
Flashback 1tahun yang lalu.
"Dia?" gumam Papi ketika baru saja melihat wajah Laras yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah adiknya. Wajah Laras yang sangat mirip dengan wanita yang pernah dia gauli di masa silam, membuatnya terkejut bukan main.
"Papi kenal sama wanita itu?" tanya Mami ketika mereka melihat Laras untuk pertama kalinya.
Papi masih terpaku, tatapannya bahkan tak pernah lepas dari wajah Laras yang masih terbalut perban di beberapa tempat. Walaupun di malam itu dia tidak dapat melihat jelas wajah wanita itu, tetapi anak buahnya berhasil mendapatkan fotonya, hingga papi bisa melihat jelas rupa wanita yang sudah menjadi korban kekhilafannya.
"Papi?" tanya Mami sekali lagi.
"Heh? Apa, Mami?" Papi langsunh mengalihkan pandangannya pada Mami dengan wajah terkejut, seolah baru saja dibangunkan dari lamunan.
"Papi kenal sama wanita itu?" tanya Mami lagi.
"Ah? Enggak, hanya wajahnya terasa tidak asing. Mungkin kami pernah berpapasan di suatu tempat," jawab Papi dengan wajah serba salah.
Mami sedikit curiga, tetapi dia tidak memikirkannya. Papi yang memang sibuk bekerja dan banyak bertemu orang, memang tidak menutup kemungkinan jika yang dikatakannya itu benar.
Namun, tanpa sepengetahuan Mami, Papi meminta tolong pada bibi Joana untuk melakukan tes DNA untuk Laras dan dirinya. Awalnya bibi Joana menolak, dia tidak mau ikut campur akan kesalahan masa lalu Papi. Tetapi, papi tidak mudah menyerah, dia terus berusaha untuk merayu bibi Joana, hingga akhirnya wanita itu menyerah dan memilih mengalah. Toh, itu juga akan membantunya mengetahui apakah Laras adalah keponakannya atau bukan.
Beberapa waktu kemudian, hasil tes DNA pun ke luar.
"Dia memang anak kamu, Bang," ujar Bibi Joana dengan wajah yang sama sekali tak bisa terbaca. Terlalu rumit. Sementara itu, tangannya mengulurkan sebuah amplop putih dengan logo rumah sakit tempat Joana bekerja.
Papi terdian dengan hembusan napas berat yang terdengar beberapa kali, laki-laki itu terlihat lemas hingga tanpa sadar tubuhnya goyah. Matanya menatap amplop putih di tangan Joana tanpa berani menyentuh atau menerimanya.
Terkejut? Tentu. Siapa yang tidak akan terkenjut, jika tiba-tiba menemukan keponakan setelah berumur dewasa. Marah? Ingin rasanya Joana pukuli tubuh abangnya yang tidak bisa menjaga diri sampai memiliki anak di luar nikah. Namun, semua itu sudah terjadi. Kemarahan tidak akan merubah apa pun yang sudah menjadi takdir.
__ADS_1
Walau ada rasa bimbang dalam hatinya, tetapi Papi juga merasa lega karena sudah menemukan satu anak yang selama ini dia rindukan. Entah bagaimana reaksi Mami ketika nanti mengetahui semua ini? Papi hanya bisa berharap jika kebernaran ini tidak akan menghancurkan pernikahannya yang sudah lama dia bangun dengan cinta dan kasih sayang, walau semuanya berawal dari sebuah perjodohan.
"Apa maksudmu? Jadi dia adalah anak kamu?" tanya Mami dengan wajah memerah dan hati dipenuhi emosi.
Jangan harap, Mami akan dengan mudah menerima keberadaan Laras sebagai anak dari suaminya dan wanita lain. Tidak sama sekali. Mami berteriak histeris, memaki Papi, bahkan memukulinya dengan membabi buta. Namun, Papi biarkan Mami untuk mengeluarkan rasa marahnya.
Tiga bulan Laras koma, maka tiga bulan itu juga lah, papi berusaha meminta maaf atas kesalahannya dan meyakinkan Mami dengan keberadaan Laras. Papi bahkan hampir saja menyerah, ketika tiba-tiba dia mendengar tentang kesadaran Laras. Lalu, entah apa yang terjadi di antara dua wanita itu, hingga membuat Mami mampu menerima keberadaan Laras dengan hati yang lapang. Kini, dia bahkan sudah menganggap Laras sebagai anaknya sendiri.
"Mungkin kehadiran Laras di dalam rumah tangga kita, adalah salah satu cara Tuhan untuk memberikanku anak perempuan yang selama ini aku idamkan." Itulah jawab Mami ketika Papi bertanya tentang alasan Mami menerima Laras sebagai anaknya.
"Terlepas dari kesalahan papi, dia hanyalah anak yang malang," sambungnya lagi, dengan tetes air mata mengalir di pipinya.
Papi menghembuskan napas lega. Dia peluk tubuh ringkih istri tercintanya. Mencoba untuk menenangkan wanita yang sudah berbesar hati menerima kesalahannya. Kata maaf dan Terima kasih, berulang kali terucap dari bibirnya. Sungguh, dia bersyukur karena memiliki istri yang begitu cantik rupa dan hatinya.
Flashback off ....
"Tidak, Papi. Aku tidak bisa terus berada di sini. Terima kasih untuk selama ini, maaf aku sudah banyak merepotkan Papi dan Mami, padahal kalian baru mengenalku." Laras menundukkan kepalanya, tak sanggup rasanya menatap wajah laki-laki baik yang sudah menolongnya dan mengizinkannya untuk tinggal di rumahnya selama ini.
"Kamu itu anak kandungku, Ras!" tekan Papi, dengan air mata yang sudah membendung di pelupuk.
"Kamu anak kandungku, Laras. Tolong, izinkan papi untuk merawat dan menjagamu kali ini," gumam papi lagi dengan suara yang mulai berat.
"Papi?" Laras bergumam sangat lirih. Tubuhnya kaku, dengan kepala yang tiba-tiba saja tidak dapat berpikir. Semuanya terasa mengambang, dia dilanda kebingungan yang sangat. Hanya ada air mata yang tanpa permisi sudah mengalir membasahi pipi.
"Aku adalah ayah kandung kamu, Laras. Aku memiliki buktinya," ujar Papi lagi, berusaha untuk meyakinkan Laras. Namun, wanita itu membisu. Dia masih tidak bisa berucap atau bahkan bergerak.
Sementara itu, di ambang pintu, Dion yang juga terkejut akan apa yang baru saja di dengar tampak meneteskan air matanya. Dia pun mematung, dengan segala pertanyaan dan rasa yang berkecamuk di dalam dirinya.
__ADS_1
"Anak kandung?" Hanya gumaman itu yang terdengar sangat lirih dari bibirnya. Sepertinya lelaki itu juga mengalami syok akibat kenyataan yang baru saja terungkap.
Laras adalah adik kandungnya?
Bahkan membayangkannya saja Dion tidak pernah. Mana mungkin, dia bisa memiliki adik kandung yang hanya berbeda beberapa bulan saja. Terlebih, dia pun pernah menyukainya.
"Enggak. Ini gak mungkin." Dion menggeleng lemah dengan kaki melangkah mundur perlahan. Lelaki itu seolah masih berada di antara sadar dan tidak sadar. Hingga tiba-tiba sebuah tepukan halus di pundaknya menyadarkannya. Dion menoleh cepat ke arah samping, di mana seseorang tampak berdiri sambil mengulas senyum lembut.
"Mami?" gumam Dion dengan tetes air mata yang berhasil lolos dari pelupuk.
Entah air mata itu ke luar untuk apa? Kecewa karena ayahnya yang selama ini dia banggakan ternyata memiliki anak lain di luar nikah? Sakit karena ternyata wanita yang sudah menjadi sahabat sekaligus adik angkatnya, ternyata anak dari ayahnya yang sudah berselingkuh? Atau ... malah itu tanda bahagia, karena kini dia benar-benar memiliki seorang adik dan dua keponakan sekaligus?
Entahlah ... mungkin itu semua bisa terungkap, jika semua emosinya sudah mereda dan Dion bisa memilah kembali perasaan yang benar-benar kini teramat besar untuk Laras dan dua bayinya.
"Enggak apa-apa. Mami sudah bisa berdamai. Sekarang giliran kamu," ujar Mami, seolah memberikan sedikit pencerahan dari begitu banyak pertanyaan dan perasaan yang kini memenuhi benaknya.
Beralih lagi pada Laras dan Papi yang masih tampak terdiam di dalam kamar. Hingga, beberapa saat kemudian, Laras tampak mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan lalu menghembuskan napas kasar.
"A–aku." Laras terduduk lemas, seluruh tubuhnya seolah tak memiliki tulang dan tak lagi bertenaga. Semua ini sangat mengejutkan, bahkan berkali lipat ketika dia mengetahui kebenaran tentang ibu kandungnya.
"A–aku mau sendiri," ujar Laras lagi, tanpa mampu melihat wajah Papi. Sungguh, saat ini dia membutuhkan waktu untuk menata hatinya kembali.
"Baiklah, papi akan ke luar. Kamu tenangkan diri kamu dulu," angguk Papi sambil berjalan mundur, tanpa mengalihkan pandangan dari Laras. Walau ada kecewa dalam hati akan reaksi Laras tentang kebenaran ini, tetapi Papi berusaha untuk mengerti.
Ingin sekali dia memeluk Laras saat ini. Bila perlu dia bahkan rela bersujud memohon maaf di depan anaknya. Kesalahannya pada Laras sudah sangat besar. Walau Papi sadar jika dirinya tidak pantas untuk dimaafkan, tetapi sebagai manusia biasa, sisi egoisnya tetap berharap untuk dapat mendapatkan pengakuan dan kasih sayang dari Laras.
Papi menutup pintu kamar Laras dengan sangat hati-hati, dia hembuskan napas berat, sebelum berbalik. Namun, kini dirinya kembali dikejutkan dengan keberadaan Dion dan Mami yang sedang berdiri tepat di hadapannya.
__ADS_1
Papi kembali menghembuskan napas berat, ketika melihat tangan Dion yang mengepal erat. Tampaknya, anak laki-lakinya juga sudah mengetahui semuanya dan kini tengah memendam kemarahan untuknya.