Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab. 58 Restu?


__ADS_3

"Aku tidak akan pernah membiarkan mereka bahagia setelah melakukan ini pada anakku!" Seorang wanita paruh baya tampak berujar geram di sebuah rumah tahanan. Di depannya seorang laki-laki dengan tubuh sedikit lusuh terlihat duduk tegap. Sorot matanya dipenuhi kebencian.


"Dia harusnya mati saja bersama ibunya saat kecelakaan itu. Dengan begitu kita bisa menguasai seluruh hartanya dan dia tidak akan memenjarakanku seperti ini," balas lelaki itu dengan tangan mengenal erat. Rasa bencinya sudah memuncak.


"Tenang saja, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan buat anak itu menyesal karena semua perbuatannya padamu." Sang wanita paruh baya menggenggam tangan lelaki muda yang merupakan anak kandungnya.


"Aku pastikan dia menyusul kedua orang tuanya secepatnya," sambungnya lagi yang diiringi dengan seringai kejam di wajahnya.


Mereka tak segan membicarakan kejahatan di dalam rumah tahanan sekalipun. Rasa benci yang berawal dari rasa iri itu kini semakin membesar. Mereka gelap mata karena ketamakan yang merenggut kemanusiaannya.


...❤‍🩹...


"Mah, Papah kapan balik lagi ke sini?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir mungil Nessa saat mereka menikmati sarapan bersama.


"Papah? Siapa?" Mami dan Papi yang baru saja datang berkunjung pun dibuat terkejut oleh celotehan cucu perempuannya.


"Kamu lagi dekat sana seseorang, Nak?" tanya Mami sambil tersenyum menggoda.


"Udah dipanggil papah sama Nessa, tapi kamu belum cerita sama kami?" Papi ikut menimpali.


"E–enggak, Mami, Papi ... aku gak lagi dekat sama siapa pun kok." Laras langsung menyangkal prasangka dari kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Lalu siapa yang dipanggil papah sama Nessa?" Mami tampak mengernyitkan kening sambil menatap Laras, Nessa, dan Nevan bergantian.


"Papah kita lah, Eomma. Minggu kemarin papah juga nginep di sini, tapi sekarang papah lagi pulang ke rumahnya." Nessa bercerita dengan polosnya tanpa tahu tatapan Papi sudah sangat tajam pada Laras.


"Apa kamu sudah bertemu kembali dengan Ervin?" Mami yang juga terkejut tetapi masih bisa mengendalikan diri pun memastikan pemikirannya pada Laras.


Laras mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Kamu bahkan membiarkan dia menginap di rumah ini?" Papi yang tidak dapat lagi menahan emosi terdengar meningikan suara hingga Nevan dan Nessa dibuat terkejut, keduanya tampak ketakutan.


"Sayang, kalian sudah selesaik kan? Ayo kita masuk ke kamar Eomma, Eomma punya sesuatu untuk kalian berdua." Mami dengan sigap membawa Nevan dan Nessa dari sana, dia tidak mau jika sampai kedua anak itu mengetahui masalah orang dewasa.


"Tapi, Eomma–"


Sementara itu Laras yang sejak tadi hanya menunduk tampak menganggukkan kepalanya sebagai tanda jika dirinya tidak apa-apa ditinggalkan bersama Papi.


Setelah melihat anggukan dari Laras, kedua anak itu pun menurut lalu turun dari kursinya dan segera dibawa ke kamar oleh Mami. Mereka tak lagi memabantah walau sorot matanya terlihat mengkhawatirkan sang ibu.


Papi tampak menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan sebelum mulai berbicara pada anak perempuannya. Dia masih belum dapat menerima perlakuan Ervin pada Laras selama ini. Dia masih memendam benci pada lelaki yang telah mencampakan anak dan dua cucunya.


"Kapan kamu bertemu lagi dengan lelaki brengsek itu?" tanya Papi dengan tatapan yang masih terasa menusuk sampai ke tulang Laras. Begitu dingin dan penuh dengan intimidasi. Selama dia bertemu dengan Papi, tidak pernah dia merasakan kemarahan lelaki itu secara langsung.

__ADS_1


"Sekitar sepuluh hari lalu," jawab Laras dengan suara lirih dan kepala masih menunduk takut.


"Untuk apa dia menemui kamu? Apa kamu sudah lupa dengan yang dia lakukan selama ini? Enam tahun, Ras ... Kamu sudah lupa bagaimana kamu berjuang sendiri untuk sembuh dari trauma yang dia buat?" Papi mencecar Laras dengan berbagai pertanyaan. Ada nada kecewa di dalam perkataannya, walau amarah pun masih terasa begitu kental.


Laras terdiam. Bukan hal mudah untuknya kembali menerima Ervin di dalam hidupnya. Namun, melihat dua anaknya yang begitu berharap akan kehadiran ayah mereka, membuatnya terpaksa harus berpikir dengan matang sebelum memutuskan. Dia sendiri tidak pernah melupakan luka itu, tetapi bukankah semua orang pernah melakukan kesalahan? Rasanya tak adil jika dia hanya menumpahkan kesalahan pada Ervin, sementara di dalam sebuah hubungan ada dua orang yang berperan.


lama Papi terdiam sambil membuang pandangan ke sembarang arah. Hembusan napas berat terdengar berulang, seolah sedang menenangkan emosinya sendiri di hadapan sang putri.


"Kamu masih mencintainya?" tanya Papi pelan. Ada nada putus asa dan helaan napas berat di ujung perkataannya. Dia tatap wajah sang anak yang masih tertunduk di depannya dengan perasaan yang tak karuan.


Laras memberanikan diri mengangkat kepala sambil menggeleng ragu. Dia sendiri masih bingung dengan perasaannya sendiri. Ini terlalu rumit untuk dia simpulkan hanya dengan jangka waktu beberapa hari saja. Laras masih berada dalam lautan fana perasaannya sendiri yang begitu membingungkan.


"Sebenarnya Papi tidak pernah rela jika putri yang sangat papi sayangi akan kembali pada lelaki brengsek yang sudah menyakitinya. Namun, Papi sadar satu hal--" Papi menjeda ucapannya. Dia hembuskan napas berat dengan pundak yang luruh seiring dengan pandangannya yang jatuh.


"Papi bukanlah lelaki yang baik. Bahkan Papi yang lebih dulu memberikan luka untukmu, Nak."


"Papi ...." Hati Laras terasa perih seolah tersayat ketika mendengar pengakuan dari ayah kandungnya. Mungkin, dulu pernah terlintas dalam pikirannya untuk menyalahkan kedua orang tua kandungnya. Namun, itu dulu, ketika dirinya belum bertemu dengan mereka. Ketika dirinya belum mengerti apa yang terjadi di balik kelahirannya. Kini, dia sudah berdamai dengan masalalu tentang kedua orang tuanya. Toh, sekarang dia sangat bahagia dengan kehadiran Mami, Papi, dan Dion, yang selalu ada di sampingnya dan mendukung semua keputusannya. Lalu, untuk apa dia harus menoleh lagi jauh ke belakang?


"Jangan harap dia akan mudah mendapatkan restu dariku. Sampai detik ini, aku belum menemukan sesuatu yang membuatnya pantas untuk bersanding lagi denganmu. Sampai aku bisa menemukan alasan itu, jangan harap aku bisa melepaskanmu dan dua cucuku untuk bersama denganya!" tegas Papi lalu berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Laras yang hanya menatap punggung lelaki paruh baya yang masih terlihat tegak itu.


"Aku tidak akan pernah menerimanya jika Papi tidak mengizinkanku. Aku bisa hidup sampai sekarang karena ada Papi, Mami, Dion, dan anak-anak ... bukan dia." Laras memelankan suaranya di perkataan terakhir. Ada sedikit keraguan di dalam hatinya ketika dia mengucapkan itu.

__ADS_1


Benarkah tidak ada andil nama Ervin dalam kehidupannya setelah kecelakan itu? Entahlah, dia sendiri masih ragu.


__ADS_2