Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta

Terpaksa Menikah Dengan Pewaris Buta
Bab.23 Bersatu


__ADS_3

Kelopak mata itu mulai bergerak, hingga membuat bulu lentiknya bergerak cantik. Laras melenguh pelan sambil meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Sepertinya karena terlalu lelah, tidur saja tidak bisa membuatnya segar kembali.


"Selamat pagi, Baby."


"Uhuk!" Laras tersedak salivanya sendiri, saat suara yang begitu familiar, tetapi dengan panggilan yang terasa asing itu, menyapa telinganya. Reflesk, Laras mendongakkan kepala, mencari asal suara.


Namun, dia kembali dikejutkan oleh pemandangan di depan matanya. Di sana, Ervin tampak tersenyum begitu manis, jauh berbeda dari sikapnya selama ini. Susah payah, Laras menelan salivanya, saat melihat wajah tampan suaminya yang semakin bersinar, ketika pancaran cahaya matahari pagi menarpanya.


"Apa aku udah mati?" gumam Laras tanpa sadar. Matanya terpaku, dia tertawan oleh rupa menawan sang suami.


"Enggak, Baby. Kamu masih hidup, ini masih di dunia, bersamaku." Ervin masih mempertahankan senyumnya yang mampu menghipnotis Laras.


"Tapi, kenapa ada pangeran di sini?" Laras benar-benar seperti orang bosoh saat ini. Jika saja Ervin dapat melihat ekspresi wajahnya, mungkin laki-laki itu sudah terbahak dibuatnya.


"Pangeran? Di mana? Ada orang lain di kamar kita, baby?" tanya Ervin yang kini berubah panik.


Sementara itu, Laras yang baru saja terbangun dari lamunanya langsung meringis malu sambil memejamkan matanya. Sungguh, saat ini dia sangat malu. Rasanya ingin segera menghilang, atau bahkan ditelan bumi sekali pun dia mau, asal jangan bertemu lagi dengan suaminya.


Ish! Ini mulut kenapa gak bisa di rem sih? batin Laras, menggerutu sambil terus memukul bibirnya sendiri, seolah itu hukuman yang tepat untuknya.


"Euh? Eng-enggak kok, gak ada orang lain di sini. Tapi, aku cuman masih kebawa mimpi aja, hehehe ... iya, masih kebawa mimpi." Laras masih mencoba untuk mengelak, walau wajahnya yang memerah tak bisa dia sembunyikan.


Untung dia gak bisa lihat, jadi dia gak tau kalau sebenernya lagi ngomongin dia, batin Laras, seketika merasa bersyukur dengan kekurangan suaminya.


"Ouh, jadi aku ganggu kamu tidur? Maaf, baby," Ervin tampak menyesal karena merasakan telah mengganggu tidur Laras.


"Tidak! Kamu gak ganggu. Aku memang sudah waktunya bangun," jawab Laras. Pipi Laras kembali terasa memanas, saat sadar akan panggilan baru yang disematkan oleh Ervin padanya. Ah, itu membuat debar jantungnya kini semakin bertalu, bagaikan ada sesuatu yang sedang berusaha mendobrak ke luar dari dalam dadanya. Ingatannya pun kembali pada malam kemarin, di mana Ervin mengungkapkan isi hatinya pada Laras.


Flashback ....

__ADS_1


"Aku tidak yakin bisa bertahan bersamamu." Laras sengaja menghentikan perkataannya untuk melihat reaksi Ervin. Dia tampak mengulum senyum, ketika melihat wajah kecewa yang begitu kentara di paras tampan suaminya itu.


"Aku tidak bisa bertahan bersamamu sampai sekarang, jika tanpa ada kasih sayang di dalamnya," sambung Laras lagi dengan kepala menunduk dalam. Rasanya begitu malu ketika dia harus mengungkapkan perasaannya pada Ervin di saat dirinya sendiri belum yakin sepenuhnya.


Perlahan senyum Ervin terbit, bahkan semakin lebar hingga tampak merekah. Perlahan, Ervin meraba wajah Laras sampai ke dagu, lalu mengangkatnya, hingga kini manik mata wanita itu bisa melihat jelas rupa sang suami. Tetes air mata tak sangka jatuh begitu saja, dari manik hitam yang selalu terlihat kosong itu.


Ya Tuhan, lihatlah. Betapa indah wajahnya ketika dia tersenyum seperti itu. Jangan Engkau ambil lagi senyuman itu darinya. Aku bersedia menemaninya, dan memastikan senyuman itu tetap terukir di sana.


Laras berbisik dalam hati. Dari sekian banyak bentuk seringai yang terlihat dari bibir Ervin, baru kali ini dia melihat senyum yang terlihat tulus, hingga dapat menggetarkan hatinya.


"Jadi, kamu menerimaku yang tidak sempurna ini?" tanya Ervin memastikan.


Laras mengelus tangan Ervin yang masih setia menangkup pipinya, dia mengangguk pelan, sebagai jawaban. Jangan tanya, apakah Laras tidak menangis? Karena sejak tadi bulir bening itu sudah mengalir membasahi pipinya.


"Kamu sempurna, Tuan. Setiap manusia sempurna di mata Tuhan. Kekurangan itu bukan untuk mengurangi kesempurnaan yang telah Dia berikan. Tapi, kekurangan itu ada, agar kita lebih berusaha dalam kesempurnaan yang Tuhan berikan."


Ervin terdiam, dia rengkuh tubuh yang jauh lebih mungil darinya itu. Kecupan demi kecupan dia berikan di puncak kepala sang istri. Ervin hirup aroma manis vanila bercampur segar buah dari tubuh wanitanya. Sungguh, dia sangat bahagia malam ini.


Flasback off


...❤‍🩹...


"Sekarang, apa lagi yang akan kita rencanakan?" tanya Laras ketika keduanya kini sedang menikmati sarapan bersama.


"Tidak ada. Sekarang kita hanya perlu menunggu reaksi mereka, setelah tahu jika kita menang dalam pertaruhan itu," jawab Ervin sambil mengunyah potongan roti panggang dengan olesan selai kacang dari Laras. Sementara itu, tangannya masih asik berada di pinggang Laras sambil sesekali mendaratkan kecupan kecil di kepala wanitanya. Seringai lembut pun tak pernah sirna dari bibir laki-laki itu.


Pemandangan yang sangat menarik, bukan? Tentu. Setidaknya bukan hanya untuk para pekerja di kediaman itu, tetapi juga untuk para pembaca. Bagaimana mungkin seorang Ervin yang selalu terlihat acuh dan dingin, kini malah berbalik sangat manja pada Laras? Mungkin itu lah yang dinamakan keajaiban cinta yang hanya dapat dirasakan oleh pasangan yang sedang dimabuk asmara?


"Ugh, ini roti coklat, baby," protes Ervin dengan kening mengernyit dalam. Dia tidak suka makanan berbau coklat.

__ADS_1


"Ah, maaf, itu milikku. Aku salah memberimu potongan roti." Laras meringis, ketika sadar jika dia salah memberikan potongan roti pada suaminya.


"Eum. No problem, baby. I'm fine," jawab Ervin setelah dia meminum air di gelasnya hingga tandas.


Laras tersenyum geli. Dia tahu jika itu tidak menyenangkan untuk Ervin yang tidak menyukai coklat, tetapi suaminya malah menghiburnya dengan ungkapan 'tidak apa-apa.


"Jadi masalah kita kali ini adalah, selai kacang dan selai coklat?" tanya Laras sambil terkekeh ringan. Dia menatap jenaka dua potong roti dengan selai yang berbeda dalam satu piring yang sama.


"Sepertinya kita juga harus mulai terbiasa dengan selera yang berbeda." Akhirnya pasangan itu terkekeh bersama.


Keduanya memang sudah bisa menerima satu sama lain, tetapi Ervin yang tidak suka coklat kesukaan Laras, begitu juga sebaliknyanya. Sepertinya harus mulai beradaptasi, demi keutuhan rumah tangga mereka ke depannya.


...❤‍🩹...


"Apa-apaan ini, Roland? Kenapa mereka bisa mengacaukan rencana kita, heh? Bagaimana kamu bisa melebihi posisi Ervin jika mengurus masalah kecil seperti ini saja kamu tidak bisa!" Seseorang terdengar memaki Roland dari sebuah sambungan telepon.


"Maaf. Aku memang terlalu meremehkan mereka. Aku tidak menyangka wanita itu akan berani membawa Ervin untuk menemui korban secara langsung." Dengan suara sedikit bergetar, Roland menjawab seseorang di seberang sana.


"Laksanakan rencana B, jangan sampai mereka semakin waspada dan lebih curiga. Itu akan semakin menyulitkan kita."


"Baik, aku pastikan rencana B tidak akan gagal lagi." Sambungan telepon itu terputus begitu saja setelah percakapan singkat antara dua orang itu. Tangan laki-laki itu mengepal erat hingga pembukuh darah di sana terlihat menonjol.


"Dia marah?" Seorang wanita yang menggunakan pakaian mengoda, tampak sedang duduk di pangkuan Roland. Jari telunjuknya asik bermain di dada bidang Roland, menggambar pola abstrak seolah tengah memancing hasrat agar segera terbangun, sekaligus meredam emosi lelaki itu.


Roland mengalihkan pandangannya pada wanita yang kini tengah tersenyum menggoda padanya. Dengan senang hati, dia pun menyambut kehangatan wanita itu. Setidaknya, bersama sang wanita dia bisa melampiaskan emosinya yang sudah memuncak.


"Hanya sedikit, abaikan saja. Sekarang lebih baik kita nikmati malam yang indah ini," ujar Roland, kemudian mengangkat wanita itu dan memindahkannya ke meja, tepat di depannya.


Mau tau apa yang terjadi setelah ini? Ah, sayang sekali, sepertinya kalian harus membayangkannya sendiri, hihihi✌

__ADS_1


"Laras!"


__ADS_2