
Setelah membantu Andra dengan segala dramanya. Leela dan Andra menuruni anak tangga menuju meja makan. Disana sudah terlihat Bimo duduk sambil menikmati kopi pahitnya, Lengkap dengan setelan kerja yang sudah rapi.
"pagi Tuan" Leela menyapa untuk mengurangi kecanggungannya. Sia sia karena tak afa balasan dari Bimo, jangankan untuk membalas, melirik atau mengangguk pun tak dilakukannya.
"kok papi diam aja, kan papi yang bilang halus belsikap baik, kok papi nggak baik sih" celetuk Andra, yang membuat kedua orang tua tersebut tersentak kaget. Apalagi Bimo, yang dibuat malu sendiri oleh putranya.
Andra memang termasuk anak yang pandai menyerap apa yang dikatakan oleh orang disekitarnya, baik itu pepatah dari Bimo itu pun dari kakek dan neneknya.
"Tuan apa setelah saya menikah dengan anda, saya masih bisa bekerja" Leela mengutarakan isi kepalanya. Pasalnya ini hanyalah pernikahan kontrak untuk melunasi utang. Yang ada dipikirannya adalah sekarang gimana caranya melunasi utang nya pada Bimo.
"kau tidak membaca isi perjanjian?" bukan jawaban yang dilontarkannya.
"sudah saya baca tuan" jawabnya ragu.
Bimo tak menjawab apa apalagi. Hal itu membuat Leela membuang nafasnya kasar.
Pagi itu mereka menikmati sarapan pagi dengan hening, Bimo menerapkan kedisiplinan saat makan, tidak boleh ada yang mendongakan kepala, atau pun berbicara.
Setelah sarapan selesai semua melanjutkan aktifitasnya kembali. Bimo melajukan mobilnya ke arah kantor tanpa diantar sopir. Leela mengantarkan Andra dengan mobil yang biasa di pakai Andra sehari hari.
apa aku kuat bertahan hidup? aku dinikahi tanpa merasakan jadi istri. huuuhhhh mengharapkan apa aku ini? menepuk kepalanya pelan, menyadarkan diri dari lamunannya.
__ADS_1
***
Mobil yang dikendarai Bimo berhenti tepat depan Pintu masuk ke gedung tinggi tersebut. Tetap memasang wajah dingin dia keluar dari dalam mobil mengantongi saku tangan kirinya. Tangan satu nya sibuk memegang benda persegi panjang yang pintar dan canggih.
Bim, bisakah kita bertemu hari ini??? ~Ariana
Setelah membuka pesan tersebut Bimo memasukan kembali hp itu pada saku celananya, tanpa membalas pesan yang sudah di tunggu oleh pengirimnya.
"Selamat pagi tuan" begitulah sapaan para pekerjanya. Walaupun tak ada jawaban dari yang disapa, hal tersebut selalu dilakukan oleh karyawannya setiap bertemu dengan bos nya itu.
Kini Bimo sudah duduk dibalik kursi kebesarannya. Matanya fokus membaca dokumen, tanpa memperhatikan notifikasi yang terus bunyi.
tok tok tok pintu ruangan Bimo di ketuk dari luar.
"Tuan, Pak Wiji mengundur jadwal pertemuannya hari ini, dan akan mengadakan pertemuan pada hari senin minggu depan" ucap sekertaris Edvan.
"kenapa" tanya Bimo masih pada posisi semula.
"Kata asistennya Pak wiji sedang mengadakan pertemuan dengan klien yang lain" jawab Edvan.
Bimo menarik sudut bibir sebelah kirinya, dan menghasilkan senyum sisnis ala Bimo. rupanya dia sedang mempermainkanku.
__ADS_1
Belum Edvan meninggalkan ruangan Bimo. pintu ruangan sudah di ketuk kembali.
Seorang wanita berparas cantik, dengan rambut hitam panjang sepinggang yang di biarkan jatuh sesuka hatinya, masuk tanpa menunggu perintah
"Hai sayang" ucapnya dan langsung mengubah perhatian Bimo setelah mendengar suaranya.
Edvan yang mengetahui kedekatan keduanya, memilih undur diri untuk memberikan ruang pada keduanya bicara. Edvan tau siapa Ariana. "Saya permisi tuan" ucap Edvan tak lupa memberi hormat seperti biasanya.
"heemmm" balas Bimo.
"Bim, Aku merindukan mu" Ariana berkata tanpa tau malu. Pria yang yang dirindukannya adalah pria yang di tolak lamarannya. Berjalan mendekati Bimo.
Bimo tak memberikan reaksi apa pun, melihat Bimo tak memberikan reaksi membuat Ariana melanjutkan kembali kalimatnya.
"Aku sudah melihat kabar pernikahan mu, tapi aki tak percaya itu semua"
"Kenapa kau tak percaya?" tanya Bimo datar tanpa ekspresi.
"Karena aku tau kamu sayang, Kita pacaran sudah hampir 3 tahun, bagaimana mungkin aku tak mengenal sikap mu, Aku tau kau masih mencintaiku. iya kan?" Ariana membalasnya dengan penuh rasa Percaya diri.
"Lalu untuk apa kau kemari?" Tak bisa dipungkiri kalau apa yang dikatakan Ariana memang benar adanya. Dia masih mencintai gadis yang duduk disampingnya, sambil melingkarkan tangan di lengan Bimo.
__ADS_1
"Bukankah kau sudah menolak ku?" pertanyaan Bimo menghantam telak hati Ariana.
"Jangan katakan itu Bim, Aku bukan menolak mu hanya saja saat itu aku belum siap" memang Ariana pintar dalam bermain peran. Dia memasang wajah penyesalannya.