapat memiliki hati seorang Laras, selain hanya sebagai sahabat.


"Itu semua bergantung dari kesehatan sang ibu. Namun, karena sekarang Laras sudah bangun, kita lebih mudah untuk memantau keadaannya dan berusaha untuk membuatnya tumbuh hingga beratnya normal." Joana masih menjelaskan dengan sabar pada keponakannya.


"Syukurlah." Dion menghembuskan napas lega. Sungguh, dia tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya laras jika sampai terjadi sesutu pada anak yang kini tengah dia kandung.


Keduanya kembali membicarakan hal lain, sementara Laras dibiarkan istirahat dulu setelah tadi mendengar sedikit penjelasan tentang keadaannya saat ini dan menjalani beberapa pemeriksaan, untuk memastikan kondisinya.


❤‍🩹


Flashback ....


"Bertahanlah, Ras. Aku mohon." Entah berapa kali Dion mengucapkan kata itu sambil melihat ke arah belakang kursi seraya memastikan keadaan Laras.


Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi di tengah hujan yang masih mengguyur kala itu, Dion menghentikan mobilnya di salah satu rumah sakit. Seorang lelaki dengan seragam dokter sudah menunggunya di pintu belakang rumah sakit dengan brangkar di samping.

__ADS_1


"Om udah pastikan kalau ini aman 'kan?" tanya Dion setelah memindahkan Laras ke brankar.


"Aman, semua yang membantu adalah orang-orang kepercayaan Om semua," ujar laki-laki paruh baya berkacamata. Dia adalah salah satu teman ayah Dion sekaligus dokter pribadi keluarganya.


"Tolong selamatkan Nyonya. Ini bukan kecelakaan biasa." Ucapan terakhir Herdi kembali melintas di ingatan Dion, ketika dia menunggui Laras yang sedang diperiksa.


"Bukan kecelakaan biasa? Jadi, ada yang ingin mecelakai Laras dengan sengaja?" gumam Dion. Dia tak lagi peduli pada bajunya yang sudah kotor oleh darah dan basah karena air hujan. Pikirannya sama sekali tak bisa lepas dari Laras.


Tak mau menunggu lama, Dion langsung menghubungi salah satu temannya untuk mencari tahu tentang kecelakaan yang menipa Laras. Beberapa hari kemudian, dia pun sudah mendapatkan informasi yang membuatnya geram bukan main.


"Sopir truk itu melarikan diri, dia masih menjadi DPO sampai sekarang. Karena itu juga, kecelakaan itu masih tidak jelas, motif dan alasannya," ujar salah satu teman Dion yang dia suruh untuk mencari tahu tentang kecelakaan Laras beberapa hari lalu.


"Bagaimana keadaan sopirnya? Apa dia selamat?" tanya Dion lagi.


"Dia meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit."


"Tapi, aku mendapatkan ini ketika menyelidiki tentang keluarga Ervin." Laki-laki dengan rambut cepak itu memberikan beberapa informasi lain pada Dion. Tanpa bertanya, Dion mengalihkan perhatiannya pada layar laptop yang tampak memperlihatkan beberapa identitas dari anggota keluarga Alfredo.


"Selidiki tentang adik dan ibu tirinya, aku curiga pada mereka," titah Dion yang langsung disetujui oleh temannya.


"Aku sudah tau kamu akan mengatakan itu, makanya aku sudah melakukannya." Teman Dion berkata sambil memperlihatkan informasi lainnya pada Dion.


"Dasar orang-orang tamak. Mereka bahkan tidak segan menyingkirkan apa saja yang menjadi halangannya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, dan Laras adalah halangan terbesar mereka. Itu sebabnya mereka melakukan ini." Dion geram bukan main. Ternyata keluarga Ervin sangat kacau dan jauh dari kata bahagia.


Flashback off

__ADS_1


"Jadi kamu memilih untuk membawaku ke sini?" tanya Laras. Dia sama sekali tidak terkejut dengan cerita di balik kecelakaan yang menimpanya. Dia hanya bersedih karena Herdi harus menjadi korban dan meregang nyawa. Walau mereka belum lama bersama, tetapi Herdi adalah satu-satunya karyawan yang dekat dengannya setelah Dedrik.


"Iya. Aku yakin mereka masih mencari kamu sampai saat ini, karena kamu yang tiba-tiba menghilang di hari kecelakaan."


Laras dapat melihat jelas kilat kemarahan dari wajah Dion. Dirinya merasa bersalah pada laki-laki yang sudah lama menjadi sahabatnya itu, karena sudah menjadi beban, bahkan di saat dia tidak bisa membalas perasaannya.


"Terima kasih, Yon. Aku gak tau harus membalas semua kebaikan kamu dengan apa," ujar Laras dengan tatapan sendu. Dia tatap kaki yang sampai saat ini belum dapat dia gunakan untuk berjalan. Laras masih harus mengandalkan kursi roda untuk beraktivitas.


"Kamu harus sembuh dan sehat, cukup itu saja yang aku mau sebagai balas budi kamu padaku, Ras. Jangan pikirkan yang lain, karena aku sudah punya semuanya." Dion terkekeh di ujung kelimatnya. Namun, dia bersungguh-sungguh akan hal itu. Melihat Laras bisa sembuh dan sehat kembali adalah hal yang selama ini dia nantikan.


Satu tetes air mata jatuh begitu saja membasahi pipi kemerahan Laras. Dia bersyukur karena memiliki sahabat sebaik Dion. Tak seperti laki-laki lain yang akan memiliki rasa dendam karena cintanya ditolak, Dion malah menjadi seorang penolong bak malaikat pelindung untuknya.


"Aku ini sahabat kamu, Ras. Bila kamu ragu akan hal itu, kamu boleh menganggapku sebagai seorang kakak? Yaa, walaupun umur kita hanya berbeda beberapa bulan, tapi tetap saja, aku lebih tua darimu," ujar Dion lagi sambil tersenyum tulus. Ibu jarinya terangkat menghapus sisa air mata di pipi Laras dengan penuh kelembutan.


Laras tersenyum haru, mendengar penuturan Dion, walau memang terdengar sedikit lucu. Seorang Kakak? Mungkinkah itu bisa terjadi?


"Jadi aku harus memanggil Abang?" tanya Laras sambil mengulum senyum, masih merasa asing dengan panggilan itu. Aneh jika dia benar-benar harus menganggap Dion Abang, sementara selama ini mereka hanyalah dia sahabat biasa.


Dion tak langsung menjawab, dia miringkan kepalanya ke kanan seolah sedang berpikir keras lalu berjar dengan candaan yang membuat tawa keduanya mengudara. "Bagus juga. Jadi sekarang aku punya adik dan akan segera memiliki keponakan. Waw, sepertinya menyenangkan!"


"Apa kamu juga mencari tau tentang Ervin? Bagaimana keadaanya sekarang?" tanya Laras setelah tawa keduanya mereda.


Dion langsung terdiam, wajahnya berubah tak seramah sebelumnya. Entah apa yang disembunyikan oleh laki-laki itu, tetapi Laras tahu, pasti ada yang salah di sini.


"Ada apa, Dion?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Apa kamu masih ingin kembali padanya?" tanya Dion dengan suara yang terdengar berubah dingin.


__ADS_2