
"Revina, Re vina, Reeeee Vinaaaa" Begitulah sekarang Arga. Setelah Leela tak lagi bekerja, Revina lah yang jadi korban keusilannya.
"Reeee, Ravina," Arga terus memanggil Revina, merasa tidak ada sahutan dari balik telepon, padahal revina mendengarkannya namun ia begitu malas menyauti bos nya yang dianggap rese.
"Re, Sayaaaaaaang" Arga tetap dengan khasnya yang usil.
"iya" jawab Revina dengan malas.
"dibilang sayang dulu baru nyaut, haha ngarep ya dicintai oleh orang ganteng? memang kau sungguh beruntung boss seganteng saya mau mempekerjakan mu," berbual terus hingga membuat yang mendengar ingin melemparkannya jadi santapan buaya.
"Astagfirullah bapak ini mau membual atau mau memerintah, gak jelas" jawab Revina malas.
"sabar dong, saya yang bos kok kamu yang marah, mau saya potong kau punya gaji"
tuhan manusia satu ini sungguh menyebalkan. kumohon tuhan biarkan dia tersedak saat minum kopi. Revina mengumpat dalam hati.
"ah iya iya kau tau tujuan saya telpon?"
"ya mana saya tau pak" Revina semakin terlihat kesal.
"oh iya saya kan belum kasih tau ya sama kamu"
Astagfirullah. Revina semakin frustasi
"ah iya saya baru ingat" mengacungkan tangannya ke atas sepertinya ingatannya kembali. "Bawa buku laporan minggu ini"
"Anda bicara sangat banyak, ternyata hanya itu yang anda butuhkan" Revina berkacak pinggang. Ingin rasanya dia melumurui bosnya dengan saus sambal yang ia lihat ada di dekatnya.
"oh suka suka saya dong, saya uang menggaji kok" balas Arga.
***
Pagi pagi Leela bangun, ia tersenyum kikuk mengingat ulahnya sendiri.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan semua kewajibannya untuk Andra. Leela teringat satu rencana perang nya lagi, dan itu ia lancarkan pagi ini.
Leela kembali masuk kedalam kamarnya. Bimo sedang memakai pakainnya dan tinggal memasangkan dasi.
time to action. Gumam Leela sambil tersenyum penuh kemenangan. Leela mengambil dasi yang masih tergeletak di tempat semula ia menyimpannya.
Bimo terkejut saat Leela memasangkan dasinya. Leela yang tak setinggi Bimo tak mampu menggapai tengkuk Bimo.
"menunduklah sedikit, biar ku bantu pasangkan dasinya" ucap Leela denga ekspresi yang sulit di artikan.
"hah" Bimo.
Pasalnya ia harus menunduk dan di depannya Leela memakai daster yang semalam dengan membuka dua kancing atasnya. sehingga terlihat jelas belahan dua gunung kembarnya disana.
"Tak usah berpikir macam macam. Saya melakukan ini hanya tak ingin memakan gaji buta yang kau berikan" jawab Leela datar. padahal dalam hati ia bersorak ria ia yakin lagi lagi kemenangan ada di pihaknya.
"tutup matamu" ucap Leela saat melihat ekspresi Bimo yang tak berkedip melihatnya.
astaga Leela. apa dia sengaja, ini bukan kebetulan, sebenarnya apa yang ia rencanakan? Bimo bergulat dengan pikirannya hingga ia tak menyadari saat Leela sudah tak lagi ada di depannya.
"kau akan tetap disitu" kalimat itu menyadarkan lamunan Bimo.
"tidak, aku kan berangkat sekarang" ucap Bimo kikuk.
"kau aka melupakan sarapan?" tanya Leela lagi
"tidak" jawab Bimo setelah mengambil tas kerjanya.
Hahahahahaha kau cukup pandai Leela. Memuji dirinya sendiri atas keberhasilan yang ia dapatkan.
Gimana Ariana?
Leela menuruni tangga dan memastikan apa Ariana datang atau tidak. Walaupun di hatinya menyangkal rasa cemburu, tetap saja namanya juga istri tak ingin jika suaminya berada di jalan yang salah.
__ADS_1
Leela selalu memperhatikan Ariana, apakah dia cocok jadi ibu dari Andra atau tidak. Ia berjaga jaga mengawasinya. Ia yakin pada saat waktunya tiba Bimo akan menendangnya, begitulah yang Leela pikirkan. jadi ia tak ingin jika Andra tak mendapatkan kasih sayang dari ibu sambungnya kelak.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.aduh aduh mana votenya dong sayang....
aku akan tambah semangat jika ditambah vote dari kalian para readers setaiaku 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1