Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab. 44 Pergi


__ADS_3

...Sebelumnya aku mau minta maaf, seminggu kemarin gak bisa up karena ternyata kondisi fisik drop. Semoga kalian semua sehat selalu ya, dan tetap semangat😊 Untuk itu, kali ini aku up panjang ya, 2K kata lebih. Happy Reading semuanya😉❤‍🩹...


"Apa kamu sudah mengetahui identitas wanita itu?" tanya Ervin ketika dia mengobrol lewat sambungan telepon dengan salah satu orang yang dia tugaskan untuk mencari tahu tentang Laras asli.


"Maaf, Tuan, kami tidak menemukan apa pun. Hanya ada informasi biasa yang sudah saya kirim melalui email," jawab seseorang itu dari seberang telepon.


"Cari tahu terus tentang wanita itu bagaimana pun caranya dan laporkan padaku sekecil apa pun hasilnya," titah Ervin yang langsung disetujui oleh anak buahnya.


Setelah sambungan telepon terputus, Ervin langsung menuju meja kerjanya untuk melihat email dari anak buahnya tentang Laras. Benar saja, di sana hanya ada riwayat pendidikan Laras tanpa ada alamat atau apa pun lagi tentang wanita itu.


"Apa mungkin dia sengaja menyembunyikan identitasnya?" gumam Ervin dengan mata masih menatap lekat layar komputer di depannya.


"Larasati? Kenapa namanya sama dengan istriku?" Kening Ervin terlihat berkerut dalam.


"Universitas tempatnya kuliah juga sama dengan istriku?" Ervin kembali bergumam ketika melihat lebih detail setiap data diri Laras.


"Tahun ajaran dan kelulusannya sama, bahkan mereka mengambil jurusan yang sama? Gimana ini bisa terjadi?" tanya Ervin lagi, mulai merasakan banyak kejanggalan di data diri Laras.


"Apa dia memalsukan riwayat pendidikannya? Tapi, kalau benar, kenapa dia harus memalsukan semua itu?" Ervin semakin dibuat bingung.


...❤‍🩹...


"Apa kamu yakin tetap ingin tinggal bersama Joana?" tanya Papi ketika Laras mengungkapkan keputusannya.


Saat ini, Mami, Papi, Dion, dan Laras sedang duduk di ruang keluarga. Sore tadi, laras sudah memutuskan untuk menerima keluarga barunya. Sekarang Laras sudah resmi menjadi anggota keluarga Atmadja, bahkan Papi sudah memeprsiapkan semuanya, termasuk surat menyurat tentang identitas barunya.


"Maaf, Papi tapi untuk sekarang aku mau menenagkan diri dulu," jawab Laras masih terlihat canggung. Walau sebutan itu sudah dia ucapkan sejak pertama kali bertemu dengan ayah dari Dion, tetapi ternyata semuanya menjadi asing kembali saat hubungan baru terbentuk.


"Baiklah, Papi akan mengizinkan kamu untuk tinggal di sana, tapi kamu harus selalu ingat, masih ada Papi yang menunggu kepulanganmu, Laras," ujar Papi dengan tatapan yang terlihat berat.


"Benar kata Papi, Laras. Ke mana pun kamu pergi, ingatlah jika pintu rumah ini akan selalu terbuka kapan pun kamu pulang. Jangan pernah lupakan kami, ya sayang." Mami ikut menimpali sambil mengusap lembut punggung tangan Laras. Senyum tulus pun terukir di bibir wanita paruh baya itu.


Tatapan Laras teralih pada wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan terawat itu, bulir air mata pun jatuh tanpa permisi membasahi pipi. Ada rasa terharu dan tak menyangka jika dirinya akan diterima dengan baik oleh keluarga ayah kandungnya. Padahal selama ini dirinya bahkan tidak pernah berfikir untuk menemui ayah kandungnya. Namun, ternyata Tuhan memiliki rencana lain.


Ayah kandung dan kakaknya malah selama ini ada di dekatnya, tanpa dia sadari kebenarannya. Begitu juga dengan masalahnya dan Ervin, ternyata di balik itu, dia jadi menemukan kasih sayang lain yang tak kalah besarnya.


"Mami ...." Laras menghambur dalam pelukan wanita paruh baya itu. Entah terbuat dari apa hati Mami hingga begitu mudah menerima keberadaannya yang adalah hasil dari kesalahan suaminya.


...❤‍🩹...


Sudah seminggu Laras menyandang nama Atmadja di belakang namanya, walau begitu dia menolak untuk dipulikasi dengan berbagai pertimbangan yang akan terjadi di kehidupan semua orang. Pagi ini Laras memilih untuk berkunjung ke panti, sebelum kembali ke Selandia Baru, tempat Bibi Joana berada dan dirinya akan tinggal selanjutnya.


Laras pergi bersama Mami dan si kembar. Kedatangan Laras yang sudah membawa dua orang anak tentu saja mengejutkan Ibu Sri. Walau begitu, Ibu Sri juga bersyukur karena Laras ternyata masih hidup setelah kecelakaan yang menimpanya.


"Maafkan aku, Bu, aku baru bisa berkunjung ke sini sekarang," ujar Laras penuh sesal.


Melihat bagaimana suasana rumah kontrakan yang menjadi tempat Bu Sri dan anak-anak panti tinggal, membuat Laras benar-benar miris. Itu hanya rumah lama yang sudah lapuk, banyak pelafon yang sudah bolong dan juga kerusakan lainnya yang mungkin akan membahayakan anak-anak.


"Tidak, Ras. Melihat kamu masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja sudah membuat Ibu bahagia." Ibu Sri menggenggam kedua tangan Laras lalu menghambur memeluk anak asuhnya yang dia kira telah meninggal.


"Sekarang ini, Laras sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Sebagai ucapan terima kasih kepada Ibu Sri karena sudah merawat Laras, kami akan membangun panti yang baru dan ini sudah menjadi kesepakatan kami sekeluarga," ujar Mami tiba-tiba, hingga membuat Laras dan Ibu Sri mengalihkan perhatiannya sambil melepas pelukan keduanya.


"Mami? Apa semua ini benar?" tanya Laras memastikan, dia tidak berbahaya diberi tahu rencana pembangunan panti sebelumnya.


"Iya, Sayang. Papi dan Dion bahkan sudah mulai merancang pembangunannya," angguk Mami.


"Terima kasih, Mami ... makasih banyak." Laras langsung menghambur memeluk Mami dengan air mata lolos begitu saja. Dia bahagia, bahkan terlalu bahagia, hingga air mata itu menjadi saksinya.


Mami hanya mengangguk sambil tersenyum, dia peluk hangat tubuh anak perempuannya dengan rasa bahagia dan syukur yang sama. Melihat kebahagiaan Laras, dia pun ikut merasa bahagia.


"Terima kasih, Nyonya." Ibu Sri pun berulang kali mengucapkan terima kasih pada Mami. Tak terkira rasa syukur yang kini dia rasakan, setelah selama ini dirinya harus berjuang demi kelangsungan hidup anak-anak asuhnya.


Setelah berbincang sebentar dan bertemu kangen sama para adik panti, Laras, Mami, dan si kembar pun pamit pulang, mengingat waktu yang sudah hampir malam.


"Seneng banget sih yang baru ketemu sama keluarga panti," goda Mami, ketika melihat Laras yang tak henti tersenyum.


"Sekarang aku sudah bisa tenang, karena kehidupan anak panti dan Bi Sri akan baik-baik saja." Laras menatap wajah Mami dengan penuh binar sebelum melanjutkan perkataannya.


"Aku percaya sama Mami, Dion, dan Papi, kalian tidak akan berbuat seperti Ervin," sambungnya lagi dengan kepala yang langsung menunduk ketika menyebutkan nama Ervin.

__ADS_1


Mami menatap nanar Laras, dia tahu perasaan Laras yang pasti sangat kecewa pada perbuatan Ervin. Apa lagi laki-laki itu sampai membawa panti asuhan dalam permasalah rumah tangga mereka. Itu memang sangat kekanakan.


"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Biarkan dia dengan keputusannya. Sekarang, kamu sudah ada kami ... kami akan selalu nendukung kamu, sayang," ujar Mami sambil mengangkat dagu Laras hingga mata keduanya bertemu.


Laras mengagguk haru, walau dia sudah banyak melihat kebaikan hati Mami, tetapi setiap kali dia merasakannya sendiri, entah kenapa hatinya selalu tersentuh hingga air mata mendesak di pelupuk. Rasa hangat itu masih terasa asing dan begitu spesial. Kadang Laras bertanya dalam hati, apakah ini adalah kehangatan sebuah keluarga?


Namun, rasa haru yang dipenuhi kasih sayang itu harus terhenti ketika sang sopir tiba-tiba mengerem mendadak hingga tubuh Laras dan Mami terdorong ke depan. Untung saja, si kembar berasa di carset, hingga mereka terlindung dari akibat gerakan dadakan itu.


"Ada apa, Mang?" tanya Mami sambil mengalihkan perhatiannya ke depan. Begitu juga dengan Laras.


"I–itu, Bu ... ada orang yang tiba-tiba jatuh ke jalan," ujar sopir itu dengan suara terbata dan wajah yang sudah pucat pasi.


"Kami nabrak orang?!" Intonasi suara Mami langsung tinggi, dibarengi wajah khawatir yang sangat kentara.


"E–enggak, Bu. Dia jatuh sendiri ke arah jalan, saya yakin tidak m nabraknya." Sopir bukan menggeleng kepala berulang kali demi meyakinkan Mami akan kejadian beberapa saat lalu.


"Ya sudah, ayo kita turun dulu, Mang. Liat dulu kondisi orangnya, takutnya dia butuh pertolongan," ujar Laras yang mulai merasa khawatir pada orang yang tergeletak di depan mobil yang dia tumpangi.


"Jangan!" Mami langsung menahan Laras dan sopir untuk ke luar.


"Jalanan ini sepi, liat tuh gak ada yang jualan, lebih baik Mami hubungi pengawal aja, biar mereka yang lihat dulu," sambung Mami lagi sambil mengeluarkan ponsel lalu menghubungi seseorang.


Tak lama berselang sebuah mobil van hitam datang, beberapa laki-laki berbaju santai dengan tubuh kekar pun ke luar. Laras cukup terkejut dengan apa yang terjadi, hingga kerutan di keningnya pun terlihat jelas.


"Papi selalu menugaskan pengawal bayangan setiap kali kita pergi. Itu sudah biasa, sejak Mami menikah sama Papi, jadi kami gak usah mikir yang aneh-aneh," jawab Mami seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Laras.


Laras pun hanya menganggukkan kepala samar ketika mendengar penjelasan Mami, karena kini atensinya kembali teralihkan pada perkelahian sengit yang terjadi diantara para lelaki itu. Ternyata seseorang yang tadi terjatuh itu hanya berpura-pura dan kini malah menyerang para pengawal, bahkan banyak laki-laki lain yang datang entah dari mana.


"Kita pergi dari sini sekarang, Mang," titah Mami saat melihat situasi semakin kacau.


"Baik, Bu!" angguk sopir sambil mulai mengendarai mobil untuk segera pergi dan menghindari tempat itu.


...❤‍🩹...


Hari minggu pagi, Mami dan Papi yang mengantarkan Laras dan baby bakpao langsung ke rumah Joana pun pamit untuk pulang kembali ke Indonesia. Sudah cukup mereka menghabiskan waktu seminggu di sana untuk melepas rindu pada baby bakpao.


"Enggak papa, sayang, lagian kasihan cucu mami kalau kamu memaksa untuk membawa mereka ke luar. Biarkan mereka istirahat, agar kesehatannya cepat pulih," jawab Mami sambil mengusap pelan pundak Laras. Senyum tulus dan penuh kasih sayang pun terlihat menghiasai wajah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.


"Iya, Mami. Mami jaga kesehatan ya di sana," ujar Laras lagi sambil memeluk tubuh ibu angkatnya.


Setelah melihat mobil Joana yang mengantarkan Mami dan Papi ke bandaran sudah semakin menjauh dari rumah, Laras pun kembali masuk. Udara di luar ruangan yang sudah mulai dingin, akibat pergantian musim, membuat Laras tak mampu berlama-lama berada disana.


Ya, setelah kejadian ketika pulang dari panti, Mami dan Papi memutuskan untuk segera mengantar Laras ke Selandia Baru, demi keamanan Laras. Ternyata, para penyerang itu adalah rencana dari Roland untuk mencelakai Laras. Papi tahu semua itu, setelah para pengawal berhasil menangkap salah satu dari orang-orang suruhan itu dan mengintrogasinya dengan cara mereka.


...❤‍🩹...


Lima tahun kemudian ....


"Mommy!" teriak sepasang anak kecil dengan tas ransel di punggungnya. Mereka terlihat berlari kecil menuju sebuah rumah sederhana yang memiliki halaman luas.


Laras yang tampak sedang asik menata tanaman di sela waktu bekerja menolehkan pandangannya ke arah suara, dia bangkit sambil tersenyum cerah, menyambut kedatangan kedua anaknya.


"Panggil Mama," protes Laras yang selalu tidak suka ketika anak-anaknya memanggilnya Mommy.


"Semua teman-teman kita memanggil ibu mereka dengan panggilan Mommy," protes anak lelaki berkulit putih khas asia.


"Terserah mereka memanggil ibu mereka dengan kata itu, tapi mama lebih suka dipanggil mama sama kalian," jawab Laras sambil meraih kedua tubuh anaknya lalu memeluknya kilas, setelah melepaskan kaos tangannya.


"Ikuti saja keinginan ibu kalian, itu akan lebih baik daripada harus mendengar ceramahnya," ujar seorang laki-laki yang tampak berjalan santai menghampiri mereka.


Laras mengalihkan perhatiannya pada lelaki itu, wajah yang awalnya tampak tenang pun kini berubah merajuk.


"Kamu ajak ke mana anak-anakku heh? Kenapa kalian pulang telat sekali?" protes Laras pada lelaki itu.


"Kita hanya berjalan-jalan sebentar. Iya kan, anak-anak?" Dion meminta bantuan dari kedua anak Laras yang bahkan sekarang sudah tidak ada di tempatnya. Laki-laki itu sedang ada waktu senggang hingga akhirnya memilih menghabiskan waktu bersama dengan kedua keponakannya.


"Astaga anak-anak itu," keluh Dion lagi ketika melihat kedua anak itu sudah berlari masuk ke dalam rumah.


"Aku hanya mengajak mereka main di taman sebetar, jangan ngambek gitu lah," ujar Dion lagi, ketika melihat wajah Laras yang masih saja cemberut.

__ADS_1


"Terserah lah." Laras menghembuskan napas kasar sambil menaruh perkakas di tempatnya.


"Masuklah, aku sudah memasakan untuk kalian," sambungnya lagi sambil berjalan lebih dulu masuk ke rumah.


"Kamu gak ke resto hari ini?" tanya Dion sambil mengejar langkah Laras.


Ya, sekarang Laras memiliki sebuah resto khas makanan indonesia. Mengingat sekarang mereka tinggal di luar negeri, membuat restoran khas makanan indonesia milik Laras selalu ramai dikunjungi para pelanggan, baik itu orang asli indonesia yang merantau dan kerja di negara itu, para turis asal Indonesia, atau bahkan orang lokal yang ingin mencicipi makanan khas negara lain.


"Aku ke sana tadi pagi, setelah mengantar anak-anak ke sekolah," jawab Laras cuek.


"Ouh ...." Dion mengangguk-angguk pelan kepalanya sambil terus mengikuti langkah Laras.


"Besok aku ada pertemuan di luar kota, mau ikut gak? Katanya pemandangan di sana sangat indah, kita juga bisa bekemah bersama anak-anak," tanya Dion sambil mengambil kukis coklat yang tersedia di meja.


Laras menatap Dion curiga. Dia tahu, Dion kadang bukan bertanya untuk benar-benar mengajaknya, tetapi lebih tepatnya memaksanya untuk ikut, karena semua itu sudah lelaki itu rencanakan dengan kedua anaknya.


"Anak-anak sudah tahu?" tanya Laras sambil menatap Dion penuh tanya.


"Eum, mereka setuju. Aku juga sudah menghubungi tempat untuk kita camping di sana," angguk Dion tanpa rasa bersalah.


"Besok pagi aku ada pertemuan," jawab Laras sambil duduk di depan Dion, sementara kedua anaknya baru saja menuruni tangga setelah mengganti baju mereka.


"Ya udah, kita berdua pergi sama uncle saja. Iya kan, Uncle?" Anak dengan rambut panjang bergelombang yang terurai itu terlihat berujar santai sambil duduk tepat di samping Dion.


"Gak bisa gitu, sayang. Uncle ke sana karena ada pekerjaan, nanti kalian malah merepotkan." Laras tampak kurang setuju.


"Tenang saja, Ras. Aku sudah biasa menjaga mereka, lagian pertemuanku juga cuma sebentar, kami akan langsung menuju hotel setelah sampai di sana. Kamu bisa menyusul setelah acaramu di sini selesai." Ternyata Dion juga bersekongkol dengan anak-anak Laras.


Laras menghembuskan napas kasar sambil beralih pada anak lelakinya yang belum membuka suara sejak tadi.


Seolah tau arti tatapan sang ibu, anak lelaki yang asik dengan rubik di tangannya pun menatap Laras sebelum mengucapkan sesuatu.


"Aku akan menjaga Nessa, Mommy tenang saja," jawab anak lelaki itu sambil kembali mengalihkan perhatiannya pada rubik di tangannya yang masih terlihat belum selaras itu.


Laras tak menjawab, dia hanya menggeleng pelan sambil menatap ketiga orang di depannya dengan tatapan yang terlihat kesal.


"Tuh, dengar kan Mommy, Nevan juga mau ikut." Nessa terlihat semakin bersemangat karena mendapat dukungan dari saudara kembarnya.


"Ck!" Laras berdecak lirih sambil melirik kesal ketiga orang di depannya.


"Kalian berdua janji gak akan buat masalah di sana dan buat uncle kesusahan?" tanya Laras memastikan, yang langsung mendapati anggukan kedua anaknya.


"Baiklah, kalian boleh ikut uncle, mama akan menyusul kalau urusan di sini sudah selesai." Akhirnya Laras hanya bisa pasrah dengan ketiga manusia yang selalu membuatnya tak bisa menolak itu.


"Yes!" seru ketiganya sambil melakukan tos, seolah semuanya sudah diatur sebelumnya.


...❤‍🩹...


"Kalian tunggu di sini, uncle harus rapat dulu. Jangan ke mana-mana, okey?" Dion mengucapkan berbagai pesan pada dua orang anak yang kini terlihat duduk manis di depannya.


"Iya, uncle," angguk Nevan dan Nessa patuh.


"Anak pintar. Uncle masuk ke dalam dulu." Dion tersenyun sambil mengacak rambut kedua anak di depannya sebelum akhirnya pergi ke dalam ruangan rapat tempat dia melakukan janji dengan seorang klien.


"Nevan, kayaknya aku mau pipis deh," keluh Nessa setelah keduanya menunggu selamanya hampir tiga puluh menit.


Nevan yang masih asik dengan rubik berbentuk segitiga di tangannya langsung menoleh, menatap Nessa.


"Ayo, aku anterin kamu ke toilet," ujar Nevan sambil turun dari sofa tunggu dan berdiri, bersiap untuk menggandeng tangan Nessa.


Keduanya berjalan menuju toilet hotel, sampai di sana Nevan terlihat menunggu Nessa di depan toilet, sementara Nessa melakukan hajatnya di dalam.


Namun, perhatian Nevan kini teralih pada seorang laki-laki yang tampak baru saja ke luar dari toilet laki-laki tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Itu, Papah?" gumam Nevan tanpa mengalihkan perhatiannya.


"Papah!" Teriak Nevan sambil berlari menyusul lelaki yang baru saja ke luar dari toilet itu.


Lelaki itu pun menghentikan langkahnya lalu menolehkan pandangan pada Nevan, keningnya terlihat mengernyit ketika mata keduanya bertatapan.

__ADS_1


__ADS_2