Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab. 57 Perpisahan


__ADS_3

"Aku akan kembali ke Indonesia besok pagi, penerbangan pertama," ujar Ervin begitu mereka baru saja duduk di ruang keluarga setelah menidurkan anak-anaknya. Laras dan Ervin akhirnya setuju untuk menemani mereka hingga tertidur, tetapi tidak lebih dari itu.


Laras langsung menoleh menatap wajah Ervin dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia masih terdiam walau tak bisa dipungkiri kalau hatinya merasa ada yang aneh ketika mendengar lelaki itu akan pergi lagi.


"Maaf aku sudah membuat kekacauan di sini," sambung Ervin lagi dengan sesal yang mendalam.


Laras menghembuskan napasanya pelan sebelum mulai membuka suara.


"Sekali lagi, tolong maafkan aku," ujar Ervin lagi dengan lirih dan tatapan memohon.


"Tidak ada yang perlu diamafkan. Kamu memang berhak untuk bertemu dengan Nevan dan Nessa. Aku yang terlalu egois karena hanya memikirkan perasaanku saja tanpa mengingat perasaan kalian," ujar Laras yang seharian ini sudah mencoba menata hati dan melihat permasalahan ini dengan lebih baik.


"Jadi kamu sudah memaafkan aku?" tanya Ervin antusias. Dia menghembuskan napas lega, sebelum meneruskan ucapannya. "Syukurlah kalau begitu. Aku bisa pergi dengan tenang sekarang."


"Aku tidak pernah bilang begitu." Laras menggeleng pelan.


Ervin kembali dibuat terkejut dengan ucapan Laras, dia menatap wanita itu penuh tanya dan rasa kecewa karena ternyata semua usahanya bahkan belum bisa mendapatkan maaf dari Laras.


"Apa yang harus aku lakukan agar bisa mendapatkan maaf itu, Ras?" tanya Ervin yang mulai putus asa. Dia sudah melakukan apa yang dirinya bisa, tetapi kenapa selalu saja mendapatkan jalan buntu dan penolakan dari wanita itu.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, karena memang aku tidak pernah menyalahkan kamu. Aku hanya kecewa padamu dan masalahnya ada dalam diriku sendiri. Aku terlalu berharap dan memujamu hingga aku terluka sangat dalam ketika tahu kamu berpaling," ujar Laras dengan suara lirihnya. Pandangannya menerawang, mengingat semua yang sudah terjadi dalam hidupnya selama hampir tujuh tahun ke belakang.


"Seluruh kejadian itu memang menyakitkan, tetapi dibalik semuanya, tanpa aku sadari aku pun terus berproses untuk lebih dewasa dalam perjalanan menyembuhkan luka itu. Aku juga dipertemukan dengan orang-orang yang lebih tulus menyayangiku. Aku bersyukur untuk itu. Dan rasa syukur itu menutupi kemarahanku pada luka yang tercipta."


"Bukankah seorang anak saja harus terjatuh berulang kali untuk bisa berjalan dan berlari? Maka aku anggap semua luka itu sama seperti luka seorang anak kecil yang terjatuh ketika belajar berjalan."


Laras tersenyum walau matanya tmpak berkaca-kaca. Kenangan pahit perjalanan hidupnya akan selalu tersimpan di ingatan, tetapi tidak dengan luka itu. Dia ingin sembuh. Dia ingin berdamai dengan rasa sakitnya.


Bibir Ervin kelu. Untuk beberapa saat, lelaki itu tampak duduk kaku dengan rasa kagum pada wanita hebat di depannya. Wanita yang tidak pernah menyalahkan keadaan atas segala rasa sakit dalam menjalani kehidupannya.


"Terima kasih, Ras." Itulah kata yang hanya dapat ke luar dari mulutnya. Ervin bangkit lalu memeluk tubuh ramping wanita yang telah melahirkan dua buah hatinya.

__ADS_1


"Terima kasih karena kamu sudah mau bertahan. Terima kasih karena memilih untuk mempertahakan anak-anak kita, dan terima kasih untuk semuanya. Terima kasih untuk tetap hidup sampai aku bisa menemukanmu lagi," ujar Ervin dengan tetes air mata yang sudah mengalir deras.


Laras mematung, tubuhnya kaku ketika mendapati sikap Ervin yang tiba-tiba. Selama ini bahkan Ervin tidak berani untuk menyentuhnya, tetapi sekarang lelaki itu tengah memeluknya dengan tubuh bergetar. Untuk beberapa saat, Laras hanya bisa terdiam tanpa mampu membalas pelukan Ervin atau melakukan apa pun untuk menghibur lelaki itu.


"Ini adalah pilihanku demi anak-anakku. Jadi, jangan berterima kasih padaku," ujar Laras setelah lama terdiam. Entah kenapa, hanya kata itu yang terlintas di dalam kepala untuk menanggapi perkataan Ervin. Tangannya hanya bisa meremas helaian bajunya ketika pelukan Ervin menyebarkan rasa nyaman di hati Laras tanpa dia bisa kendalikan. Ada dorongan dalam hati untuk membalasnya, tetapi Laras masih enggan.


"Aku gak perduli alasan apa yang membuat kamu bertahan. Tapi, aku memang harus berterima kasih untuk itu, karenanya aku bisa bertemu lagi dengamu saat ini. Aku sangat senang ketika melihatmu baik-baik saja," ujar Ervin tanpa melepaskan pelukannya, bahkan kekehan pelan terdengar di sela ucapannya. Tampaknya lelaki itu memang benar-benar tengah diliputi kebahagiaan.


"Aku harap, kamu mau memberikan kesempatan padaku untuk menyembuhkan luka itu. Aku akan menunggu waktu itu, sampai kapan pun," ungkap Ervin lagi.


Laras menghembuskan napas pelan, dia tersenyum kala mendengar ucapan Ervin yang ujungnya selalu mengarah pada hal yang sama. Kesempatan kedua? Apa dirinya harus memberikannya? Pantaskah Ervin mendapatkan itu darinya dan anak-anaknya?


Perlahan tangan Laras terangkat, dia coba balas pelukan lelaki itu dan menepuk punggung lebar Ervin perlahan.


"Aku butuh waktu," ujar Laras lirih.


Ervin mengangguk, dagunya yang bersandar di pundak Laras bergerak pelan sambil berujar. "Aku akan menunggumu."


"Aku tahu." Ervin mengangguk lagi, garis bibirnya tertarik cukup lebar ketika mendengar nada manja Laras yang sudah lama menghilang dari pendengarannya. "Aku akan menunggumu dengan suka rela dan menerima keputusanmu, apa pun itu."


Laras menarik napas pelan lalu menghembuskannya sebelum akhirnya mengangguk pelan sambil berujar kembali. "Baiklah, aku tidak akan menghalangi kamu mulai saat ini."


Ervin tersenyum mendengar ucapan Laras. Walau semuanya belum pasti, tetapi kini dia memiliki kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Itu sudah cukup untuknya.


...❤‍🩹...


Jam sembilan pagi, sekretaris Ervin sudah datang menjemputnya untuk pergi ke bandara bersama-sama. Namun, ternyata kehadiran sekretaris Ervin malah membuat Laras terkejut bukan main.


"Emma? Apa kabar?" tanya Laras setelah memeluk wanita itu dan bercipika cipiki.


"Aku baik, Nyonya. Nyonya apa kabar?" balas Emma sambil mengurai pelukannya dengan Laras.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Aku senang sekali bisa bertemu lagi dengamu, Emma. Masuk dulu, kita sarapan bersama," ujar Laras dengan sangat ramah. Namun, Emma menolak dengan halus, karena dia sudah sarapan di hotel sebelum menjemput Ervin.


Laras pun mengenalkan Nevan dan Nessa pada mantan sekretarinya itu. Emma juga meminta maaf karena waktu ada Laras palsu dia tidak bisa membantu Laras. Setelah kecelakaan, semua karyawan yang pernah bertemu dengan Laras dipecat secera tidak hormat, bahkan setelahnya mereka sulit untuk mendapatkan pekerjaan lagi. Untung saja, empat tahun lalu Ervin memanggil semuanya lagi untuk kembali bekerja di perusahaan seperti dulu.


Pagi itu, Nevan dan Nessa benar-benar tak ingin lepas dari Ervin. Keduanya masih belum rela untuk berpisah kembali dengan ayah kandungnya. Ternyata hubungan ketiganya sudah sangat dekat walau pertemuan mereka belum lama. Laras mencoba mengerti, dia membiarkan kedua anaknya untuk bermanja sepuasnya pada Ervin sebelum lelaki itu pergi kembali.


"Aku akan sangat merindukanmu," bisik Ervin ketika mereka sedang berjalan di bandara. Laras, Nevan dan Nessa memutuskan untuk mengantarkan Ervin.


Tanpa sadar, pipi Laras tampak merona. Hembusan napas hangat dari Ervin yang mengenai daun telinganya ternyata masih mampu membuat debar jantungnya berpacu. Namun, Laras memilih bungkam tanpa membalas ucapan lelaki itu. Terlalu malu untuk mengungkapkan perasaannya membuat Laras memilih untuk bungkam.


"Papah nanti akan ke sini lagi, kan?" tanya Nessa dengan mata berkaca dan hidung yang memerah karena sejak tadi dia terus menangis, tidak mau ditinggal oleh Ervin.


"Iya, sayang. Papah akan secepatnya menyelesaikan urusan di sana dan kembali ke sini. Itu juga kalau ibu kalian mengizinkan." Kata terakhir dia ucapkan sambil melirik wajah Laras yang hanya membuang muka sebagai jawabannya.


"Boleh ya, Mah?" Nevan yang berdiri di samping Laras menarik tangan wanita itu. Tampaknya anak itu juga berharap akan kehadiran Ervin, hanya saja dia tidak terlalu menunjukkan itu seperti Nessa.


"Aku pergi dulu, ya." Ervin tersenyum pada Laras setelah pesawat yang akan membawanya ke Indonesia akan segera terbang dan para penumpang harus segera masuk.


"Jangan rindu," sambungnya lagi tepat di depan telinga Laras, lalu tanpa rasa bersalah dia tarik kembali tubuhnya hingga tegak dan menyelipkan anak rambut Laras di belakang telinga.


Tubuh Laras mematung dengan perlakuan manis Ervin. Terasa aneh walau ada rasa familiar hingga menyebarkan hangat di dalam hati wanita itu yang sudah lama terasa dingin.


Namun, beberapa saat kemudian Laras tersenyum miring sambil mendekati Ervin lalu mengambil tangan lelaki itu. Dia tatap iris mata hitam milik Ervin lalu berujar pelan.


"Aku tidak akan merindukanmu," ujarnya lalu mengecup punggung tangan Ervin, sama seperti kebiasaannya ketika mereka masih menikah.


Seluruh tubuh Ervin meremang, dia seolah tengah tersengat listrik, ketika bibir kenyal dan hangat Laras menyentuh punggung tangannya. Tidak! Ini terlalu ekstrim, Ervin bahkan tak dapat mengendalikan diri hingga tangannya kembali merentang hendak memeluk tubuh wanita itu.


"Pergi sana, nanti kamu ketinggalan pesawat." Laras cepat menolak, dia dorong dada bidang Ervin dengan senyum manis di wajahnya.


"Sudah berani menggodaku ya? Awas saja kalau aku sudah kembali nanti," ujar Ervin yang sudah tidak bisa menunda penerbangannya lagi. Dia pun memberikan kecupan ringan di kepala kedua anaknya, lalu segera melangkah pergi dengan lambaian tangan Laras, Nevan, dan Nessa sebagai pengiringnya.

__ADS_1


"Aku akan kembali untuk kalian, jarak yang memisahkan kita tidak akan menjadi halangan, selama itu adalah kalian."


__ADS_2