
"Kami ini korban dari kebakaran pabrik. Kenapa kami ditempatkan di ruang rawat yang seperti ini?" tanya Pak Darno sebagai perwakilan dari wali para korban.
"Kami harap bapak bisa bersabar dulu, kami sedang mengajukan dana untuk perawatan para korban. Kami akan mengusahan yang terbaik untuk kalian." Seorang perempuan terlihat berbicara untuk menenangkan para wali korban.
"Setidaknya berikan kami perawatan yang baik, jangan malah menempatkan kami dalam ruangan tidak layak huni begini," debat pak Darno, masih mencoba berdiskusi dengan pihak perusahaan.
"Kami paham perasaan bapak dan ibu sekalian. Tetapi, perusahaan memiliki aturan dan prosedur yang harus kami lengkapi sebelum mencairkan seluruh uang. Kami harap, kalian juga bisa memaklumi kami, sebagai karyawan biasa." Sang wanita mulai menunjukkan wajah mengiba, mencari belas kasihan dari para keluarga yang tengah mengalami kemalangan. Sungguh, tidak tahu malu, bukan?
Malam itu, setelah berdebat cukup lama, para wali korban pun memilih mengalah dan menunggu pihak perusahaan akan membantu mereka untuk menjalankan pengobatan. Namun, ternyata itu semua tidak terbukti sama sekali. Tidak ada niat baik dari para petinggi perusahaan, bahkan mereka seperti menghilang tanpa kabar, sementara pengobatan bagi para korban sedang menunggu biaya medis, agar segera ditangani.
Kemarahan mereka semakin memuncak ketika mereka mendapatkan informasi, jika dari awal perusahaan memang tidak pernah mau mengeluarkan uang untuk biaya pengobatan para korban. Akhirnya, mereka pun nekat untuk datang langsung ke perusahaan dan menuntut keadilan di depan gedung pusat, di mana para petinggi perusahaan berada.
Namun, semua itu tidak berhasil sama sekali. Malam harinya, para laki-laki dengan memakai jaket hitam, tiba-tiba mendatangi setiap pendemo yang masih bertahan di depan gedung perusahaan dan memukuli mereka secara brutal. Laki-laki itu juga memberi ancaman akan melakukan hal yang lebih buruk lagi jika para wali korban masih menuntut ganti rugi pada perusahaan.
...❤🩹...
"Apa yang kalian lakukan, hah? Kenapa Ervin bisa tahu tentang para korban?!" teriak Roland pada beberapa laki-laki yang merupakan anak buahnya.
"M-maafkan kami, Tuan. Kami tidak tahu kalau mereka akan mendatangi para keluarga korban secara langsung," ujar salah satu laki-laki dengan jaket berwarna hitam itu.
"Dasar tidak berguna! Untuk apa aku mempekerjakan kalian selama ini, kalau ngurus hal kayak gini aja gak bisa?!" teriak Roland yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
"M-maafkan kami, Tuan." Para laki-laki berjaket hitam itu hanya bisa menunduk dalam, takut akan kemarahan Roland.
"Haish!" Roland mengambil tongkat golf di pojok ruangan itu lalu memukul salah satu pria yang berdiri paling depan, berulang kali. Tidak ada yang berani menghentikan kebrutalan Roland. Mereka semua terlalu takut akan diperlakukan lebih parah dari temannya, jika sampai berani membuka suara.
__ADS_1
...❤🩹...
Sepanjang perjalanan, baik Laras maupun Ervin hanya terdiam dengan wajah yang tak bisa diartikan. Keduanya baru saja pulang setelah malam sudah cukup larut. Mereka sibuk mengurus sendiri keperluan di rumah sakit untuk para korban.
Laras dan Ervin pun sempat meminta maaf atas semua yang sudah terjadi pada para korban maupun keluarga korban yang mengalami kekerasan. Ervin bahkan langsung berbicara dengan pihak rumah sakit tempat mereka di rawat. Kini, semua biaya pengobatan akan langsung masuk pada tagihan perusahaan. Sementara uang untuk ganti rugi sekaligus sebagai pesangon para korban, ternyata sudah disiapkan oleh Ervin jauh-jauh hari.
Namun, meski begitu, Laras masih saja belum bisa beradaptasi dengan situasi dan kabar yang baru saja dia terima, hingga wanita itu masih saja terdiam dengan keterkejutannya.
"Semuanya akan baik-baik saja. Kamu percaya sama aku, kan?" Ervin menggenggam tangan Laras ketika mereka sudah ke luar dari mobil.
"Heem." Laras hanya bergumam dengan tatapan yang masih tampak tak tenang. Entah apa yang kini berada dalam pikiran wanita itu, hingga dia seolah asik dengan duanianya sendiri.
Keduanya berjalan beriringan menuju ke lantai dua. Laras yang biasanya selalu membalas sapaan para pelayan yang berlalu lalang, kini seolah tak melihat mereka semua. Bibir wanita itu bungkam seribu bahasa. Ervin tahu itu, dia hanya terdiam sambil terus berjalan mengimbangi langkah Laras, hingga keduanya sampai di kamar mereka.
"Menangislah, sekarang hanya ada aku di sini," ujar Ervin dengan suara yang sangat lembut. Ervin tahu, beberapa hari ini begitu melelahkan untuk Laras. Mulai dari kejadian kebakaran, hingga semua kenyataan yang baru saja didengar oleh Laras. Itu semua, pasti membebaninya dengan segala rasa yang bahkan baru kali ini wanita itu rasakan.
"Kenapa? Kenapa nyonya Davina harus memilih aku? Kenapa?" tanya Laras yang disertai isak tangis dalam perkataannya.
Ervin menutup matanya dengan mulut mengatup erat. Ada perih yang begitu menyakitkan dalam hatinya, ketika dia mendengar perkataan bernada lemah dan tak berdaya dari wanita yang kini sudah menjadi istrinya. Namun, apa yang akan dia katakan sekarang? Laki-laki itu pun tak tahu jawaban dari pertanyaan Laras? Ibunya bahkan tidak pernah membahas tentang perjodohannya dengan Laras, apa lagi sebuah alasan.
"Maaf ...." Hanya kata itu yang kini dapat lolos dari bibirnya. Sebagai tanda penyesalan, karena sudah menyebabkan Laras ikut terlibat dalam masalah hidupnya yang begitu rumit ini.
"Maafkan aku, Ras. Maaf." Kembali, Ervin berbicara dengan nada penuh penyesalan. Mendengar Laras yang tengah terpuruk, membuatnya merasa harus ikut bertanggung jawa dengan kesedihan istrinya.
"Ini terlalu berat, Pak. Aku merasa tidak akan sanggup menanggungnya lagi," gumam Laras, masih dengan wajah berada di dada bidang Ervin.
__ADS_1
"Tidak! Aku mohon, jangan tinggalkan aku, Ras. Kamu adalah kekuatanku, kamu yang sudah membuat aku memiliki alasan untuk hidup dan melawan mereka lagi, Ras." Ervin semakin mengeratkan pelukannya, kini ketakutan mulai menyelimuti dirinya. Ervin tak mau ditinggalkan lagi.
"Aku lelah. Tolong lepaskan aku. Aku mohon ...." Laras tak bisa lagi menahan diri untuk menyerah. Ini bukan dunianya, semuanya terasa asing dan menyesakkan. Dirinya bahkan tidak tahu, kenapa harus merelakan hidupnya untuk membalas budi dengan cara seperti ini.
"Tidak! Aku tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk pergi. Tidak, Ras ... aku mohon, jangan." Satu tetes air mata lolos begitu saja dari pelupuk. Ervin ketakutan.
"Aku cinta sama kamu, Ras. Aku mohon, kamu jangan tinggalin aku," sambung Ervin lagi tanpa melepaskan pelukannya pada sang istri. Hilang semua gengsi dan keangkuhan yang dia perlihatkan pada Laras selama ini. Kini, semua itu sudah luluh lantah dengan ketakutan akan ditinggalkan untuk yang kesekian kalinya.
"Aku kalah, Ras. Aku tidak bisa lagi menyembunyikan perasaanku kepadamu. Aku, mengaku. Aku mencintai kamu, Ras. Sekarang, kamu tidak perlu melindungiku lagi, karena akulah yang akan menjadi pelindungmu. Kamu hanya perlu selalu ada di sampingku. Aku janji, akan mengalahkan mereka, aku akan buat kamu bahagia ... aku janji."
Laras terdiam, tiba-tiba saja lidahnya terasa kelu. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, dengan debar jantung yang begitu dahsyat. Tangisnya mereda. Mendengar pengakuan Ervin, seketika semua kesdihan dan kegundahannya seolah sirna entah ke mana.
Namun, apakah ini yang Laras harapkan selama ini? Sebuah cinta yang datang dari seorang Ervin? Apa dia juga mencintai suaminya? Bagaiamna jika itu hanya sekedar rasa iba?
Laras meragu. Hatinya kembali ambigu, dengan perasaan yang tak menentu. Haruskah dia bertahan? Atau, lebih baik menyerah, sebelum rasa itu tumbuh semakin dalam?
Perlahan, Laras urai pelukan Ervin dari tubuhnya hingga jarak mereka pun tercipta. Dia pandang wajah tampan nan rupawan yang selama ini sudah menemani setiap malam dan harinya. Sosok laki-laki misterius dan pemarah, yang menurutnya hanya seperti seorang anak kecil.
Bagaikan terhipnotis oleh mata hitam yang selalu menatap kosong itu, perlahan tangan Laras terangkat hingga menangkup kedua pipi tirus suaminya. Ada sedikit kasar di daerah jambang dan janggutnya yang mulai tampak tumbuh hingga menimbulkan bintik-bintik hitam kecil di sekitar wajah tampan Ervin.
Senyum tipis itu terbit, ketika dia mengingat jika tadi pagi dia lupa membantu sang suami untuk mencukurnya. Ah, karena terlalu memikirkan para korban, dia bahakn sampai lupa akan kewajibannya pada sang suami. Namun, semua itu tak bertahan lama, kala Laras kembali mengingat begitu banyak beban yang menanti di depan jalannya, jika dia memilih terus bersama Ervin.
"Aku tidak yakin bisa bertahan dengamu," ujar Laras dengan mata berkaca-kaca. Wajah wanita itu bahkan masih tampak basah karena bekas tetes air mata beberapa saat yang lalu.
Ervin menggeleng pelan. Gurat kecewa begitu kentara di wajah tampannya yang kini tampak berubah sendu. Kelopak mata itu berkedip perlahan, menahan sesak yang mulai merambat menyelimuti hatinya.
__ADS_1